
“Ayah ingin melakukan lelang lagi di China dan Jepang?” tanya Miranda setelah mendengar penjelasan Seno.
“Ya. Aku perlu menjual cukup banyak daun teh hijau serta daun kelor. Aku harus mendapatkan uang tiga miliyar untuk setiap produk itu. Mendapatkan enam miliyar dalam waktu dua minggu tidak akan bisa terlaksana jika kita hanya menjual kedua produk itu di Indonesia,” jelas Seno.
“Ada benarnya juga sih. Di Indonesia tidak banyak penggemar teh. Jika ada pun, kebanyakan memilih teh celup biasa. Meski teh hijau milik kita memiliki efek yang bagus, tidak semua orang mau menikmatinya.”
“Hal ini berbeda dengan pasar China dan Jepang. Di sana banyak penggemar teh. Aku pernah membaca ada teh yang dijual dengan harga jutaan dolar di China. Itu memberikan angin segar untuk kita. Bisa jadi, kita nantinya hanya memasarkan teh ini hanya di China dan Jepang untuk meningkatkan nilai jualnya.”
“Lalu, untuk daun kelor, kita juga bisa memperkenalkannya di China dan Jepang. Tetapi, angka kelahiran dua negara ini tidak cukup besar. Jadi, jangan berharap banyak bahwa kita bisa melakukan penjulan dengan skala besar di dua negara ini.”
“Menurutku, daun kelor lebih pantas dipasarkan secara besar-besaran di negara yang memiliki angka kelahiran besar. Asia Tenggara atau India adalah pasar yang cocok. Jika begini, aku akan mempersiapkan beberapa rencana untuk dua minggu ke depan. Kita tidak hanya melakukan lelang di China dan Jepang, tetapi juga di Thailand dan India,” jelas Miranda.
Seno kagum mendengar penjelasan Miranda. Istrinya ini memberikan analisis yang cukup bagus mengenai rencana pemasaran daun kelor serta teh hijau miliknya. Seno yang awalnya menganggap cukup sulit mendapatkan tiga milyar untuk setiap penjualan daun kelor dan teh hijau, kini menganggap hal itu cukup mudah dilakukan.
“Tapi, apakah kita punya waktu cukup?” tanya Seno khawatir.
“Sekarang ini, kita hanya memiliki waktu dua minggu. Meski kita bisa dengan cepat menyewa hotel dan melakukan persiapan lain untuk lelang, bagaimana dengan peserta lelangnya? Tanya peserta lelang, kita tidak akan mendapatkan penjualan yang besar bukan?”
“Ah … Ayah benar mengenai hal itu. Kita harus memikirkan mengenai peserta. Jika bisa, yang diundang adalah mereka dari kalangan atas. Kita tidak memiliki kontak kalangan atas di dua negara tersebut.”
“Apakah kita meminta bantuan Keluarga Prayudi saja? Kita kan masih memiliki kerja sama dengan mereka mengenai penjualan brokoli. Meski transaksi itu belum terlaksana, kita bisa minta sebagian pembayaran pembelian brokoli dirupakan undangan untuk kalangan atas di beberapa negara untuk menghadiri lelang kita.”
Sebelumnya Dimas Prayudi memang sudah menawarkan diri untuk memasarkan produk milik Seno. Namun, saat itu Seno menolaknya karena itu berarti mereka akan menjual produk sayuran ajaib ke Keluarga Prayudi dan mereka akan mendapatkan keuntungan besar dari itu.
Sekarang, Seno baru menyadari beratnya menjual sayuran miliknya di negara lain tanpa mengenal siapa pun di sana. Oleh karena itu, Seno merasa mereka membutuhkan bantuan Keluarga Prayudi sekarang. Terutama mengenai kontak orang-orang berpengaruh di beberapa negara besar.
“Hem … itu tidak ada salahnya. Kita bisa melakukannya dengan cara itu. Kita juga akan menginformasikan beberapa orang yang sebelumnya hadir di lelang New York mengenai lelang ini. Kemungkinan besar mereka akan mengikuti lelang ini lagi,” jelas Miranda.
__ADS_1
Sebelumnya mereka yang mengikuti lelang di New York memang meminta Seno untuk mengadakan lelang lagi. Ada kemungkinan mereka sudah merasakan kehebatan produk milik Seno. Jadi, sekarang mereka berniat membeli lagi.
“Tentu. Kita bisa mengundang mereka juga. Jika peminatnya cukup banyak, kita bisa melakukan dua hingga tiga sesi. Pagi, siang dan malam. Aku rasa tiga jam cukup untuk melaksanakan lelang. Lalu, setelah lelang di China, Jepang, Thailand dan India selesai, kita bisa melakukan lelang lain di negara berbeda.”
“Timur Tengah, Eropa, Afrika, serta Amerika latin. Aku rasa kita bisa melakukan hal itu nanti. Tentu saja setelah aku selesai menjalani tidur panjang,” jelas Seno.
“Tidur panjang? Maksudnya apa, Ayah?” tanya Dina.
Seno lalu menjelaskan kepada keduanya mengenai tidur panjang yang perlu ia lakukan guna mendapatkan beberapa informasi dari Sistem. Setelah ia menyelesaikan misi miliknya, Seno akan menjalani tidur panjang yang ia sendiri tidak tahu berapa lama itu berlangsung.
