Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 145 Ayah Bunda


__ADS_3

“Apakah buruh tani yang akan Mas Seno dapatkan nanti adalah laki-laki yang memilih wajah yang cantik seperti Azka?” tanya Miranda tiba-tiba.


Pertanyaan dari Miranda itu membuat wajah Seno menggelap. Ia tidak menyangka istrinya ini masih membahas Azkareia di depannya. Sebelumnya Seno sudah mengatakan kepada kedua istrinya bahwa dirinya tidak suka mereka membahas laki-laki lain di depannya.


Sepertinya perkataannya waktu itu tidak digubris oleh mereka. Buktinya mereka masih membahas Azkareia sekarang. Apalagi perkataan mereka yang berharap tiga buruh tani yang akan ia dapatkan nantinya memiliki wajah yang cantik seperti wajah Azkareia.


“Benar juga Kamu Mir. Jika mereka memiliki wajah cantik seperti Azka itu sangat bagus. Atau jika tidak, wajah tampan seperti milik Tiar juga tidak buruk. Hanya saja aku mau mereka yang memiliki tinggi badan normal. Tiar terlalu tinggi untuk kita.” Imbuh Dina.


“Wah benar Mbak Din. Wajah seperti Tiar juga tidak masalah. Asalakan jangan orang dengan tubuh penuh tato seperti Thor.”


“Bagaimana jika mereka bertiga adalah wanita cantik yang memiliki tubuh seperti halnya Sunade.” Potong Seno yang nampak begitu kesal.


Semakin lama dibiarkan, obrolan kedua istrinya ini semakin tidak karuan. Sebelumnya mereka tidak suka bukan jika dirinya dekat dengan buruh tani perempuan. Sekalian saja dirinya mengatakan hal ini. Seno mau membuat mereka juga kesal.


Benar saja, apa yang Seno katakan berhasil memuat keduanya kesal. Mereka langsung memandang Seno dengan tatapan tajam.


“Oh jadi Mas Seno suka dengan yang punya aset besar rupanya? Nggak puas ya dengan Kami berdua? Mau nambah lagi gitu?” tanya Miranda kesal.


“Kalo Kamu mau nambah lagi, jangan harap Kamu minta kami nemenin Kamu kalau malam hari ya.” Imbuh Dina.


“Kalian sendiri yang mulai bukan? Aku sudah bilang jangan bahas-bahas laki-laki lain di depanku. Tetapi Kalian masih membahasnya. Bahkan kalian malah berharap ketiga buruh taniku nanti adalah laki-laki berwajah tampan dan cantik.”


“Aku cemburu. Aku juga punya hati. Jangan lakukan itu lagi. Apa kurangnya aku? Katakan, biar aku bisa memperbaiki diri. Jangan membuat aku kesal seperti ini.” Jawab Seno yang tidak kalah kesalnya dengan Dina dan Miranda.


“Ya bagaimana lagi Sen. Kami memang suka Kamu, udah cinta banget sama Kamu. Nggak ada satu pun yang ada di diri Kamu yang perlu dirubah. Semua udah sempurna di mataku. Hanya saja anak-anak Kamu ini sukanya mandang laki-laki yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.” Jelas Dina.


“Bener itu Mas. Jadi jangan salahkan Kami jika sembilan bulan mendatang Kami akan terus membahas laki-laki yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng.” Sahut Miranda.


Seno terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang barusan ia dengar dari kedua istrinya.


“Anak-anak aku? Jadi, kalian hamil?”

__ADS_1


“Ya Kami hamil. Baru seminggu lebih sih usia kandungan Kami.” Jawab Miranda.


“Kamu juga kemungkinan akan dapat anak kembar dariku Sen. Dokter bilang aku memiliki dua kantong kehamilan. Jadi kemungkinan aku akan memiliki anak kembar.”


Seno terlihat membuka mulutnya, kemudian menutupnya lagi. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun bingung ingin mengatakan apa.


Dina dan Miranda juga melihat bagaimana mata Seno tiba-tiba berubah memerah. Tidak lama kemudian, kedua istri Seno itu melihat air mata keluar dari sudut mata suami mereka.


“Aku akan menjadi ayah?” tanya Seno dengan suara serak.


Dina dan Miranda mengangguk, mengiyakan pertanyaan Seno.


