Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 253 Dimensi Baines (3)


__ADS_3

Seno dan rombongannya dibawa ke sebuah tanah lapang yang ada di tengah kastil. Tempat ini cukup luas. Jika dibandingkan dengan tempat di Planet Bumi, tanah lapang ini memiliki luas yang sama dengan lapangan bola.


Seno dan Sosirone, keduanya bersama dengan yang lain, berkumpul di dua sisi yang berbeda. Tidak ada ketegangan yang berlebihan di sana. Namun, kewaspadaan di antara dua belah pihak tidak ada yang menurun.


“Jadi, Kau datang kemari ingin mengambil alih dimensi ini bukan?” tanya Sosirone.


“Ya. Itu adalah tujuanku.”


“Aku sama sekali tidak melihat adanya aura jahat pada dirimu. Apakah Kau memihak Ras Hujole?”


“Memangnya kenapa jika aku memihak mereka? Memangnya kenapa pula jika aku tidak memihak kepada mereka?” tanya Seno balik. Seno tidak menjawab langsung pertanyaan Sosirone. Seno justru bertanya balik kepada Sosirone.


“Hem … Ras Mogoley adalah musuh kami. Mereka sudah menghancurkan Planet Baines sehingga sekarang yang tersisa adalah pecahan ini, yang sekarang berupa sebuah dimensi. Penduduk dimensi ini pun sudah berkurang banyak. Sekarang yang tersisa kurang dari satu persen dari penduduk asli Planet Baines.”


“Leluhur kami mengatakan bahwa akan ada seseorang yang memihak Ras Hujole datang dan akan mengambil alih dimensi ini. Mereka bilang, aku harus menyerahkan dimensi ini ketika dia datang,” jelas Sosirone.


Seno sedikit tertegun mendengar hal itu. Rupanya peradaban di Dimensi Baines ini sangat berbeda dengan makhluk penghuni dimensi lain yang pernah Seno kunjungi. Orang-orang ini tidak langsung menyerangnya. Mereka bahkan berencana menyerahkan dimensi milik mereka begitu saja.


Namun, Seno tidak langsung senang mendengar hal ini. Dari cara bicara Sesirone, Seno bisa menangkap bahwa dia tidak akan menyerahkan dimensi ini begitu saja. Pasti Sesirone memiliki syarat tertentu yang perlu Seno kabulkan.


“Tetapi, aku tidak bisa menyerahkan dimensi ini begitu saja kepadamu. Kami perlu yakin terlebih dahulu bahwa Kau bisa membantu kami membalas dendam kepada Ras Mogoley,” ucap Sosirone.


“Membantumu membalas dendam kepada Ras Mogoley? Aku rasa aku tidak bisa memenuhi permintaanmu ini. Jika boleh jujur, aku ingin merebut dimensi ini darimu karena aku ingin mengamankan beberapa dimensi yang lain.”


“Dibandingkan dengan Ras Mogoley yang belum tentu akan datang ke planet tempat aku tinggal, keberadaan dimensi-dimensi adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Aku tidak mau makhluk penghuni dimensi mengacau di planetku.”


“Bisa dibilang, kalian hanyalah pengungsi. Tetapi, kalian bukannya menjadi pengungsi yang baik, justru membuat kekacauan di planetku. Jika aku tidak mengamankan dimensi-dimensi itu, maka tidak perlu menunggu Ras Mogoley datang, kalian saja sudah cukup untuk menghancurkan planetku,” jelas Seno.


“Jadi, Kau tidak bisa membantu kami membalaskan dendam?” tanya Sosireno yang nada bicaranya mulai datar.


“Ya. Di atas langit akan ada langit. Jika aku tidak bisa menyangga langit sendiri, akan ada orang yang lebih tinggi, yang akan membantuku menahan runtuhnya langit. Aku memang tidak bisa membantumu. Tetapi itu bukan berarti tidak ada orang lain yang bisa membantumu.”

