Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 229 Muradae


__ADS_3

Seno memandangi para Muradae, nama dari makhluk penghuni dimensi ini, sedang memperlebar lubang yang ada agar Seno dan yang lainnya bisa melewati lubang tersebut. Lubang yang awalnya memiliki diameter seratus lima puluh sentimeter, dengan cepat melebar hingga mencapai dua meter.


Cara mereka memperlebar lubang itu cukup unik menurut Seno. Para Muradae tidak menggali tanah yang ada di tebing itu, melainkan mendorongnya. Ya, mendorongnya. Mereka seolah bisa mengontrol tanah yang ada di sekitar mereka.


Hal ini membuat Seno semakin waspada. Meski Seno mendapatkan jawaban bahwa para Muradae sudah menyerahkan diri, tetapi Seno masih belum sepenuhnya mempercayai mereka. Oleh karena itu, ia masih meminta Thorbiorn dan yang lain untuk tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi.


Para Muradae bisa kapan saja menutup pintu keluar mereka ketika Seno dan rombongannya berada di dalam lubang. Dengan pintu masuk dan pintu keluar yang ditutup, maka Seno akan terjebak. Perlahan udara akan semakin menipis, dan dia bisa saja mati.


“Bos, mereka mengatakan bahwa kita sudah bisa melewati lubang yang mereka buat.”


Suara Tiarsus membuyarkan lamunan Seno. Ia lalu memandang ke arah lubang yang diperlebar oleh para Muradae. Sepertinya lubang itu sudah mencapai tempat pemimpin dimensi berada.


“Baiklah, kita akan memasuki tempat ini sekarang. Jangan ada satu pun di antara kalian yang lengah. Kita belum benar-benar dalam posisi yang aman sekarang,” jelas Seno.


“Tentu, Bos. Aku akan memasang barier pelindung untuk berjaga-jaga. Jika nanti ada serangan dadakan, kita masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri,” jelas Tiarsus.


Seno dan rombongannya lalu memasuki lubang tersebut. Di dalam lubang tersebut tidak ada cahaya apa pun. Jadi, Seno mengandalkan api di tangannya untuk menerangi tempat tersebut. Selama berjalan, Seno memperhatikan dinding-dinding lubang, mungkin lebih tepat disebut sebagai lorong sebuah gua.


Dinding-dinding gua tersebut terlihat mulus. Tidak ada goresan sedikit pun di dinding tersebut. Ini seperti dinding yang dibangun oleh manusia modern dengan semen. Sangat mulus tanpa cela sedikit pun.


Lorong gua ini cukup panjang. Beberapa kali Seno dan rombongannya melakukan belokan. Jika saja dirinya masuk sendiri dan tanpa dipandu oleh para Muradae, Seno yakin ia akan tersesat di dalam sini. Terlalu banyak belokan yang mereka lewati. Beberapa kali juga mereka melewati tanjakan dan turunan dalam lorong gua ini.


Setelah lima belas menit berjalan, pada akhirnya Muradae yang memimpin membawa Seno dan yang lain ke sebuah lembah yang sangat luas. Lembah itu memiliki panjang kurang lebih delapan kilo meter dan lebar lima kilometer. Lalu, antara dasar lembah dan langit-langit gua, jaraknya Seno perkirakan melebihi sepuluh kilometer.


Jika Seno tidak melihatnya sendiri, maka ia tidak akan pernah percaya ada pemandangan cantik seperti yang ada di depannya. Tempat ini seperti dunia lain di bawah tanah. Banyak tumbuh-tumbuhan di dasar lembah ini. Lalu, langit-langit tempat ini dipenuhi dengan kristal-kristal indah yang memantulkan cahaya dari satu lubang yang ada di tengah langit-langit.


Kemungkinan besar, tanaman-tanaman yang ada di lembah ini bisa berfotosintesis karena pantulan cahaya dari kristal-kristal itu. Meski ini ruangan semi tertutup, tetapi ruangan ini cukup terang.

__ADS_1


Seno lalu kembali mengikuti para Muradae. Sekarang dirinya sudah sedikit lega. Di sini ruangannya cukup luas. Mereka masih bisa bergerak dengan bebas. Jika terjadi sesuatu, mereka masih bisa melawan.


Para Muradae menggiring Seno menuju salah satu gua yang ada di sana. Mulut gua tersebut memiliki diameter lima meter. Kemungkinan besar ini adalah ruangan pemimpin dimensi.


Di dalam ruangan itu, Seno melihat seeokor Muradae berukuran besar. Kulitnya berwarna cokelat dengan tinggi tiga meter. Lalu, tanduk dari Muradae ini berbeda dengan yang lain. Tanduknya lebih transparan seperti kristal.


Di sudut gua, Seno menemukan tumpukan benda berkilauan. Kristal, kaca, semua ada di sana. Seno bahkan menemukan keberadaan senter dan lampu di antara tumpukan benda-benda itu.


