Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 235 Misi Selesai


__ADS_3

Dina dan Miranda memandangi sepuluh anak di depan mereka. Kesepuluh anak ini, sekarang menjadi anak asuh mereka. Ini sangat berbeda dengan Jasmine atau anak kecil lain yang selama ini mengelilingi mereka. Sepuluh anak ini adalah anak manusia. Jadi, cara memperlakukan mereka pun berbeda dari biasanya.


“Maaf, aku tidak mendiskusikan hal ini kepada kalian. Aku langsung menjadikan mereka anak angkatku tanpa persetujuan kalian.”


Suara Seno membuat Dina dan Miranda beralih menatap suami mereka. Seno sekarang tengah menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia hanya merasa bersalah telah mengangkat anak Su Chen dan yang lain tanpa persetujuan kedua istrinya.


“Tidak masalah bagiku. Ayah hanya ingin menolong mereka bukan? Aku tahu maksud Ayah adalah demi kebaikan mereka juga. Lagi pula, kita masih mampu membesarkan mereka. Ini tidak akan menjadi masalah,” jawab Dina.


“Tetapi, mereka ingin tinggal bersama dengan kita. Aku tahu itu pasti akan sangat merepotkan kalian nantinya,” ucap Seno.


Su Chen dan adik-adiknya rencananya akan Seno sekolahkan di sekolah internasional negaranya. Ini karena mereka memilih untuk tinggal dengan Seno daripada tinggal sendiri. Bagi Seno, ia cukup mampu membiayai mereka. Namun tetap saja, ia butuh persetujuan kedua istrinya.


“Itu hal yang mudah. Bukankah kita juga bisa belajar menjadi orang tua lebih awal? Seperti kata Mbak Dina, selagi kita mampu, tidak masalah membantu mereka.”


“Baiklah jika kalian berdua tidak masalah dengan semua ini. Setelah lelang besok selesai, aku berencana membelikan mereka pakaian dan beberapa kebutuhan lainnya.”


“Bos, apakah Kamu akan berbelanja? Jangan lupa libatkan aku. Aku ingin berbelanja baju baru. Aku dengar kimono Jepang adalah pakaian tradisional yang unik. Aku sudah membeli Hanfu dari China, dan nantinya aku mau membeli kimono dari Jepang. Apakah aku mengkoleksi semua pakaian tradisional saja ya?” Sahut Momoy yang ada di dekat mereka.


“Aku tidak akan memberimu uang lagi Momoy. Kemarin saja Kamu sudah menghabiskan hampir seratus juta untuk berbelanja pakaian. Sekarang, Kamu ingin membeli pakaian lagi?”


“Tenang saja, Bos,” ucap Momoy. Momoy kemudian menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia lalu berbisik pelan. Sepertinya Momoy ingin mengatakan sesuatu yang bersifat rahasia kepada Seno.


“Aku sudah mengambil salah satu berlian koleksi Rarae. Aku berencana menjualnya nanti dan membeli beberapa pakaian baru dengan uang itu. Jangan katakan pada siapa pun mengenai hal ini. Jika Rarae tahu, maka dia akan mengacak-acak sarangku. Bisa jadi, pakaianku akan dihancurkan olehnya,” bisik Momoy.


Mata dan mulut Seno terbuka lebar setelah dia mendengar ucapan Momoy. Seno tidak menyangka Momoy sampai mengambil berlian koleksi Rarae hanya untuk memenuhi hobinya berbelanja pakaian.


“Kamu tidak bisa terus menerus melakukan hal itu, Momoy. Jika nanti di tahu, maka kalian akan bertengkar satu sama lain. Aku tidak mau anak buahku sampai bertengkar seperti itu.”

__ADS_1


“Tenang saja Bos. Aku tidak akan sering melakukan ini. Rarae pun tidak akan menyadari bahwa beberapa berliannya hilang. Dia tidak menyimpan barangnya dengan baik. Hanya menumpuknya seperti itu tentu saja tidak akan bisa tahu berapa jumlahnya.”



Sementara Seno dan yang lainnya mengobrol, di tempat lain Azkareia sudah memulai lelangnya. Sekarang, peserta lelang lebih banyak daripada lelang di China. Ruangan yang mereka pakai lebih luas daripada yang sebelumnya.


Peserta lelangnya sangat beragam. Mulai dari warna kulit, warna rambut, bahasa yang mereka pakai, hingga pakaian mereka. Ada yang datang dengan pakaian rapi dengan menggunakan jas. Ada yang memakai pakaian santai sebuah kemeja tidak dikancing, menunjukkan kaos yang ada di dalam. Bahkan, ada yang hanya memakai kaos untuk datang kemari.


Semua itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa latar belakang peserta lelang sangat beragam. Tetapi, tidak ada yang meremehkan satu sama lain. Semua yang hadir di lelang ini tahu bahwa harga barang yang dijual tidak ada yang murah. Tiket lelangnya saja dijual seharga dua puluh lima ribu yen.


“Barang selanjutnya yang akan kita lelang, daun kelor. Daun kelor ini memiliki manfaat memperlancar asi bagi para ibu. Aku peringatkan, para laki-laki untuk tidak mengkonsumsi daun kelor ini. Sebelumnya, ada kasus seorang laki-laki yang tidak sengaja mengkonsumsinya. Akibatnya, dia mengalami pengalaman yang sangat luar biasa. Dia bisa menghasilkan asi,” jelas Azkareia mengenalkan daun kelor kepada peserta lelang.


