
Johan cukup bingung ketika Miranda menghubunginya dan memintanya datang ke rumahnya. Baru beberapa hari yang lalu dirinya datang berkunjung untuk membeli susu, sekarang Miranda memintanya kembali datang.
Biasanya, jika memiliki keperluan dengannya, Miranda akan datang sendiri ke rumahnya, bukan malah sebaliknya dirinya yang mendatanginya.
Tetapi itu tidak lagi Johan permasalahkan. Lagi pula, ia ingin mensidukusikan mengenai harga sayuran yang dinaikkan oleh Miranda. Petinggi di pihak militer banyak yang kurang setuju dengan tawaran Miranda itu.
Mereka masih berharap Seno dan keluarganya mau memberi mereka diskon besar seperti yang sebelumnya mereka berikan. Jika mereka kekeuh dengan harga baru itu dan tidak mau menurunkannya, pihak militer sudah memiliki rencana lain.
Johan berharap dirinya bisa membujuk keponakannya itu dan mau menurunkan harga dari sayuran ajaib yang mereka miliki. Ia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa mereka.
“Pakde sudah datang rupanya.” Sapa Miranda ketika mobil yang Johan tumpngi sampai.
“Hem… memangnya ada apa Kamu memanggilku kemari?” Tanya Johan.
“Kita bicarakan semuanya di dalam saja Pakde.” Ajak Miranda.
Ketika Johan memasuki rumah Seno, ia mendengar suara keributan dari dalam rumah, lebih tepatnya dari arah dapur. Johan mendengar Dina dan Seno yang terdengar tengah cek cok.
“Seseorang bilang padaku bahwa Kamu terlihat jalan dengan seorang perempuan. Apakah itu benar Sen?” Ucap Dina dengan nada tinggi.
Mendengar perdebatan itu, Johan langsung mengerutkan keningnya. Apakah ini alasan Miranda memanggilnya kemari? Itu karena Seno ketahuan selingkuh?
Sampai sekarang, Johan tidak menyetujui pernikahan keponakannya yang harus menikah dengan berbagi suami. Jika sekarang dia memiliki dua orang istri, ada kemungkinan ia akan menambah yang ketiga, keempat, dan seterusnya.
Itu semua sangat mungkin terjadi. Johan tidak mau keponakannya menderita di pernikahan yang seperti itu. Jika Seno benar-benar selingkuh, maka Johan menghajar habis-habisan laki-laki itu. Bisa-bisanya dia berselingkuh setelah memiliki dua orang istri. Apakah mereka tidak cukup?
“Aku tidak jalan dengan siapa pun Din.”
“Lalu siapa Julia itu siapa Mas? Kenapa aku lihat banyak chat dia masuk ke ponsel milikmu.?”
“Bukankah Kamu sendiri kenal siapa dia? Kenapa harus menanyakan itu lagi kepadaku. Aku dengannya tidak ada hubungan spesial. Aku hanya bertemu beberapa kali dengannya. Semua ini tidak seperti yang Kamu pikirkan Din.”
__ADS_1
Johan mendengar dengan jelas bagaimana Seno mencoba membela diri. Johan merasa muak mendengar ucapan Seno itu yang berusaha mengelak. Johan berniat berlari menuju ke arah dapur dan menghajar Seno saat ini juga.
Tetapi, Miranda yang ada di sampingnya menahan lengannya. Tidak hanya itu, Miranda juga menggelengkan kepalanya pelan sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir, pertanda meminta Johan untuk diam saja dan tidak melakukan apa pun.
“Tidak seperti yang aku pikirkan Kamu bilang? Jika kalian tidak ada apa-apanya, kenapa kenalanku melihat kalian di toko perhiasan. Apakah Kamu berniat membelikannya perhiasan, atau Kamu malah berniat memberi cincin untuk pertunangan kalian?”
“Jawab yang jujur Sen. Aku tidak mau Kamu terus-terusan mengelak. Jawab saja semuanya dengan jujur.” Bentak Dina.
Johan semakin geram mendengar semua itu. Berani-beraninya Seno bertindak seperti itu. Mengajak perempuan lain ke toko perhiasan? Tidak tahukah dia bahwa apa yang dia lakukan itu malah mengundang fitnah?
Jika itu hanya makan siang bersama, orang yang melihat tidak akan terlalu berpikir macam-macam. Namun ini di toko perhiasan.
Tanpa mempedulikan Miranda yang mencoba menahannya, Johan bergegas menuju ke arah dapur. Melihat hal itu, Miranda langsung mencegah Johan dengan suara yang cukup kencang. Suaranya itu jelas akan terdengar oleh mereka yang ada di dapur.
“Pakde jangan.”
Tidak lama setelah Miranda berucap demikian, Johan mendengar suara seperti suara logam yang saling digesekkan. Ketika sampai di dapur, yang pertama kali Johan lihat adalah Dina yang mengangkan sebuah pisau yang ia arahkan ke arah jantung Seno.
