
Satu persatu benih misterius yang ada di depannya, Seno petik. Seperti biasa, Seno langsung melemparkan benih misterius tersebut. Dari tempat buah figurine itu jatuh, munculnya tiga sosok yang memiliki paras rupawan.
Satu-satunya perempuan di antara mereka memiliki rambut berwarna biru tua. Lalu, Seno bisa melihat sesuatu seperti tanduk di tengah-tengah dahi perempuan itu. Tinggi badannya seratus delapan puluh lima sentimeter.
Sementara itu, dua orang lainnya, yang merupakan laki-laki, memiliki wajah kembar. Yang membedakan mereka berdua hanyalah warna rambut dan sayap yang ada di punggung mereka. Ya sayap. Dua orang itu memiliki sayap di punggung mereka.
Apakah mereka jelmaan burung seperti halnya si kembar Laluna dan Lalana, atau mungkin mereka memang memiliki tubuh yang seperti ini. Seno sendiri tidak tahu.
Salah satu di antara mereka memiliki sayap berwarna hijau dengan rambut berwarna merah. Sedangkan kembarannya, memiliki sayap berwarna merah dengan rambut berwarna hijau.
“Master,” sapa ketiganya secara bersamaan sembari berlutut di depan Seno.
“Bangunlah. Sekarang, perkenalkan diri kalian serta keahlian yang kalian miliki. Aku minta kalian juga menjelaskan mengenai segala kemampuan kalian dan tidak hanya mengatakan mengenai kemampuan bertani kalian,” pinta Seno.
Kenali dirimu, kenali musuhmu. Itu adalah kunci utama memenangkan pertarungan. Seno ingin mengetahui kemampuan anak buahnya. Dengan begitu, ia bisa membagi tugas kepada mereka nantinya.
Yang Seno sangat ingin ketahui saat ini adalah keahlian mereka dalam bertarung. Seno tidak ingin seperti sebelum ini, ia kurang memahami kemampuan anak buahnya. Seperti pada Tiarsus, Seno tidak tahu bahwa barier milik Tiarsus bisa membuat seseorang menjadi tidak terlihat. Atau mungkin Azkareia, yang meski dirinya seorang rubah, ternyata dia tidak memiliki penciuman yang cukup tajam.
Seno tidak ingin berharap terlalu besar pada anak buahnya, tetapi ternyata mereka tidak bisa memenuhi harapan tersebut. Akan sangat membahayakan jika Seno melakukan hal itu dalam keadaan hidup dan mati.
Maka dari itu, ia perlu mengetahui semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki anak buahnya. Dengan begitu Seno tidak akan salah salah langkah nantinya.
“Master, namaku Cloveira Fuola. Keahlianku adalah berkebun. Lalu, untuk kemampuan bertarungku ….” Cloveria menjeda ucapannya. Sebuah cahaya putih menutupi tubuhnya. Ketika cahaya itu menghilang, di tempat Cloveria berdiri sudah tidak ada lagi seseorang dengan wujud manusia, melainkan badak bercula satu.
Namun, badak ini sangat berbeda dengan badak-badak yang ada di Planet Bumi. Jika di Planet Bumi badak memiliki kulit berwarna abu-abu, maka badak di depan Seno ini memiliki kulit berwarna biru tua dengan beberapa corak berwarna biru muda. Ini seperti perpaduan antara sapi perah dan badak yang menjadi satu, tetapi memiliki warna kulit yang berbeda.
“Aku memiliki kekuatan yang besar. Aku bisa mengendalikan air yang ada di sekitarku, atau bahkan air yang bercampur dengan udara. Lalu, aku memiliki kecepatan berlari yang tinggi. Aku yakin Master bisa menjadikanku tungangan yang bagus,” jelas Cloveria.
Seno langsung menerjabkan matanya beberapa kali, mencoba menghilangkan pemikiran kotor yang tiba-tiba saja muncul setelah mendengar perkataan Cloveria yang mengizinkan Seno menungganginya.
