
Dina hanya tersenyum sembari memandang lekat ke arah Seno. Dipandang seperti itu, Seno merasa semakin tidak enak dan merasa canggung. Beberapa waktu lalu, Seno mengatakan pada Dina bahwa ia ingin mengenal lebih dekat perempuan itu.
Tetapi sekarang, Seno malah ketahuan jalan dengan perempuan lain. Hal itu membuat Seno seolah sudah bertindak seperti bajingan, yang mempermainkan hati perempuan. Meskipun sebenarnya Seno belum memiliki hubungan resmi dengan Dina, tetap saja itu sama. Ini seperti sebuah perselingkuhan.
“Aku boleh gabung duduk dengan kalian nggak?” Tanya Dina.
“Ya tentu Mbak Din.” Jawab Miranda.
“Aku kan kuliah di Kota H. Cukup wajar jika aku ada di sini. Tetapi, aku nggak nyangka kalian datang jauh-jauh ke Kota H.” Ucap Dina setelah dirinya mengambil tempat duduk di depan Seno.
“Aku pengen aja nyobain makan di kafe ini. Mumpung Mas Seno mau nraktir aku, sekalian aja aku kemari.” Jawab Miranda.
Dipandang terus seperti itu oleh Dina membuat Seno semakin merasa tidak enak. Pada akhirnya, Seno menjelaskan hal itu kepada Dina.
“Din, ini nggak seperti yang Kamu pikirkan.” Ucap Seno pada akhirnya.
“Nggak seperti yang aku pikirin gimana?”
Miranda yang ada di sana terlihat bingung dengan interaksi antara mereka berdua. Sikap Seno sekarang seperti seorang pacar yang ketahuan selingkuh, dan Dina berperan sebagai pacar yang minta penjelasan.
Tunggu dulu, bukankah pacar Seno adalah teman sekampusnya? Lalu, kenapa sekarang dua orang di depan Miranda ini bersikap seolah sudah memiliki hubungan? Apakah ada berita penting yang sudah ia lewatkan?
“Kalian pacaran?” Tanya Miranda pada akhirnya.
“Belum.” Jawab Dina dan Seno secara bersamaan.
Dari jawaban mereka Miranda memang tahu bahwa mereka tidak memiliki hubungan apa pun selain hubungan pertemanan. Tetapi, jawaban mereka yang sama tadi juga memiliki arti lain. Mereka sedang memulai menjalin hubungan yang akan berakhir dengan mereka menjadi pacar.
Jika Seno sudah melakukan hal ini, itu berarti hubungannya dengan pacarnya, yang merupakan teman sekampusnya, sudah berakhir. Sial. Kenapa Miranda tidak tahu bahwa Seno sudah putus dengan pacar sebelumnya?
Jika Miranda tahu mengenai hal itu, maka dia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Seno sebagai seorang perempuan, bukan adik temannya. Sekarang, jika Miranda ingin mendekati Seno, dia memiliki saingan yang cukup berat, Dina.
Dina dan Seno juga sudah mengenal cukup lama. Hubungan mereka selama ini pun cukup baik. Ini akan sulit bagi Miranda. Meski begitu, Miranda tidak menyerah begitu saja. Ia masih ingat ucapan Johan. Sebelum ada pernikahan, semua masih sah-sah saja dilakukan.
Sementara itu, Dina kini memandang ke arah Miranda. Insting perempuannya mengatakan Miranda menyukai Seno. Sepertinya Miranda akan menjadi saingan cintanya. Selama ini, Dina tidak pernah memiliki saingan dalam mendapatkan laki-laki, ini adalah kali pertamanya.
“Din, aku bisa jelasin aku dan Miranda tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya ingin mentraktirnya karena dia sudah membantuku. Hanya itu.” Jelas Seno.
__ADS_1
Dina bisa melihat kejujuran di mata Seno. Berteman lama dengan Seno membuat perempuan itu tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki di depannya ini ketika bohong. Sekarang Dina tidak melihat Seno yang menggaruk-garuk kepalanya, berarti Seno tengah berkata jujur.
“Aku tahu Kamu sedang berkata jujur. Kamu dan Mira nggak ada hubungan apa pun. Aku nggak marah kok.” Jawab Dina.
Mendengar hal itu, Seno bernafas lega. Ia bersyukur Dina tidak marah padanya. “Syukurlah Kamu mempercayaiku.”
Di samping mereka, Miranda berpikir jika dirinya tetap diam saja dan tidak mengungkapkan perasaannya sekarang, dia akan menyesal di kemudian hari. Oleh karena itu, ia tidak peduli jika sekarang ada Dina atau tidak, ia akan mengungkapkan perasaannya sekarang.
Miranda lalu memandang lekat ke arah Seno. Sementara itu Seno sendiri cukup kaget dipandang dengan pandangan serius seperti ini. Tidak biasanya Miranda memandangnya seperti ini.
“Aku mau jujur sama Mas Seno. Sebenarnya aku menyukai Mas Seno dan aku ingin memperjuangkan Mas Seno untuk menjadi pacarku, bahkan mungkin suamiku. Jadi, mau kah Mas Seno memberiku kesempatan untuk melakukannya?” Tanya Miranda dengan nada serius kepada Seno.
“Eh ini….” Seno sendiri bingung harus merespon apa perkataan Miranda ini.
“Selama ini aku udah anggap Kamu seperti adikku sendiri. Cukup sulit buatku menerima informasi ini.” Jelas Seno.
“Kalau begitu, Mas Seno perlu berkenalan lagi denganku sebagai seorangperempuan, bukan lagi adik dari teman Mas Seno.” Pinta Miranda.
