
“Ijin melapor Jendral, bayangan hitam yang tadi masuk portal sekarang sudah kembali.”
Salah seorang tentara melapor ke Brigadir Jendral Aprilio yang menjadi pimpinan tertinggi di pos pantau portal ke dimensi lain. Tentara itu berpapasan dengan Brigadir Jendral Aprilio yang berjalan dengan sedikit terges-gesa.
“Jadi suara tembakan yang aku dengar tadi berasal dari kalian yang menembaki bayangan hitam tadi?”
Sebelumnya Aprilio memang sudah memberitahu kepada tentara yang sedang berjaga untuk menembak ke arah portal jika terjadi pergerakan dari dalam portal.
“Ya.”
“Lalu bagaimana dengan bayangan hitam itu sekarang?” Tanya Aprilio yang sekarang berjalan mendekat ke arah portal.
“Bayangan hitam itu mendekat ke arah tentara kita. Jadi tidak ada yang meneruskan menembak. Bayangan hitam itu lalu menuju ke arah hutan. Beberapa orang sudah aku perintahkan untuk mengejar bayangan hitam tersebut.”
“Bagus.”
Tidak lama kemudian, mereka kembali mendengar suara tembakan. Hal itu membuat Aprilio dan tentara yang tadi melapor padanya mempercepat langkah mereka. Aprilio bisa melihat beberapa makluk asing keluar dari portal.
Dilihat dari cahaya dari portal yang tidak berhenti, Aprilio bisa menebak bahwa jumlah makluk asing yang menyebrang kali ini jumlahnya lebih banyak daripada sebelum-sebelumnya.
“Semua serang makluk itu seperti yang sudah biasa kita lakukan. Logistik segera persiapkan amunisi tambahan. Jangan sampai lengah. Aku yakin kita bisa memenangkan pertarungan kali ini sama seperti sebelum-sebelumnya.” Ucap Aprilio memberikan perintah.
Langsung saja para tentara itu mengikuti perintah dari Aprilio. Mereka mulai menyerang makluk asing tersebut ketika mereka belum sepenuhnya siap.
Dengan wortel yangmereka konsumsi selama ini, para tentara itu dengan cukup mudah menembak makluk asing tersebut tepat di mata mereka. Darah merah segar langsung mengucur dari mata makluk tersebut. Bulu mereka yang semula putih bersih, sekarang telah belumuran darah.
Tembakan demi tembakan terdengar di sana. Para tentara itu dengan sigapnya membidik mata dari makluk asing tersebut. Salah seorang tentara dari bidang logistik menghitung jumlah makluk asing yang menyebrang.
Sampai sekarang sudah ada tiga puluh makluk asing yang keluar dari portal, dan ini pun belum mencapai akhirnya. Ini adalah jumlah makluk asing yang menyebrang terbanyak dari catatan mereka.
__ADS_1
Sebelum ini jumlah terbanyak yang menyebrang dalam satu waktu adalah dua puluh makluk asing. Itu pun hanya terjadi sekali ketika mahkluk itu pertama kali menyebrang portal.
Pertempuran itus terjadi selama dua puluh menit tanpa henti. Setelah dua puluhs menit, tidak ada lagis mahkluk asing yang keluar dari portal. Meski begitu, para tentara tidak langsungs mendekat untuk melihat keadaan dari mayat-mayat mahkluk asing tersebut.
Mereka takut akan ada mahkluk asing lainnya yang keluar dari portal dan menyerang mereka. Ini pernah terjadi sebelumnya. Ketika mereka mengira tidak ada lagi makluk asing yang menyebrang, beberapa tentara mendatangi mayat-mayat yang tergeletak di dekat portal.
Naas, ada dua mahkluk asing yang tiba-tiba keluar dari portal yang kemudian menghabisi para tentara yang ada di dekat portal. Semua yang ada di sana langsung gugur.
Hal itu membuat para tentara membuat SOP baru yaitu mereka tidak boleh mengecek keadaan mayat mahkluk asing langsung setelah perang berakhir. Mereka masih harus menunggu satu jam lagi untuk mengetahuis bahwa keadaan benar-benar sudah aman.
*****
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan misi mecari benih anggur super pada dimensi XY01BS9]
Seno tersenyum lebar ketika mendengar pemebritahuan tersebut. Meski Thorbiorn belum sampai di sini, tetapi ia sudah mendapatkan pemberitahuan dari Sistem. Ini berarti misinya telah selesai. Lima belas menit kemudian, Seno melihat kedatangan Thorbiorn.
Seno langsung turun dari mobil untuk menyambut kedatangan laki-laki itu. Namun, bibir Seno yang awalnya melengkung membentuk sebuah senyuman, kini berubah menjadi datar. Hal ini karena dirinya melihat banyaknya lubang di jubah yang Thorbiorn pakai.