__ADS_1


“Sekarang, serahkan saja inti dimensi ini. Jika Kau tidak bisa menyerahkannya, maka aku dan pasukanku akan menyerang dirimu,” ucap Seno serius.


“Jika Kau memang tidak bisa melakukannya dan masih bersikeras untuk merebut dimensi ini, maka Kau harus melakukan dengan cara kami, penduduk Dimensi Baines. Buktikan bahwa Kau memiliki kekuatan yang lebih kuat daripada orang terkuat yang ada di dimensi ini.”


“Baiklah jika itu yang Kau inginkan. Aku akan mengikuti ucapanmu itu,” jawab Seno.


Mendengar ucapan Seno, anak buahnya terlihat berusaha mencegah Seno untuk menerima tantangan dari Sosirone. Beberapa bahkan mengajukan diri untuk menggantikan Seno untuk bertarung dengan Sosirone.


“Kalian tenanglah. Aku tidak akan kalah semudah itu. Sekarang ini, kekuatanku lebih besar dari pada sebelumnya. Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagipula, aku mengetahui batasanku. Jika aku tidak sanggup, kalian semua menyerang bersama-sama,” bisik Seno.


Katakanlah Seno berbuat curang dengan menyerang orang-orang ini ketika mereka lengah. Namun, ini harus Seno lakukan. Jika sudah berbeda ras yang sangat jauh seperti ini, Seno bisa mengesampingkan peri kemanusiaan miliknya.


Di Planet Bumi saja, jika antar suku berperang karena perbedaan pandangan, mereka bertarung habis-habisan. Cara licik atau pun tidak semua akan dilakukan untuk mencapai kemenangan. Seno pernah mendengar sebuah pepatah mengatakan, hanya seorang pemenang yang bisa menuliskan sejarah, sementara yang kalah, mereka akan selalu digambarkan sebagai orang jahat.


Mendengar bisikan Seno itu, yang lain merasa lega. Bos mereka tidak sebodoh itu mengikuti pertarungan ini dengan mempertaruhkan nyawanya. Ia masih memikirkan cara lain untuk melindungi diri.


“Baik, Bos. Aku dan yang lainnya akan bersiap. Apa pun yang terjadi, jika kami melihat Kau sudah tidak sanggup, maka kami akan turun langsung untuk membantumu,” jawab Tiarsus.


Persiapan untuk duel antara Seno dan Sosirone tidak membutuhkan waktu lama. Mereka hanya perlu meminta yang lain mundur untuk memberikan jarak untuk pertarungan tersebut.


“Apakah Kau sudah siap?” tanya Sosirone.


“Ya, mari kita mulai.”


“Tentu, ini bukan pertarungan hidup dan mati. Jadi, jangan memaksakan diri.”


Meski pertarungan sudah dimulai, baik Seno mau pun Sosirone tidak ada yang menyerang duluan. Keduanya tidak ada yang tahu siapa yang lebih kuat. Jadi, siapa pun yang menyerang duluan bisa jadi menjadi pihak yang dirugikan karena kurang perhitungan.


Pada akhirnya, karena tidak sabar Sosirone menyerang terlebih dahulu. Sosirone melayangkan tinjunya ke arah Seno. Tinju milik Sosirone tersebut disertai dengan api yang membara. Sepertinya Sosirone adalah pengendali api.


Seno langsung bersikap tanggap, ia menghindari Sosirone dengan melompat ke udara. Dengan bantuan kemampuan melayang dan juga pengendalian angin yang ia miliki, Seno bisa dengan mudah menghindari serangan Sosirone.

__ADS_1


Namun, Seno tidak hanya menghindar. Ketika tubuhnya melayang, Seno menghembuskan napas es miliknya. Hal itu membuat tangan Sosirone yang semula diselimuti api, sekarang berganti diselimuti es.


Sosirone lalu memandang tangannya yang membeku, kemudian ke arah Seno yang masih melayang di udara secara bergantian.


