
“Aku tidak menyangka kita berhasil menyelenggarakan lelang itu dengan lancar. Dari lelang kemarin, kita mendapatkan sembilan milyar. Jika dikurangi dengan uang untuk ramuan menjaga rahasia dan operasional lainnya, maka kita mendapatkan untung bersil tiga koma lima milyar rupiah,” jelas Miranda.
“Itu tidak jauh berbeda dari pendapatan harian kita selama melakukan lelang secara daring bukan? Tetapi terlihat lebih menyenangkan melakukan lelang secara langsung seprrti ini," imbuh Seno.
"Besok kita akan berangkat ke Amerika untuk melaksanakan lelang itu. Sekalian kita berbulan madu. Aku sudah mempersiapkan semua yang kita butuhhkan."
"Kita jadi membawa dimensi yang ditinggali para Gylinox?" tanya Dina.
"Ya. Aku sudah menemukan tempat yang oas untuk hal itu. Di Amerika semua tempat sama saja. Keamanan di sana lebih ketat daripada di Indonesia. Akan ada satelit yang terus mengawasi."
"Jadi, tempat yang aku pilih adalah tengah kota, di tempat yang tidak terjangkau kamera pengawas. Aku yakin itu akan lebih mudah bagi kita menyelinap nantinya."
"Kami akan mengikuti rencana yang sudah Ayah susun. Sekarang kami akan mempersiapkan beberapa pakaian yang akan kami bawa nanti."
Sepeninggal Dina dan Miranda, Seno menuju ke kebun miliknya. Ia akan memanen tiga benih misterius yang sudah ia tanam sebelumnya. Kali ini Dina dan Miranda tidak lagi sepenasaran sebelumnya.
Mungkin mereka sudah melihat perilaku Seno yang sama sekali tidak terlihat tertarik dengan tiga perempuan yang menjadi buruh taninya. Hal itu membuat Dina dan Miranda sudah lebih mempercayai Seno sekarang.
Seno mencermati ketiga figurin yang tumbuh dari benih misterius miliknya. Ia cukup kaget ketika mengecek mereka. Satu di antara mereka tidak terlihat cukup normal di mata Seno.
Itu adalah seorang laki-laki dengan rambut hijau dan tingginya Seno taksir bisa mencapai dua meter. Selain warna rambutnya yang berbeda, semuanya terlihat normal dan tidak ada yang aneh.
Tetapi dua benih misterius lainnya tidak memiliki tubuh dewasa seperti buruh tani Seno yang lainnya. Mereka berdua adalah kembar laki-laki dan perempuan dengan wujud anak-anak seusia sepuluh tahunan.
Yang cukup aneh adalah wajah mereka. Di wajah mereka terdapat sesuatu seperti sisik. Warna sisik itu juga sama dengan warna rambut mereka. Yang laki-laki memiliki warna hitam sedangkan yang perempuan memiliki warna putih.
“Sistem, tega sekali Kamu membuat anak sekecil ini menjadi buruh tani. Apakah Kamu tidak kasihan dengan mereka yang masih kecil?” protes Seno kepada Sistem.
Ia merasa iba bahwa anak seusia mereka harus memiliki nasib sebagai buruh tani. Padahal, Seno yakin mereka memiliki masa depan panjang.
[Heh]
“Kamu mendengus padaku?”
Tidak biasanya Sistem akan mendengus padanya. Seingat Seno, ini adalah pertama kalinya sistem mendengus padanya.
[Apakah Host sendiri tidak mengaca?]
[Bukankah Host selama ini juga mempekerjakan para kelinci yang memiliki tubuh anak-anak?]
__ADS_1
[Sekarang Host malah protes kepadaku]
“Itu berbeda. Aku memperkerjakan mereka atas kemauan mereka. Mereka menukar tenaga mereka dengan makanan, tempat tinggal serta uang dariku.”
“Sedangkan mereka …,” ucap Seno sembari menunjuk ke arah dua figurin anak kecil, “adalah buruh tani. Bukankah dulu Kamu pernah mengatakan bahwa seorang buruh tani adalah budak perang antar galaksi?”
“Jadi, mereka jelas berbeda dengan para kelinci. Para kelinci masih memiliki kebebasan. Aku juga tidak akan memaksa mereka jika mereka enggan membantu.”
[Setidaknya lebih baik menjadi buruh tani daripada berakhir tragis dibantai Host]
[Host nantinya akan tahu bahwa menjadi buruh tani sangat membantu keberlangsungan hidup mereka, bahkan kehidupan ras mereka]
“Kamu tidak menjelaskan semua itu padaku? Kau selalu bilang nantinya aku akan tahu. Memangnya, kapan aku akan mengetahui semua itu?” Protes Seno.
Semakin ke seni, semakin banyak misteri yang belum terungkap. Sistem belum memberinya satu pun gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Sistem selalu saja mengatakan bahwa semua akan Seno ketahui jika sudah waktunya.
[Capailah level sepuluh Host jika Host ingin mengetahui semuanya]
[Bukankah Host sudah akan mencapai level sembilan sekarang?]
