Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 138 Ekspedisi Cabe Rawit (1)


__ADS_3

Seno baru saja menyerahkan seratus brokoli pesanan Johan. Sekarang ini, ia dan ketiga buruh taninya tengah bersiap untuk menjalankan misi mencari benih cabe rawit super pedas.


Mereka sudah berada di dimensi yang ditinggali para Gylinox. Hanya dimensi ini yang Seno miliki dan bisa dipindahkan dengan mudah.


Selagi hari masih terang benderang, Seno mau memindahkan portalnya saat ini juga. Itu akan sedikit mengurangi efek yang timbul setelah dirinya memindahkan portal.


“Apakah kalian sudah siap?” Tanya Seno kepada ketiga buruh taninya. Ia masih memandang ramah Thorbiorn dan Tiarsus, tetapi ketika tatapannya bertemu dengan Azkareia, tatapan Seno berubah menjadi sinis.


“Tentu Bos kami sudah siap.” Jawab Thorbiorn.


“Baguslah.”


Seno lalu memastikan kembali koordinat tempat portal kan muncul. Setelah memastikan semuanya benar, Seno lalu meminta sistem untuk segera memindahkan portal keluar dari dimensi miliknya.


“Sistem pindahkan portal milikku ke titik koordinat yang sudah aku tentukan.”


[Tentu Host]


[Ding]


[Portal telah dipindahkan ke koordinat yang sesuai dengan pilihan Host]


[Ding]


[Portal baru bisa kembali diubah letaknya dalam waktu 23:59:59]


[Selamat mengerjakan misi Host]


Seno tertegun setelah mendengar semua pemberitahuan dari Sistem. Ia memandangi waktu mundur yang muncul setelah dirinya memindahkan portal.


“Sistem, kenapa portalnya baru bisa dipindahkan lagi setelah dua puluh empat jam?” tanya Seno heran.


Sebelum ini Sistem tidak memberitahunya mengenai hal ini. Jadi, Seno tidak tahu jika ada batas waktu untuk pemindahan portal. Ia tidak bisa seenaknya memindahkan portal lalu memakainya kembali dalam waktu cepat.


[Erm… sepertinya Sistem lupa memberitahukan hal itu Host]


Seno langsung kesal mendengar hal itu. Sistem miliknya ini selalu saja melakukan kesalahan yang sama, lupa memberikan informasi secara mendetail padanya. Tetapi untungnya, Sistem tidak pernah lupa memberitahunya mengenai informasi penting.


Mungkin karena dirinya adalah Host pertama untuk Sistem, jadi Sistem belum terlalu terbiasa menjalankan semua ini. Seno sedikit bisa memaklumi apa yang Sistem lakukan.

__ADS_1


“Apa alasannya portal milikku tidak bisa dipindahkan langsung? Kenapa aku harus menunggu selama dua puluh empat jam?” Tanya Seno penasaran.


[Setiap memindahkan portal, memerlukan tenaga yang cukup]


[Sistem tidak bisa memindahkannya kapan pun Host mau]


[Jadi selama dua puluh empat jam itu, Sistem akan mengumpulkan energi untuk bisa kembali memindahkan portal sesuai dengan koordinat yang Host inginkan]


Penjelasan dari Sistem tersebut bisa Seno terima dengan baik. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Ada aksi ada reaksi. Seno perlu mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Lalu, untuk memindahkan portal, Seno hanya perlu mengorbankan waktu dua puluh empat jam untuk menunggu saja. Itu termasuk pengorbanan yang cukup ringan menurut Seno.


Tetapi, untuk sekarang itu adalah pengorbanan berat. Jika saja Sistem memberitahunya lebih awal, maka Seno bisa meminta kedua istrinya untuk ikut. Menunggu bersama mereka jauh lebih menyenangkan daripada hanya menunggu sendirian.


Apalagi, tempat Seno berada saat ini adalah Pulau Bali, sudah jelas mereka bisa berlibur di sini sembari menunggu portal dimensi milik Seno bisa kembali dipindahkan.


Seno lalu memandang ke arah ketiga buruh taninya. Di tangan Tiarsus sekarang sudah ada sebuah kamera yang sengaja Seno berikan untuk misi kali ini.


Seno menganggap misi pengambilan benih cabe rawit super pedas kali ini sebagai misi ganda. Seno memberi mereka misi tambahan yaitu melalukan pengintain mendetail mengenai makhluk yang ada di dalam sana.


Dengan kamera tersebut, Seno yakin mereka bisa mencari informasi lebih mendetail mengenai makluk penghuni dimensi. Lalu, dengan adaya visual berupa rekaman, cukup mudah pula bagi Seno memahami kondisi di dalam sana.


Itulah alasan Seno memberikan tugas pengambilan rekaman kepada Tiarsus, dia memiliki kemampuan membuat barier pelindung. Seno rasa dengan barier pelindung seperti itu, kamera itu tidak akan memiliki nasib buruk seperti yang dialami Ipad yang sebelumnya Thorbiorn bawa dalam misi.


“Jika keadaan memaksa, ambil gambar sebanyak yang Kamu bisa, lalu simpan memory card dari kamera itu. Setelahnya Kamu bisa mengabaikan kamera tersebut.” Imbuh Seno.


“Tentu Bos.”


“Sekarang kalian berangkatlah.”


