
“Kamu kenapa Ayah?” tanya Dina yang melihat Seno masuk ke rumah dengan wajah tidak bersahabat.
Saat itu juga Dina dan Miranda yang tengah memasak sarapan, tahu bahwa suami mereka tengah memiliki suasana hati yang buruk. Entah apa yang menyebabkan Seno bertingkah seperti ini. Yang jelas itu adalah sesuatu yang cukup serius.
Tidak mungkin orang baik, ramah dan murah senyum seperti Seno bisa berubah menjadi sosok dingin, tanpa senyum dan pemarah, jika tidak ada sesuatu yang terjadi. Ada alasan di balik semua itu. Lalu, sudah menjadi tugas Dina dan Miranda untuk membagi beban suami mereka.
Selama ini Seno sudah menjadi sosok suami yang baik. Menjaga kemanan mereka, kesehatan mereka, baik secara fisik mau pun mental. Sekarang giliran mereka yang melakukan itu untuk Seno.
“Tidak apa-apa,” jawab Seno.
Seno langsung menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia tidak mau ada kemarahan yang tersisa dan pada akhirnya melampiaskan kemarahan itu ke Dina dan Miranda.
Meski Seno yang sekarang sudah terlihat seperti Seno yang biasa mereka kenal, tetapi itu tidak membuat Dina atau pun Miranda tenang. Mereka justru penasaran dan ingin tahu apa yang sedang mengganggu Seno.
Dina lalu mencuci tangannya dan mengajak Seno untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dapur. “Kamu cerita aja, biar Kami mendengarkan. Kamu jangan memendam semuanya sendirian. Ingat Kamu pernah bilang ingin kami terbuka denganmu. Sekarang, giliran Kamu untuk terbuka dangan kami Ayah.”
“Mir tolong buatin seduhan daun kemangi, biar Ayah jauh lebih tenang lagi,” pinta Dina kepada Miranda.
“Iya Mbak.”
Setelah meminum seduhan daun kemangi buatan Miranda, Seno merasa jauh lebih tenang lagi. Meski emosi itu masih ada, ia tidak akan meletup-letup seperti sebelumnya. Ia lalu menceritakan apa yang terjadi kepada Dina dan Miranda.
“Seseorang sepertinya berniat menculik Nita dan Rena. Pasukan hewan yang aku kirim untuk menjaga, semalam menangkap lima orang asing yang ingin menyusup ke dalam rumah.”
__ADS_1
“Apa?” tanya Miranda dengan nada yang sedikit meninggi karena kaget. “Lalu sekarang mereka gimana? Mereka baik-baik aja ‘kan?”
“Semua baik-baik saja. Pasukan hewan itu berhasil menggagalkan mereka. Orang-orang itu bukanlah orang asing. Tetapi orang luar negeri. Aku jadi khawatir dengan mereka sekarang. Andai saja aku tidak mengirim pasukan hewan itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada mereka nantinya.”
Dina dan Miranda bisa mendengar sedikit penyesalan di nada suara Seno. Dina langsung mengelus lengan Seno untuk kembali menenangkan suaminya.
“Udah, jangan merasa bersalah seperti itu. Kamu sudah melaksanakan hal terbaik yang bisa Kamu lakukan untuk adik-adikmu, untuk kami juga. Jadi, jangan merasa bersalah seperti itu. Toh sekarang mereka baik-baik saja bukan.”
“Hem …. Kamu benar Bun. Tetapi aku masih khawatir. Aku berencana mengajak mereka ke Amerika ketika kita melaksanakan lelang di sana. Kalian tidak masalah bukan dengan hal itu? Meski aku sudah memberi banyak perlindungan untuk mereka, tetapi rasa khawatir ini tidak bisa hilang.”
“Itu tidak masalah. Kamu bisa mengajak mereka denganmu,” jawab Dina.
“Tetapi, kita kan niatnya berbulan madu setelah menyelesaikan lelang. Jika mereka ikut, aku takut kita tidak akan bisa melaksanakan bulan madu seperti rencana kita.”
“Aduh Ayah. Bulan madu itu bisa kapan aja dilakuin. Meski mereka ikut pun, mereka nggak akan ganggu bulan madu kita. Ya kecuali kalo Nita atau Rena tiba-tiba ingin tidur satu kamar dengan kita. Baru itu akan mengganggu bulan madu kita.”
