
“Wah ada apa ini kalian berkerumun di sini?” Ucap Dina ketika sudah dekat dengan kerumunan Seno dan yang lainnya.
Melihat kedatangan Dina, langsung saja Seno menghindari kerumunan kecil itu. Ia langsung menuju ke arah Dina. Sebuah senyum lebar telihat wajah Seno. Laki-laki itu kemudian menyerahkan buket sayuran yang ia bawa.
Seno tidak mempedulikan orang di sekitarnya yang kini tengah memandangi mereka. Ia masih ingat apa tujuannya datang kemari.
“Selamat ya Din, kamu sudah menyelesaikan sidang skripsimu. Mira titip pesan padamu karena dia tidak bisa datang.” Ucap Seno.
Miranda sedang ada kuis di kampusnya. Jadi perempuan itu tidak bisa meninggalkan perkuliahannya untuk ikut Seno mendatangi kampus Dina.
“Ya aku tahu itu. Mira sudah mengirimiku pesan tadi pagi.” Jawab Dina.
“Jadi bagaimana? Apakah semuanya lancar?”
Dina mengangguk pelan. “Semua lancar. Hanya ada sedikit revisi yang perlu aku lakukan. Sisanya beres.” Jawab Dina.
“Ini memangnya ada apa mereka berkerumun seperti ini?” Tanya Dina sekali lagi.
Seno pun mendekatkan bibirnya ke telinga Dina. Ia membisikkan Sesutu kepada kekasihnya itu.
“Mereka tahu bahwa aku ini pemilik akun Petani Hebat. Lalu sekarang, mereka memintaku menjual beberapa buncis. Bisakah Kamu membantuku menghindari mereka?” Pinta Seno.
Jadi seperti itu. Dina kira keributan apa yang sedang terjadi. Ternyata ini mengenai identitas Seno sebagai pemilik akun Petani Hebat. Seseorang yang menjual berbagai macam tanaman ajaib.
Sebelum Dina membuka suaranya untuk menghindari mereka, Julia sudah berhenti di depan mereka. Perempuan itu memandangi Dina dari atas hingga ke bawah. Julia tengah menilai penampilan Dina saat ini.
“Pantas saja Kamu mengalami perubahan besar Din. Kamu yang semula tidak bisa mengungguliku, sekarang jauh lebih cantik dariku. Aku kira kamu itu melakukan operasi plastik di beberapa bagian wajahmu.”
__ADS_1
“Ternyata Kamu selama ini mengkonsumsi sayuran ajaib itu. Apalagi Kamu sepertinya memiliki hubungan spesial dengan penjual sayuran-sayuran ajaib itu. Tidak heran Kamu sekarang semakin cantik.” Jelas Julia.
Irfan yang mendengar hal itu tidak terima dengan ucapan Julia. Baginya hubungan spesial antara Dina dan Seno tidak akan berlangsung lama. Ia yakin orang tua Dina akan mencegah putri mereka menikahi Seno.
“Mereka tidak memiliki hubungan spesial apa pun Jul. Jika pun ada, itu juga akan berakhir tidak lama lagi.” Potong Irfan.
“Kata siapa hubugan kami akan berakhir. Orang tuaku sudah merestui hubungan kami. Tanggal dua puluh dua bulan ini kami akan menikah.” Jawab Dina.
Perempuan itu lalu merogoh sesuatu dari dalam tas miliknya. Ia bisa menebak bahwa Irfan masih berharap padanya. Jadi Dina sengaja membawa ini untuk ia berikan kepada laki-laki itu. Dengan begitu, Irfan bisa berhenti berharap memilikinya.
Sebenarnya Irfan adalah laki-laki yang baik. Jadi, ia mau laki-laki itu mencari perempuan lain yang mau menerima cintanya untuk dijadikan istri. Bukan dirinya.
“Ini undangan pernikahan kami Kamu datang saja ke sana dan kamu akan tahu bahwa oran tuaku sudah merestui hubungan kami.” Ucap Dina lantang.
Ucapan Dina ini cukup mengejutkan bagi mereka yang ada di sana. Mereka tidak menyangka bahwa Dina akan menikah duluan meskipun mereka belum wisuda.
Irfan kemudian menyerahkan buket uang yang ia bawa kepada Dina. Setelahnya, ia pergi meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan pandangan penasaran dari orang lain. Sepertinya dirinya memang benar-benar kalah dari seorang petani sayur.
…
Kehebohan kecil tadi tidak mengganggu Julia sama sekali. Perempuan itu sekarang sudah menggandeng tangan Dina. Ia tengah memperlihatkan wajah imut yang bisa ia buat untuk merayu Dina. Jika dengan Seno gagal maka Julia berharap ia berhasil dengan Dina.