“Tetapi aku sedang dalam masa penjajakan dengan Dina. Tidak mungkin aku melakukan hal itu dengan dua perempuan sekaligus.”
“Mbak Dina mau kan bersaing sehat denganku untuk memperebutkan Mas Seno? Lagi pula Mas Seno sampai sekarang belum menentukan pilihannya bukan. Jadi, tidak masalah jika aku juga ikut bergabung bukan?” Tanya Miranda kepada Dina.
“Tidak masalah. Aku juga tidak takut bersaing denganmu.” Jawab Dina dengan penuh percaya diri.
Keduanya sama sekali tidak meminta pendapat Seno mengenai hal ini. Mereka membicarakan hal ini seolah Seno tidak sedang ada di tempat yang sama.
“Tunggu dulu. Apa kalian tidak menganggapku ada? Kenapa kalian memutuskan sepihak mengenai hal itu? Kenapa kalian tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu.” Ucap Seno kesal.
Bagimanapun juga Seno adalah laki-laki. Egonya sebagai laki-laki sedikit tersinggung karena kedua perempuan ini sudah membuat keputusan tanpa melibatkan dirinya.
Miranda mengibaskan sebelah tangannya. “Mas Seno hanya tinggal menjalani aja. Bukannya hal seperti ini sangat diidam-idamkan para laki-laki? Bisa jalan bareng dengan dua cewek sekaligus, jadi rebutan para cewek. Apa Mas Seno tidak mempunyai impian seperti itu?” Tanya Miranda.
“Tidak.” Jawab Seno tegas. “Aku bukan laki-laki seperti itu.”
“Sudahlah Sen, nggak masalah. Jalanin aja semuanya. Lagian, Kami nggak minta Kamu buat macarin kami berdua bukan? Miranda hanya minta kesempatan buat bisa ngedeketin Kamu sebagai seorang perempuan.”
“Perkara siapa nanti yang bisa memenangkan hatimu dan menjadi pacarmu, keputusan itu masih ada di tanganmu.” Jelas Dina.
__ADS_1
“Benar Mas.” Miranda pun menyetujui ucapan Dina.
Mendengar penjelasan Dina, Seno jadi memikirkannya kembali. Benar seperti ucapan Dina, semua keputusan masih tetap ada pada dirinya. Mereka tidak langsung meminta Seno menjadi pacar mereka. Hanya kesempatan untuk saling mengenal lebih jauh.
Seno sendiri juga belum mencintai Dina, masih dalam proses penjajakan. Jika Dina sendiri tidak masalah dengan hal ini, maka Seno pun juga tidak keberatan. Lagi pula Dina juga yang menyarankan hal ini bukan dirinya.
“Baiklah aku akan memberi kesempatan buat Kamu Mira.”
“Makasih Mas Seno.”
Yang tidak Seno ketahui, keputusannya hari ini mengubah kehidupannya. Tetapi itu nanti di kemudian hari. Sekarang, Seno menikmati menghabiskan waktunya ditemani dengan dua orang perempuan cantik.
Dina lebih memilih menghabiskan waktu bersama mereka daripada dengan teman-temannya. Mungkin sekarang Dina sedang dalam menjalankan misi mengenal lebih jauh seorang Seno.
Setelah makan, ketiga orang itu pindah ke mall yang berada di kota H untuk jalan-jalan. Dina mengusulkan untuk mereka nonton film bersama. Meski sebenarnya Dina ada kelas sekarang, tetapi perempuan itu memilih membolos dan menghabiskan waktu bersama dengan Seno dan Miranda.
Ketika berada di dalam bioskop, Seno duduk di tengah dan diapit oleh dua perempuan cantik. Beberapa orang laki-laki yang juga akan menonton film yang sama dengan pacar mereka, memandang iri ke arah Seno.
Mereka cukup salud dengan Seno yang bisa menggandeng dua perempuan sekaligus untuk menonton film bersama. Apalagi film yang akan mereka tonton adalah film horor, jelas Seno menang banyak dalam hal ini.
Seperti pemikiran laki-laki lain, Seno memang menang banyak. Selama menonton film, dua perempuan di sampingnya akan memeluk erat lengannya ketika bagian menegangkan dari film diputar. Bahkan ketika bagian menegangkan itu sudah terlewatkan, keduanya masih bertahan memeluk lelangan Seno.
Hal itu membuat iri laki-laki yang berada di kursi belakang Seno. Ia seolah sedang tidak menonton film horor, tetapi film romantis yang dibintangi Seno, Miranda, dan Dina.
“Kapan-kapan kita nonton bareng lagi ya.” Ucap Dina setelah keluar dari bioskop.
“Aku nggak masalah sih. Tetapi bisa nggaks kalian nggak milih film horor lagi nanti? Lenganku cukup sakit setelah kalian cengkeram.” Ucap Seno.
Miranda dan Dina merasa bersalah setelah mendengar ucapan Seno. Memang keduanya tadi memeluk lengan Seno cukup erat. Lebih tepat dikatakan sebagai mencengkeram seperti yang Seno katakan.
Hal itu karena keduanya takut menonton film horor. Tetapi karena keduanya seolah sepakat ingin memanfaatkan film ini untuk lebih dekat dengan Seno, mereka memilih film horor.
Dina pun mendekati Seno lalu mengelus lengan laki-laki itu yang tadi sudah ia cengkeram. Melihat hal itu, Miranda juga melakukan hal yang sama.
“Maaf. Lain kali kita nonton film yang lain deh.”
Apa yang ketiga orang itu lakukan membuat iri beberapa laki-laki di sana. Impian mereka untuk memeluk dua perempuan dengan tangan mereka, sekarang sudah dilakukan oleh laki-laki lain. Apalagi kedua perempuan itu memiliki paras cantik.
__ADS_1