Dari besarnya lubang tersebut, Seno bisa memperkirakan bahwa lubang itu berasal dari tembakan peluru. Seno bisa menembak siapa yang melakukan hal itu.
Ketika sampai di depan Seno, Thorbiorn langsung berjongkok dengan satu kaki. Dengan posisinya yang sekarang, Thorbiorn langsung menyerahkan kantung kain yang berisi anggur kepada Seno.
“Ini Bos aku sudah berhasil mendapatkan anggur yang Kamu inginkan.”
“Berdirilah Thor. Sudah berapa kali aku bilang hilangkan kebiasaanmu yang satu itu. Aku tidak perlu kau beri hormat dengan cara membungkuk apalagi berjongkok seperti ini.”
Seno langsung bergerak menuju ke arah Thorbiorn dan berusaha mengangkat laki-laki itu agar kembali berdiri. Ketika Seno berada di dekat Thorbiorn, ia bisa melihat kulit Thorbiorn yang semula biru kehijauan sekarang ada beberapa bagian yang berubah menjadi ungu.
__ADS_1
Itu seperti luka memar menurut Seno. Jika Seno mengepaskan letak memar tersebut dengan lubang-lubang yang ada di jubah Thorbiorn, itu adalah luka yang Thorbiorn dapatkan setelah menerima tembakan peluru.
Brokoli miliknya memang bisa membuatnya kebal dari senjata tajam dan senjata api. Tetapi itu bukan berarti mereka tidak akan terluka sama sekali.
Dulu ketika Seno disabet dengan parang oleh para begal, tangannya memang tidak berdarah. Tetapi terdapat sebuah garis merah pada tangannya yang terkena sabetan. Tidak hanya itu, Seno masih merasakan sedikit rasa sakit di tangannya itu.
Ini tidak jauh berbeda dengan yang Thorbiorn alami. Meski peluru itu tidak menembus kulitnya, tetapi ia masih terluka akibat serangan peluru. Memar-memar pada tubuhnya ini sebagai buktinya.
“Sekarang kita pulang. Setelah sampai di rumah, barulah Kamu bisa menceritakan semua kejadian yang Kamu alami hingga Kamu seperti ini.” Gumam Seno.
Dalam perjalanan pulang, tidak banyak suara yang Seno buat. Ketika perjalanan menuju kemari tadi, mereka masih sedikit mengobrol dan mendengarkan musik. Tetapi sekarang hening. Hanya sudara serangga dan deru mobil saja yang menemani perjalanan mereka.
Ketika sampai di rumah, Seno lalu mengabil beberapa es batu dan handuk. Tidak hanya itu, Seno juga mengambil peralatan P3K yang ia miliki. Ia lalu menyusul Thorbiorn yang sudah terlebih dahulu memasuki kebunnya yang ada di dimensi lain.
Sembari mengompres dan mengobati memar yang ada pada tubuh Thorbiorn, Seno mendengarkan dengan seksama perjalanan buruh taninya itu dalam mendapatkan benih anggur.
Ia tidak menyangka bahwa pada dimensi tersebut terdapat mahkluk hidup lain yang sepertinya cukup buas. Jika saja Seno yang menjalankan misi ini sendirian, maka ia pasti akan gagal.
Sistem terlalu menaikkan dirinya dengan mengatakan tingkat keberhasilan Seno untuk menyelesaikan misi adalah dua puluh persen. Dari cerita Thorbiorn, Seno bisa menyimpulkan tingkat keberhasilannya yang sesungguhnya adalah nol persen. Ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berhasil.
Untuk melewati penjagaan para tentara saja cukup sulit bagi Seno. Apalagi harus berlari dari kejaran mahkluk penghuni dimensi tersebut yang memiliki kecepatan di atas manusia normal. Sudah jelas ia akan mati.
Beruntung yang menjalankan misi adalah Thorbiorn yang memiliki kemampuan berlari yang melebihi mahkluk tersebut.
“Sekarang Kamu beristirahatlah. Kamu tidak perlu lagi membatuku dalam mengurus kebun selama tiga hari kedepan. Aku memberimu libur. Manfaatkan waktu itu untuk menyembuhkan diri.” Ucap Seno.
Sekarang Seno tahu dengan benar mengenai alasan pihak militer yang begitu bersemangat mendapatkan wortel-wortel itu dalam jumlah banyak. Memang mereka tidak dalam posisi berperang dengan negara lain.
Tetapi musuh mereka lebih parah lagi dari itu. Mahkluk dari dimensi lain yang Seno sendiri juga tidak paham apa kemampuannya. Yang jelas dari deskripsi Thorbiorn mengenai kuku dan taring panjang yang dimiliki oleh makluk penghunis dimensi lain itu, mereka bukanlah mahkluk yang ramah. Mereka adalah mahkluk ganas.
__ADS_1