
Dengan menaiki ATV miliknya, Seno kembali melanjutkan perjalanannya untuk mengeksplorasi dimensi miliknya. Sejauh ini, Seno sudah menemukan keberadaan danau yang menjadi sumber mata air di dimensi ini.
Tidak hanya itu, Seno juga menemukan aliran sungai yang sangat jernih, tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu dalam. Hal itu membuat Seno berpikir untuk menebar bibit ikan di danau dan sungai yang ada di sini.
Seno membayangkan nanti dirinya akan berkemah dengan kedua istrinya dipinggiran sungai. Untuk makan, mereka akan memancing ikan di sungai. Seno juga bisa membeli sebuah kapal kecil dan menaruhnya di danau. Mereka bisa mengarungi danau itu semau mereka.
Membayangkan semua itu membuat Seno senang. Ia tidak sabar untuk mencoba semua hal itu. Tetapi sekarang ia perlu mengeksplorasi apa yang ada di sini terlebih dahulu.
Peta yang ia miliki tidak akan terbarui jika bukan dirinya sendiri yang melakukan eksplorasi. Sebelumnya Seno berpikir untuk menyuruh anak buahnya untuk membuka peta, ternyata tidak bisa.
Sekarang Seno memilih menuju ke arah yang ia perkirakan sebagai arah utara dari dimensi ini. Sebelumnya ia sudah mengeksplorasi sisi timur, barat, dan selatan dari dimensi ini.
Setelah setengah lima belas menit mengendarai ATV, Seno menemukan sebuah lembah baru. Lembah ini tidak terlalu luas menurut Seno, hanya seperempat dari lembah yang menjadi sarang dari Gylinox. Di sini juga terdapat sebuah gua yang berukuran sedang.
Melihat pemandangan itu, Seno berpikir untuk membuat sebuah rumah peristirahatan di sini. Ia juga bisa mengubah portal masuknya menjadi di sini. Dengan begitu, kedua istrinya tidak akan takut lagi untuk masuk ke sini. Karena nanti mereka tidak akan langsung bertemu dengan para Gylinox.
Seno lalu memarkirkan ATV miliknya. Ia mengabil sebuah senter yang cukup besar dari ransel yang ada di ATV miliknya. Seno sudah mempersiapkan semuanya untuk kebutuhan eksplorasinya ini.
Gua itu tidak terlalu luas, tetapi memanjang. Lebar guanya hanya sektar empat meter dengan ketinggian langit-langit gua sekitar enam meter saja. Gua itu cukup lembab.
Seno langsung saja masuk ke sana. Ia yakin dirinya aman di sini. Yang perlu ia lakukan hanyalah berhati-hati dalam berjalan agar tidak terpeleset. Selain itu tidak ada yang perlu ia takutkan. Dirinya adalah penguasa dimensi ini. Semua makhluk asli penghuni dimensi ini tunduk pada perintahnya.
Setelah beberapa belas meter memasuki gua, pandangan Seno tertuju pada beberapa benda yang ada di dinding gua. Benda itu memantulkan cahaya dari senter yang Seno bawa.
Karena penasaran, Seno mencoba melihat benda apa itu. Ketika mendekat, Seno cukup kaget dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
“Eh apakah ini berlian?” Gumam Seno.
Di depannya ini ada benda yang Seno tebak sebagai berlian. Tetapi, ia tidak tahu apakah beda yang merefleksikan cahaya senternya ini berlian atau bukan. Saat ini Seno sendiri tidak membawa perlatan untuk menambang. Jadi ia tidak bisa mengambil beberapa benda itu untuk dilakukan pengecekan.
Tetapi Seno tidak menyerah. Ia lalu mengecek ke bagian lantai gua. Mungkin ada bagian kecil dari benda itu yang terjatuh dan bisa Seno bawa untuk di cek apakah ini berlian atau tidak.
Setelah lima belas menit mencari, Seno akhirnya menemukan benda yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Benda yang memiliki ukuran sebesar kelereng itu berwarna merah darah.
“Jika ini berlian, maka aku akan semakin kaya. Aku memiliki tambang berlian dan tidak akan bisa orang lain temukan.” Ucap Seno dengan sebuah senyum lebar.
Laki-laki itu kemudian menyimpan benda berwarna merah itu dikantong celananya. Ia kemudian keluar dari dalam gua. Seno tidak lupa memberi tanda lembah di mana ia menemukan tambang ini. Dengan begini akan mudah baginya untuk menemukan letak tempat ini.
