
Seno baru tahu bahwa selama bekuliah di Kota H, Dina ternyata tinggal di sebuah apartemen. Laki-laki itu mengira Dina akan tinggal di rumah kos seperti mahasiswa pada umumnya. Tetapi ternyata tidak.
Itu terlalu mengejutkan bagi Seno. Ia tahu bahwa Dina berasal dari keluarga berada jadi cukup wajar jika dia tinggal di sebuah apartemen daripada di rumah kos.
“Jadi sebenarnya apa yang ingin kalian bicarakan?” Tanya Seno ketika sudah berada di apartemen Dina.
Di depannya kini sudah ada Dina dan Miranda yang terlihat saling pandang satu sama lainnya. Keduanya terlihat berkomunikasi dengan pandangan mereka. Pada akhirnya, Dina membuka suara terlebih dahulu.
“Ini mengenai hubungan kita ke depannya. Ternyata apa yang Kamu takutkan terjadi. Keluargaku mendengar apa yang aku ucapkan di mall tempo hari. Mereka lalu mempertanyakan hubungan kita bertiga.” Jelas Dina membuka suara.
“Keluargaku juga mengetahui hal ini sekarang.” Imbuh Miranda.
Sebenarnya keluarga Miranda sudah tahu lebih dahulu mengenai hubungan ketiganya. Mereka tahu sejak Seno dan Dina datang ke rumahnya ketika dirinya mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.
Waktu itu Miranda berkilah bahwa mereka hanya berteman saja, belum memiliki hubungan yang lainnya. Miranda belum siap mendengar penolakan dari keluarganya.
Tetapi setelah foto Seno yang memeluk dirinya dan Dina sampai di tangan keluarganya, Miranda tidak bisa lagi mengelak. Pada akhirnya ia jujur kepada keluarganya. Respon mereka pun tidak jauh berbeda dengan respon keluarga Dina.
Mereka menolak seandainya Miranda harus dimadu. Seno harus memilih salah satu dari mereka atau tidak sama sekali. Jawaban yang Miranda berikan pun sama seperti Dina, ia menolak saran dari keluarganya tersebut.
“Lalu apa respon mereka?” Tanya Seno.
“Mereka meminta kami menghentikan hubungan ini, atau Mas Seno memilih salah satu dari kami. Keluarga kami menolak jika Mas Seno memadu kami.” Jawab Miranda.
“Keluargaku bahkan berniat mengenalkanku kepada anak laki-laki dari kenalan mereka.” Imbuh Dina.
Seno terdiam sesaat. Itu adalah respon yang wajar. Pasti keluarga kedua perempuan ini tidak mau anak mereka di madu. Mereka pasti akan khawatir jika Seno tidak bisa berbuat adil kepada anak mereka dan malah menyakiti hati mereka.
Sebenarnya, Seno sendiri tidak yakin dirinya bisa bersikap seadil itu. Dirinya tidak mau membuat janji besar yang mungkin nantinya ia langgar. Seno tidak bisa menjamin sikapnya tidak akan berubah di kemudian hari.
__ADS_1
“Lalu kalian sendiri mau bagaimana? Apakah kalian sekarang memintaku memilih salah satu di antara kalian, ataukah kalian mau mengakhiri masa penjajakan ini dan memilih mengenal orang baru yang keluarga kalian kenalkan?” Tanya Seno pada akhirnya.
Seno perlu mendengar pemikiran dari kedua perempuan di depannya ini. Setelah mendengarnya, barulah nanti Seno bisa menentukan keputusannya mengenai hubungan mereka ini.
“Siapa yang bilang ingin mengakhiri semua ini? Justru aku ingin lebih serius denganmu. Aku menceritakan semua ini tidak untuk memintamu mengakhiri hubungan ini ataupun memintamu memilih di antara kami berdua. Kami hanya ingin kita lebih serius lagi dalam menjalani hubungan ini.”
“Iya Mas Seno, apa yang dikatakan Mbak Dina itu benar. Kami tidak memiliki niatan seperti itu. Sebelum kami mengajak Mas Seno membicarakan hal ini, aku dan Mbak Dina sudah lebih dulu membahasnya.” Imbuh Miranda.
“Kami tidak keberatan jika harus hidup dimadu. Asalkan hanya kami berdua dan Mas Seno tidak menambah lagi, kami tidak keberatan. Jadi, bagaimana dengan Mas Seno?” Tanya Miranda.
Mendengar hal itu, Seno memandang lekat ke arah dua perempuan di depannya ini. Ia juga ingin meresmikan hubungan mereka. Seno ingin sekali bersikap serakah dan menjadikan keduanya sebagai istrinya.
Tetapi dirinya akan menghadapi rintangan yang berat setelah ini. Seno perlu menghadapi keluarga keduanya jika ia memang benar-benar ingin menikahi dua perempuan ini. Itu bukanlah hal yang mudah untuk meyakinkan mereka.
Meyakinkan seorang keluarga agar mereka mau melepas putri mereka untuk dinikahi saja cukup sulit. Apalagi ini harus melepas putri mereka untuk dimadu oleh seseorang. Pasti itu berkali-kali lipat kesulitannya.