“Benar. Jika mereka ikut tidur sekamar baru kita akan merasa terganggu. Selagi mereka ikut dan tidur di kamar masing-masing, semua akan baik-baik saja,” imbuh Dina.
Apa yang dilakukan kedua istrinya itu membuat Seno berhasil tersenyum. Bisa-bisanya di saat serius seperti ini Dina dan Miranda malah menggoda dengan membawa-bawa urusan kamar.
“Terima kasih. Kalian sungguh istri yang pengertian. Kalau begitu, aku akan menjemput mereka setelah sarapan. Lalu, nanti sore kita akan berangkat ke Amerika.” jawab Seno.
“Nah begitu dong. Sekarang aku Mbak Dina akan mempersiapkan sarapan. Mas Seno urus dulu yang perlu di urus. Sarapan akan siap setengah jam lagi.”
__ADS_1
….
Matahari masih belum menampakkan sinarnya di langit Kota New York. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Masih banyak orang yang memilih tidur dan bersembunyi di balik selimut. Apalagi saat ini Kota New York tengah mengalami musim dingin. Hal itu membuat banyak orang enggan untuk keluar rumah.
Saat ini, di sebuah gang kecil yang diapit dua bangunan tinggi, sebuah cahaya menyilaukan muncul di dekat tembok. Dari dalam cahaya itu, beberapa orang terlihat keluar dari sana. Anehnya, orang-orang itu memakai baju yang biasa dipakai di musim panas. Cukup aneh melihat orang berpakaian setipis itu di suhu lima derajat celsius.
“Wow aku nggak nyangka kita sudah sampai di tempat ini. Tadi kita masih di rumah sekarang kita sudah di tempat penuh salju,” ucap Renata sembari mengambil segenggam salju yang ada di sana.
“Jadi seperti ini yang namanya salju. Tidak terlalu dingin seperti yang aku perkirakan,” gumam Renata.
“Itu karena Kamu sudah mengkonsumsi cabe rawit. Suhu tubuhmu lebih panas daripada manusia pada umumnya. Kamu akan tetap merasa hangat meski Kamu berada di tempat bersalju seperti ini,” ucap Anita.
“Ah aku lupa jika di sini sekarang musim dingin. Orang-orang akan mencurigai kita jika kita berkeliaran dengan pakaian setipis ini. Apalagi, kita harus segera bergerak pergi dari sini. Jika kita tetap di sini, aku takut akan ada orang yang datang dan mengecek cahaya putih yang muncul,” ucap Seno.
“Maaf Ayah, aku juga melupakan hal itu. Aku sama sekali nggak mempersiapkan baju hangat untuk kamuflase kita. Di jam segini, tentunya tidak ada toko yang buka. Lalu, kita juga akan sulit menemukan kendaraan untuk membawa kita ke hotel,” ucap Miranda.
“Kamu tenang saja Bun. Ada gerai makanan cepat saji di dekat sini. Mereka buka selama dua puluh empat jam. Kita bisa ke sana dan memesan makanan sembari menunggu toko buka. Nanti, kita akan membeli beberapa baju hangat sebelum kita pergi ke hotel.”
Kelima manusia itu pun berjalan dengan cepat keluar dari gang sempit itu. Di belakang mereka, ada Tiarsus, Azkareia, Ruisyo dan si kembar Laluna, Lalana mengikuti. Seno sengaja membawa mereka berlima untuk menjaga keluarganya. Sedangkan yang lain ia tinggal untuk mengurusi kebunnya.
Sebenarnya Seno ingin membawa lebih banyak orang. Tetapi, itu akan lebih mencurigakan jika mereka pergi dengan rombongan yang terlalu banyak. Ini adalah jumlah yang cukup wajar bagi Seno untuk ia ajak ke luar negeri.
Mungkin jika nanti dirinya sudah memiliki beberapa properti di luar negeri, Seno bisa membawa semua orang bersamanya untuk berlibur.
__ADS_1
Selama perjalanan menuju ke kedai makanan cepat saji, Seno dan yang lain tidak bertemu dengan orang lain. Jalanan yang mereka lewati cukup sepi. Ini sedikit memberi keuntungan untuk Seno. Jika begini, tidak akan ada yang melihat portal yang ia tinggalkan.
Mungkin pihak militer Amerika akan mulai mencurigai tempat itu atau mungkin tidak sama sekali. Tetapi, jika militer Amerika sampai tahu sekali pun, Seno yakin urusannya di sini akan usai. Ia pasti sudah kembali ke rumahnya yang jaraknya sangat jauh dari sini.