Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 71 Debat Para Dokter


__ADS_3

Beberapa dokter terlihat berkumpul di ruang perawat yang khusus menangani ruang VIP. Mereka kini tengah membandingkan dua hasil rontgen milik Miranda. Raut wajah tidak percaya terlihat jelas di wajah mereka.


“Ini benar-benar tidak mungkin. Bukankah pasien ini baru tadi siang di rawat di sini? Kita belum melakukan perawatan apapun pada dia selian memberikan infus. Lalu, bagaimana mungkin dia sudah sembuh sekarang?” Tanya salah seorang dokter jaga yang ada di sana.


“Apakah ini tangan yang sama dengan yang dilakukan rotgen tadi siang? Kenapa tiba-tiba tangannya kembali sempurna seperti tidak pernah mengalami patah tulang?” Tanya dokter yang lainnya.


Dokter radiologi yang sebelumnya mengambil rongten tangan Miranda, tidak terima dengan ucapan rekan sejawatnya itu. Apa yang dia ucapkan sama saja dengan merendahkan dirinya.


“Apa maksudmu itu? Apa Kamu menuduhku salah dalam melakukan rontgen? Apa sekarang Kamu mempertanyakan kredibilitasku?” Protesnya dengan suara datar. Tidak hanya itu, ia juga memandang tajam ke arah dokter yang tadi mempertanyakan hasil rongten Miranda.


“Aku sama sekali tidak mempertanyakan kredibilitasmu. Hanya saja, cukup sulit bagiku menerima semua ini. Mana ada orang yang memiliki tangan sempurna seperti ini setelah sebelumnya mengalami patah tulang.”


Ketika dokter radiologi akan menanggapi ucapan tersebut, yang lainnya datang menengahi. Jika mereka membiarkan kedua dokter ini tetap berdebat, maka tidak aka nada ujungnya masalah ini.


“Sudah-sudah kalian jangan bersiteru lagi. Lebih baik kita sekarang pergi ke ruang rawat pasien ini dan menanyakan langsung kepadanya. Bukankah yang meminta rongten ulang adalah dia? Jadi, dia pasti tahu kenapa tangannya bisa sembuh seperti sekarang.”


….


Ketika para dokter itu masuk, Miranda sedang duduk santai di sofa. Ia tengah menonton tayangan televisi bersama dengan Seno dan Dina. Jika bukan karena pakaian rumah sakit yang perempuan itu kenakan, maka para dokter tidak akan bisa tahu bahwa dia adalah pasien.


Saat ini kedua tangan Miranda bergerak bebas. Tangan kirinya memegang segelas susu, sementara tangan yang lainnya memegang roti. Nampaknya ia menikmati makannya tanpa ada masalah.


“Bagaimana Dok hasil rontgen dari Miranda?” Tanya Seno.


“Dia baik-baik saja. Patah tulangnya sudah sembuh. Nona Miranda sudah tidak lagi memerlukan operasi. Sekarang juga pun Nona Miranda sudah bisa pulang.” Jawab dokter jaga yang sebelum ini menangani Miranda.


“Benarkah? Wah kalau begitu aku pulang sekarang saja.” Jawab Miranda penuh semangat.


Jika dirinya sudah diperbolehkan pulang, untuk apa dirinya berlama-lama di sini? Kebetulan di sini ada Seno dan Dina. Jadi, setelah ini Miranda bisa nongkrong bareng mereka.

__ADS_1


“Tetapi, ada yang ingin aku tanyakan. Kenapa tulangmu yang sebelum ini patah kembali ke bentuk sempurnanya? Dari hasil rongten terakhir, tidak terlihat bahwa tangan Nona Miranda pernah mengalami patah tulang.”


“Oh itu. Hanya sebuah susu saja. Aku meminum segelas susu, lalu aku lanngsung merasakan tanganku baik-baik saja.”


Mendengar jawaban dari Miranda, banyak dari dokter yang ikut ke ruangan Miranda, melebarkan mata mereka. Para dokter itu tidak percaya dengan ucapan Miranda. Bagaimana mungkin susu bisa menyembuhkan patah tulang begitu saja?


Memang di dalam susu terdapat kandungan kalsium yang baik untuk tulang. Tetapi, sangat mustahil jika segelas susu lanngsung menyembuhkan seseorang yang mengalami patah tulang.


“Itu sangat tidak mungkin Nona. Bagaimana bisa segelas susu memiliki efek seperti itu. Ini bukan dunia fantasi yang memiliki obat-obat ajaib yang menyebuhkan penyakit dalam sekejab.”


“Apa Dokter pernah mengdengar aplikasi lelang The Auction? Jika iya, Dokter cari pemilik akun Petani Hebat. Pasti dokter akan tahu bahwa hal-hal yang ajaib seperti yang dokter katakan itu tidak hanya ada di dunia fantasi, tetapi juga di dunia modern.” Jelas Seno.


