Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 228 Solusi Sederhana


__ADS_3

Sekarang Seno mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kotak penyimpanan miliknya. Daging, buah, dan sayuran tidak bisa memancing makhluk penghuni dimensi ini. Jadi, sekarang Seno mencari tahu apakah ada sesuatu miliknya yang bisa menarik perhatian mereka.


Anggur fermentasi, keju, cokelat, susu, semua produk lain miliknya, sudah Seno keluarkan. Bahkan, Seno juga mengeluarkan lipstik serta berlian miliknya. Ia berharap ada barang miliknya yang menarik perhatian makhluk penghuni dimensi ini.


Setelah mengeluarkan hampir seluruh isi kotak penyimpanan miliknya, Seno merasakan tanah yang dipijaknya bergetar. Ini bukan gempa, tetapi lebih mirip ada banyak makhluk yang berlari ke arahnya.


“Bos, aku merasakan pergerakan dari setiap lubang yang ada di sini. Ada ratusan, tidak ribuan bahkan mungkin puluhan ribu langkah kaki yang datang kemari,” lapor Azkareia.


“Aku tahu. Aku merasakan pergerakannya. Semuanya, kalian harus bersiap. Entah ini hanya akan berakhir dengan negosiasi atau akan ada pertarungan seperti sebelumnya, aku tidak tahu. Yang jelas jangan meremehkan musuh. Tetap fokus dan jaga kewaspadaan kalian,” ucap Seno memperingatkan.


“Ya, kami tahu, Bos. Kami akan tetap berhati-hati.”


Tidak lama kemudian, Seno melihat adanya makhluk yang keluar dari dalam lubang. Makhluk tersebut berbentuk seperti tikus. Tetapi, makhluk itu memiliki kulit berwarna hijau. Tidak hanya itu, makhluk itu memiliki tanduk di kepalanya, kuku kaki depannya pun cukup panjang.


Lalu makhluk itu memiliki dua gigi yang cukup besar. Pada ekor makhluk itu, terdapat sesuatu seperti bola. Jadi, ekor makhluk itu tidak runcing seperti tikus pada umumnya.


“Rupanya ada sesuatu yang aku miliki yang benar-benar menarik perhatian tikus-tikus ini,” gumam Seno.


Seno melihat bagaimana makhluk tersebut menghiraukan daging, buah, dan sayuran yang ia tinggalkan di depan lubang. Mereka bahkan menginjak-injak umpannya, seolah apa yang Seno berikan tidak menarik bagi mereka.


Sekarang ini, rombongan Seno sudah dikepung oleh makhluk-makhluk ini. Mereka tidak ada niatan menyerang rombongan Seno. Namun, mereka masih melihat ke arah tumpukan barang yang baru Seno keluarkan.


Hal ini membuat Seno penasaran, ia ingin tahu apa yang makhluk-makhluk ini inginkan dari barang-barang miliknya. Seno lalu melemparkan keju ke depan salah satu makhluk itu. Namun, mereka sama sekali tidak bereaksi.


“Eh … tidak bereaksi? Aku kira tikus menyukai keju. Bukankah di film seperti itu? Si tikus selalu mencuri keju. Apakah aku sudah ditipu oleh film barat ya?” gumam Seno.


Meski makhluk itu tidak tertarik dengan kejunya, Seno tidak menyerah. Ia lalu melemparkan barang yang lain. Cokelat, anggur fermentasi, susu, semua Seno lemparkan. Namun, mereka tidak memiliki niatan mengambil barang-barang itu.


“Jangan bilang kalian menginginkan lipstik?”

__ADS_1


Akan sangat aneh jika makhluk-makhluk ini menginginkan lipstik miliknya. Memangnya, akan mereka apakan lipstik darinya? Untuk menarik perhatian lawan jenis ketika musim kawin? Sangat tidak masuk akal.


“Jangan-jangan, kalian menginginkan berlianku?” tanya Seno yang tidak mendapatkan jawaban apa pun.


Dari semua barang yang ia keluarkan, hanya berliannya saja yang belum Seno lemparkan ke arah kawanan ini. Seno lalu mengambil berlian miliknya. Dengan satu tangannya, Seno mengangkat tinggi-tinggi berlian itu. Makhluk-makhluk tersebut pun melihat ke arah tangan Seno, ketika Seno menggerakkan tangannya, mata mereka juga mengikuti pergerakan tangannya.


Untuk kembali mengetesnya, Seno melemparkan berlian tersebut. Langsung saja makhluk penghuni dimensi ini berebut untuk mengambil berlian tersebut. Meski mereka tidak saling mencakar satu sama lain, Seno bisa melihat bahwa mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya.


Pada akhirnya, salah satu makhluk itu berhasil mendapatkan berlian yang Seno lemparkan. Seno pikir makhluk itu akan memakan berlian tersebut. Tetapi, makhluk itu justru membawa berlian yang susah payah ia dapatkan ke lubang terbesar yang ada di sana.


