
“Mas Seno, Mas.” Ucap Miranda cukup keras sembari melambaikan tangannya di depan wajah Seno.
Miranda melakukan hal ini karena Seno yang sedari tadi diam menampakkan pandangan kosong. Suaminya itu nampak sedang melamun. Meski ia panggil beberapa kali pun Seno tidak menyahut.
“Eh iya.”
Pada percobaan yang kesekian kalinya, akhirnya Seno tersadar dari lamunannya. Miranda lalu memandang Seno dengan tatapan menelisik.
“Memangnya apa itu coba jelaskan pada kami Mas.” Pinta Miranda.
“Itu adalah sumber dari sayuran-sayuran ajaib yang selama ini aku miliki. Jawaban atas semua pertanyaan kalian selama ini ada di sana. Jika kalian ingin tahu lebih lanjut, kalian perlu masuk ke dalam sana.” Jelas Seno.
“Apa yang kalian lihat saat ini adalah sebuah portal menuju ke dimensi lain. Ketika kalian melewati portal itu, kalian akan bertemu dengan kebun lain milikku.” Imbuh Seno.
Sebelum ini sistem sudah menawarkan apakah Seno akan menautkan Sub Sistem dengan kedua istrinya saat ini juga. Namun, Seno belum memberikan jawaban. Ia menunggu respon dari kedua istrinya.
Meskipun Seno suami mereka, dirinya tidak bisa semudah itu mengatur seluruh hidup mereka. Mereka masihlah memiliki pilihan. Setelah melihat semua kebun miliknya dan semua sektor lainnya yang ada di dimensi lain, barulah Seno akan menanyakan kesediaan mereka untuk membantunya.
Memiliki sistem tidak semenyenangkan itu. Dirinya masih perlu menjalankan segala misi yang sistem berikan jika ingin tetap menikmati keuntungan yang sistem miliki. Lalu, misi dari Sistem sendiri terkadang melelahkan dan cukup membahayakan.
Seno mau kedua istrinya memang mengajukan diri membantunya tanpa ia harus meminta mereka. Dengan begini, tidak akan ada rasa terpaksa dalam diri mereka. Tidak hanya itu, mereka juga akan sungguh-sungguh dalam menjalankan semua misi yang mungkin akan sistem berikan.
…
“Apa itu tidak berbahaya?” Tanya Dina.
“Tenang saja, ada aku. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Seno menenangkan kedua istrinya.
__ADS_1
Pada akhirnya, Seno perlu merelakan kedua lengannya untuk dipeluk Dina dan Miranda. Sebelum mereka melewati portal, lengan Seno dicengkram erat oleh kedua istrinya. Ketiganya lalu melangkah bersama melewati portal.
Hal pertama yang Dina dan Miranda rasakan setelah melewati portal adalah udara yang begitu segar. Mereka melihat hamparan kebun penuh dengan sayuran. Di pinggir kebun, beberapa pohon buah juga terlihat tertanam rapi.
Di sebelah kiri dari sisi mereka berdiri, Dina dan Miranda bisa melihat beberapa ekor sapi yang terlihat tengah menghentak-hentakkan kaki depan mereka mengikuti irama musik yang ada. Di dekat mereka seorang laki-laki berkulit tosca dengan penuh tato terlihat membersihkan kandang sapi.
Menurut Dina dan Miranda, itu adalah pemandangan yang sangat aneh. Sapi yang bergoyang mengikuti irama musik hip hop sementara ada orang yang memiliki kulit sangat berbeda dengan manusia yang hidup di Planet Bumi.
Di sisi kanan mereka berdiri, Dina dan Miranda melihat beberapa bangunan. Bangunan-bangunan itu letaknya cukup dekat dengan barisan pohon buah yang ditanam. Lalu, di arah depan mereka, terdapat sebuah bangunan yang cukup besar yang mereka tidak tahu apa fungsinya.
Beberapa anak kecil terlihat mendatangi mereka dari arah kanan. Mereka terlihat membawa beberapa batang kayu. Gerakan mereka cukup aneh. Terkadang anak-anak itu berjalan semperti manusia bisa, terkadang mereka lebih memilih melompat-lompat.
“Selamat datang di kebun milikku.” Sambut Seno kepada keduanya.
Belum sempat Dina dan Miranda memberikan respon, anak kecil yang mendatangi mereka mulai berbicara secara bersamaan. Mereka terlihat senang dengan kedatangan Seno di kebun ini.