Seno memanfaatkan ini untuk mempromosikan produk miliknya kepada para dokter ini. Rumah sakit tempat Miranda di rawat adalah rumah sakit yang tergolong elit. Jelas pasien yang di rawat di sini adalah mereka yang berasal dari golongan menengah ke atas. Itu adalah target pasar Seno.


Seno harap dokter-dokter ini nantinya merekomendasikan sayur miliknya kepada pasien mereka. Tidak semua orang kaya memainkan sosial media, terutama mereka yang berasal dari generasi tua.


Jadi, meski laman lelang Seno sudah banyak yang mengenal, itu sebatas pada kaum muda. Ia belum sampai menjangkau ke generasi tua yang sering kali tidak paham teknologi.


Bagaimana tidak, patah tulang saja bisa sembuh hanya dengan segelas susu, padahal satu kali operasi bisa membuat pasien mengeluarkan uang belasan juta. Lalu ada juga wortelnya yang menyembuhkan mata. Rumah sakit yang dapat melakukan operasi lasik, pasti akan mengalami kerugian besar pula.


Meski begitu, Seno masih akan mempromosikan produk ini kepada para dokter. Dirinya tidak melakukan tindakan kriminal. Produk miliknya pun tidak berbaya. Jadi, apa yang harus seno takutkan?


….


“Akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit. Aku nggak nyangka kalo aku bisa keluar dengan secepat ini.” Ucap Miranda setelah mereka keluar dari rumah sakit.


“Tetapi aku nggak nyangka aja Kamu bisa mendapatkan hal-hal ajaib seperti itu Sen. Kenapa Kamu bisa memproduksi sayuran yang memiliki manfaat luar biasa seperti itu. Itu sangat menakjubkan.” Imbuh Dina.


“Ah itu bukan hasil kebunku. Mana mungkin aku bisa menanam sayuran seperti itu. Jika aku bisa melakukannya, maka kebun peninggalan orang tuaku tidak akan aku jadikan gudang. Aku pakai saja itu untuk menaman lebih banyak sayuran ajaib.”

__ADS_1


“Itu adalah kiriman dari kenalanku. Dia yang memberikan itu semua padaku. Aku hanya kebagian tugas untuk memasarkan saja. Meski begitu, aku mendapatkan tiga puluh persen dari keuntungan.” Kilah Seno.


Dina mengangguk-angguk pelan setelah mendengar penjelasan Seno. Penjelasan dari Seno cukup masuk akal bagi Dina jadi ia tidak lagi menanyakan mengenai hal itu.


“Sekarang kita ke mana?” Tanya Seno.


Sebelum kedua perempuan di samping Seno menjawab, ponsel milik Miranda berdering. Miranda buru-buru mengangkat panggilan tersebut. Itu adalah panggilan dari keluarganya.


“Hallo.”



“Ya, tetapi aku sekarang baik-baik saja. Kalian nggak usah khawatir.”



“Baiklah-baiklah aku akan langsung pulang.” Jawab Miranda sebelum akhirnya menutup panggilan teleponnya.


“Sepertinya aku nggak bisa ikut kalian deh. Keluargaku menelfon dan menyuruhku pulang sekarang.” Ucap Miranda dengan raut wajah sedikit kecewa.


Padahal dia ingin nongkrong bareng dengan Seno dan Dina. Tetapi sepertinya itu tidakmemungkinkan sekarang. Keluarganya yang mengetahui dirinya akan dioperasi menelfon. Miranda dimarahai habis-habisan di telepon tadi.


Hal ini karena Miranda tidak menghubungi keluarganya ketika ia masuk rumah sakit. Ia hanya menghubungi asisten rumah tangganya untuk menemaninya di rumah sakit. Perempuan itu tidak mau membuat mereka khawatir. Apalagi dengan orang tuanya yang berada di luar negeri.


Sekarang, setelah mengetahui bahwa Miranda baik-baik saja dan tidak jadi menjalankan operasi, mereka memintanya untuk segera pulang. Miranda yakin setelah dirinya sampai di rumah, ia akan dimarahi lagi.


“Ah bagaimana kalau kita ke rumahmu saja. Kamu nggak keberatan bukan ada dua orang lagi yang bergabung makan malam di rumahmu?” Tanya Dina.


“Tentu saja tidak keberatan. Itu malah lebih bagus. Kalian ikut saja ke rumahku.” Jawab Miranda penuh semangat.

__ADS_1


Jika Seno dan Dina ikut dengannya, maka keluarganya nanti tidak akan memarahinya terlalu lama. Ini karena ada tamu di dekat mereka. Dengan begini, telinga Miranda bisa terselamatkan.


__ADS_2