
Suasana hotel tempat diadakannya lelang terlihat mulai dipadati dengan peserta lelang. Seno yang melihat semuanya dari samping, melihat beberapa orang Asia terutama Asia Tenggara banyak yang hadir dalam lelang ini.
Kemungkinan besar ini ada hubungannya dengan keberhasilan lelangnya yang sebelumnya. Jadi, banyak yang mengikuti lelang kali ini karena sudah mulai banyak yang tahu akan kasiat dari sayuran miliknya.
Seperti sebelumnya, kali ini yang menjalankan lelang adalah Azkareia. Namun, harga yang ditetapkan dalam lelang kali ini lebih tinggi dari harga jual Seno di negaranya sendiri. Wortel yang biasa terjual dalam lelang dengan harga tiga ratus ribu hingga empat ratus ribu, kini Seno jual dengan harga pembuka enam puluh lima dolar dalam lelang kali ini.
Jika dirupiahkan, enam puluh lima dolar setara dengan sembilan ratus sepuluh ribu. Dengan catatan satu dolarnya adalah empat belas ribu rupiah. Namun nilai tukar dolar lebih dari itu. Seno yakin dalam lelang kali ini, ia akan membawa pulang keuntungan yang lebih besar.
Kali ini tidak banyak yang Seno jual dalam lelang. Ia hanya membawa beberapa barang saja. Seno ingin membuat kelangkaan di beberapa barang, lalu menjualnya secara lelang di negara lain. Jadi, setiap lelangnya tetap akan didatangi peserta yang cukup banyak.
Tetapi, sayuran pokok yang akan selalu Seno bawa dalam setiap lelangnya adalah wortel dan buncis. Ia yakin kedua sayur itu akan selalu dicari di mana pun itu di lelang.
“Aku tidak menyangka Kamu memilih cara seperti ini untuk memasarkan produk milikmu.”
Sebuah suara terdengar di samping Seno. Ketika Seno menolahkan kepalanya, ia mendapati Dimas Prayudi sudah berdiri di sampingnya. Seno tidak menyangka Dimas akan ikut dalam lelangnya di Amerika. Kemarin, ketika ia mengadakan lelang di Ibukota, tidak ada perwakilan keluarga Prayudi yang mengikuti lelang.
“Ini adalah cara yang tepat untuk memasarkannya. Kami bisa mendapatkan keuntungan besar dengan melakukan lelang seperti ini. Jika Kami menjualnya ke Anda, itu sama saja dengan Kami membantu memperkaya Anda.”
“Sudah saatnya seorang petani sepertiku lebih mandiri dan membuka pasar sendiri. Jika hanya mengandalkan tengkulak, maka kami akan mengalami kerugian besar. Apa yang kami terima tidak sepadan dengan pekerjaan kami,” jelas Seno.
Selama ini praktek di lapangan seperti itu. Petani menjadi sengsara karena produk mereka dibeli oleh para tengkulak. Sedangkan para tengkulak, mereka akan menjual sayuran itu hingga dua kali lipat dari harga beli. Meski ada biaya transportasi dan yang lain, tetap saja tengkulak lebih untung daripada petani.
“Rupanya Kamu sudah membuat keputusan ya. Baguslah. Aku tidak mempermasalahkan hal itu. Jika kita memang tidak bisa menjadi rekan bisnis, aku masih bisa bukan menjadi pelanggan setiamu?” tanya Dimas.
“Tentu saja, Tuan. Aku tidak akan mengusir pelangganku. Jika Anda datang ingin membeli produk kami silahkan saja.”
Dimas mengangguk pelan. Ia juga tidak berharap banyak bahwa Seno mau bekerjasama dengannya. Sekarang saja Seno sudah membuat sebuah lelang di luar negeri. Secara tidak langsung ini adalah caranya mendeklarasikan bahwa dia akan melakukan semuanya sendirian.
__ADS_1
“Apakah bisa setelah ini kita berbicara lagi? Aku ingin membicarakan pemesanan sayuran denganmu. Tenang saja ini adalah pemesanan pribadi. Barang yang aku beli tidak akan aku jual kembali. Apa Kamu bersedia?”
“Tentu. Bagaimana jika kita makan malam sekalian di restoran yang ada di hotel ini?”
“Ide yang bagus. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam. Aku harus mengikuti lelang kali ini.”
“Tentu, Tuan Dimas.”
Setelah Dimas pergi, Seno melihat Miranda mendatanginya. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah istrinya itu.
“Kalian tadi membicarakan apa?”
“Aku hanya mengatakan bahwa kita tidak akan bekerjasama dengannya. Itu saja.”