“Apakah kalian benar-benar akan memberikan benda berkilauan kepadaku?” Sebuah suara yang terdengar seperti milik seorang perempuan terdengar di ruangan itu. Seno yang awalnya mengamati sekeliling ruangan gua ini, mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Seno melihat seorang perempuan dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter berdiri di tempat Muradae besar tadi berada. Perempuan itu tidak langsing seperti perkiraan Seno. Ia memiliki tubuh besar, lebih mirip seseorang yang mengalami obesitas. Jadi, Seno melihat dia seperti sebuah bola besar yang bisa berbicara.


“Ya aku bisa memberikanmu benda berkilau,” jawab Seno.


Seno langsung mengeluarkan berlian lain miliknya. Tidak hanya itu, Seno juga mengeluarkan beberapa emas batangan yang ia beli untuk koleksi. Mata Muradae itu berbinar ketika melihat benda berkilau yang Seno pegang.


Tanpa banyak bicara, Muradae itu lalu mengeluarkan sebuah inti dimensi dari dalam dirinya. Inti dimensi itu kemudian melayang ke arah Seno.


Seno langsung mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar hal itu. Rupanya, pemimpin para Muradae ini begitu tergila-gila dengan benda berkilau. Ia bahkan mau menukarkan dimensi yang ia kuasai dengan berlian serta emas milik Seno, tanpa berpikir panjang.


Ini benar-benar penaklukkan dimensi yang paling mudah, namun membutuhkan waktu yang sangat lama dari yang lain. Tidak ada pertumpahan darah sedikit pun. Ini seperti Seno tengah membeli rumah baru dari para Muradae.


Segera saja Seno melukai tangannya dan meneteskan darahnya ke inti dimensi, sebelum Muradae di depannya benar-benar berubah pikiran.


[Ding]


[Selamat Host telah menaklukkan satu dimensi baru lebih awal]

__ADS_1


[Selamat Host mendapatkan dua benih misterius]


Seno tersenyum melihat misinya penaklukkannya berhasil. Sekarang ia tidak akan takut dengan adanya serangan kejutan dari para Muradae.


“Kalian semua, sekarang bantu aku mencari kacang tanah yang menjadi target misi kita. Kemungkinan besar kacang itu berada di dasar lembah. Sekarang, aku akan pulang terlebih dahulu,” ucap Seno.


Seno lalu menaiki salah satu Muradae dan memintanya keluar dari dalam perut tebing. Seno sudah menjadi pemilik dimensi ini. Jadi, ia tidak perlu lagi terburu-buru mencari keberadaan kacang tanah. Jika anak buahnya tidak mampu mencari keberadaan kacang tanah itu dengan cepat, Seno bisa memanggil pasukan hewannya untuk membantu mencari.


Seno sudah terlalu lama berada di dimensi ini. Ia yakin kedua istrinya sudah mengkhawatirkannya sekarang. Jadi, Seno perlu segera kembali.


“Eh … rupanya dimensi ini sudah menyatu dengan dimensi yang lainnya?” gumam Seno setelah keluar dari lorong gua.


Sekarang ia sudah bisa melihat dimensi lain miliknya. Rupanya setelah memiliki dimensi ini, secara otomatis dimensi ini akan menyatu dengan yang lainnya.


“Bos, Kamu pergi berperang tanpa mengajakku?”


Sebuah suara terdengar ketika Seno sudah cukup dekat dengan pintu keluar portal. Seno membalikkan tubuhnya dan berpandangan dengan Momoy, yang saat ini berkacak pinggang serta memanyunkan bibirnya. Kemungkinan besar Momoy marah karena Seno tidak mengajaknya dalam misi penaklukkan.


“Bukannya Kamu sibuk berbelanja dengan Jasmine dan yang lainnya? Aku dengar Kamu pergi ke rumah Anita untuk bisa berbelanja di sana?”


“Tetapi, jika Bos memberitahuku bahwa Bos akan pergi berperang, maka aku akan menunda rencanaku itu. Kenapa Bos meninggalkanku dan bersenang-senang sendirian?”


Seno menghela napas panjang. Ia tidak menyangka bahwa Momoy akan berubah menjadi seseorang yang kecanduan bertarung. Padahal, sebelum bersamanya, Momoy adalah pemimpin Molyap paling penakut dalam sejarah Molyap.


“Kamu akan memiliki kesempatan yang banyak. Beberapa hari lagi aku akan lebih sering melakukan pertarungan. Mungkin hampir setiap hari. Jadi, Kamu jangan marah sekarang.”


“Benarkah?” tanya Momoy dengan mata berbinar.

__ADS_1


“Ya.”


“Baiklah aku akan mempersiapkan diri untuk perang panjang. Jangan melupakan aku, atau aku akan menghabiskan uang di rekening milikmu, Bos,” ancam Momoy.


__ADS_2