
“Aku bisa menjelaskan semuanya, Bunda. Aku sama sekali tidak memiliki niatan menambah istri lagi. Kalian berdua sudah cukup untukku. Memang benar aku belakangan memiliki pemikiran menyamping, tetapi aku benar-benar tidak ada niatan untuk menyentuh anak buahku. Menikmati keindahan tidak ada salahnya bukan?”
“Kalau Kami mengizinkan Ayah untuk menikah lagi, apakah Ayah akan melakukannya?” tanya Dina.
Seno buru-buru melambaikan kedua tangannya setelah mendengar ucapan Dina. Ia tidak mau kedua istrinya berpikir bahwa dirinya ingin menikah lagi setelah ini.
“Tidak-tidak, aku sama sekali tidak memiliki niatan untuk menikah lagi. Sungguh. Aku berani bersumpah. Aku mencintai kalian berdua. Sudah cukup hatiku dibagi untuk kalian dan anak-anak kita nantinya. Aku tidak mau memasukkan cukup banyak nama di hatiku.”
Ini jawaban jujur dari Seno. Jika dirinya memiliki banyak istri, otomatis dirinya nanti akan memiliki cukup banyak anak. Seno tidak mau menjadi seorang ayah brengsek yang tidak bisa mengingat nama anaknya sendiri. Jika tidak menghafal nama lengkap cukup wajar, tetapi bagaimana jika Seno tidak bisa mengingat nama panggilannya?
Seno ingat pernah ada seorang laki-laki di luar negeri yang memiliki cukup banyak istri. Jumlah anaknya mencapai puluhan, bahkan ada yang mencapai ratusan. Bagaimana mungkin Seno bisa mengingat semua nama itu tanpa takut salah panggil.
Meski pun ia memiliki kacang merah yang bisa membatu meningkatkan ingatannya, tetap saja itu beresiko. Seno tidak mau dipandang pilih kasih hanya karena salah mengucap nama anaknya dan hanya mengingat sebagian nama dari mereka.
“Jika Ayah memang menginginkan istri lagi, katakan saja pada kami. Mungkin kami bisa mencarikan orang yang tepat untukmu,” ucap Dina.
“Itu benar. Ayah tinggal bilang mau cewek yang seperti apa. Apakah mau menambah istri manusia bisa, atau mungkin anak buah Ayah. Laluna dan Lalana tidak buruk juga. Pasti akan menyenangkan jika dilayani dua orang dengan wajah sama persis seperti itu. Bukan begitu, Ayah?”
Kini tidak hanya tangannya saja yang Seno lambaikan. Kepalanya pun juga ia gelengkan dengan cepat. Jika kepala manusia bisa dengan mudah terlepas, maka sekarang kepala Seno sudah menggelinding di lantai karena kerasnya dia menggelengkan kepala.
Meski kedua istrinya mengatakan bahwa mereka mengizinkan Seno menikah lagi, dan bahkan mencarikan calon istri untuknya, Seno tidak mau melakukannya. Bisa jadi ini adalah tes dari Dina dan Miranda untuk Seno. Apalagi sebelumnya mereka terlihat sangat marah.
Jadi, itu sama saja dengan bunuh diri jika Seno bersikap senang dan menyetujui ucapan keduanya. Seno masih berpikir jernih, dan tidak mengikuti kaki ketiganya dalam berpikir.
“Kalian berdua jangan mendengarkan semua omong kosong yang Sistem ucapkan. Dia hanya ingin mengadu domba kita saja. Mungkin dia merasa bosan sehingga membuat masalah seperti ini,” jelas Seno.
Andaikan saja Sistem memiliki bentuk fisik, sudah pasti Seno akan memukulinya sekarang. Karena Sistem, Seno harus mengalami kejadian tidak mengenakkan seperti ini.
__ADS_1
[Aku hanya ingin membantumu Host]
[Bukankah memperbanyak jumlah penduduk di planetmu bisa memperkuat kekuatan kehidupan yang ada di alam semesta?]
“Membantu dari mana pula itu. Yang ada kamu memperkeruh keadaan. Lagi pula, aku bisa membantu memperbanyak jumlah penduduk Bumi dengan gencar mempromosikan nanas dan juga selada milikku. Itu bisa membantu meningkatkan angka kelahiran di dunia ini.”
“Lalu, yang menghambat pertumbuhan manusia Bumi sebenarnya bukan masalah kesuburan seseorang, melainkan perekonomian. Apa Kamu tidak tahu Sistem, angka kelahiran di Jepang, Korea dan China menurun karena biaya hidup yang tinggi. Tidak hanya itu, harga rumah pun juga sangat meroket dari tahun ketahun.”
“Dengan keadaan seperti itu, bagaimana mungkin seseorang mau menikah atau bahkan memiliki anak. Menambah anak sama dengan menambah jumlah mulut yang diberi makan. Lapangan pekerjaan di dunia ini semakin menurun dengan banyaknya manusia,” jelas Seno.
Di era modern seperti ini, memiliki anak menjadi sebuah pilihan. Bahkan menikah pun juga dijadikan pilihan. Ini tidak sama seperti beberapa ratus tahun yang lalu di mana menikah dan memiliki anak adalah sebuah keharusan.