*****


Beberapa orang tentara terlihat berpatroli. Mereka terdiri dari satu tim yang berisi lima hingga sepuluh orang. Semenjak kemunculan sosok berjubah hitam, dan hilang salah satu portal yang ada, pihak militer sekarang semakin memperketat pengamanan di seluruh portal yang sudah muncul.


Pihak militer tidak mau ada sosok hitam lain dan memasuki portal yang mereka jaga. Mereka tahu kedatangan sosok berjubah hitam bukan pertanda yang baik. Akan ada kejadian yang menghebohkan setelah mereka datang.


Sekarang saja pihak militer masih bingung dengan hilangnya salah satu portal. Mereka belum yakin apakah itu akan hilang untk selamanya ataukah hilang untuk sementara waktu. Apalagi ketiga sosok berjubah hitam itu tidak terlihat dari dalam portal.


“Apa itu?” tanya seorang tentara yang tengah berpatroli.

__ADS_1


Tentara itu kini menujuk ke salah satu lokasi yang jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari tempatnya. Meski dari jarak sejauh ini, tentara tersebut bisa melihat kilatan cahaya yang begitu terang. Apalagi dengan pandangan matanya yang sudah diperkuat setelah mengkonsumsi wortel.


Melihat cahaya dari jarak sejauh ini bukanlah hal yang sulit bagi tentara tersebut. Ia hanya perlu sedikit memfokuskan pandangannya saja.


Pertanyaan rekan mereka membuat tentara yang lain mengikuti arah yang sebelumnya ditunjuk oleh rekan mereka. Sekilas mereka melihat cahaya putih menyilaukan, sebelum cahaya tersebut tiba-tiba menghilang.


“Apakah itu tanda akan munculnya portal lain menuju dunia bawah?” Tanya salah seorang tentara.


“Aku juga tidak yakin. Yang aku dengar, jika sebuah portal akan muncul, maka terjadi gempa yang cukup besar. Yang barusan kita lihat hanyalah kilatan cahaya, tidak ada gempa yang kita rasakan. Bisa jadi itu bukanlah portal baru yang muncul.” Jawab yang lainnya.


“Apa pun itu, kita perlu mengecek keadaan di sana. Tetapi sebelum itu, kita perlu mengabarkan hal ini kepada markas. Aku yakin tim patroli yang lain ada yang melihat kilatan cahaya tersebut. Jadi, lebih baik kita tunggu instruksi dari markas.” Jelas Kapten dari tim patroli tersebut.


“Laksanakan Kapten.” Ucap tentara yang lain secara serentak.


Setelah menghubungi markas dengan menggunakan walkie talkie dan menjelaskan mengenai keadaan yang mereka lihat, tim patroli ini pun mendapatkan tugas untuk mengecek keadaan dari lokasi tempat mereka melihat kilatan cahaya.


Langsung saja tim tersebut bergerak cepat menuju ke arah kilatan cahaya tadi. Mereka juga mempersiapkan senjata masing-masing. Dengan begitu, jika nanti terjadi sesuatu, senjata mereka sudah siap untuk ditembakkan.


Baru saja mereka berlari selama lima belas menit, kapten dari tim patroli itu melihat sosok berjubah hitam berlari dengan begitu cepat dari arah kanannya. Hal itu membuatnya menghentikan langkah. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ia lihat itu benar adanya dan bukan sekedar ilusi.


“Apakah kalian tadi melihat sosok berjubah hitam yang berlari di sisi kanan kita?” tanya kapten tersebut kepada anggota timnya.


“Aku juga melihatnya Kapten. Jika aku tidak salah lihat, mereka berjumlah tiga orang. Mereka berlari dengan cukup cepat.” Jawab salah satu tentara yang ada di sana.


Jawaban tersebut membuat wajah sang Kapten berubah menjadi lebih serius lagi. Ia kemudian mengeluarkan walkie talkie miliknya. Markas perlu tahu mengenai hal ini dan mempersiapkan semuanya.


Kecepatan dari ketiga sosok berjubah hitam tadi cukup cepat. Lalu, tempat mereka berada sekarang tidak terlalu jauh dari markas. Jelas ketiga sosok tersebut akan sampai di markas mereka dalam waktu cepat.


“Tim patrol tiga kosong dua kepada markas. Ganti.”


[Di sini markas. Ada apa tim patrol tiga kosong dua? Apakah kalian sudah mengetahui asal dari kilatan cahaya tersebut? Ganti.]


“Kami belum sampai di asal kilatan cahaya tersebut. Tetapi kami ingin mealporkan kepada markas bahwa ada tiga sosok berjubah hitam yang berlari dengan cepat menuju ke arah markas. Ganti.”


Kapten dari tim patroli belum juga mendapatkan balasan. Biasanya balasan dari markas akan cukup cepat. Entah itu balasan untuk sekedar meminta mereka menunggu, atau yang lainnya. Tetapi sekarang tidak ada.


Hal itu membuat kapten dari tim partoli memikirkan hal buruk. Apakah tiga sosok berjubah hitam itu sudah sampai di markas? Tetapi bagaimana bisa mereka berlari secepat itu sampai di markas.


[Markas kepada semua tim patroli, markas kepada semua tim patroli. Segera kembali ke markas. Sebentar lagi kita akan melakukan pertempuran yang cukup besar.]

__ADS_1


Jawaban yang ia terima dari markas tersebut membuat kapten dari tim patroli yakin ketiga sosok itu sudah datang ke markas. Bahkan, ada kemungkinan mereka sudah memasuki portal yang saat ini mereka jaga.


__ADS_2