“Kami yakin.” Jawab Dina dan Miranda secara bersamaan.
“Jika kalian yakin, baiklah aku akan memperjuangkan hubungan kita agar bisa direstui oleh keluarga kalian. Tetapi, aku tidak bisa seratus persen bisa menjanjikan bisa bersikap adil kepada kalian berdua. Masih ada ketakutan pada diriku untuk tidak bisa bersikap adil. Apa kalian tidak keberatan?”
“Tenang saja Mas Seno, itu tidak masalah. Jika memang aku merasa Mas Seno tidak memperlakukan kami secara adil, maka aku akan langsung mengatakan hal itu kepada Mas Seno.”
“Yang dikatakan Mira itu benar Sen. Mungkin nanti juga ada masanya aku akan sedikit merasa cemburu, tetapi ini adalah konsekuensinya bukan? Semua masih bisa didiskusikan.”
Seno mengangguk setelah mendengar jawaban keduanya. “Jika begitu, aku akan sesegera mungkin mendatangi keluarga kalian dan mengatakan keseriusanku dalam menjalani hubungan dengan kalian berdua. Meski berat aku akan memperjuangkannya.”
“Lalu, setelah kita mendapatkan restu dan menikah nanti, aku mau hubungan kita dilandaskan atas keterbukaan. Jika aku berbuat salah, aku menyakiti kalian, atau aku yang kurang bersikap adil, maka kalian harus segera mengingatkanku.”
“Aku tahu hubungan seperti ini sangat berat. Jadi kita harus berjuang bersama-sama.” Jelas Seno.
__ADS_1
Mendengar keputusan final dari Seno, Dina dan Miranda tersenyum lebar. Sepertinya permintaan adik Seno agar mereka berdua menjadi pasangan Kakaknya bisa segera terwujud. Mereka hanya tinggal berjuang mendapatkan restu dari keluarga mereka saja.
“Berati sekarang kita resmi pacaran? Atau langsung tunangan?” Tanya Miranda tiba-tiba.
Mereka sudah meresmikan hubungan mereka. Tetapi, Seno sendiri juga sudah secara serius mengatakan ingin menjadikan Dina dan Miranda sebagai istrinya. Hal itu membuat Miranda ingin menanyakan status hubungan mereka sekarang ini.
Mendengar ucapan Miranda, Dina juga tiba-tiba memiliki pemikiran yang sama dengan Miranda. Ia ingin mendengar dari Seno status hubungan mereka saat ini.
“Sekarang kita hanya sebagai pacar. Aku akan melamar kalian secara resmi setelah mendapatkan restu dari keluarga kalian. Lalu, apakah kalian sendiri memiliki lamaran impian versi kalian?” Tanya Seno.
Kebanyakan perempuan memiliki impian seperti itu. Mereka akan berangan-angan bahwa nantinya mereka ingin dilamar oleh calon suami mereka dengan cara yang romantis.
Ada yang berpikir sebuah makan malam romantis yang nantinya membuat si perempuan menemukan cincin di makanan mereka, lalu setelahnya pacar mereka akan berjongkok dengan satu kaki danmengajak mereka menikah.
Ada juga yang memiliki impian dilamar di tempat umum dengan sebuket bunga dan cincin. Jadi, Seno perlu menanyakan hal ini. Mungkin saja keduanya memiliki lamaran impian versi mereka. Asalkan dirinya sanggup, Seno pasti akan berusaha mewujudkan keinginan keduanya.
Lagipula, mereka sudah sepakat untuk menikah. Jadi tidak masalah bukan jika Seno memanjakan calon istrinya? Toh nanti jika mereka menikah, apa yang ia miliki akan menjadi milik mereka juga.
“Aku tidak memiliki lamaran impian seperti itu. Bukankah apa yang Kamu katakan tadi sudah sama dengan melamar kami?”
“Aku juga tidak memiliki lamaran impian versiku Mas. Jadi Mas Seno tidak perlu memikirkan lamaran untuk kami. Nanti saja lamaran resmi dengan keluarga.” Imbuh Miranda.
“Kalau begitu, sekarang kita pergi membeli cincin. Itu adalah cincin pengikat hubungan kita, tanda resminya hubungan kita. Nanti, kita juga bisa memesan cincin tunangan. Setelah aku berhasil mendapatkan restu keluarga kalian, cincin itu yang akan kalian pakai.”
Meski dirinya belum mendapatkan restu sekali pun, Seno sudah percaya diri bisa meluluhkan hati keluarga keduanya. Jadi sudah berani mengajak Dina dan Miranda memesan cincin untuk pertunangan mereka nanti.
“Untuk sekarang, aku rasa jangan cincin Sen. Lebih baik yang lainnya. Lamaran nanti sekali pun jangan cincin. Lebih baik cincinnya nanti untuk pernikahan”
“Baiklah kita bisa menggantinya dengan yang lain. Perhiasan lain selain cincin atau mungkin barang lain yang bernilai yang bisa menjadi lambing hubungan kita.” Jelas Seno.
__ADS_1