Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 57 Traktiran


__ADS_3

Seno merasa cukup lega setelah dirinya berhasil sampai di rumah dengan selamat. Sepanjang jalan pulang setelah kejadian sebelumnya, Seno tidak lagi bertemu dengan pembegal atau penjahat lainnya.


Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, Seno langsung tidur. Laki-laki itu hanya mengganti bajunya yang sudah sobek itu dengan sebuah kaos oblong.



Pagi harinya, setelah dirinya berolah raga dan memerah sapinya, Seno menuju ke kebun miliknya. Ia mencari tempat yang pas untuk menanam benih misterius yang semalamia dapatkan.


Ketika Seno akan menanamnya, ia mendengar sebuah pemberitahuan dari sistem. Hal itu membuatnya mengurungkan apa yang tengah ia lakukan sekarang.


[Host, Sistem menyarankan agar Host menanam benih misterius itu di petak paling pinggir pada kebunmu Host]


“Eh kenapa begitu?” Tanya Seno penasaran.


Sebelumnya Seno berniat menanamnya di tengah-tengah kebun. Di lahan kosong antara satu petak dan petak lainnya yang biasanya ia jadikan jalan. Tetapi rupanya sistem memberikannya ide yang berbeda.


[Ikuti saja saranku Host]


[Lalu, aku sarankan Host memberi dua pupuk pada benih misterius itu]


Seno pikir Sistem pasti memberinya saran yang bagus. Tidak mungkin Sistem akan menjerumuskan dirinya. Oleh karena itu, Seno menuruti saran Sistem tersebut.


Ia menanam benih misterius itu di lahan paling pinggir dari kebunnya. Tidak lupa juga Seno menambahkan dua buah pupuk untuk benih tersebut. Baginya yang sekarang memiliki banyak sekali poin tanam, pupuk ini cukup murah. Tidak masalah jika dirinya membeli banyak sekali pun.


….


Dua hari berlalu bergitu saja. Sekarang ini, Seno dalam perjalanan menuju ke Kota Y untuk mentaktir teman-temannya. Seno juga membawa beberapa kentang dan wortel untuk nantinya dibagikan kepada teman-temannya.


Apalagi kentang, ia membawa cukup banyak sayuran itu. Hal ini karena Seno tahu bahwa kentang sangat cocok diberikan kepada teman-temannya yang berstatus mahasiswa itu. Nantinya, mereka akan bisa menghemat uang mereka berkali-kali lipat.


Tempat pertemuan mereka kali ini sudah ditentukan oleh teman-temannya. Sebuah restoran grill yang tidak jauh dari kampus mereka. Rupanya para anak kos ini ingin makan daging sepuas mereka setelah berhemat.

__ADS_1


Seno tidak masalah dengan hal itu. Mentraktir teman-temannya pasti hanya mmebutuhkan lima buah wortel saja. Seno bisa melelang lima buah wortel dan uang yang pakai untuk mentraktir teman-temannya pasti akan kembali lagi padanya.


Jadi, semahal apa pun makanan yang mereka pilih, asalkan bukan makanan yang harganya jutaan per porsi, Seno sanggup membayarnya. Lagi pula semalam juga dirinya sudah memasang beberapa sayuran untuk di lelang.


Sama seperti sebelumnya, sembilan puluh wortel yang terbagi menjaditiga puluh paket dan juga seratus kentang yang terbagi dalam sepuluh paket. Besok malam rekeningnya akan kembali terisi.


Ketika Seno sampai, ada lima orang temannya yang sudah menunggu di parkiran. Mereka tidak langsung masuk dan menempati tempat duduk yang tersedia. Mungkin mereka takut Seno tidak hadir. Jika begitu, tidak akan ada yang membayar makanan mereka nantinya.


“Eh hanya kalian yang datang?” Tanya Seno.


“Yang lain nggak bisa datang. Ayolah masuk. Aku sudah lapar.” Ucap Heru.


Mereka berenam pun masuk ke sana dan memesan makanan. Cukup banyak yang mereka pesan. Keenam orang itu memiliki lambung yang cukup besar untuk menampung semua makanan ini. Jadi tidak masalah jika mereka pesan banyak. Toh nantinya semuanya juga akan habis.


“Sen, emang bener ya wortel dan kentang yang Kamu lelang itu seajaib itu sampe jadi rebutan banyak orang?” Tanya Paul di tengah mereka makan.


“Iya aku juga penasaran. Kamu kemarin abis pasang lelang lagi bukan? Tadi aku cek harganya naiknya cepet. Sekarang wortelmu itu rata-rata sudah di tawar di atas satu juta lima ratus. Itu berarti lima ratus ribu lebih per wortelnya. Kenapa mereka mau membayar semahal itu?” Imbuh Sandy.


