
“Rupanya Kamu tidak menyerah untuk mendapatkan restu dari kami ya.” Ucap Ibra membuka pembicaraan mereka.
“Tentu tidak akan Om. Aku serius menikahi anak Om, dan aku ingin ketika menikahi anak Om dan Tante, aku mendapatkan restu dari kalian. Aku yakin Dina akan lebih senang lagi jika kalian bisa hadir dalam pernikahan kami.” Jelas Seno penuh dengan keseriusan.
“Aku dengar kalian sudah menentukan tanggal pernikahan kalian ya?” Tanya Firda.
“Iya Tante, dua minggu lagi.” Jawab Seno.
“Bagaimana dengan persiapan resepsi kalian apa semuanya lancar?” Tanya Firda.
“Kami tidak akan mengadakan resepsi Tante. Setelah menikah, kami hanya melakukan makan bersama dengan keluarga.”
“Kenapa tidak sekalian dilakukan resepsi? Dia anak perempuan kami satu-satunya loh. Masak Kamu nggak buat resepsi dipernikahan dia?”
Seno mengambil nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Firda. “Kami menunggu restu dari Om dan Tante dulu sebelum melangsungkan resepsi.”
“Kalau begitu buruan Kamu siapin resepsinya. Pasti masih ada wedding organizer yang mau menyiapkan pernikahan kalian yang kurang dua minggu lagi.” Ucap Firda.
Seno tidak percaya dengan apa yang di dengarnya ini. Apa yang Firda katakan itu membuatnya berharap lebih. Tetapi ia tidak bisa langsung menyimpulkan begitu saja perkataan Firda tersebut. Ia perlu mengkonfirmasi ulang perkataan itu.
“Apakah ini berarti Om dan Tante sudah memberikan kami restu?” Tanya Seno dengan penuh harap.
“Ya. Dina kadang bisa sangat keras kepala. Jika kami melarang seperti apa pun juga, jika dia sudah menginginkannya maka akan sulit bagi kami untuk merubah keputusannya itu. Jika memang ini yang sudah dipilih oleh Dina kami tidak bisa menolah lagi.” Jawab Ibra.
Mendengar konfirmasi dari Ibra, Seno sangat senang. Meski begitu, sebisa mungkin dirinya memperlihatkan eskpresi seriusnya.
“Terima kasih Om, Tante, sudah mau merestui hubungan kami. Aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk membahagiakan Dina. Om dan Tante tenang saja.” Jawab Seno serius.
“Mulai sekarang kamu perlu mengganti panggilan Kamu kepada kami. Jangan Om dan Tante lagi. Lagi pula sebentar lagi kami juga akan menjadi mertuamu. Jadi kamu perlu membiasakan diri mulai dari sekarang.” Jelas Firda.
__ADS_1
“Baiklah Pa, Ma.”
“Sekarang, kita balik lagi ngomongin resepsi kalian. Apa Kamu sudah menghubungi wedding organizer?” Tanya Firda sekali lagi.
“Sudah Ma. Tetapi belum aku follow up lagi. Soalnya aku belum mendapatkan restu dari kalian. Dina juga belum tahu mengenai hal ini kalo aku masih mendatangi kalian dan mencoba memina restu kalian. Dina juga tidak tahu kalau aku sudah menghubungi wedding organizer.” Jelas Seno.
Penjelasan Seno tersebut meningkatkan kesan baik laki-laki itu di mata Ibra dan Firda. Ini berarti, Seno sangat bersungguh-sungguh dengan kata-katanya yang ingin membagaiakan Dina. Meski dalam hati mereka masih kurang setuju dengan pernikahan ini, tetapi ini adalah pilihan yang sudah Dina pilih.
“Kalau begitu, buat pestanya besar sekalian. Kamu juga akan mengadakan resepsinya bareng dengan Mira bukan? Sekalian aja dibuat besar. Masalah biaya Kamu nggak perlu memusingkannya, kami juga akan menyumbang dalam biaya resepsi ini. Keluarga Mira juga pasti melakukan hal yang sama.”
“Sekarang Kamu urus yang lainnya. Masalah baju gedung dan yang lain. Atur sesuai dengan keinginan kalian.” Jelas Firda.
“Baiklah Ma, Pa. Aku akan segera mengurus semuanya.” Jawab Seno dengan mata berbinar.
Pada akhirnya perjuangannya terbayarkan. Ia bisa menikahi Dina dengan restu kedua orang tuanya. Tidak hanya itu, dirinya bisa melangsungkan resepsi dalam waktu dekat dan tidak perlu menunggu terlalu lama.
