
Malam harinya Seno berniat melelang kembali wortelnya. Tidak hanya wortel saja, tetapi Seno juga berniat melelang kentang miliknya. Hanya saja sistem penjualan kentangnya sedikit lebih berbeda daripada wortel.
Jika wortel, Seno memasangnya tanpa membuat batasan harga. Jadi, seseorang bisa menawar wortel tersebut setinggi-tingginya tanpa ada batas.
Sedangkan untuk kentang ini akan Seno beri batasan harga sebesar seratus ribu rupiah. Jadi, jika ada yang benar-benar menginginkan kentang itu dan tidak ingin menunggu hingga lelang selesai, maka orang itu tinggal menawar serharga seratus ribu rupiah.
Dengan demikian, lelang akan berakhir dan kentang yang dilelang akan menjadi milik penawar tersebut. Menurut Seno, sistem ini sangat cocok untuk dipakai untuk melelang kentang. Selain mengenyangkan selama seharian, tidak ada hal spesial lainnya dari kentang ini.
Lalu, harga pembuka dari kentang ini Seno pasang di harga dua ratus delapan puluh ribu rupiah untuk sepuluh kentang, dengan kenaikan penawaran lima ribu lebih tinggi dari penawaran sebelumnya. Dengan begitu, maka batasan harga dari paket sepuluh kentang itu adalah satu juta rupiah.
Menurut Seno dengan harga segitu ia tidak akan rugi. Kentang itu ia jual dalam paket sepuluh buah. Jadi uang yang akan ia dapatkan akan lebih banyak lagi.
Target Seno dalam lelang kentang ini adalah para mahasiswa yang sebelumnya membeli kentang darinya. Seno tahu bahwa banyak dari mahasiswa Kampus H yang mengunjungi laman lelangnya. Jelas banyak dari mereka yang tahu tentang kentang Seno ini.
Ketika Seno membuka laman lelangnya, ia mendapatkan beberapa pesan masuk dari peserta lelang yang sebelumnya memenangkan lelang darinya. Seno hanya membaca sekilas pesan mereka.
Kebanyakan dari mereka meminta Seno menjual wortel-wortel itu kepada mereka tanpa melalui lelang. Tentu saja Seno tidak mau melakukannya. Ini adalah cara baginya mendapatkan uang dalam jumlah banyak dan cepat.
Dirinya sudah memiliki pihak militer yang menjadi pelanggan wortel dalam jumlah besar. Ia tidak berencana menambah pelanggan lagi. Bukankah Seno juga sudah berjanji kepada Johan untuk membatasi jumlah wortel yang akan ia jual ke pihak sipil?
Jadi, seberapa keras mereka merayu, Seno tidak akan luluh dengan perkataan mereka. Ia akan tetap menjual wortelnya dengan cara melelangnya. Maka dari itu, Seno membiarkan pesan-pesan itu dan tidak menjawabnya.
Tetapi, ada satu pesan yang menarik perhatian Seno. Itu adalah pesan dari Sultan Baru, yang pada lelang kedua kemarin tidak mendapatkan satu pun wortel. Justru Sultan Batubara yang sebelumnya menjadi saingannya dalam menawar, berhasil memenangkan lelang.
Hal yang aneh menurut Seno adalah, keduanya menggunakan alamat yang sama sebagai alamat pengiriman. Ini berarti mereka saling mengenal satu sama lainnya.
[Sultan Baru : Bos bisakah Kamu tidak melelang wortelmu dalam satuan? Coba lelang lah dengan paket tiga buah atau lima buah wortel. Dengan begitu, aku bisa fokus mendapatkan satu paket saja, dan bukannya menawar beberapa wortel sekaligus.]
Saran dari Sultan Baru itu bisa Seno terapkan untuk lelangnya yang sekarang. Seno sendiri tahu bahwa pada lelang kemarin, cukup banyak yang menawar di beberapa wortel namun gagal mendapatkannya. Banyak juga yang tidak kebagian wortel pada lelang kemarin.
Pada akhirnya Seno memasang tiga puluh paket wortel dengan setiap paket wortelnya ia berisi tiga wortel. Jadi sekarang Seno menjual sembilan puluh wortel pada lelang kali ini.
Harga awalnya ia tetapkan pada harga dua ratus lima puluh ribu untuk setiap paketnya dengan kenaikan penawaran sepuluh ribu lebih tinggi dari penawaran sebelumnya. Semua lelang itu Seno beri batasan waktu selama dua hari.
****
__ADS_1
“Bagaimana Pak Ramzi, berapa biaya yang aku butuhkan untuk membangun gudang di sini?” Tanya Seno kepada Ramzi, pemborong yang ia minta membangunkan gudang miliknya.
Sekarang ini Seno bersama dengan Ramzi tengah melihat lokasi kebun peninggalan orang tua Seno. Seno meminta Ramzi memperhitungkan berapa banyak biaya yang ia butuhkan untuk membangun gudang di sini.
“Dua milyar. Itu adalah harga perkiraan yang aku berikan kepadamu. Itu bisa lebih dari itu. Tergantung harga bahan bangunan nantinya.” Jelas Ramzi.
“Dua milyar ya. Kalau begitu berapa bulan Pak Ramzi bisa menyelesaikannya?”
“Paling cepat tiga bulan paling lambat empat bulan. Jika Kamu bisa membayar semua di muka, aku akan menyelesaikannya kurang dari tiga bulan.” Jelas Ramzi.
Sebenarnya Seno ingin sekali melakukannya. Sayangnya ia tidak memiliki uang untuk membayar langsung sebanyak itu. Sekarang ini uangnya baru ada tiga ratus tujuh puluh juta. Jelas uang Seno kurang untuk membayar kontan di muka seperti permintaan Ramzi.