Seno terdiam sejenak. Ia masih harus menghabiskan makanan dimulutnya sebelum menjawab pertanyaan Paul dan Sandy.


“Maksudmu?” Tanya Heru.


“Aku sudah membawa beberapa wortel dan kentang. Kalian nanti juga akan tahu kenapa banyak yang menginginkan wortelku dan mau membayar mahal.”


“Sungguh?” Tanya Rudi memastikan.


Rudi bahkan sampai melebarkan matanya karena tidak perncaya dengan apa yang barusan ia dengar. Sayuran milik Seno itu cukup mahal, ia tidak menyangka temannya ini mau memberi mereka barang mahal seperti itu.


“Sungguhan. Aku nggak bohong. Sekarang kita nikmati saja makan-makan kita ini.”


Satu jam lebih mereka berada di restoran grill tersebut. Mereka beberapa kali menambah daging yang mereka pesan. Apalagi makan sambil berbincang-bincang hal itu membuat mereka tidak sadar sudah cukup lama mereka berada di sana.

__ADS_1


Sebelumnya mereka berencana untuk ngopi bareng setelah makan-makan. Namun karena kondiri perut mereka yang terasa penuh, keenam orang tersebut mengurungkannya. Akhirnya mereka berpisah di pakiran restoran.


Seno sekarang berencana menjenguk kedua adiknya. Minggu ini mereka tidak pulang. Jadi, sekalian saja ia mengunjungi mereka.


Seno juga ingin melihat rumah yang di sewa adiknya itu. Dua hari yang lalu Anita memang sudah mengabarinya bahwa dirinya dan Renata sudah pindah ke rumah kontrakan.


“Ini cukup bagus. Lingkungannya juga nyaman.” Ucap Seno ketika melihat rumah kontrakan yang di tempati kedua adiknya.


Rumah yang mereka kontrak memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan satu kamar mandi luar. Sangat pas ditinggali adik-adiknya. Mereka bisa memiliki kamar mereka sendiri meskipun harus tinggal bersama.


Tidak hanya itu, letak rumah ini tidak jauh dari sekolah Renata, hanya delapan menit menggunakan motor dengan kecepatan sedang. Lalu, rumah ini terletak di antara perkampungan. Jadi jika ada apa-apa akan ada warga yang sigap membantu mereka. Seno cukup puas dengan pilihan kedua adiknya ini.


“Pilihanku memang yang terbaik.” Ucap Renata bangga.


“Sekarang, kita perlu membeli beberapa perabot untuk kalian. Ya meskipun kalian hanya akan menyewa tempat ini selama setahun saja, tetapi kalian tetap harus mengisi rumah ini dengan perabotan. Terutama kasur, almari, dan meja belajar.”


Ketika disewa, rumah ini tidak memiliki perabot sama sekali. Bahkan kursi saja tidak ada. Jadi mereka perlu mengisi rumah ini agar nyaman dihuni.


“Baiklah Mas. Kita langsung ke toko perabot saja.”


“Ya. Kalau tidak salah, di kota ini ada Informa. Di sana kita bisa memilih berbagai perabot di satu tempat tanpa perlu berpindah-pindah tempat. Kita ke sana saja untuk memilih perabot kalian. Setelah itu kita akan ke dealer motor.”


“Untuk apa Mas?”


“Tentunya membeli motor baru untu kalian berdua.”


“Kan masih ada motor itu? Itu juga masih berfungsi dengan baik. Tidak ada masalah sama sekali.” Jawab Anita.


“Sebelum ini kita tidak memiliki uang untuk peremajaan motor. Tetapi sekarang karena kita sudah ada uang, tidak masalah jika kita membeli motor baru. Motor yang Kamu pake umurnya sudah cukup tua. Lebih dari sepuluh tahun. Jadi kita ganti saja.”


“Lalu Rena akan punya motor sendiri. Dengan begitu ketika dia ada kerja kelompok atau keperluan lainnya, dia nggak akan merepotkan kamu. Kamu bisa memakai waktumu untuk kepentingan yang lainnya.” Jelas Seno.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Seno itu, Anita tidak lagi menolak. Perempuan itu sudah tahu bagaimana pendapatan kakaknya sekarang. Jadi, ia tidak lagi protes ketika Seno berniat membelikan mereka motor baru.


Lagipula, jika mereka memiliki kebutuhan yang mendesak dan butuh uang cepat sementara mereka tidak ada uang, motor itu bisa mereka jual kembali nantinya.


__ADS_2