
Setelah memberikan perintah seperti itu kepada anak buahnya, Seno kembali ke Bumi. Ia masih harus mendatangi rumah seorang mantan Walikota dari Kota tempat tinggalnya. Mantan Walikota tersebut sudah lanjut usia. Kabarnya dia menderita alzeimer dan sekarang sulit mengenali orang lain.
Dengan koneksi yang dimiliki oleh kedua istrinya, akhirnya Seno memiliki kesempatan untuk menemui mantan Walikota tersebut. Jika hanya mengandalkan namanya saja, tentu Seno tidak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mantan pejabat seperti ini.
Mungkin bisa saja, tetapi untuk mendapatkan kepercayaan keluarga mereka agar mau mencoba produknya, kecil kemungkinan itu terjadi. Jadi, Seno bersyukur dirinya memiliki istri yang membantunya dari segi koneksi.
“Selamat datang Mas Seno, aku Andre anaknya Pak Indro.” seorang laki-laki berusia tiga puluh tahunan menyambut kedatangan Seno.
“Makasih Mas Andre, Mas nggak perlu repot-repot menyambutku seperti ini.”
“Nggak masalah. Mas Seno kan datang dengan niatan menyembuhkan Ayahku. Jadi, sudah sewajarnya aku menyambut kedatangan Mas.”
“Ehm, memangnya Mas Andre sepercaya itu denganku? Aku bisa aja bohong dan memberikan harapan palsu loh untuk Mas Andre dan keluarga.”
Cukup heran juga memang melihat Andre yang menyambutnya dan sangat percaya bahwa Seno bisa menyembuhkan Indro. Seno memang sudah mencoba kacang merah yang ia tanam, rasanya cukup lezat jika dibandingkan dengan yang lainnya.
Memang setelah mengkonsumsi kacang merah super merah itu Seno merasakan bahwa dirinya bisa berpikir lebih jernih dan cepat. Tetapi, Seno tidak bisa menjamin ini bisa mengatasi penyakit alzeimer. Itu hanya hipotesisnya saja.
“Semua orang kalangan atas di kota ini sudah membicarakan produk milikmu Mas. Tidak ada satu pun yang mengatakan produkmu itu buruk. Yang aku dengar selama ini hanyalah pujian.” jelas Andre.
“Lalu, kasiat dari produkmu itu juga luar biasa. Apalagi nanas itu. Waktu aku pergi ke pernikahanmu, aku beruntung mendapatkan nanas. Kasiatnya luar biasa. Istriku sangat menyukainya. Tetapi sekarang dia melarangku mengkonsumsi terlalu banyak nanas.”
Andre dan Seno kemudian saling pandang, keduanya kemudian sama-sama tersenyum. Meski tanpa mengatakan dengan jelas, keduanya yang sama-sama laki-laki sudah tahu apa yang ada di pikiran masing-masing.
“Kalau begitu, aku akan mengirim beberapa nanas untuk Mas Andre. Tentunya dengan beberapa buncis untuk istri Mas Andre.” ucap Seno.
“Tentu, tentu. Aku akan sangat berterima kasih jika Mas Seno melakukannya.”
“Sekarang ayo masuk. Ayahku sudah ada di dalam.” ucap Andre mempersilahkan.
__ADS_1
Seno kemudian masuk ke dalam. Andre mengajaknya menuju ke halaman belakang rumahnya. Di sana sudah ada seorang laki-laki tua yang kini duduk di sebuah kursi. Ia tengah berceloteh dengan orang di sampingnya, yang Seno yakini sebagai istri dari Andre.
Dari percakapan mereka, Seno bisa menangkap bahwa Indro sekarang sudah bersikap seperti anak kecil. Perkataan dan sikapnya mencerminkan hal itu.
Seno lalu menyerahkan bungkusan berisi kacang merah dan menyerahkannya kepada Andre.
“Ini Mas. Buat ini jadi bubur kacang atau memasaknya dengan cara apa pun. Setelah itu, coba berikan kepada Pak Indro.” Jelas Seno.
Andre kemudian memerintahkan asisten rumah tangganya untuk mengolah kacang merah super merah tersebut. Selagi menunggu itu diselesaikan, Andre mengajak Seno mendekat ke arah Indro. Ketika cukup dekat, Indro langsung memandang ke arah Andre.
“Kak Iskandar, kenapa Kamu baru kembali sekarang? Aku sudah menunggumu cukup lama. Tidak Kamu bilang Kamu akan mengajakku makan setelah ini.” ucap Indro.
“Nanti ya Ayah, nanti. Makanan Ayah masih dibuatkan oleh Mbak Lilis.” jawab Andre.