Sebelum ini Sneo memang melarang para kelincinya untuk keluar kebun. Ini karena Dina dan Miranda akan datang. Sneo tidak mautiba-tiba saja kelincinya lupa peringatannya dan mereka berubah menjadi manusia ketika ada kedua istrinya.
Jika itu terjadi, Seno akan sulit menjelaskan keadaan itu kepada kedua istrinya. Tetapi sekarang karena kedua istrinya mengetahui keberadaan portal, maka tidak ada gunanya Seno mengurung para kelincinya itu. Cepat atau lambat, Dina dan Miranda pasti akan tahu apa sebenarnya mereka itu.
Sebelum Seno sempat menjawab pertanyaan Jasmine, Dina yang ada disampingnya sudah memotong ucapannya terlebih dahulu. Dari nada suaranya, Seno bisa tahu bahwa Dina tengah marah.
“Kamu memperkerjakan anak kecil di kebunmu? Anak sekecil mereka sudah Kamu paksa bekerja. Tega sekali Kamu Sen.”
“Siapa bilang mereka ini anak kecil yang aku pekerjakan dengan paksa? Mereka ini bukanlah manusia. Jadi aku tidak mempekerjakan mereka dengan paksa. Aku hanya barter dengan mereka. Aku memberi mereka apa yang mereka mau, dan nantinya mereka akan memberikan tenaga mereka membatuku mengurusi kebun.” Jelas Seno.
“Bukan manusia?” Tanya Miranda yang melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang Seno ucapkan.
__ADS_1
“Ya kami ini bukan manusia. Pasti kalian ini Nyonya Bos yang sering Bos ceritakan kepada kami. Selamat datang Nyonya Bos.” Ucap Jasmine yang ikuti oleh kelinci yang lainnya.
“Selamat datang Nyonya Bos.” Ucap mereka secara serentak.
Ketika menyapa, para kelinci milik Seno ini bertindak usil. Beberapa dari mereka merubah bentuk dari manusia kemudian menjadi kelinci secara berulang ulang. Hal itu membuat Dina dan Miranda mundur dan memilih bersembunyi di balik punggung Seno.
“Apa apaan itu?” Tanya Dina.
“Sudah aku bilang mereka bukan manusia. Mereka adalah kelinci yang aku beri makan wortel ajaib. Hewan yang memakan sayuran dari kebun ini, memiliki kemungkinan untuk memiliki kemampuan merubah diri menjadi manusia. Mereka adalah contohnya.” Jelas Seno.
Selama ini Seno belum mencoba bereksperimen memberi makan hewan lain dengan hasil kebunnya. Jadi, sampai saat ini manusia hewan yang ia miliki hanyalah kelinci yang dulu ditinggalkan Joko di kebunnya. Seno tidak sempat untuk mencari hewan lainnya.
“Sebenarnya kebun seperti apa yang Kamu dapatkan ini sehingga bisa memberikan sayur dan buah-buahan yang memiliki khasiat yang luar biasa. Tidak hanya itu, sayur-sayuran itu juga bisa merubah hewan dan memungkinkan mereka memiliki tubuh manusia. Sebenarnya apa ini?” Tanya Dina.
“Seseorang memintaku menjadi petani terhebat di dunia ini di hari pertama aku mengurusi kebun peninggalan orang tuaku. Dia memberiku semua ini agar aku bisa menjadi seorang petani terhebat.”
“Tentu saja tidak ada yang gratis. Orang itu memberiku target seperti memanen sebuah sayuran dalam periode tertentu, mendapatkan hasil penjualan dengan nominal tertentu. Semua itu harus aku lakukan.” Jelas Seno.
“Jika sampai Mas Seno gagal dalam mencapai target, apa yang akan terjadi?” Tanya Miranda.
“Tentu saja aku akan kehilangan semua ini.” Jawab Seno.
Keduanya lalu terdiam seolah tengah mencerna ucapan dari Seno.
“Kalian jangan telalu memikirkan hal itu. Aku akan menjadi pemandu kalian. Aku aku perlihatkan apa saja yang ada di sini.”
Setelah berucap demikian, Seno pun memberi tour kepada kedua istrinya. Ia memperkenalkan seluruh penghuni kebunnya. Semua kelinci miliknya juga dengan antusias memperkenalkan diri satu persatu. Seno tidak lupa memperkenalkan dua orang buruh tani yang bekerja padanya.
__ADS_1