
Iring-iringan mobil mewah memasuki rumah halaman rumah Seno. Setidaknya ada lebih dari dua puluh mobil mewah yang datang kemari. Hal ini membuat beberapa tetangga Seno takjub dengan apa yang mereka lihat.
Selama ini yang datang hanyalah truk kontainer yang mengambil sayuran, atau truk milik para tentara. Tetapi mereka tidak lagi melihat keberadaan truk-truk itu semenjak Seno memusatkan pengemasan sayurannya di tempat lain.
Tetangga Seno tahu bahwa sekarang ini Seno mulai menjadi petani terkaya di kampung mereka. Apalagi mereka yang bekerja kepada Seno, gaji mereka cukup tinggi. Mengemas sayuran saja digaji sebesar empat juta per bulannya. Belum lagi Seno yang terkadang memberi mereka sayuran-sayuran mahal.
Sekarang di kampung mereka, pekerjaan dambaan bukan lagi pekerjaan di kota, tetapi di tempat Seno. Banyak yang berharap bisa bekerja di tempat Seno tetapi tidak ada banyak lowongan di sana.
Cukup aneh memang. Penjualan Seno banyak tetapi dia tidak menambah jumlah pekerjanya. Tidak seperti juragan kebanyakan, yang akan menambah pekerja jika pesanan mereka meningkat.
Sekarang, kemunculan mobil-mobil mewah itu membuat para tetangga mulai berspekulasi bahwa saat ini Seno tengah menerima tamu-tamu penting. Atau mungkin, mereka adalah pelanggan Seno dari kalangan orang kaya, yang memilih membeli langsung sayur di rumah Seno daripada secara daring.
...
Dari barisan mobil mewah tersebut, keluarlah perempuan-perempuan cantik yang tidak kalah cantiknya dari model ternama. Mereka terlihat seperti perempuan berusia dua puluh tahunan.
"Wah ... di sibi banyak sekali kelincinya," ucal salah satu perempuan di rombongan itu.
"Nggak hanya kelinci Jeng. Lihat itu banyak burung juga di sini," imbuh yang lain sembari menunjuk ke arah atap rumah Seno.
Ketika perempuan-perempuan itu tengah sibuk mengobrol mengamati area sekitar rumah Seno, pemilik rumah keluar dari dalam rumah. Seno, Dina, dan Miranda cukup kaget dengan kedatangan rombongan ini.
Wajah mereka cukup asing bagi Seno. Tetapi, ia menemukan salah satu wajah yang cukup ia kenal di sana. Melihat keberadaan orang itu dalam rombongan ini, Seno bisa dengan mudah mengetahui siapa mereka ini.
“Tante Cindy,” sapa Dina kepada salah satu perempuan di sana.
“Hallo Dina, Seno, dan Mira. Maaf aku mengajak rombongan besar teman-teman arisanku ke rumah kalian tanpa diundang. Kalian tidak masalah bukan dengan hal ini?” tanya Cindy.
__ADS_1
“Ehm … itu ….”
Seno sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti perkataan Cindy ini. Jika Cindy hanya membawa beberapa orang saja, maka ia tidak akan terlalu mempermasalahkan hal ini. Tetapi yang dibawa Cindy kemari bukan satu atau dua arisannya, Seno melihat setidaknya ada lima puluh orang di sini.
Meski Seno sangat keberatan dengan apa yang Cindy lakukan, ia tidak bisa semudah itu mengatakan protesnya kepada Cindy. Bagaimanapun juga, Cindy adalah Bibi dari Dina, jadi dia juga tetuanya.
“Memangnya Tante ke sini ngapain? Kenapa ajak orang banyak kayak gini?” tanya Dina.
“Tentu saja membeli sayur darimu. Teman-temanku ini bisanya membeli sayuran ajib Suamimu melalui lelang. Tetapi sekarang laman web milik kalian tidak bisa diakses. Jika begini, mau tidak mau kami harus datang kemari untuk membeli sayuran itu.”
“Ya. Kami ingin membeli sayuran milikmu. Sebentar lagi cucuku akan mengikuti ujian. Aku ingin dia mendapatkan nilai bagus. Banyak yang mengatakan bahwa kacang merah milikmu itu bisa menaikan kecerdasan seseorang. Aku butuh banyak untuk diberikan kepada cucu-cucuku. Uang tidak masalah,” sahut Lusi.
“Kalau aku, aku ingin membeli kacang hijau. Keponakan dari sepupuku terkena kanker paru-paru. Aku ingin memberikan kacang hijau sebagai obatnya,” sahut yang lain.
Tiba-tiba saja halaman rumah Seno berubah seperti pasar. Perempuan yang ada di sana terlihat saling bersahutan mengutarakan apa yang mereka inginkan.