“Din, Din, kita udah kenal lama bukan? Kamu bujuk itu calon suamimu biar ngejual buncis itu padaku. Atau Kamu kasih aja buket ini padaku. Aku juga pengen lebih cantik lagi sama kayak Kamu.” Ucap Julia.
Tidak hanya Julia saja, beberapa teman sekampus Dina juga sekarang mendekati mereka dan mengatakan hal yang sama kepada Dina. Mereka meminta Dina membujuk Seno agar mau menjual beberapa buncis.
Beberapa bahkan dengan tidak tahu malu meminta diskon. Ada yang lebih parah lagi dengan meminta Dina memberi mereka buncis itu secara percuma dan tidak mau membayar apa pun.
__ADS_1
Sekarang Dina paham kenapa tadi Seno tiba-tiba datang padanya dan meminta bantuannya untuk menghindari para mahasiswa ini. Sangat merepotkan bagi Dina untuk menjawab semua permintaan mereka.
Pada akhirnya, Dina melemparkan buket sayuran yang diberikan oleh Seno sejauh mungkin untuk bisa menghindari kerumunan itu. Keduanya langsung masuk ke mobil Dina yang terparkir di halaman fakultasnya.
“Sungguh, tadi itu cukup mengerikkan. Setelah ini, aku pasti keluar rumah dengan selalu memakai masker. Jika tidak kejadian seperti ini akan terjadi lagi.” Ucap Seno sembari mengusap keringatnya.
“Aku tidak menyangka hanya karena buncis mereka bisa seperti itu.” Imbuh Dina.
Seno langsung menghadap ke arah Dina, ia memandang lekat kekasihnya itu. “Demi penampilan semua melakukan yang terbaik yang bisa mereka lakukan. Kamu kira kenapa operasi plastik di negeri gingseng itu laris manis?”
“Itu karena banyak yang tidak puas dengan penampilan mereka dan ingin mengubah apa yang sudah mereka miliki. Buncis yang aku jual terbukti kasiatnya. Mereka hanya tinggal memakan satu porsi saja sudah telihat hasilnya.”
“Apa kamu tidak pernah menghitung juga setiap bulan rata-rata seseorang menghabiskan berapa uangnya untuk produk perawatan kulit? Mereka yang memiliki pendapatan menengah ke bawah saja bisa menghabiskan uang dua ratus hingga lima ratus ribu sebulan hanya untuk perawatan kulit.”
“Lalu, mereka yang memiliki pendapatan menengah ke atas, bisa menghabiskan jutaan uang mereka untuk perawatan. Semua itu pun tidak menjamin mereka menjadi cantik dan tampan. Ada bahkan produk kecantikan yang membuat kulit kita ketagihan.”
“Jika kita berhenti memakainya, maka kulit kita seperti merasa sakau. Tidak lama kulit kita akan rusak jika tidak menggunakan produk perawatan kulit itu. Jadi, jika dibandingkan dengan produk itu, buncis milikku jelas banyak yang mencari.”
Mendengar semua penjelasan Seno, Dina langsung berdecak kagum. “Wow. Aku tidak menyangka Kamu memberikan kesimpulan seperti itu. Tetapi penjelasanmu itu memang benar. Aku bangga punya calon suami yang tahu mencari peluang seperti itu.”
“Kamu bisa menjual sayur-sayur ajaib seperti itu dengan harga yang besar. Hal itu membuatku penasaran, dari mana Kamu mendapat semua itu?” Tanya Dina sembari memandang lekat ke arah Seno.
Selama ini Dina sangat penasaran dengan asal usul sayuran-sayuran itu. Ia sangat ingin menanyakan halitu kepada Seno. Tetapi Dina menghormati Seno dengan tidak menanyakan hal itu.
Namun sekarang sudah beda cerita. Dirinya adalah calon istri Seno. Tidak lama lagi mereka akan menikah. Sudah seharusnya Seno terbuka padanya mengenai hal ini.
Kunci awetnya sebuah hubungan adalah saling terbuka dan percaya sama lain. Jika Seno tidak memberitahunya mengenai hal itu, berarti masih ada keraguan dalam diri Seno. Laki-laki itu belum sepenuhnya mempercayai Dina.
__ADS_1
Dina juga pernah menanyakan hal ini kepada Miranda. Tetapi perempuan itu sama juga seperti dirinya, tidak tahu asal usul dari sayuran-sayuran ajaib milik Seno.