“Ahs seperti itu rupanya. Ini berarti, kita perli segera menyelesaikan misi ini. Aku akan menghubungi Pak Dimas sekarang. Sekalian kita akan menyewa hotel milik keluarganya untuk melakukan lelang,” jelas Miranda.
“Aku juga perlu melakukan persiapan untuk melaksanakan misi pencarian benih baru. Letak dimensi yang perlu aku kunjungi ada di Pulau Sulawesi. Aku perlu membaca informasi mengenai dimensi tersebut dari laporan milik pihak militer.” jelas Seno.
Beberapa hari terakhir ini Seno memang sudah membaca cukup banyak informasi mengenai dimensi dari laporan milik pihak militer. Namun, yang ia pelajari adalah dimensi di Pulau Jawa saja. Jadi, ia perlu mempelajari lagi informasi mengenai dimensi target misinya.
Selain itu, Seno juga perlu mengabari Eko dan Mansyur mengenai hal ini. Ia ingin dua jenderal itu menarik mundur pasukannya atau memberikan jalan bagi anak buat Seno untuk masuk ke dalam portal.
“Oh ya, Ayah. Tadi arsitek yang merombak rumah kita tadi menelpon Katanya rumah kita sudah selesai dirombak. Kita bisa mengeceknya dan melakukan penyerahan kunci,” ucap Dina.
“Rumah baru kita sudah selesai? Baguslah. Apakah kontraktor kita bilang kapan kita bisa melihatnya?”
“Kapan pun juga. Kita tinggal menghubungi dia saja.”
“Kalau begitu, apakah kalian mau melihatnya sekarang juga?” tanya Seno.
“Itu tidak masalah. Mungkin akan ada perabot yang kurang nantinya. Jadi, ketika kita pergi ke luar negeri, kita bisa membeli beberapa barang untuk mengisi rumah kita.”
__ADS_1
…
Satu jam kemudian, Seno, Dina, dan Miranda sudah sampai di rumah baru mereka. Ini adalah dua rumah besar yang disatukan. Dengan begini, ukuran rumah mereka jauh lebih besar dari sebelumnya.
Rumah ini pun berada cukup dekat dengan tengah kota. Jadi, jika mereka memiliki keperluan di kota, baik Seno mau pun kedua istrinya tidak perlu lagi repot-repot melakukan perjalanan jauh. Mereka cukup pergi melaui portal, lalu bisa berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan cepat.
Seno dan kedua istrinya mengecek seluruh isi rumah. Semuanya bagus tidak ada yang kurang. Jumlah kamar di sini pun cukup banyak. Jika nanti mereka memiliki banyak anak, masih ada kamar cukup untuk mereka.
Seno lalu mengajak kedua istrinya melihat kamar tidur utama. Di kamar ini, Seno memesan ranjang dan kasur khusus dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya. Untung saja Seno menemukan produsen kasur yang bisa membuatkan kasur dengan ukuran 250 cm x 200 cm.
Tentu saja Seno akan memakai ranjang tersebut untuk tidur bersama dengan kedua istrinya. Sekarang ini, mereka sudah tidak terlalu malu untuk bermain bertiga. Jadi, adanya ranjang yang besar ini membuat mereka lebih nyaman lagi ketika menghabiskan malam bersama.
Di kamar ini ada kamar mandi dengan bathtub yang memiliki ukuran besar. Itu lebih mirip kolam kecil daripada sebuah bathtub. Sekali lagi, ini akan Seno pakai bersama dengan kedua istrinya. Selain kamar mandi yang luas, di kamar ini juga ada walk in closet. Namun, ini hanya akan dipakai untuk menaruh pakaian milik Seno.
Lalu, untuk pakaian Dina dan Miranda, mereka memiliki walk in closet di kamar masing-masing. Ya, Dina dan Miranda memiliki kamar sendiri. Di kamar utama, terdapat dua pintu penghubung yang menghubungkan kamar Dina dan Miranda dengan kamar utama.
Dengan begitu, kedua istri Seno masih memiliki privasi masing-masing. Jika nanti mereka ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Seno, maka Seno bisa mendatangi kamar mereka.
“Bagaimana? Apakah Anda suka dengan renovasi ini?” tanya Rudi, arsitek yang mengerjakan perombakan rumah Seno.
“Semua bagus. Aku menyukai hasilnya,” jawab Miranda.
“Aku juga suka,” imbuh Dina.
“Dua Nyonya Besar sudah menyetujuinya. Jadi, tidak ada masalah dengan renovasinya. Tapi, kami perlu kamu merenovasi interior kamar bayi. Tidak lama lagi kami akan memiliki bayi. Mungkin memasang wallpaper dengan tema yang cocok. Untuk urusan perabotan, biar kedua istriku yang memilih sendiri,” jelas Seno.
Seno berencana menempatkan bayi mereka di kamar masing-masing. Ia ingin membuat mereka lebih mandiri. Mungkin ketika usia mereka sudah tiga bulan atau lebih, Seno akan meminta kedua istrinya untuk menidurkan anak mereka di kamar masing-masing.
__ADS_1
“Hanya itu? Baiklah aku akan melaksanakannya. Aku akan mengirim sampel wallpaper ke sini nanti. Sekarang, kita bisa melakukan penyerahan kunci dan menyelesaikan pembayaran yang belum selesai.”
“Tentu.”