Seno menjadi seperti ini karena beberapa saat lalu, ia sudah “menunggangi” istrinya, setelah lama berpuasa. Perkataan Cloveria sudah memancing pemikiran kotor miliknya. Apalagi tubuh Cloveria sebelum menjadi badak terbilang cukup seksi.
“Fokus Seno, fokus. Ingat istrimu sedang hamil sekarang,” gumam Seno dalam hati.
[Ck, ck, ck]
__ADS_1
Seno mendengar Sistem berdecak. Sepertinya Sistem tengah mencemoohnya karena memiliki pemikiran kotor terhadap anak buahnya.
[Sepertinya Host masih belum puas bermain-main dengan kedua istrimu rupanya]
[Apakah Host sekarang berpikir untuk memperluas haremmu dengan memperistri anak buahmu?]
“Diamlah Sistem. Aku seorang laki-laki yang memiliki kebutuhan. Sekali merasakan manisnya madu, aku tidak mau mencoba hidup hambar tanpa madu. Kamu mana paham yang seperti ini. Lagi pula, aku sama sekali tidak memiliki niatan menambah istri. Aku ingat janjiku kepada keluarga Dina dan Miranda untuk tidak menyakiti mereka. Jadi, jangan menyarankan sesuatu yang bodoh,” jawab Seno.
[Jadi, jika salah satu atau kedua istri Host yang menyarankan Host untuk menikah lagi, maka Host tidak akan keberatan?]
Seno tidak langsung menjawab pertanyaan Sistem. Ia tidak mau mengkhianati pernikahannya dengan bermain di belakang kedua istrinya. Sebenarnya, selama ini Seno sedikit banyak tergoda dengan anak buahnya yang perempuan. Ya kecuali mereka yang masih memiliki wujud anak-anak, dan Rarae yang lebih suka benda berkilau.
Bagaimana tidak, mereka memiliki wajah yang rupawan. Tidak hanya itu, bentuk tubuh mereka sungguh menggoda. Paling kecil dari mereka adalah cup D. Seno yang hampir setiap hari bersama mereka sedikit banyak terpengaruh. Tetapi ia masih ingat kedua istrinya.
“Sudahlah, jangan membahas itu lagi, Sistem. Aku akan fokus mengobrol dengan anak buahku.”
[Nikahi saja mereka Host, itu tidak ada ruginya]
Seno tidak memedulikan ucapan Sistem. Ia memilih menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Masih banyak yang perlu ia kerjakan. Pikiran kotor itu harus benar-benar ia singkirkan sekarang.
“Master, perkenalkan namaku Pethanio Domule, dari Ras Aguila. Aku memiliki keahlian merawat unggas. Lalu untuk kemampuan bertarungku, aku bisa terbang dengan kecepatan lima ratus kilometer per jam. Selain kecepatan terbang yang tinggi, aku juga bisa mengendalikan api,” jelas Pethanio.
Pethanio adalah Ras Aguila yang memiliki sayap berwarna merah. Seno menduga sayap ini adalah penentu keahlian yang dimiliki oleh Pethanio.. Jika demikian, apa yang dimiliki oleh saudara kembarnya yang memiliki sayap berwarna hijau?
“Master, perkenalkan namaku Puthanio Domule, dari Ras Aguila. Jika Pethanio memiliki keahlian merawat unggas, maka aku lebih ahli dalam merawat tanaman, terutama tanaman merambat. Sama seperti Pethanio, aku memiliki kecepatan terbang yang tinggi. Namun, yang aku kendalikan adalah tanaman. Jadi aku mengandalkan tanaman di sekitarku untuk bertarung,” jelas Puthanio.
“Jika tidak ada tanaman, maka aku akan melemparkan benih tanaman, lalu menumbuhkannya dengan cepat dan menjadikannya sebagai senjataku dalam bertarung. Jadi, meski pun aku berada di tempat yang tidak memiliki tanaman, aku masih tetap bisa bertarung,” imbuh Puthanio.