“Sayangnya aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Jadi, Pak Ramzi kerjakan saja secepat mungkin sesuai uang yang ada.”
“Baiklah kalau begitu. Aku akan segera melakukan pembangunan gudang ini untukmu.”
Setelah mendiskusikan beberapa hal dengan Ramzi, ia kembali pulang. Sebentar lagi akan ada pihak dari Wira supermarket yang mengambil sayuran mereka. Jadi, Seno perlu kembali pulang sekarang.
Ketika sampai di rumah, tidak hanya Keenan saja yang sudah menunggu Seno, tetapi juga dua perempuan cantik yang sekarang juga ikut menunggunya di teras rumah. Seno juga melihat pekerjanya yang sekarang membantu pihak Wira Supermarket untuk menaikkan kotak sayuran ke dalam truk mereka.
“Pak Keenan.”
“Bagaimana dengan sayuran yang sebelumnya aku kirimkan Pak?” Tanya Seno.
Seno perlu mengetahui timbal balik dari pelanggannya. Meskipun kualitas sayurnya sudah bagus, mungkin saja ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Misalnya dengan pengemasan sayur-sayur milinya yang kurang sesuai atau yang lainnya.
“Semua baik-baik saja. Bahkan bisa saya katakan luar biasa. Para pelanggan di supermarket kami sangat menyukai sayuran dari Pak Seno. Sayuran yang kemarin Pak Seno kirimkan, sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan kami.”
“Oleh karena itu, bisakah Pak Seno menambah jumlah sayuran yang dikirimkan kepada Kami?” Tanya Keenan.
“Akan aku usahakan.”
Seno tidak bisa menjanjikan hal itu kepada Keenan. Kebunnya saat ini kebanyakan ia isi dengan sayuran khusus. Sedangkan untuk sayuran biasa, Seno hanya menanamnya jika masih ada sisa lahan. Jadi cukup sulit bagi Seno menaikan jumlah sayuran yang akania jual kepada Keenan.
Setelah kepergian Keenan dan truk Wira Supermarket, kini Seno perlu menghadapi dua orang perempuan yang sedari tadi menunggunya.
__ADS_1
Ketika ia mengobrol dengan Keenan tadi, keduanya lebih memilih duduk bersama dan mengobrol sendiri. Mereka seolah memberikan Seno waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya saat ini.
“Kalian berdua datang bersama?” Tanya Seno.
“Tentu saja. Ini adalah hal yang kami sepakati sebagai persaingan sehat. Selama Mas Seno belum menentukan siapa yang Mas pilih, kami akan menemui Mas Seno bersama-sama. Bukankah begitu Mbak Dina?”
“Apa yang dikatakan Miranda itu benar Seno. Ke depannya kami akan menemuimu bersama-sama. Tentu saja akan ada saat di mana salah satu di antara kami akan menghabiskan waktu hanya berdua denganmu.”
Kedua perempuan di depan Seno adalah Miranda dan Dina. Apa yang mereka lakukan ini membuat kepala Seno tiba-tiba pusing harus menghadapi keduanya sekaligus seperti ini.
Seno kira mereka berdua hanya bercanda saja waktu itu. Nyatanya mereka serius dengan ucapan mereka waktu itu, sangat serius malahan.
“Jadi, apa yang membuat kalian datang kemari?” Tanya Seno.
“Kami ingin mengajakmu makan bareng. Barbeque. Aku sudah menyiapkan beberapa bahannya. Kita akan melakukannya di villa milik keluargaku. Besok adalah sabtu jadi kami tidak ada kelas.” Jelas Miranda.
“Mas Seno mau kan pergi bareng dengan Kami?” Tanya Seno.
“Ayo ikutan Sen, itung-itung Kamu liburan dikit dari keseharian Kamu yang seperti ini.” Ajak Dina.
Setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya Seno mengikuti mereka. Ia juga butuh liburan sekarang.
“Baiklah aku akan siap-siap dulu. Kalian tunggu saja dulu.” Jawab Seno.
Seno lalu pergi ke kebun miliknya. Ia berpamitan kepada kelinci-kelinci miliknya dan meminta mereka menjaga rumah selama dirinya pergi. Tidak lupa Seno juga menaruh rumput-rumput itu di kandang sapi-sapinya.
Stok rumput pakan sapi miliknya yang ia dapatkan dari sistem sudah habis. Ini berarti, Seno perlu membelinya sendiri setelah ini. Sayangnya ia hanya memiliki lima ratus poin ternak, jadi ia hanya bisa membeli lima porsi rumput. Itu hanya cukup untuk memberi makan sapinya selama dua hari lagi.
“Sepertinya besok aku harus mulai memerah sapi milikku. Mungkin ketika aku memerah susu, aku akan mendapatkan poin ternak. Dengan begitu, aku bisa memberi makan sapi-sapiku ini.” Gumam Seno.
Hubungan sapi-sapi itu dengan Seno cukup baik sekarang. Seno bahkan sudah bisa masuk ke dalam kandang dan mengelus mereka tanpa menerima serangan apa pun. Meski mereka mulai jinak, tetapi sistem belum memberinya pemberitahuan bahwa misinya menjinakkan sapi-sapinya telah selesai.
Ada kemungkinan misi itu akan selesai setelah Seno berhasil membuat sapi-sapi itu mengijinkannya memerah susunya.
Setelah memastikan semuanya akan baik-baik saja jika ia tinggal, Seno pun pergi bersama dengan Miranda dan Dina menuju villa keluarga Miranda. Villa itu tidak terlalu jauh dari rumah Seno. Jadi, mereka hanya butuh waktu lima belas menit saja untuk sampai di sana.
__ADS_1