Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 34 Siluman Peliharaan Seno (2)


__ADS_3

[Tebakan Host cukup benar]


[Hewan yang sudah mengkonsumsi sayuran khusus dalam jumlah banyak, mereka memiliki kesempatan memiliki tubuh manusia]


“Hebat-hebat. Sangat luar biasa.” Ucap Seno penuh semangat.


“Aku bukanlah memiliki hewan peliharaan tetapi siluman perliharaan.”


Setelah berucap demikian, Seno kemudian memandang ke arah kelinci nomor tiga yang masih berdiri dengan kaki belakangnya. Ia terlihat masih menunggu Seno memberikan instruksi lainnya.


“Karena Kamu sudah bisa berbicara, maka aku akan menghadiahkanmu dua puluh lima wortel dan jatah harianmu akan aku tambah menjadi lima belas wortel.” Jelas Seno.


“Terima kasih.”


“Setelah ini panggil aku Bos saja.” Ucap Seno kepada kelinci-kelincinya.


Ia tahu bahwa kelinci di depannya ini sedikit kebingungan dalam memilih panggilan yang cocok untuk Seno. Jadi, Seno membantunya dalam hal ini.


“Terima kasih Bos.” Jawab kelinci nomor tiga.


Sekarang Seno terpikirkan hal lain. Jika kelinci-kelinci ini memiliki tubuh manusia kelak, ia perlu memikirkan nama untuk mereka. Itu cukup merepotkan menurutnya. Hal ini karena Seno sangat lemah dalam pemberian nama.


“Mungkin aku akan memikirkan hal itu ketika mereka sudah memiliki tubuh manusia nantinya.” Gumam Seno dalam hati.


Lalu Seno mengarahkan keempat kelinci lainnya. Sepertinya mereka belum memiliki tanda-tanda bisa berbicara sekarang. Ini adalah saatnya Seno sebagai Bos yang baik membakar semangat kelinci-kelinci itu agar berusaha lebih keras lagi untuk bisa berbicara.


“Kalian lihat bukan Tiga sudah bisa bicara sekarang. Hadiah yang dia dapatkan juga cukup banyak. Apakah kalian semua tidak ingin memiliki perlakuan yang sama seperti yang Tiga dapatkan?” Tanya Seno kepada kelinci-kelinci tersebut.


“Maka dari itu, bekerja keraslah kalian untuk bisa melakukan hal itu. Hadiah yang akan kalian dapatkan akan semakin banyak jika kalian bisa berbicara atau bahkan memiliki pencapaian lainnya yang lebih tinggi daripada berbicara.” Jelas Seno.


Seno bisa melihat kilauan semangat terpancar pada mata kelinci-kelinci itu. Meskipun kata-kata motivasi yang ia berikan masih kalah dengan yang diberikan oleh motivator terkenal, tetapi ini cukup untuk para kelinci yang kecerdasannya belum terlalu tinggi itu.


Ketika kembali ke rumahnya, Seno tiba-tiba terpikirkan untuk memberi pembelajaran kepada para kelincinya. Meski mereka sekarang memiliki kecerdasan seperti manusia, bukan berarti mereka bisa langsung mengetahui segalanya. Seno perlu mengajari mereka dari awal.

__ADS_1


“Sial. Ini seperti aku memiliki dua puluh anak sekaligus.” Umpat Seno.


“Tetapi untung saja masih ada teknologi yang bisa aku manfaatkan untuk mengajari mereka hal-hal yang perlu mereka mengerti.”


Hanya ini yang bisa Seno lakukan. Itu berarti dirinya perlu membelikan beberapa tablet untuk para kelincinya.


Seno tinggal mengisi tablet tersebut dengan berbagai macam video pembelajaran untuk mengajari kelincinya hal-hal dasar seperti baca, tulis, dan berhitung. Jika mereka sudah bisa melakukan hal itu, biarkan internet yang akan menjadi guru mereka.


“Hem… itu hal yang bagus juga. Dengan begitu aku tidak perlu menyisihkan waktuku untuk mengajari mereka hal itu.” Gumam Seno.


Setelah masalah kelincinya selesai, Seno kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya. Ia perlu menghubungi Anton dan menanyakan kapan kentangnya ingin dikirimkan.


Pada deringan keempat, sambungan telepon itu terhubung. Suasana di ujung panggilan terdengar sangat ramai. Hal ini Seno ketahui dengan banyaknya suara yang ia dengar sekarang.


“Hallo Bos.” Sapa Anton.


“Hallo Anton. Bagaimana dengan persiapanmu? Kapan aku sudah bisa mengirimkan kentang-kentang itu padamu?” Tanya Seno tanpa basa basi lagi.


Suara bising yang sebelumnya Seno dengar, kini perlahan menjadi samar terdengar. Ini berarti, Anton sekarang sudah menjauh dari keramaian untuk bisa mengobrol dengan nyaman bersama Seno.


Lima ribu kentang yang dipesan Anton dengan harga dua puluh lima ribu per buahnya, itu setara dengan seratus dua puluh lima juta. Jumlah itu bisa dibilang uang yang cukup besar memang.


“Kamu tidak perlu membayar lunas semuanya. Kamu bisa membayar setengahnya dulu.” Jawab Seno.