Tetapi semuanya terlambat. Dina sudah menghujamkan pisaunya itu ke dada Seno. Seketika itu juga, Johan berpikir darah akan merembes dari luka tujukkan yang Seno terima. Tetapi luka seperti itu sama sekali tidak terlihat.
Tetapi yang aneh, pisau yang dipegang oleh Dina sudah menancap di dada Seno. Jadi sangat mustahil untuk Seno sama sekali tidak mendapatkan luka.
Ketika Johan mendekat dan menarik tangan Dina, keanehan lain Johan lihat. Pisau yang tadi ia lihat baik-baik saja, sekarang sudah tidak berbentuk seperti pisau. Ujungnya sudah bengkok. Pisau tersebut seolah telah dipakai untuk menghantam sebuah benda yang kuat sehingga berbentuk seperti itu.
Johan yang awalnya akan marah kini malah menatap pisau tersebut. Dari beratntya dan ketebalan pisau tersebut, Johan tahu sangat tidak mungkin manusia bisa membengkokkan pisau hingga seperti ini.
“Pakde Johan.”
Ucapan Miranda tersebut membuat Johan teringat akan apa yang sedang terjadi sebelumnya. Ia lalu memandangi Seno yang sekarang terlihat baik-baik saja. Hanya saja terdapat sebuah lubang di kemeja yang sekarang Seno pakai.
Johan juga tidak melihat adanya pelat besi atau pun baju jirah yang bisa melindungi Seno dari serangan tadi. Ia langsung melihat kulit Seno dari lubang di bajunya.
__ADS_1
“Tidak mungkin. Bagaimana mungkin Kamu tidak terluka sama sekali?” tanya Johan sembari menunjuk ke arah kemeja yang sekarang Seno pakai.
“Seharusnya Kamu terluka setelah mendapatkan serangan seperti itu. Tidak mungkin Kamu baik-baik saja.” Imbuh Johan.
“Eh aku nggak tahu ada Pakde Johan di sini.” ucap Seno dengan santai tanpa mempedulikan wajah Johan yang terlihat kaget.
“Sebenarnya ada apa ini?” Tanya Johan.
Johan bisa melihat ekspresi keponakannya baik-baik saja. Ia seolah tidak mengkhawatirkan keadaan suaminya dan menganggap semuanya baik-baik saja.
“Kami sedang latihan acting Pakde.” jawab Dina.
“Pakde tahu sendiri bukan, sekarang ini lagi rame film benang putus, aku dan Seno mencoba mereka ulang adegan yang cukup tenar di media sosial.” imbuh Dina.
“Lalu, kenapa Seno baik-baik saja setelah diserang dengan pisau seperti itu?” tanya Johan sekali lagi.
“Ah itu… itu….” ucap Seno sedikit tergagap.
Johan menatap tajam ke arah Seno, tidak hanya Seno, Dina dan Miranda pun turut menjadi target tatapan tajam Johan. Karena tatapan Johan yang begitu intens, membuat Seno menarik nafas panjang. Ia terlihat sedikit sedikit terpaksa ketika mengatakan rahasianya kepada Johan.
“Itu karena aku memiliki sayuran yang jika dikonsumsi dalam jangka panjang, akan membuat tubuhku kebal akan senjata tajam. Bahkan peluru pun tidak lagi bisa menembus tubuhku.” Jelas Seno pelan.
“Sayuran yang bisa membuatmu kebal akan senjata tajam? Bahkan serangan peluru?” tanya Johan ingin memastikan.
“Ya. Aku memiliki sayuran yang seperti itu. Sekarang peluru sudah tidak mempan untuk melukaiku. Tetapi untuk Miranda dan Dina, mereka masih bisa terluka jika di tembak. Kekebalan yang mereka miliki belum terlalu tinggi.”
Mendengar penjelasan Seno, Johan langsung menaikkan nada bicaranya, sembari jari telunjuknya mengarah ke Seno. Ia terdengar sedikit marah karena Seno tidak segera memberitahu mengenai keberadaan sayuran seperti itu kepada dirinya.
“Kenapa Kamu tidak bilang jika Kamu memiliki sayuran yang seperti itu? Seharusnya Kamu mengatakan bahwa Kamu memiliki sayuran yang seperti itu. Manfaat sayuran tersebut akan lebih maksimal jika pihak militer yang mengkonsumsinya.”
“Tentara kita tidak perlu lagi memakai rompi anti peluru ketika bertugas. Tidak hanya itu, jumlah tentara yang terluka ketika bertugas juga akan menurun derastis. Kalian paham bukan arti semua itu? Memperkuat tentara kita itu sangat penting. Kalian malah menyembunyikan fakta tersebut dari kami.”
__ADS_1