Seno menganggukkan kepalanya setidaknya sekarang ia cukup tahu kekurangan anak buahnya. Ia nanti bisa mengelompokkan mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Seperti Puthanio ini misalnya, Seno menebak kemampuannya lebih ke arah mengontrol. Jadi, dengan tanaman miliknya, Puthanio akan mempersempit area gerak musuh. Mungkin dengan membelit musuh menggunakan tanamannya, atau membuat tanaman yang membuat musuh tidak bisa bergerak dengan leluasa.
“Baiklah. Sekarang kalian temuilah Thor. Dia akan menjelaskan kepada kalian mengenai apa yang harus kalian lakukan. Lalu, kalian perlu bersiap. Enam jam lagi kita akan pergi untuk menaklukkan dimensi.”
“Baiklah, Master,” ucap ketiganya secara bersamaan.
__ADS_1
Seno langsung meninggalkan ketiganya. Ia perlu mendatangi kedua istrinya. Sepertinya ia harus melepaskan dahaganya akan bisa lebih fokus lagi dalam bertarung. Jika ia pergi dengan konsentrasi terpecah seperti sekarang, maka itu bisa memberikan hasil yang buruk dalam pertarungannya.
Ketika ia kembali ke rumah kayu miliknya, Seno disambut dengan tatapan tajam dari Dina dan Miranda. Keduanya sudah berpakaian rapi sekarang. Mereka duduk di ruang tamu sembari melipat tangan di depan dada.
Melihat kedua istrinya yang bersikap seperti ini, membuat Seno tiba-tiba memiliki firasat buruk. Jangan tanya dari mana ia mengetahui hal itu. Katakan saja itu adalah insting alami yang Seno miliki sebagai seorang suami.
“Ehm … kalian sedang menungguku ya? Kenapa kalian nggak tidur aja? Kalian pasti masih capek setelah olahraga ranjang dengaku bukan?”
Niatan awalnya, Sneo ingin kembali bersenang-senang dengan istrinya. Namun, melihat mereka yang seperti ini, niatan itu menghilang begitu saja.
”Oh … Ayah masih mau kembali ke sini? Bukannya mau bersenang-senang dengan anak buahmu yang cantik-cantik dan berukuran besar itu?” tanya Dina.
Mata Seno melebar mendengar ucapan istrinya. Ia buru-buru bersikap normal seperti biasanya. Namun, perubahan sikap Seno barusan, tidak luput dari penglihatan Dina dan Miranda.
“Siapa yang mengatakannya? Aku tidak memiliki niatan seperti itu. Mana mungkin aku berani mengkhianati kalian berdua,” ucap Seno jujur.
“Sistem mengatakan sendiri paada kami bahwa Ayah memiliki niatan seperti itu. Itu benar bukan?” tanya Miranda.
“Sial!” umpat Seno keras dalam hati.
“Kamu mengatakan kepada mereka mengenai isi kepalaku?” tanya Seno kepada Sistem. Seno tidak menyangka Sistem akan mengadu kepada kedua istrinya menganai apa yang ia pikirkan.
[Ya, aku melakukannya, Host]
Tidak ada rasa bersalah sama sekali dari nada bicara Sistem. Seno justru bisa menangkap kesenangan dari nada bicara Sistem ketika mengucapkan hal ini.
[Aku hanya membantumu mendapatkan izin lebih cepat]
[Bukankah Host bisa melakukan apa pun jika kedua istri Host mengizinkannya?]
“Itu memang benar. Tetapi Kamu tidak seharusnya mengatakan hal ini kepada mereka, Sistem.”
Jika sudah seperti ini, Seno harus meredam amarah kedua istrinya. Seno sangat paham bahwa mereka saat ini benar-benar marah. Entah apa yang harus Seno lakukan untuk bisa membuat mereka tenang setelah ini.
Sistem benar-benar mengacaukan harinya. Padahal Seno berencana untuk kembali bersenang-senang dengan mereka. Sekarang, itu hanya sekedar angan-angan belaka. Kedua istrinya jelas tidak mau ia ajak bersenang-senang.
__ADS_1