“Aku tidak menyangka Kau memiliki kemampuan yang seperti ini. Aku kira Kau hanya memiliki beberapa kemampuan saja. Namun, jangan bersenang hati dulu. Ini baru pemanasan, pertarungan sesungguhnya baru akan di mulai.”


“Oh … benarkah begitu …?” tanya Seno yang seolah tidak yakin dengan ucapan Sosirone.


“Lihat saja ini.”


Sekarang, bukan lengan atas Sosirone diselimuti api. Api itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Hal itu membuat es yang ada di tangannya mencair. Sosirone sekarang terlihat seperti manusia api. Dia mengingatkan Seno akan Momoy yang sering menyelimuti tubuhnya dengan api ketika bertarung.


Sosirone terlihat mengambil ancang-ancang untuk kembali melakukan serangan. Ia berlari dan melompat ke arah Seno. Selama itu pula, Sosirone melayangakan tinju di udara. Akibatnya, beberapa bola api keluar dari tangan Sosirone dan menuju ke arah Seno.


Berada di udara membuat pertarungan yang Seno lakukan semakin mudah. Ia bisa menghindari serangan yang dilakukan oleh Sosirone dengan melakukan beberapa manuver di udara. Jika ia sulit menghindari serangan itu di udara, maka Seno akan kembali turun ke atas tanah lalu kemudian kembali melayang di udara.


Sudah cukup lama Seno dan Sosirone melakukan serangan dan tangkisan satu sama lain. Namun, dari pertarungan ini terlihat bahwa Seno lebih unggul dari Sosirone. Jika membandingkan kekuatan mereka, Seno memang kalah. Namun, Seno lebih lincah daripada Sosirone. Hal ini membuat serangan Sosirone belum bisa menyentuh Seno sedikit pun.


“Apakah hanya itu yang bisa Kau lakukan? Kau menghindar saja seperti seorang pengecut?”


Seno tidak memedulikan ejekan yang dikatakan oleh Sosirone. Ia tahu bahwa Sosirone hanya ingin membuatnya emosi, lalu mengacaukan konsentrasinya. Namun, Seno sama sekali tidak terpancing dengan hal itu.


“Menghindar adalah salah satu kemampuanku. Aku tidak peduli bagaimana Kau memandangku. Yang jelas, Kau tidak berhasil menyakitiku. Sekarang, kita sudahi saja pemanasan ini. Aku perlu mendinginkan tempat ini supaya emosimu mereda,” jawab Seno.


Seno langsung menurunkan suhu udara di sekitar Sosirone. Dengan begini, kekuatan api miliknya akan semakin berkurang. Tidak hanya itu, Seno juga menggerakkan tanah yang sedang Sosirone pijak sehingga tanah itu menyelimuti tubuh Sosirone. Tubuh Sosirone sekarang terkurung. Ada tanah dengan tebal lima puluh sentimeter yang mengelilinginya.


Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Hal itu membuat Sosirone tidak bisa menghindar. Ia kemudian berusaha menghancurkan tanah yang menyelimuti tubuhnya. Namun, bukannya hancur, tanah itu justru semakin mengeras. Apalagi, Sosirone merasakan kekuatan api miliknya semakin lama semakin melemah.


“Kau kalah. Sekarang, serahkan inti dimensi itu padaku,” ucap Seno.


Tepat di leher Sosirone, sekarang ini terdapat tanah yang cukup runcing. Tidak hanya itu, Sosireno juga merasakan tanah yang runcing di sekujur tubuhnya. Jika dirinya melakukan sesuatu, maka Seno bisa dengan mudah menghujam tubuhnya dengan semua tanah runcing itu.

__ADS_1


Sosirone tidak menyangka Seno bisa mengalahkan dirinya secepat ini. Semua ini karena Sosirone yang meremehkan kemampuan Seno. Ia kira Seno hanya memilii kemampuan es dan terbang saja. Ia tidak menyangka bahwa Seno memiliki kekuatan yang disembunyikan.


“Aku kalah,” ucap Sosirone.


__ADS_2