“Semua diam. Coba semua diam dan berbaris rapi. Aku akan mendata apa yang ingin kalian beli. Itu akan lebih baik daripada mendengar kalian berteriak seperti ini.”
Teriakan Seno itu rupanya berhasil membuat mereka diam. Tidak ada lagi suara teriakan yang terdengar. Mereka pun berbaris dan mengatakan apa yang mereka inginkan.
Sebenarnya Seno tidak ingin menjual sayur ajaibnya secara luring seperti ini. Ia lebih suka melakukan semuanya secara daring. Ini karena dengan daring, Seno tidak perlu berinteraksi secara langsung dengan pelanggannya. Ia hanya perlu menyuruh para kelinci untuk membungkus pesanan dan mengirimkannya lewat kurir.
Namun, yang ia hadapi ini bukan orang sembarangan. Mereka adalah ibu-ibu. Seno jelas tidak akan bisa mengalahkan mereka. Meskipun di atas kertas dirinya bisa mengalahkan mereka, pada kenyataannya Seno tidak bisa melakukan apa pun kepada ibu-ibu ini.
Maka dari itu, Seno memilih melanggar prinsipnya dan melayani pesanan ibu-ibu ini. Jika ia menolak, sandal dan tas mereka akan berakhir di tubuhnya.
“Baiklah Ibu-Ibu sekalian, aku sudah mencatat semua pesanan kalian. Kalian juga sudah melakukan pembayaran padaku. Paling lambat besok sore pesanan kalian akan sampai di alamat yang sudah kalian tulis,” ucap Seno setelah mendata pelanggan terakhir.
__ADS_1
“Ish …, Mas Seno gimana sih, orang dengan wajah muda seperti kita kok dipangggil Ibu-Ibu sih. Wajah kami ini kayak anak kuliahan kenapa dipanggil ibu-ibu. Panggil Mbak aja ya. Panggil aku Mbak Nana,” ucap seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Nana.
“Ya baiklah Mbak-Mbak sekalian.”
Meski Seno menuruti permintaan Nana, tetapi dalam hati Seno mengumpat pelan. Seseorang yang seusia ibunya, bahkan seseorang yang seusia neneknya, masih mau dipanggil Mbak agar sesuai dengan wajah mereka yang kembali muda. Tetapi, umur mereka jauh lebih tua daripada Seno.
“Terima kasih atas pembelian kalian. Aku harap setelah ini kalian membeli sayurannya melalui laman web kami saja. Tidak perlu lagi datang kemari,” jelas Seno.
…
“Hah.” Seno menghembuskan napas panjang setelah mobil mewah terakhir pergi dari rumahnya.
“Aku tidak mau lagi meladeni pelanggan di rumah. Apalagi orang seperti mereka. Jika begini terus, kita tidak akan bisa memiliki hidup tenang,” keluh Seno.
Semenjak memiliki Sistem dan menjadi petani, Seno mulai terbiasa dengan kehidupan tenangnya. Hanya saja, akhir-akhir ini dirinya harus menghadapi masalah yang cukup berat. Keberadaan orang-orang yang membeli produknya justru membuat Seno semakin pusing.
“Sepertinya itu tidak bisa terjadi Ayah. Lihatlah itu!” ucap Dina sembari menunjuk ke arah ujung jalan kampung mereka.
Di sana Seno melihat rombongan mobil mewah lainnya. Sudah jelas mereka memiliki tujuan ke rumah Seno. Seno bukan bermaksud sombong, tetapi dikampungnya ini hanya rumahnya saja yang sering dikunjungi oleh mobil mewah.
“Sepeertinya, kita perlu membuat pagar rumah yang tinggi, supaya tidak sembarangan orang bisa keluar masuk area rumah kita. Kita juga perlu mengatasi masalah alamat rumah ini yang bocor. Aku tidak mau nantinya kita harus menghadapi pelanggan-pelanggan itu setiap hari.”
“Bagaimana kalau kita buat lelang luring saja Ayah?” usul Miranda. “Setiap tanggal lima belas dan akhir bulan, kita akan membuat lelang di hotel ternama. Nantinya, kita akan menjual tiket masuk lelang kepada mereka yang ingin ikut.”
“Meski kita pindah rumah sekali pun, akan cukup mudah bagi mereka yang memiliki uang untuk menemukan alamat baru kita.”
Saran Miranda ini terdengar cukup bagus. Mereka tidak akan bisa selamanya berlari. Jadi, kenapa tidak sekalian saja Seno membuat wadah bagi mereka yang ingin membeli barangnya secara luring?
__ADS_1
“Baiklah kita bisa melakukan hal itu. Kita akan melayani satu orang terakhir ini. Tetapi, jika ada lagi yang datang, maka kita akan mengusir mereka,” jelas Seno.