“Beneran itu Sen? Orang tuaku udah ngerestui hubungan kita?” Tanya Dina dengan mata berbinar ketika Seno memberitahu kabar baik itu.
“Ya. Aku baru saja pulang dari rumahmu. Mereka juga meminta kita menyiapkan resepsi sekalian. Kalau Kamu nggak percaya, Kamu bisa telfon orang tuamu.” Jelas Seno.
“Nggak. Aku percaya sama Kamu. Jelas Kamu nggak akan bohong mengenai masalah yang serius seperti ini.” Jawab Dina.
Setelah berucap demikian, Dina mengecup bibir Seno singkat. Itu adalah apresiasinya atas apa yang Seno lakukan untuk hubungan mereka. Dina sendiri tidak menyangka bahwa Seno akan tetap berjuang mendapatkan restu orang tuanya meski sebelumnya mendapatkan sebuah penolakan.
“Makasih udah memperjuangan hubungan kita agar bisa direstui oleh orang tuaku.” Jawab Dina yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
Seno kemudian mengelus pelan pipi Dina yang kini sudah basah oleh air mata. “Kamu nggak perlu berterima kasih seperti itu. Ini adalah kewajibanku. Demi membahagiakan kalian aku rela melakukan apa pun. Menunggu di depan rumah selama lima hari bukanlah apa-apa.”
“Jika aku harus menunggu lima hari demi mendapatkan restu akan aku lakukan. Bahkan jika itu lima minggu atau lima bulan sekali pun. Aku tetap akan melakukannya.” Jawab Seno.
__ADS_1
Dina dan Miranda yang mendengar ucapan Seno itu langsung berhambur kedalam pelukan Seno. Ini adalah yang mereka suka dari Seno. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Pesona dari Seno inilah yang membuat mereka jatuh cinta kepada laki-laki yang sama.
Mereka bahkan merasa heran dengan mantan pacar Seno, Raisa. Kenapa perempuan itu melepas laki-laki sebaik Seno. Tetapi ada untungnya Raisa putus dengan Seno. Mereka akhirnya bisa bersama dengan Seno.
Mungkin jika mereka bertemu perempuan itu lagi, Dina dan Miranda akan berterima kasih kepadanya karena sudah mau melepaskan Seno.
“Udah-udah acara mellow-mellownya. Sekarang kita perlu pergi ke desainer untuk pesen gaun pernikahan kita. Dua minggu waktu yang sudah sangat mepet. Jadi kita mesti buru-buru mempersiapakan semuanya.” Ucap Miranda yang sekarang melepaskan pelukannya dari Seno.
“Ah Kamu benar Mir. Kita perlu mempersiapkan semuanya. Waktunya cukup mepet. Kita perlu memilih gedung dan menu makanan pula. Belum lagi desain dari resepsi kita dan juga undangan. Semuanya perlu kita pikirin.” Ucap Dina menimpali.
“Tetapi aku hanya bisa ikut memikirkan baju pernikahan kita. Sisanya aku serahkan semuanya kepada kalian. Aku masih perlu menyiapkan diri untuk sidang skripsiku minggu hari Kamis besok.” Imbuh Dina.
“Sidang Kamu lebih penting. Setelah Kamu ikut mengukur pakaian, Kamu fokus saja ke sidang skripsi Kamu. Biar semuanya aku dan Mira yang atur. Ah ya Kamu juga perlu pulang ke rumah Din. Jangan buat orang tuamu khawatir.” Pinta Seno.
“Benar kata Mas Seno Mbak. Setelah ngukur baju, Mbak Dina bisa pulang ke rumah Mbak dan fokus ke skripsi Mbak aja. Terus sekarang Mbak Dina juga bisa ngasih tahu Kami mengenai kosep resepsi yang Mbak pengenin. Dengan gitu, kita bisa menemukan tema yang pas untuk resepsi nanti.” Jelas Miranda.
Ketiganya kemudian mendiskusikan mengenai resepsi mereka. Sebesar apa resepsinya, perkiraan jumlah tamu undangan, temanya, semua mereka diskusikan. Setelah menemukan titik temu ketiganya kemudian pergi menuju ke desainer pakaian yang ada di kota mereka.
Karena waktu cukup mepet, pada akhirnya mereka memilih gaun pernikahan yang sudah jadi. Mereka hanya perlu melakukan sedikit modifikasi di gaun tersebut.
****
Mampir juga ke Karya On Going punyaku, dengan judul
Master Of Elements
update rutin 2 kali sehari, tenang aja ga akan ganggu update yg ini
makasih
__ADS_1