[Jadi Host hanya perlu bersabar sedikit lagi]
…
Seno lalu memanen ketiga figurin dari pohonnya. Seperti biasa, setelah memanennya Seno langsung melemparkan ketiga figurin itu.
Tidak lama kemudian, dari tempat Seno melemparkan tiga figurin tadi, muncul tiga orang yang sama persis seperti bentuk figurin. Ketiga orang itu langsung berlutut kepada Seno.
“Doemind Sosuna, memberi hormat kepada Master,” ucap satu-satunya laki-lakis dewasa yang baru muncul.
“Baiyo Naga, memberi hormat kepada Master,” ucap anak laki-laki bersisik hitam.
“Baiya Naga, memberi hormat kepada Master,” ucap anak perempuan bersisik putih.
“Naga? Apa kalian naga yang memiliki sayap berkaki empat dan bisa terbang?” tanya Seno ingin memastikan.
Mendengar bahwa nama belakang mereka adalah Naga membuat Seno berpikiran demikian.
“Bukan Master, kami memang Naga, tetapi kami bukan naga seperti yang Master maksudkan,” jawab Baiya.
__ADS_1
“Kalau begitu kalian naga yang sedikit mirip seperti ular, berkaki dua hingga lima memiliki tanduk, tidak ada sayap, tetapi kalian masih tetap bisa terbang?”
Di bumi, ada dua mitos mengenai naga. Naga yang berasal dari kebudayaan barat dan naga yang berasal dari kebudayaan timur. Meski dalam bahasa Indonesia pengucapannya sama, tetapi bentuk mereka jauh berbeda.
Naga dalam budaya barat adalah makhluk mitos berkaki empat yang memiliki sayap. Mereka juga memiliki ekor yang tidak terlalu panjang. Bentuk naga seperti ini sekarang ini sangat umum dipakai dalam fiksi barat.
Lalu, dalam budaya timur naga tidak jauh berbeda dari ular. Bahkan di beberapa kebudayaan naga itu bisa berbentuk apa saja. Lalu, mereka nantinya kan memiliki tubuh seperti ular dan juga memiliki tanduk.
Naga dalam kebudayan timur biasanya ada yang memiliki dua kaki, tiga kaki, empat kaki, dan lima kaki. Seno sendiri bingung dengan naga yang memiliki lima kaki, dimana mereka meletakkan kaki kelimanya?
“Ya kami adalah Naga yang seperti itu Master,” jawab Baiyo.
“Sekarang kalian semua bangunlah. Lalu, ke depannya kalian tidak perlu memanggilku master, panggil saja Bos. Sekarang, katakan padaku apa keahlian kalian?”
“Aku ahli dalam mengurus ternak Bos, aku juga sering mengurus pohon yang menghasilkan kayu,” jelas Doemind.
“Bagian mengurus ternak sudah ada Thor. Kalau begitu, Kamu aku tugaskan merawat hutan yang ada di dimensi para Gylinox. Beberapa pohon di sana sudah kami tebangin untuk membuka lahan. Kau bisa merawat pepohonan di sana agar nanti bisa menghasilkan banyak kayu lagi,” jelas Seno.
Belakangan ini Seno membutuhkan banyak kayu. Meski sebelumnya ketika membuka lahan di dimensi Gylinox ia memiliki banyak stok kayu, tetapi stok itu menipis sekarang. Bahkan hampir habis.
Ini karena Seno menggunakannya untuk membuat hunian untuk para Gylinox, membuat pagar untuk peternakannya, rumah pribadinya di dimensi Gylinox serta yang terbaru adalah pembuatan gubuk penyimpanan.
Jika ia tidak melakukan pembaharuan hutan, maka akan sulit baginya menemukan kayu dalam ukuran besar dan jumlah yang banyak. Maka dari itu, Doemind sangat cocok untuk tugas ini.
“Baik, Bos. Aku akan melaksanakannya.”
“Lalu, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama, Dodo. Doemind terlalu sulit aku lafalkan.”
“Tidak masalah bagiku Bos.”
“Kalian berdua bagaiaman? Apa keahlian yang kalian punya?” tanya Seno sembari memandang si kembar Baiya dan Baiyo.
“Kami ini adalah Naga Air, Bos. Jadi keahlian kami adalah membudi dayakan hasil air Bos. Seperti tambak ikan dan sejenisnya,” jawab Baiya.
“Jika Bos memiliki danau atau sungai besar yang belum terjamah, serahkan semuanya pada kami. Kami akan mengolahnya sebaik mungkin,” imbuh Baiyo.
“Tambak ya?”
Seingat Seno dirinya tidak memiliki tambak. Selain kebun, ia sudah memiliki peternakan dan pengolahan hasil. Tetapi tidak dengan tambak. Meski dirinya tidak memiliki tambak, bukan berarti Seno tidak bisa mempekerjakan dua naga ini.
__ADS_1
“Aku akan memberikan tugas kepada kalian setelah ini.”