“Sungguh? Apakah tidak masalah untukmu?” Tanya Anton memastikan.


Jika Anton hanya membayar setengahnya, itu berarti ia akan berhutang enam puluh juta lebih kepada Seno. Bisa dibilang Seno cukup berani menghutanginya uang sebanyak itu. Mereka belum kenal cukup lama.


Jika ini adalah transaksi kesekian, cukup wajar jika Seno memberikan kelonggaran pembayaran kepada Anton. Tetapi ini adalah transaksi pertama mereka. Hal ini cukup berisko bagi Seno untuk melakukan hal itu.


“Tidak masalah.” Jawab Seno santai.


“Apakah Kamu tidak takut aku tidak membayar sisanya?” Tanya Anton.

__ADS_1


“Jika Kamu tidak membayarnya, itu berarti bukan rejekiku. Aku tinggal menghentikan kerja sama denganmu dan mencari partner kerja yang lainnya.”


Cukup mudah bagi Seno sekarang menemukan orang yang bisa ia ajak kerjasama untuk memasarkan produk kebunnya. Sudah ada Danial yang setiap lima hari sekali membeli sayuran kepadanya dengan setiap transaksi bernilai dua puluh lima juta. Itu saja bisa memberikan Seno penghasilan seratus lima puluh juta per bulannya.


Ada juga Johan, satu kali transaksi dengan pihak militer memiliki nilai ratusan juta. Meski itu tidak akan sering, tetap saja nilainya tinggi. Jadi, Seno tidak terlalu khawatir jika Anton tiba-tiba saja menghilang dan tidak membayar hutangnya.


“Baiklah jika Kamu tidak masalah kalau aku hanya membayar setengahnya saja. Besok kirimkan lima ribu kentang padaku. Aku akan mengirimkan alamatnya padamu.” Jelas Anton.


Seno ingin segara melakukan pengiriman karena dia tidak mau nantinya Anton meminta kentangnya dikirimkan bersamaan dengan pesanan Danial atau pesanan Johan. Jadi ia menyarankan opsi pembayaran seperti ini.


“Tentu. Aku akan mempersiapkan semuanya.” Jelas Seno.


Setelah menutup panggilan telepon itu, Seno mengendarai motornya menuju rumah salah satu petani yang sebelumnya bekerja padanya. Ia akan meminta bantuan petani tersebut untuk menghubungi buruh tani lainnya.


Waktunya cukup mepet jika besok Seno belum juga melakukan pengemasan. Jika begini, Seno lebih memilih membangun sendiri gudang yang nantinya akan ia pakai untuk mempersiapkan semuanya.


Sekarang pendapatannya sudah semakin banyak. Jadi tidak ada salahnya jika Seno membangun sendiri gudang miliknya.


Seno mencoba menghitung kasar uang yang akan dimilikinya. Sekarang ini, di tabungannya sudah ada uang sebesar seratus empat puluh juta. Itu belum termasuk uang yang akan ia dapatkan dari sayur yang ia jual kepada Anton, Danial dan Johan. Uang lelang keduanya pun juga belum masuk.


Jika semua uang itu masuk, Seno menghitung dirinya akan memiliki uang sebesar empat ratus juta rupiah. Meski Seno tetap harus menyisihkan seratus juta untuk mengembalikan uang Ferdi yang ia pakai, tetapi itu masih bisa belakangan.


Sekarang saja Ferdi masih berada diluar negeri. Jadi, Seno bisa memakai uang itu sekarang.


“Eh, apa aku pakai saja kebun peninggalan orang tuaku? Kebun itu seluas setengah hektar. Jika aku membangun gudang yang tidak terlalu besar di tengah. Lagipula, belum ada yang menyewa kebun itu sekarang.” Gumam Seno


Bisa dibilang letak kebun orang tua Seno berada di pojokan. Sebelah timur dan selatan berbatasan dengan hutan, sebelah barat berbatasan dengan sungai irigasi, dan sebelah utara adalah jalan. Jadi, semisal Seno membangun kebun tersebut menjadi gudang, itu tidak akan mengganggu kebun yang lainnya.


“Hemm… lebih baik begitu saja. Pak Joko sang pengganggu itu pun sudah di penjara sekarang. Jadi, jika aku memanfaatkan kebun itu sebagai gudang sayur, tidak akan ada yang akan menggannggu nantinya.” Gumam Seno.


Seno hanya tinggal memberitahukan niatannya ini kepada kedua adiknya. Tidak hanya itu, ia perlu menyiapkan dana lebih untuk membangun gudangnya itu. Empat ratus juta sangatlah kurang untuk membangun sebuah gudang.


Mungkin ia akan membutuhkan uang dua hingga tiga milyar untuk membangun sebuah gudang. Jika penjualannya lancar seperti sekarang, Seno yakin ia hanya butuh tiga hingga empat bulan untuk bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.

__ADS_1


Lagipula, pembangunan gudangnya nanti juga akan bertahap. Jadi, Seno tidak perlu membayar semuanya pada satu waktu.


“Sebelum ini aku tidak akan pernah membayangkan bisa mengumpulkan uang milyaran rupiah dalam waktu beberapa bulan saja. Tetapi sekarang, aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Itu bukan lagi sebuah hal yang mustahil dilakukan.”


__ADS_2