Tidak lama kemudian, makhluk lain yang memiliki fisik yang berbeda, muncul dari sana. Jika yang lain memiliki tinggi lima puluh lima sentimeter hingga delapan puluh sentimeter, maka makhluk ini memiliki tinggi seratus empat buluh sentimeter. Lalu, makhluk itu memiliki kulit berwarna ungu.


“Sepertinya itu adalah pemimpin kawanan. Bos, izinkan aku menghadapinya. Dengan begitu, kita bisa menyelesaikan misi ini dengan cepat. Aku yakin, Bos ingin segera kembali pulang bukan?”


“Tunggu dulu Azka,” jawab Seno.


Hal ini berarti, kemungkinan besar makhluk berkulit ungu itu bukanlah pemimpin kawanan ini. Mungkin mereka hanya memiliki kedudukan setara dengan jenderal yang memimpin pasukan.


“Aku rasa itu bukanlah pemimpin dimensi ini.” imbuh Seno.


“Bukan pemimpin dimensi?”


“Ya. Aku tidak merasakan aura inti dimensi pada makhluk itu,” jawab Seno.


Entah karena dia sudah menyerap cukup banyak inti dimensi, atau karena dimensi miliknya sudah menyatu sekarang, Seno yang sekarang bisa merasakan keberadaan inti dimensi. Namun, kemampuan ini sepertinya ada batasan. Seno hanya bisa menggunakannya jika target ada di dekatnya.


Jika Seno bisa merasakan keberadaan inti dimensi dari jarak jauh, maka dia bisa mengarahkan anak buahnya untuk mencari pemimpin dimensi ini.


“Apa yang Bos katakan ada benarnya. Lihatlah, ada makhluk dengan ciri yang sama di lubang lain. Jika dia pemimpin dimensi, tidak mungkin ada cukup banyak makhluk dengan warna dan ukuran yang sama bukan?” tanya Tiarsus.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Tiarsus, ada makhluk berkulit ungu muncul di lubang yang lain. Mereka memandang ke arah rekan mereka yang saat ini membawa batu berlian yang tadi Seno lemparkan. Seno melihat mata mereka menyiratkan tatapan mendamba ketika melihat berlian itu.


“Apa kalian mengerti ucapanku?” teriak Seno kepada makhluk di depannya.


Mereka lalu memandang ke arah Seno. Tetapi, tidak ada satu pun di antara mereka yang menjawab ucapan Seno. Apakah makhluk ini tidak bisa berkomunikasi dengannya? Jika demikian, tingkat kecerdasan mereka tidak terlalu tinggi.


“Tiar, cobalah berkomunikasi dengan mereka. Sepertinya mereka tidak memahami ucapanku,” pinta Seno.


Seno ingat dulu Tiarsus pernah menjadi penerjemahnya dalam berkomunikasi dengan para Gylinox yang tidak mengerti bahasanya. Jadi, sekarang Seno berniat melakukan hal yang sama.


“Tentu, Bos. Apa yang ingin Bos sampaikan kepada mereka? Aku akan menyampaikan ucapanmu pada mereka?” tanya Tiarsus.


“Baiklah. Tanyakan pada mereka bahwa aku ingin bertemu dengan pemimpin mereka. Katakan juga, aku tidak memiliki maksud jahat. Jika mereka bekerja sama, maka aku tidak akan menyerang mereka,” jelas Seno.


Tiarsus pun menyampaikan apa yang Seno katakan kepada makhluk tersebut. Terdengar suara decitan dari mulut Tiarsus ketika berkomunikasi dengan mereka. Tidak lama kemudian, Tiarsus menyampaikan hasil komunikasinya kepada Seno.


“Bos, mereka mengatakan pemimpin kawanan sudah bisa menebak apa tujuan kita datang kemari. Pemimpin kawanan mereka bilang, dia mau dipimpin olehmu, Bos. Asalkan Bos memberi mereka benda berkilau, saat ini juga Bos bisa memiliki dimensi ini,” jelas Tiarsus.


“Eh hanya itu? Aku kira kita perlu mendiskusikannya dengan pemimpin mereka. Tidak tahunya, mereka sudah menginginkan ini terlebih dahulu.”


Seno menggelengkan kepalanya pelan. Tidak lama kemudian, ia tertawa dengan cukup keras.


“Hahaha …. Aku tidak menyangka mereka hanya menginginkan berlian untuk ditukar dengan dimensi sebesar ini. Mereka sudah membuatku terlihat seperti orang bodoh. Menunggu lama di sini tanpa kejelasan. Ternyata semua ini bisa diselesaikan dengan berlian.”


Seno merasa sangat bodoh. Ia melakukan segala cara dan menunggu sangat lama, tetapi cara menyelesaikan permasalahan ini sangat sederhana.


“Hah ….” Seno menghembuskan napas panjang. “Kalau begitu, minta mereka mengantar kita menuju ke pemimpin mereka,” pinta Seno.


“Baik, Bos.”

__ADS_1


__ADS_2