“Bah, Ayah, Ayah. Kak Iskandar ini bagaimana sih. Aku ini Indro Adikmu. Kenapa pula Kamu memanggilku Ayah. Panggil aku Indro seperti biasanya, jangan lagi memanggilku Ayah.” pinta Indro.
Andre lalu memandang ke arah Seno, memberikan tatapan permintaan maaf. Seno tahu pasti Indro salah mengenali Andre. Cukup sering bagi orang dengan penyakit alzeimer salah mengenali orang. Ingatan mereka kadang cukup kacau sehingga tidak bisa mengingat orang dengan baik.
Tidak lama kemudian, asisten rumah tangga rumah Andre datang dengan membawa sebuah mangkuk berisi kacang merah yang sudah direbus. Asap masih mengepul dari dalam mangkuk tersebut, pertanda kacang merah itu baru selesai dimasak.
“Ini Tuan kacang merahnya sudah siap. Aku tadi nggak nambahin gula di sini. Seperti permintaan Tuan.”
“Baik terima kasih Mbak Lilis.” jawab istri Andre yang sekarang sudah menerima mangkuk tersebut.
“Ayah sekarang Ayah makan dulu ya. Ini ada makanan enak yang harus Ayah coba.” bujuk istri Andre sembari menyodorkan sesuap kacang merah yang sudah ia tiupi kepada Indro.
Indro bukannya menurut, malah terlihat sedikit memundurkan badannya. Ia lalu memandang ke arah Andre di sampingnya.
“Kak Iskandar, pacarmu ini genit sekali. Ia mau menyuapiku makanan. Padahal dia pacarmu kan? Kenapa dia malah melakukan ini padaku.”
__ADS_1
Andre menarik nafas panjang mendengar ucapan Indro. Ia pun mengambil alih mangkok tersebut dari istrinya dan memilih menyuapi Indro sendiri.
“Ya sudah aku saja yang suapin.”
Dengan telaten Andre menyuapi ayahnya. Nampaknya kacang merah ini disukai oleh Indro buktinya dia terlihat beberapa kali ingin memakan lebih banyak kacang merah. Bahkan karena kurang sabaran, Indro memilih memakan sendiri kacang merah tersebut.
Dalam waktu singkat kacang merah tesebut tandas, tidak bersisa. Indro bahkan meminta tambah kepada Andre. Selama menunggu, Indro tampak melamun. Ia memandang kosong ke arah tanman yang ada di kebun belakang rumah.
Lalu ketika mangkuk kedua kacang merah itu tiba, Indro yang sebelumnya melamun, tiba-tiba melihat ke arah anaknya. Seno yang memandangi semua itu bisa melihat bahwa tatapan mata Indro cukup berbeda dari sebelumnya.
Meski tidak mengetahui secara pasti apa itu, tetapi Seno yakin Indro yang sekarang berbeda dengan Indro sebelum mengkonsumsi kacang merah. Mungkinkah efek kacang merah ini sudah bekerja? Mungkinkah Indro benar-benar sembuh dari penyakit alzeimernya?
“Andre, terima kasih ya. Kamu sudah berjuang keras untuk merawat Ayah. Padahal dulu Ayah sangat keras sekali kepadamu.” ucap Indro.
Ucapan Indro yang jelas dan benar dalam memanggil dirinya, membuat mata Andre tiba-tiba berkaca-kaca. Ia memandang tidak percaya kepada Ayahnya.
“Apakah Ayah mengingatku sekarang?” tanya Andre dengan suara tercekat.
“Ya. Ayah sudah lebih baik sekarang. Terima kasih sudah merawat Ayah.”
Jawaban Indro itu membuat air mata yang sedari tadi Andre tahan, mengalir begitu deras. Ia lalu memeluk Indro dan menangis.
“Syukurlah, syukurlah.”
Banyak yang ingin Andre ucapkan sekarang. Namun entah kenapa ia tidak bisa mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya sekarang. Semua perkataan yang sebelumnya akan ia ucapkan jika Ayahnya sembuh, menghilang begitu saja.
Yang bisa Andre lakukan hanyalah memeluk Ayahnya sembari menangis sesenggukkan. Ia tidak peduli jika masih ada Seno yang melihat dirinya menangis. Andre hanya ingin mengungkapkan semua perasaannya.
“Syukurlah Ayah sudah membaik. Syukurlah.” ulang Andre.
__ADS_1
Indro hanya bisa membalas pelukan anaknya itu sembari mengelus pelan punggungnya. Indro harap apa yang ia lakukan ini bisa membantu menenangkan anaknya.
Seno yang memandangi semua itu ikut terharu. Setidaknya Andre beruntung masih memiliki Ayah yang bisa dia urus. Tidak seperti dirinya yang sudah tidak lagi bisa berbakti kepada orang tuanya, karena mereka sudah tiada.