
“Harus berapa kali aku bilang, aku tidak akan pernah balikan denganmu. Meski dunia hancur dan hanya Kamu satu-satunya perempuan yang tersisa, aku tidak akan balikan denganmu. Aku sudah tidak cinta denganmu.”
Ucapan Seno itu menyadarkan Raisa dari lamunannya. Ia memandang tajam ke arah Seno.
“Itu nggak mungkin Sen. Aku tahu Kamu masih menyukaiku. Jadi jangan mencoba berbohong lagi padaku.” Jawab Raisa yang masih percaya diri.
“Mbak, udah cukup halunya. Mas Seno nggak akan nerima Mbak buat balik jadi pacarnya. Karena dia udah punya aku dan Mbak Dina. Kami cantik, pintar, dan kaya. Jelas Mas Seno lebih memilih bersama kami daripada cewek kayak Mbak ini.” Ucap Miranda menegaskan.
“Oh ya aku juga perlu nambahin. Dua minggu lagi kita mau lamaran. Jadi Kamu nggak akan ada harapan bisa balikan dengan Seno. Akhir tahun ini kami akan menikah.”
Setelah Dina berucap demikian, ada tiga pasang mata yang memandangnya tajam. Dina lalu sadar bahwa dia sudah salah berucap. Hal ini membuatnya sedikit gugup.
Meski begitu, ia masih bersikap biasa saja. Di depannya masih ada Raisa jadi ia masih perlu berpura-pura bahwa apa yang ia ucapkan barusan adalah sebuah faktas, dan bukan sebuah kebohongan.
“Apa itu benar Seno?” Tanya Raisa.
Seno tidak langsung menjawabnya, ia hanya menaruh kedua tangannya di pundak Dina dan Miranda. Ia lalu menarik mereka mendekat ke arahnya.
Dari apa yang Raisa lihat, Seno saat ini seakan sudah memberikan jawaban tak langsung kepadanya. Laki-laki itu memilih dua orang di sampingnya daripada dirinya.
“Ya, akan bertunangan dengan mereka dan menikah akhir tahun ini. Jadi, Kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk meminta kembali padaku. Aku lebih mencintai mereka, daripada Kamu yang hanya seorang mantan.”
Setelah berucap demikian, Seno yang masih merangkul Dina dan Miranda, membawa keduanya menjauh. Ia tidak peduli dengan Raisa. Laki-laki itu berharap, dengan ucapannya ini tadi dia tidak akan lagi memiliki pemikiran untuk balikan dengannya.
“Tadi itu Mbak Dina nekat banget bilang kayak gitu.” Ucap Miranda.
“Ck.” Dina mendecakkan lidahnya pelan. “Kalo aku nggak bilang seekstrim itu, mana mungkin dia akan menyerah. Aku yakin di lain kesempatan jika perempuan itu bertemu lagi dengan Seno, dia pasti akan meminta Seno balikan lagi. Seperti itu terus nggak akan berhenti.” Jawab Dina.
__ADS_1
“Tapi apa nggak masalah dengan hal yang tadi?”
“Memangnya kenapa Mas Seno? Kan cuma omongan biasa. Apa yang jadi masalah?” Tanya Miranda heran.
“Aku hanya takut ada seseorang yang mengenal kalian atau keluarga kalian di antara orang-orang yang melihat keramaian tadi. Jika ada yang mengenal kalian, inis bisa jadi masalah besar. Pasti mereka akan melaporkan hal tadi kepada keluarga kalian.” Jelas Seno.
Mendengar hal itu Dina mengibaskan sebelah tangannya. Ia dengan mudahnya menyepelehkan apa yang baru saja diucapkannya untuk mengusir Raisa tadi.
“Alah hal kayak gitu nggak perlu dipikirin Sen. Kemungkinan kayak gitu sangat kecil terjadi. Lebih baik kita sekarang menikmati hari ini bersama.”
Miranda juga mendukung ucapan Dina barusan. Melihat keduanya tidak mengambil pusing masalah ini, Seno pun melakukan hal yang sama. Ia tidak lagi memikirkan mengenai hal itu. Seperti kata Dina, lebih baik ia menikmati waktu bersantainya dengan dua orang perempuan cantik ini.
Tetapi, kemungkinan kecil yang Dina maksud benar-benar terjadi. Ketika perempuan itu pulang, di ruang tamu rumahnya sudah berkumpul keluarga besarnya. Mulai dari Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, bahkan Paman dan Bibinya yang memiliki waktu luang juga hadir di sini.