Langsung saja Seno menarik mereka ke dalam dekapannya. Air mata mengalir cukup deras dari sudut mata Seno. Seno juga tidak henti-hentinya mengatakan bahwa sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.


Seno lalu melepaskan pelukannya. Kini ia memegang kepala Dina dengan kedua tangannya. Ia mengecup kening, kedua mata, hidung dan terakhir bibir Dina. Seno cukup lama berhenti di bibir Dina.


“Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi seorang ayah.”


Tanpa menunggu respon dari Dina, Seno melakukan apa yang barusan ia lakukan kepada Dina, bersama dengan Miranda.


Dina dan Miranda juga ikut menangis sejak Seno mendekap mereka dalam pelukannya. Keduanya saat ini sibuk menghapus air mata mereka.


“Kamu nggak perlu berterima kasih seperti itu Ayah.” Jawab Dina.


“Ayah?”


“Ya. Kita akan menjadi orang tua. Meski itu masih sembilan bulan lagi, tetapi kita perlu membiasakan diri memanggilmu dengan panggilan Ayah. Dengan begitu mereka akan lebih terbiasa nantinya.” Jelas Dina.


“Baiklah Bunda Dina. Kalau memang Bunda meminta dipangil berbeda, mulai sekarang Ayah akan melakukannya seperti yang Bunda minta.” Jawab Seno yang sekarang ternyum lebar.


“Kalau begitu Ayah, kami boleh kan memandangi laki-laki yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng?” tanya Miranda.

__ADS_1


Melihat ekspresi Sneo yang sekarang tiba-tiba berubah, Miranda buru-buru menambahkan sesuatu pada perkataannya.


“Ini demi anak kita Ayah. Mereka pengennya mandangin yang bergituan. Ayah nggak mau kan anak-anak kita jadi ngiler nantinya karena kemauan mereka semasa masih dalam kandungan tidak diturutin?”


Seno menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Kedua istrinya memakai kata anak sebagai kartu As mereka. Jika begini, Seno harus berkompromi dengan mereka.


“Baiklah-baiklah. Kalian boleh memandangi laki-laki lain. Tetapi itu hanya sebatas memandangi. Aku tidak akan mengijinkan jika kalian sampai memegang mereka bahkan sampai mengelus-elus seperti kemarin itu.”


“Aku juga tidak akan mengijinkan jika kalian pergi dengan laki-laki lain tanpa ada aku bersama kalian. Itu batasanku.” Jelas Seno.


“Tentu Ayah. Terima kasih sudah mengijinkan Kami.” Ucap Miranda.


“Lalu, kapan kalian akan memeriksakan kandungan kalian lagi? Aku ingin ikut dan melihat perkembangan calon anak kita.”


“Itu masih lama Ayah. Tiga minggu lagi kami baru kembali ke Dokter. Nanti kita kan datang ke dokter bersama-sama.” Jawab Dina.


Ketika ketiganya asik mengobrol, tiba-tiba Momoy masuk ke dalam rumah Seno tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di belakang Momoy, sudah ada Jasmine dan kawanannya.


Sepertinya kedua loli berbeda ras itu sudah cukup akrab sekarang. Lihat saja mereka terlihat cukup dekat satu sama lainnya.


“Bos, bisakah Kamu membelikanku Walkie Talkie seperti milik Jasmine? Aku juga ingin memilikinya. Aku juga ingin Ipad sama seperti milik mereka.” pinta Momoy tanpa basa basi lagi dengan Sneo.


“Eh, siapa dia Ayah?” tanya Dina.


Kali ini mata Dina dan Miranda berbinar melihat kedatangan Momoy. Keimutan Momoy membuat mereka tidak bisa melepaskan pandangan mereka dari Momoy. Apalagi baju Momoy yang terlihat unik itu.


“Dia adalah pemilik sebelumnya dari dimensi yang baru saja aku taklukkan. Namanya Momoy. Bentuk aslinya adalah burung.”


“Burung?” tanya Miranda ingin memastikan kembali apa yang baru saja ia dengar.


“Ya dia bentuk aslinya adalah burung.”

__ADS_1


“Aku bukan burung Bos. Aku ini adalah Molyap, ras paling agung dari seluruh makhluk berkaki dua yang bisa terbang.” Bantah Momoy sembari membubusungkan dadanya.


Seno baru ingat bahwa Momoy termasuk ras Molyap, ia tidak mau disamakan dengan burung yang merupakan ras unggas.


__ADS_2