Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 124 Pertengkaran


__ADS_3

Ketika Seno keluar dari portal ia tidak merasakan apa pun. Portal yang terbuka di dekat mobil boxnya itu tertutup kembali setelah Seno memberi perintah melalui pikirannya. Seno merasakan sesuatu yang aneh dari area sekitar mobilnya terparkir.


Banyak daun yang berguguran di sekitar mobilnya, lebih banyak daripada sebelumnya. Tidak hanya itu, beberapa ranting pohon pun terjatuh di sana sini. Ini seperti ada angin rebut yang membuat daun dan ranting berguguran. Seno tidak mempermasalahkan hal itu. Toh mobilnya baik-baik saja.


Seno langsung kembali pulang ke rumahnya. Ia ingin kembali ke kasur empuk miliknya dan berkumpul kembali dengan kedua istrinya.


Tetapi ada hal yang mengejutkan yang terjadi ketika Seno sampai di rumah. Lampu rumahnya menyala. Hal ini berarti salah satu atau bahkan kedua istrinya sudah bangun sekarang. Ini adalah kabar yang cukup buruk bagi Seno.


Belum sempat Seno memakirkan mobilnya dan masuk ke kebun milinya untuk berganti baju, pintu rumahnya terbuka. Dari balik pintu itu, sudah ada Dina dan Miranda, yang sekarang beracak pinggang. Mereka memandang tejam ke arah mobil yang Seno kemudikan.


Aura yang cukup berbeda yang dipancarkan oleh Dina dan Miranda membuat Thorbiorn dan Tiarsus berusaha mengecilkan tubuh mereka agar tidak menjadi sasaran kemarahan. Keduanya sendiri paham jika seorang perempuan sudah marah, maka akan ada perseteruan yang luar biasa.


“Mas Seno dari mana aja kok nggak ada di rumah?” Tanya Miranda dengan nada dingin.


“Eh kalian kenapa malam-malam begini bangun?” Tanya Seno yang mencoba mengalihkan pembicaraan.


Seno cukup heran, seingatnya dirinya sudah memberi mereka obat tidur. Tetapi kenapa kedua istrinya itu bangun lebih awal dari waktu yang seharusnya.


“Jangan coba mengalihkan pembicaraan Miranda. Kamu abis dari mana? Ada gempa sebesar itu kamu malah nggak ada di rumah. Jangan buat kami khawatir.” Imbuh Dina.


“Eh abis ada gempa besar?” Tanya Seno cukup kaget. Ia pun berlari mendekat ke arah kedua istrinya.


Dirinya tadi berada di dalam dimensi lain. Jadi, ia sama sekali tidak mengetahui jika daerah mereka terkena gempa. Apalagi perjalanan dari daerah tempat portal itu berada dan rumah Seno melewati jalanan pegunungan. Hal itu membuat Seno tidak tahu jika terjadi gempa.


“Apa kalian tidak apa-apa?”


Seno sangat khawatir dengan kondisi kedua istrinya sekarang. Pasalnya dirinya memberikan mereka obat tidur. Jika sampai mereka tertidur pulas dan tidak mengetahui mengenai gempa yang terjadi, maka bisa saja mereka gagal menyelamatkan diri.

__ADS_1


Membayangkannya saja membuat Seno bergidik ngeri. Jika mereka tidak bisa menyelematakan diri, pasti Seno akan merasa sangat bersalah atas apa yang ia lakukan kepada mereka. Ia juga pasti tidak akan bisa memberikan penejelasan kepada keluarga mereka atas apa yang mereka alami.


“Kami baik-baik saja. Sebenarnya Mas Seno dari man….”


Miranda tidak jadi melanjutkan ucapannya. Sekarang pandangannya tertujuh ke arah pakaian serba hitam yang tengah dipakai oleh suaminya. Bukan baju serba hitam itu yang menarik perhatian Miranda, tetapi hal lain yang ada dibaju Seno.


“Apakah itu darah?” Tanya Miranda sembari menujuk noda yang ada pada baju Seno.


Memang noda tersebut tidak menunjukkan warna merah seperti noda darah pada umunya. Noda di baju Seno itu memiliki warna kecoklatan, mungkin karena Seno memakai baju serba hitam.


Yang membuat Miranda yakin itu adalah noda darah adalah bau anyir yang sangat khas hadir dari sebuah darah. Ini yang membuat Miranda langsung menyimpulkan bahwa noda itu adalah noda darah.