Mereka lalu memandang lekat ke arah Dina yang baru saja masuk ke dalam rumah itu. Diperhatikan oleh beberapa pasang mata seperti itu, membuat Dina menjadi gugup. Pandangan mereka seolah mengatakan bahwa Dina sudah melakukan kesalahan besar.
“Kamu sudah pulang rupanya. Duduklah, kami ingin bicara padamu.” Ucap Ibra, ayah Dina, datar.
Hal ini membuat Dina semakin bingung dengan apa yang terjadi. Terlihat jelas bahwa dirinya benar-benar akan disidang dengan keluarganya tentang masalah yang dirinya sendiri tidak paham.
“Ada apa ini?” Tanya Dina bingung.
“Mama dapet kabar dari teman dekat Mama bahwa Kamu akan lamaran dua minggu lagi. Kenapa kami yang keluarga Kamu kok nggak tahu sama sekali?” Tanya Firda, ibu Dina.
Mendengar ucapan Ibunya tersebut, keringat dingin mengalir di punggung Dina. Ia tidak menyangka apa yang dirinya anggap memiliki kemungkinan kecil terjadi, benar-benar terjadi. Sekarang Dina bingung menjawab pertanyaan keluarganya.
“Jadi siapa dia?”
__ADS_1
“Ah itu sebenarnya hanya candaan aja Pa. Nggak bener itu.” Jawab Dina gugup.
“Lalu apa ini?” Ucap Firda sembari menyerahkan sebuah ponsel kepada Dina.
Di layar ponsel itu terdapat foto Seno yang tengah merangkulnya dan juga Miranda. Ekspresi ketiganya tengah menunjukkan senyum lebar. Terlihat sekali hubungan ketiganya cukup spesial dari foto tersebut.
“Teman Mama juga ngasih foto itu. Jadi, apa penjelasanmu sekarang? Apa Kamu beneran menyukai laki-laki yang sama dengan yang disukai oleh Cucu Bu Ika?” Tanya Firda.
Dina terdiam sesaat. Ia lalu menarik nafas panjang. Perempuan itu sekarang berencana untuk memberitahu keluarganya mengenai hubungannya dengan Seno dan juga Miranda. Perempuan itu sekarang cukup nyaman dengan dua orang itu.
Jadi, sekarang Dina ingin tahu apa pandangan keluarganya mengenai hubungan yang seperti ini. Dengan begitu, ia bisa membuat keputusan untuk hubungannya dengan Seno dan Miranda kedepannya.
“Ya. Kami memang menyukai laki-laki yang sama.” Aku Dina.
Cindy yang juga ada di sana menggelengkan kepalanya pelan setelah mendengar ucapan Dina tersebut. Ia tidak menyangka keponakannya akan menjawab seperti itu.
“Tante sih nggak masalah kalo Kamu sama Seno. Dia laki-laki baik. Tetapi jika untuk berbagi dengan perempuan lain, sepertinya itu tidak akan mungkin. Cukup sulit menjalani kehidupan dimadu Dina. Itu tidak semudah yang Kamu bayangkan.” Ucap Cindy.
“Apa yang dikatakan Tante Kamu benar Dina. Jika laki-laki itu tetap memilih kalian berdua dan tidak salah satu di antara kalian, lebih baik kamu tinggalkan dia. Masih banyak laki-laki lain yang tidak kalah baiknya dengan dia.”
“Anak rekan bisnis Papa pun banyak yang masih belum memiliki pasangan. Jika Kamu mau, Papa akan mengenalkan Kamu kepada mereka.” Imbuh Ibra.
Dina menggelang pelan mendengar ucapan Ibra tersebut. “Aku nggak mau dijodoh-jodohin. Aku masih sanggup buat cari pacar sendiri.”
“Siapa juga yang mau jodohin Kamu. Kan Papa cuma mau ngenalin Kamu sama mereka. Nggak ngejodohin.”
“Tapi aku nggak mau. Aku sudah cinta sama Seno. Jadi aku nggak akan mundur. Meski nantinya Miranda akan jadi maduku sekali pun. Aku tidak masalah. Asalkan laki-lakinya adalah Seno.” Jawab Dina sembari menatap lekat ke arah keluarganya.
__ADS_1