Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 176 Memancing


__ADS_3

Tim Garuda baru saja menyelesaikan pengecekan kesehatan oleh dokter militer, ketika Eko dan Mansyur datang. Dokter tidak menemukan sedikit pun luka fisik pada tentara itu. Mereka hanya sedikit terguncang. Tetapi secara garis besar, mereka baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Eko kepada salah satu dokter.


"Mereka baik-baik saja. Setelah dilakukan pengecekan luar, kami tidak menemukan tanda-tanda penyiksaan. Hanya saja mereka sedikit terguncang. Saya rasa beristirahat beberapa hari sudah cukup untuk memulihkan keadaan mereka." jawab Dokter Jaka, dokter yang menangani para tentara.


"Apakah kami bisa menanyai mereka sekarang?" tanya Mansyur.


"Beberapa prajurit terlihat baik-baik saja. Saya rasa, Jenderal bisa menanyai mereka."


Dokter Jaka pun mengajak Eko dan Mansyur menuju ke tenda di mana tentara yang tergabung dalam Tim Garuda, dirawat. Ia mangajak dua jenderal itu menuju ke arah ranjang rawat yang dihuni oleh tentara bernama Boby dan Nando.


Melihat kedatangan dua jenderal itu, yang lain langsung berdiri dan memberikan hormat. Tidak peduli bahwa sekarang mereka hanya memakai celana pendek saja.


"Kalian beristirahatlah. Pulihkan kekuatan kalian." pinta Eko.


Tentara lainnya pun menuruti perintah dari Eko. Mereka kembali berbaring di ranjang masing-masing dan beristirahat. Sementara itu, Boby dan Nando masih perlu menjawab pertanyaan dua orang jenderal. Boby dan Nando di bawa ke ruang lain yang ada di tenda itu.


"Jadi, ke mana saja kalian beberapa hari terakhir? Kami tengah mencari kalian tetapi jejak kalian hilang begitu saja."


"Lapor Jenderal, kami pergi memancing bersama yang lain. Kemi menemukan ikan yang cukup besar berbagai warna. Kebanyakan adalah bersisik putih. Ikan terkuat adalah ikan dengan sisik emas." Ucap Boby.


"Memancing? Kalian diberi sebuah tugas malah memilih memancing?" tanya Mansyur penuh penekanan.


"Lapor Jenderal, bukan memancing tetapi memancing. Kami juga menemukan beberapa satwa langka yang perlu dilestarikan. Pengalaman memancing ini tidak akan pernah bisa kami lupakan." imbuh Nando.


"Memancing?" Sekali lagi Mansyur bertanya.


Ini adalah kali kedua ia mendengar alasan mereka menghilang hanya untuk memancing. Bagaiamana mungkin mereka memilih memancing daripada menyelesaikan tugas mereka? Itu sangat mustahil terjadj.

__ADS_1


Seorang tentara dituntut untuk selalu mengikuti perintah komandan mereka. Jika mereka melanggar, maka hukuman berat akan menanti mereka.


Nando adalah komandan Tim Garuda, sedangkan Boby adalah wakilnya. Tentunya keduanya tidak akan meninggalkan misi mereka hanya untuk memancing.


"Lapor Jenderal kami tidak memancing, tetapi memancing." lapor Nando sekali lagi.


Ada rasa frustasi dalam nada bicara Nando. Berkali-kali ia ingin mengatakan bahwa mereka di sekap dan tidak bisa ke mana-mana. Ia juga ingin memberi tahu Jenderal Eko dan Jenderal Mansyur, bahwa mereka bertemu dengan makhluk dunia bawah.


Tetapi, apa yang keluar dari mulut Nando sangat berbeda dengan apa yang ingin ia katakan. Semua ceritanya berubah total.


"Apa kalian disekap oleh orang bernama Seno itu?" Kini Eko mencoba mengganti pertanyaan yang ia tanyakan. Mungkin dengan menggantinya, ia bisa tahu apa yang dua tentara ini maksud.


"Tidak, kami memasak dengan cukup lezat. Semua orang menyukak masakan kami. Apalagi Jenderal Roy, dia sangat suka makanan kami sehingga setiap hari dia meminta kami untuk memasak."


Eko dan Mansyur semakin mengerutkan kening mereka. Keduanya tidak menyangka akan menemukan kasus yang seperti ini. Apa yang ditanyakan dengan apa yang dijawab sangat jauh berbeda.


"Kalau begitu, di mana Roy sekarang? Kenapa hanya kalian yang kembali? Di mana Jenderal Roy sekarang?" tanya Mansyur tegas.


Mendengar ucapan itu, Eko dan Mansyur ingin sekali meninju dua orang prajurit di depannya ini. Mereka seperti mempermainkan dua krang jendral. Apa yang Eko dan Mansyur tanyakan, tidak dijawab dengan serius.