Ketika sampai di Bumi, tanpa mengganti pakaiannya, Seno lalu bergegas menuju ke kota. Kebetulan di kota tempatnya tinggal ada toko perhiasan yang cukup ternama. Ia pasti bisa meminta mereka mengecek benda yang ia miliki sekarang.
Satu jam kemudian, Seno sudah berada di salah satu toko perhiasan ternama. Di sana ia langsung disambut oleh seorang pelayan toko.
Seno bisa melihat tatapan mencemooh dari pelayan tersebut. Sekilas pelayan itu melihat Seno dari ujung kaki hingga ujung kepala. Senyuman yang sebelumnya Seno lihat di wajah pelayan toko itu, sekarang menghilang.
Hal itu membuat Seno tersadar akan satu hal, dirinya belum berganti pakaian. Sekarang ini Seno hanya memakai sebuah kaos polos dan celana kargo. Ia juga memakai sebuah sepatu boot yang kusam.
Tidak hanya itu, beberapa bagian celana dan sepatunya kotor terkena tanah. Noda tersebut mungkin Seno dapatkan ketika sibuk mencari pecahan kecil benda yang ia kira sebagai berlian.
Karena senang mendapatkannya, dan ingin mengecek keaslian benda itu, pada akhirnya Seno lupa untuk membersihkan diri atau sekedar berganti pakaian. Jadi cukup wajar jika pelayan toko ini memberi pandangan mencemooh kepada Seno.
“Ehm apakah kalian menerima jasa pengecekan berlian di sini? Aku memiliki sebuah benda yang kata temanku adalah sebuah berlian. Jadi aku ingin mengecek keasliannya di sini.” Ucap Seno memberi alasan.
__ADS_1
Seno tidak bisa mengatakan bahwa ia menemukan benda tersebut. Jika ia mengatkan demikian, dan benda ini ternyata adalah berlian, maka aka nada orang-orang jahat yang akan mengganggu Seno untuk mendapatkan informasi mengenai tempat di mana ia menemukan benda tersebut.
“Oh, tentu. Sekali pengecekan Anda perlu membayar lima ratus ribu rupiah. Apakah Anda sanggup membayarnya?” Tanya pelayan toko itu dengan angkuhnya.
Seno tidak menyangka toko ini akan memberikan biaya sebesar itu hanya untuk mengecek keaslian sebuah berliat. Seno pernah melihat di sosial media bahwa pengecekkan sebuah berlian tidak terlalu merepotkan dan bisa dilakukan kurang dari lima menit.
Mereka hanya perlu menempelkan sebuah alat di berlian tersebut. Atau, mereka hanya perlu melihatnya dibawah microskop. Semua itu tidak merepotkan. Tetapi harga yang dibandrol semahal itu.
“Lima ratus ribu? Mahal sekali Mbak. Hanya penegcekan dan Mbak memberi tarif semahal itu?” Tanya Seno.
Uang segitu tentu saja bukan menjadi masalah besar untuk Seno. Cukup mudah baginya mebayar uang sebanyak itu. Namun, jika pelayan toko ini menaikkan harga jasa mereka hanya karena penampilannya, maka Seno tidak terima.
“Jika Anda tidak sanggup membayar segitu, maka kami tidak akan bisa melayani Anda. Lebih baik Anda segera pergi dari toko kami. Keberadaan Anda di sini memperburuk suasana toko kami. Anda bisa membuat pelanggan kami tidak nyaman.” Jawab pelayan toko tersebut.
Memang pelayan toko tersebut mengatakannya dengan nada yang santun. Tidak ada nada tinggi atau pun penekanan dalam perkataannya. Tetapi, apa yang diucapkannya itu cukup menusuk hati.
Lalu, saat ini toko perhiasan ini hanya ada dirinya dan pelayan toko ini. Tidak ada pengunjung lain atau pun pelayan toko lainnya. Hal ini membuat Seno yakin bahwa pelayan toko ini sengaja menaikkan harga dan berkata semaunya.
Ia meremehkan Seno hanya karena pakaian yang ia pakai kurang pantas. Oleh karena itu, pelayan toko ini mengusir Seno dengan cara halus.
“Maaf tetapi apa yang Anda lakukan itu keterlaluan. Hanya karena aku berpakaian kurang pantas, Anda lalu menaikkan harga pelayanan agar bisa mengusirku dengan cepat.”
Setelah berucap demikian, keinginan Seno untuk mengecek barang temuannya sudah hilang. Lebih baik ia mengeceknya di tempat lain. Toko perhiasan yang bisa melakukan itu tidak hanya satu.
Tetapi, sebelum dirinya beranjak pergi, seseorang yang memanggil dirinya. Hal itu membuat Seno menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
“Hey suaminya Dina.”