Di salah satu sudut ruang, mata salah satu peserta lelang berbinar mendengar Azkareia memperkenalkan daun kelor. Ia lalu memandang laki-laki yang ada di sampingnya.


“Himura-san. Kita harus mendapatkan daun kelor ini,” ucapnya.


“Siapa yang bilang aku akan memakainya sendiri. Tentu saja aku tidak mau menghasilkan asi. Namun, aku bisa memberikannya kepada Natsuko-chan. Aku yakin jika dia mengkonsumsi ini, permainan kami akan lebih menantang. Dia akan menghasilkan asi dan aku bisa menikmatinya,” ucap Noda.


Noda Narahiko membayangkan pacarnya yang sudah tiga tahun ini ia pacari, Okuama Natsuko, mengkonsumsi daun kelor ini. Ia bisa menikmati asi milik Natsuko tanpa menunggunya hamil dan memiliki anak. Bukannya itu akan membuat permainan mereka semakin bertambah sensasinya.


“Kau juga bisa memberikannya kepada istrimu bukan, Himura-san. Kau dulu pernah bilang bahwa Kau suka berebut jatah asi dengan anakmu. Dengan daun kelor ini, Kau bisa merasakan itu lagi bukan?” tanya Noda.


“Ah Kau benar Noda-kun. Aku sudah tua dan melupakan hal itu. Aku juga harus mendapatkan daun kelor ini. Aku perlu menyetok banyak daun kelor ini. Kita tidak tahu kapan orang-orang ini akan melakukan lelang barang sebagus ini lagi.”


“Apakah Kau tidak berniat menghubungi Tokaji-san? Dia pasti juga ingin memiliki daun kelor ini. Apalagi dia memiliki bisnis rumah bordil. Jika dia memiliki ini, maka pilihan perempuan di tempatnya akan beragam. Cukup sulit menemukan perempuan yang menghasilkan asi bekerja di rumah bordil.”


“Kau benar sekali Noda-kun. Aku harus menghubungi Tokaji-san. Semoga saja dia tidak keberatan membayar sedikit lebih mahal untuk hal ini.”

__ADS_1


Himura tadi mendengar bahwa per dua puluh lima puluh gram daun kelor dijual dengan harga lima ribu lima ratus yen. Satu kilonya berarti dua ratus dua puluh ribu yen. Himura merasa, Tokaji masih saggup membeli sebanyak itu.


“Kau cepatlah menghubungi Tokaji-san. Lihatlah, banyak yang memiliki niatan yang sama dengan kita. Setiap orang maksimal hanya bisa mendapatkan sepuluh kilogram daun kelor saja. Mungkin di lelang sesi selanjutnya dia bisa mencari jalan untuk mengikuti lelang ini,” jelas Noda.


Orang-orang yang memiliki pemikiran seperti Noda dan Himura tidak sedikit. Banyak yang berpikir untuk membeli daun kelor ini untuk mereka pakai bersenang-senang. Daun kelor yang awalnya dijual dengan harga lima ribu lima ratus yen, sekarang harganya naik secara derastis.


Enam ribu, tujuh ribu, delapan ribu. Harganya terus melambung. Apalagi dalam sesi ini hanya ada lima puluh kilogram daun kelor. Lalu, setiap orangnya hanya boleh membelis maksimal sepuluh kilogram saja. Semakin lama harganya naik hingga melebihi sepuluh ribu yen per dua puluh lima gram daun kelor.


Pada akhirnya, daun kelor tersebut terjual di harga rata-rata sebelas ribu tiga ratus yen pada sesi pertama, dua belas ribu enam ratus yen pada sesi kedua, dan tiga belas ribu lima ratus yen pada sesi terakhir. Harganya di tiap sesi semakin naik. Kemungkinan besar, harga tersebut naik karena peminatnya semakin banyak, tetapi hanya ada lima orang yang bisa membelinya.


[Ding]


[Selamat Host telah menyelesaikan misi penjualan mencapai enam miliar rupiah untuk daun kelor dan teh hijau]


[Selamat Host telah mendapatkan hadiah penambahan saldo sebesar Rp 10.000.000.000,-]


Pemberitahuan itu terdengar di telinga Seno setelah pembayaran dari peserta lelang yang membeli daun kelor masuk ke rekeningnya. Seno tersenyum lebar melihat saldo di rekeningnya yang bertambah cukup banyak.


Sebelum dipotong pajak, Seno sudah mendapatkan sembilan miliar rupiah lebih dari penjualan daun kelor. Ia sendiri tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak ini dari berjualan kelor di Jepang. Apalagi sampai menyelesaikan misinya.


Seno kira, ia harus melaksanakan lelang di Thailand dan India, baru dirinya bisa menyelesaikan misi penjualan daun kelor dan daun teh. Tetapi ia tidak menunggu terlalu lama.


“Semua misi yang aku miliki sudah terselesaikan. Ini berarti, aku tinggal membuat beberapa instruksi kepada semua anak buahku sebelum aku tertidur panjang demi mendapatkan informasi dari sistem,” gumam Seno.


*****


Maaf dua hari ga update tanpa pemberitahuan, ada kegiatan di rumah jadi ga sempat nulis, maaf ya udah buat kalian nunggu

__ADS_1


__ADS_2