"Sudah kalian boleh kembali. Beristirahatlah. Setelah ini kalian akan dikirim untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di Rumah Sakit Militer. Aku ingin tahu apakah ada luka lain yang kalian terima." putus Mansur.


"Siap laksanakan, Jenderal."


Setelah kepergian Boby dan Nando, kini giliran Dokter Jaka-lah yang diinterogasi. Mereka ingin menanyakan kondisi kedua orang tentaratadi kepada Dokter Jaka.


"Kenapa mereka seperti itu? Apakah ada gangguan di kepala mereka? Kenapa setiap kami tanya, jawaban yang mereka berikan selalu berputar-putar," tanya Eko.


Dokter Jaka menggelengkan keplanya pelan. "Maaf Jenderal, aku juga tidak mengetahuinya. Sebelum Anda berdua datang, kami sudah mencoba menanyakan beberapa hal kepada mereka. Namun, jawaban yang mereka berikan cukup aneh."

__ADS_1


"Untuk tahu lebih lanjut mengenai kondisi mereka sebenarnya, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kita juga perlu mendatangkan seorang psikolog untuk mencari tahu apakah mereka menerima serangan psikis atau tidak," jelas Jaka.


"Seperti itu rupanya."


Setelah mengobrol cukup lama untuk menanyakan kondisi para tentara itu, Eko dan Mansyur pergi ke salah satu tenda komando yang disiapkan untuk mereka. Dua jenderal itu lalu mendiskusikan mengenai hasil temuan mereka.


"Jadi bagaimana sekarang? Keadaan mereka cukup aneh. Kita tidak memiliki bukti bahwa semua ini ada hubungannya dengan Seno. Ya meskipun kita tahu bahwa Seno, ada hubungannya dengan semua ini," tanya Eko.


"Mau bagaimana lagi, jika kita ingin memperkuat semua pasukan, kita sebagai Jenderal mereka, perlu berkorban. Kita akan mendatangi Seno meski kita tidak tahu bahaya apa yang sedang menanti," jawab Mansyur.


Mereka benar-benar tidak memiliki pilihan sekarang. Pertemuan mereka yang sebelumnya bisa berhasil dengan baik, mereka rusak sendiri dengan memasang kamera orngawas di kamar hotel tempat melakukan pertemuan.


Jika mereka tidak mau mendatangi Seno dan mendiskusikan semuanya, justru mereka yang akan rugi. Tidak bisa membeli dengan harga diskon tidak akan terlalu menjadi masalah. Tetapi bagaimana jika Seno tersinggung, dan memutuskan tidak akan menjual produknya kepada pihak militer?


Apalagi, ada pihak asing yang sekarang bisa menjadi ancaman. Jika mereka tidak melakukan diskusi dengan Seno, dan mengambil semua keuntungan yang ada, maka mereka akan benar-benar menyesal nantinya.


"Kau tahu sendiri bukan, sekarang ini beberapa militer negara lain mula penasaran dengan sayuran-sayuran ajaib itu. Mereka mengetahuinya karena rekaman siaran langsung yang menjadi tenar beberapa waktu lalu," lanjut Mansyur.


"Gadis yang bisa memakan api itu bersama dengan Seno. Karena hal itu semua produknya menjadi pembicaraan orang-orang dari luar negeri. Setidaknya kita perlu bersyukur bahwa Seno tidak memasarkan produknya itu ke luar negeri."


"Bisa dibilang kita adalah pelanggan pertamanya. Jadi, kita harus berusaha mendapatkan brokoli atau pun sayuran lain yang bisa memperkuat pihak militer," jelas Mansyur.


"Ah ... Kamu benar Mansyur. Aku dengar orang-orang dari Badan Intelegen Negara mendeteksi aktifitas mata-mata asing di negara kita. Tidak menutup kemungkinan mata-mata itu datang untuk menyelidiki produk-produk milik Seno."


"Jika sampai ada pihak asing yang memberikan Seno penawaran bagus serta memborong semua sayurannya, maka kita yang maju enggan, mundur tak mau ini pada akhirnya hanya akan gigit jari."


"Sebaiknya sekarang kita menuju ke rumah Seno. Hari belum terlalu siang. Pasti kita bisa sampai rumah Seno menjelang sore. Kita perlu membicarakan ini sesegera mungkin dengan Seno."


"Untuk yang lain, kita tanya pendapat mereka melalui sambungan telepon. Dengan begitu, apa yang kita bicarakan dengan Seno nantinya, tetap menjadi keputusan bersama."

__ADS_1


"Baiklah kita akan melakukan hal itu."


__ADS_2