Masalah perekonomian dan juga makin sempitnya lahan untuk tempat tinggal menjadi salah satu alasan utama seseorang tidak mau menikah dan memiliki anak. Jika planet lain di tata surya bisa bisa ditinggali dan sebagian penduduk Bumi pindah ke sana, maka jumlah kehidupan di tata surya bisa bertambah. Lapangan pekerjaan juga semakin banyak, lahan pertanian untuk memberi makan juga semakin banyak.
“Lalu sekarang Ayah ingin apa?”
“Aku tidak ingin apa pun. Aku tadi ke sini karena aku ingin pamit. Setelah ini aku akan pergi mendapatkan dimensi baru lagi. Kalian berdua lebih baik beristirahat sekarang,” jelas Seno.
Jika sudah seperti ini, Seno jelas tidak bisa mengajak istrinya bersenang-senang. Lebih baik ia langsung melakukan persiapan penaklukkan dimensi bersama dengan anak buahnya. Berlama-lama di sini justru membuat Seno akan pusing.
Setelah mencium kening Dina dan Miranda, Seno langsung pergi dari sana. Ia langsung pergi ke rumah pohon lainnya yang Seno jadikan sebagai tempat diskusi dengan anak buahnya.
…
“Jadi bagaimana, Mbak Dina? Apakah Ayah memang tidak benar-benar memiliki niatan untuk menikah lagi?” tanya Miranda setelah Seno pergi.
“Aku juga tidak bisa memastikannya, Mir. Ada kemungkinan dia takut dengan kita. Jadi, dia mengatakan keinginan itu kepada kita. Aku yakin sebenarnya Ayah ingin menambah istri lagi,” jawab Dina.
__ADS_1
“Tetapi, apakah Mbak Dina setuju Ayah punya istri baru lagi?”
Dina tidak langsung menjawab pertanyaan Miranda. Ia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Lebih tepatnya kejadian setelah Seno bangun dari tidur panjangnya. Entah karena Seno sudah berpuasa lama atau mungkin karena kekuatan Seno yang semakin bertambah, stamina Seno seolah tidak ada habisnya.
Jika saja ia dan Miranda tidak sedang hamil, Dina yakin Seno akan meminta lebih. Lalu, jika mereka berdua tidak hamil pun, Dina tidak yakin dirinya sanggup mengimbangi Seno.
Seno sangatlah berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Staminanya dengan cepat bisa kembali. Padahal, Dina pernah mendengar dari teman-temannya lain yang sudah menikah, bahwa suami mereka baru bisa kembali berdiri setelah setengah jam beristirahat. Itu pun waktu tercepat.
Jika Seno, dalam waktu lima belas menit pun, dia sudah siap menggempur Dina dan Miranda. Lalu, Dina sadar semakin ke sini jangka waktu itu semakin singkat. Dengan Seno yang seperti itu, Dina tidak yakin ia dan Miranda bisa memuaskan Seno.
“Apa Kamu yakin bisa melayani Ayah tanpa kelelahan seperti sebelumnya, Mir?” tanya Dina.
“Kita masih bisa berolahraga dan meningkatkan stamina kita bukan, Mbak? Aku yakin jika kita berusaha, kita bisa mengimbangi stamina Ayah,” jawab Miranda.
“Secepat apa pun stamina milikmu bertambah, itu masih akan kalah dengan pertambahan stamina milik Ayah. Setiap dia menaklukkan dimensi baru, kekuatan dan staminanya akan bertambah. Sementara kita? Meski kita mengkonsumsi cokelat dan makanan pendukung lainnya, stamina kita tetap akan kalah dari Ayah.”
“Jadi, Mbak Dina mau bilang bahwa kita akan benar-benar mengizinkan Ayah untuk menikah lagi?”
Dina menggeleng pelan.
“Nggak kayaknya. Nggak untuk saat ini. Sekarang aku rasa kita masih bisa mengatasi Ayah. Tetapi itu nggak akan bisa di masa mendatang. Aku hanya ingin kamu lebih siap aja dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi Ayah berencana menaklukkan seluruh dimensi yang ada di Asia Tenggara bukan?”
“Jika semua itu terjadi, Kamu yakin masih bisa menyeimbangi stamina Ayah? Di waktu itu kita baru memutuskan akan memberi izin Ayah menikah lagi atau tidak. Tetapi kemungkinan besar, kita akan memilihkan istri untuk Ayah.”
Miranda terdiam setelah mendengar ucapan Dina. Ucapan Dina ada benarnya. Mereka berdua tidak akan bisa mengimbangi stamina milik Seno. Jika stamina Seno sudah bertambah banyak, mereka berdua tidak akan bisa mengimbangi Seno.
“Baiklah, aku paham. Jika begini, kita perlu memikirkan kandidat untuk menjadi saudara kita nantinya," jawab Miranda.
__ADS_1
Mulai sekarang, baik Dina dan Miranda harus benar-benar menyiapkan mental mereka untuk kembali berbagi suami. Entah itu beberapa bulan lagi, atau mungkin beberapa tahun lagi. Yang jelas itu akan terjadi kepada mereka cepat atau lambat.