“I-ini a-aku ….” Seno sendiri bingung harus menjawab apa.


Dina yang mendengar ucapan Miranda juga menatap lekat noda pada baju Seno. Itu memang noda darah. Ia lalu melihat ke arah Thorbiorn dan Tiarsus.


Dina lalu memandang tajam ke arah Seno. Dipandang seperti itu, Seno mencoba mengalihkan pandanganya ke arah yang lain. Ia tidak mau bertatap muka dengan kedua istrinya. Ada rasa bersalah yang Seno rasakan saat ini.


“Sebenarnya Kamu dari mana saja sehingga kamu berlumuran darah seperti ini?” Tanya Dina dengan penuh kekhawatiran.


“Jangan memakai alasan lainnya. Jawab yang jujur.” Imbuh Dina.


Ditodong dengan pertanyaan seperti itu, Seno akhirnya menarik nafas panjang. Ia lalu memandang satu persatu wajah istrinya. Sebelum berbicara dengan kedua istrinya, Seno meminta Thorbiorn dan Tiarsus beristirahat.


Mereka membutuhkan istirahat setelah bekerja keras. Selain itu, Seno juga tidak ingin apa yang akania bicarakan dengan kedua istrinya menjadi tontonan orang lain.


“Aku akan menjelaskan semuanya setelah ini. Sekarang biarkan aku membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu.” Jawab Seno.

__ADS_1


Ketika Seno memasuki rumah, Dina lebih dulu menghadangnya. Mata perempuan itu berkaca-kaca ketika memandang Seno. Nampak kesedihan yang mendalam dari sorot mata Dina.


“Itu pasti darahmu bukan? Kamu pasti berniat membersihkan diri sekarang dan ingin menyembunyikan luka itu dari kami bukan?” Tanya Dina.


“Tidak ini bukan darahku. Aku sama sekali tidak terluka.” Jawab Seno.


“Aku tidak percaya. Sekarang kita masuk ke dalam rumah dan buka semua bajumu. Aku ingin mengeceknya secara langsung apakah Kamu benar-benar terluka atau tidak.” Jelas Dina.


Belum sempat Seno memberikan respon apa pun, Dina dan Miranda pun membawa Seno menuju kamar mereka. Selama ini ketiganya memang tidur di satu kamar. Namun, jika Seno akan menunaikan tugasnya sebagai suami, ia akan membawa salah satu istrinya ke kamar yang lainnya.


Sekarang ini, keduanya bekerja sama menanggalkan satu persatu pakaian yang ada di tubuh Seno. Mereka tidak mempedulikan tubuh Seno yang tidak tertutup sehelai benang pun. Keduanya bekerja sama untuk mencari luka dari tubuh Seno.


Setelah cukup lama mencari, keduanya tidak menemukan sedikit pun luka pada tubuh Seno. Hal itu membuat Miranda menyodorkan pertanyaan baru kepada Seno.


“Pasti luka milik Mas Seno sudah menutup duluan bukan? Pasti ada sayuran yang Mas Seno miliki yang bisa menutup luka dengan cepat bukan?” Tanya Miranda dengan suara serak.


“Tidak. Aku benar-benar tidak terluka. Itu tadi bukan darah milikku. Demi Tuhan kali ini aku jujur kepada kalian.” Jawab Seno.


“Lalu, darah siapa ini?” Tanya Dina.


“Darah makhluk lain. Aku baru selesai menjalankan sebuah misi, dan misi ini melibatkan pertumpahan darah.” Jelas Seno.


“Mas Seno bilang Sistem milik Mas Seno aman-aman saja. Mas nggak akan dihadapkan dengan bahaya. Tetapi sekarang kenapa ada pertumpahan darah segala?”


“Hah.” Seno mengela nafas perlahan. “Aku tidak mau membuat kalian khawatir. Jika aku menceritakan kepada kalian misi yang membahayakan yang harus aku jalani, itu malah akans membuat kalian semakin khawatir. Aku tidak mau membuat kalian khawatir.”


“Tetapi apa yang Kamu lakukan ini justru membuat kami lebih khawatir lagi. Tidak bisakah Kamu membicarakan smeuanya? Kita ini sudah menjadi suami istri. Jadi, sudah seharusnya Kamu terbuka kepada kami Sen.”

__ADS_1


“Maaf aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji itu.” Jawab Seno.


__ADS_2