“Apa semua baik-baik saja? Maksudku, apakah dia tidak marah kita menolak tawarannya untuk bekerjasama?”
“Aku sendiri tidak tahu apa yang akan dia beli. Yang jelas kita nantinya perlu mempertimbangkan lagi permintaan mereka setelah kita tahu apa itu. Kamu tahu sendiri bukan, bahwa jangka panjang sayuran kita bukan main-main.”
“Aku juga berencana meminta bantuan mereka untuk mencarikanku tim peretas terbaik,” jelas Seno.
“Tim peretas? Memangnya untuk apa kita butuh tim peretas?” tanya Miranda heran.
Bagi Miranda, mereka sekarang ini sudah cukup kuat. Meski ada seseorang yang meretas mereka sekali pun, mereka tidak akan pernah menemukan rahasia milik keluarganya.
“Tentu saja perlu. Memang sekarang ini kita bisa melindungi diri, dari semua bahaya yang mungkin mengancam. Meski tidak mengandalkan Thor dan yang lain, aku, Kamu, dan Dina, sekarang sudah bisa melindungi diri dari ancaman kecil seperti itu.”
“Tetapi, apakah Kamu tidak merasa risih diintai terus melalui perangkat elektronik yang kita miliki?”
__ADS_1
Apa yang Seno ucapkan ada benarnya. Miranda tentunya risih jika ada yang mengintainya terus menerus. Ia tidak akan bisa memiliki privasi yang ia inginkan. Ia tidak akan bebas. Setiap saat ia akan merasa terus diintai oleh seseorang.
“Lalu, kita butuh tim peretas untuk membantu melacak keberadaan musuh-musuh kita dari kalangan manusia. Bayangkan saja kita bisa menghancurkan musuh kapan pun kita mau, tetapi tidak bisa melakukannya karena kita tidak tahu di mana mereka berada. Pasti itu membuat kita merasa kesal bukan? “
Seperti halnya sekarang. Jika sekarang Seno sudah memiliki tim peretasnya, maka ia akan dengan mudah menemukan siapa orang yang mengirim penyusup itu. Ia juga tidak perlu menunggu lama untuk Jasmine dan yang lainnya mendapatkan jawaban dari penyiksaan yang mereka lakukan.
Seno tinggal meminta tim peretasnya mengakses riwayat percakapan dari ponsel orang-orang yang ia tangkap. Dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, pasti Seno bisa menemukan titik temu lainnya.
“Oleh karena itu, aku perlu tim peretas. Aku yakin Keluarga Prayudi yang sudah berjaya puluhan tahun itu memiliki daftar peretas-peretas handal di dunia. Dengan memberi mereka lebih banyak kacang merah, aku yakin kita akan memiliki tim peretas yang lebih cerdas dan handal daripada yang lainnya.”
“Kalau begitu, kenapa tidak membuat tim peretas kita sendiri? Maksudku, kita bisa bukan mencari anak-anak yang berbakat dalam meretas dan memberikan sumberdaya agar mereka semakin berkembang?” tanya Miranda.
Menurut Miranda, anak-anak yang mereka bina sejak dini, loyalitasnya mereka akan jauh lebih tinggi daripada merekrut orang-orang yang sudah berpengalaman. Toh mereka sama saja akan mereka bina lagi bukan?
“Memang apa yang Kamu katakan ada benarnya. Tetapi, saat ini aku butuh seseorang yang sudah memiliki pengalaman meretas dalam waktu cepat. Aku ingin segera mengusut tuntas orang-orang yang sebelumnya menyusup ke tempat Anita dan Renata.”
“Orang-orang itu sampai sekarang belum juga membuka mulut mereka dan memberi tahu mengenai siapa bos mereka. Aku sudah tidak bisa lagi menunggu.”
“Kita bisa melakukannya pelan-pelan. Ayah tenang saja. Aku yakin semua pasti bisa terselesaikan,” ucap Miranda mencoba menenangkan Seno.
Miranda tahu bahwa Seno masih memendam kekesalannya kepada orang-orang yang berniat mencelakai adik-adiknya. Seno yang mengutamakan keselamatan keluarganya jelas akan menyingkirkan apa pun yang mungkin bisa membahayakan keselamatan keluarganya.
Lalu, fakta bahwa mereka belum mengetahui siapa bos orang-orang asing itu, juga tujuan utama mereka, membuat Seno semakin uring-uringan. Seno masih khawatir orang itu akan mengirimkan lebih banyak orang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan/
...
rekomendasi Novel "Tersesat Di Hutan Cinta" By Lusiana Anwar
__ADS_1