Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 91 Seperti Monyet


__ADS_3

Seperti saran dari Dina, pada akhirnya Seno tidak membeli cincin untuk mengikat hubungan mereka. Seno memilih jam tangan sebagai gantinya. Nilai jam tangan juga tidak kalah dari perhiasan. Apalagi jam tangan yang bermerek. Nilainya bisa saja lebih banyak lagi daripada sebuah cincin.


Setelah diskusi yang sedikit panjang di gerai jam tangan, pada akhirnya Seno membeli jam tangan couple yang harganya tidak terlalu mahal. Untuk ketiga jam tangan Seno menghabiskan seratus tujuh puluh juta.


Sebenarnya Seno ingin yang lebih mahal daripada ini. Tetapi kedua pacarnya menolaknya. Mereka meminta Seno menghemat uangnya dan lebih baik menabung uang itu untuk kebutuhan mereka kelak.


Hal itu mengingatkan Seno bahwa kedua pacarnya ini berasal dari keluarga kaya. Tidak mungkin bukan dirinya menikahi mereka dan membuat kehidupan mereka berubah total?


Selama ini mereka tinggal di rumah yang cukup besar dan nyaman. Tidak hanya itu, mereka memiliki mobil yang siap sedia mereka pakai ke mana pun mereka pergi. Belum lagi pakaian dan kebutuhan lainnya.


Agar mereka masih memiliki kehidupan yang nyaman setelah menikah nanti, Seno memang harus berhemat. Banyak yang harus ia siapkan untuk semua itu. Sebuah rumah baru yang cukup besar dan nyaman, mobil untuk keduanya, dan uang bulanan yang mencukupi.


Memang keduanya tidak meminta hal ini kepada Seno. Tetapi Seno merasa bertanggung jawab dan memenuhi semua itu. Lagi pula, dirinya memiliki uang untuk memberikan semua itu kepada keduanya. Pendapatannya semakin besar sekarang.


Dari pihak militer saja dia mendapatkan sembilan ratus juta lebih dalam seminggu. Belum lagi hasil dari buncis yang setiap harinya mencapai seratus juta lebih. Jadi memberikan semua fasilitas itu bukan masalah besar bagi Seno.


Namun bukan berarti Seno bisa boros dan membeli segalanya dengan uang itu. Lalu sekarang karena Dina dan Miranda tidak mau ia membeli barangyang terlalu mewah, maka Seno hanya bisa menurut. Nanti, jika dirinya sudah resmi menjadi suami mereka barulah Seno akan memanjakan mereka.


*****


Esok harinya, Seno sudah berada di kebunnya. Di depannya kini sudah ada petak kebunnya yang berisi pohon pisang dan pohon cokelat. Satu tundun pisang, terdapat dua puluh sisir pisang. Lalu, untuk cokelatnya sendiri, terdapat empat puluh buah dalam satu pohon.


Ukuran dari buah pisang dan cokelat miliknya pun cukup besar. Seno memperkirakan satu buah pisang memiliki berat sekitar dua ratus gram. Lalu untuk cokelatnya sendiri, Seno memperkirakan memiliki berat sekitar satu kilogram.


Langsung saja laki-laki itu memanen buah-buahan yang sudah siap panen itu. Ia tidak sabar mengelola cokelat yang ada di sana. Setelah panen ini, Seno akan mendapatkan empat ratus cokelat. Pasti cukup banyak jumlah olahan cokelat yang akan ia hasilkan nantinya.


[Cokelat sangat cokelat]


[Ditanam penuh cinta oleh seorang petani muda]

__ADS_1


[Katanya bisa menambah tenaga jika diolah]


[EXP +24]


[Poin tanam +1200]


[Pisang kesukaan monyet]


[Ditanam penuh cinta oleh seorang petani muda]


[Katanya bisa memiliki kemampuan monyet jika memakannya]


[EXP +24]


[Poin tanam +1200]


Itulah deskripsi yang Seno dapatkan ketika dirinya memanen dua buah tersebut. Dirinya cukup kaget ketika mekihat deskripsi tersebut. Bukan deskripsi dari cokelat super cokelat yang membuat Seno kaget tetapi deskripsi dari pisang yang ia panen.


“Memiliki kemampuan seperti monyet jika memakannya? Kemampuan seperti apa ini?”


Seno tidak mengharapkan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. Jika ia ingin mengetahuinya, maka Seno perlu mengkonsumsinya terlebih dahulu. Sistem tidak akan memberinya jawaban mengenai hal ini.


Tetapi ada sedikit keraguan dalam diri Seno ketika melihat deskripsi itu. Apakah untuk memiliki kemampuan seperti yang dimiliki oleh monyet, Seno perlu terlebih dahulu berubah menjadi monyet? Ataukah ia tetap bisa memilikinya dengan tubuh manusianya ini.


Besok Seno berencana pergi ke rumah Miranda. Tidak mungkin bukan dirinya pergi ke rumah calon mertuanya dengan tubuh penuh bulu. Belum juga Seno mengungkapkan maksud kedatangannya, ia akan diusir dari sana. Jelas itu sangat mengerikkan jika Seno memikirkannya.


“Jadwalku ke rumah Miranda adalah besok jam empat sore. Sekarang masih jam sepuluh pagi. Aku rasa tidak masalah jika aku mencoba pisang ini.” Gumam Seno.


Beberapa dari sayuran milik sistem memberikan manfaat yang bersikap permanen seperti halnya wortel, brokoli, dan buncis. Beberapa juga bersikap temporer seperti kentang dan pepaya. Jadi kemungkinan besar efek dari pisang ini bersikap temporer.

__ADS_1


Seno tengah berjudi dengan keputusannya. Kemungkinan terburuk dirinya akan tumbuh bulu ketika memakan pisang ini. Lalu ia berjudi bahwa ini hanya akan berlangsung sementara. Jika kemungkinan terburuk itu terjadi dan sifatnya adalah permanen, maka tamat sudah riwayat Seno.


“Semoga semuanya baik-baik saja.”


Ketika memakan pisang tersebut, Seno merasakan pisangnya memiliki sedikit rasa manis. Meski ini bukan kentang yang memberikannya rasa kenyang selama seharian, tetapi memakan dua ratus gram pisang sekaligus membuat Seno merasa sedikit kenyang.


Laki-laki itu lalu mengamati keadaan tubuhnya. Ia ingin tahu perubahan apa yang terjadi pada dirinya setelah memakan buah tersebut. Tetapi setelah lima belas menit menunggu, tidak ada perubahan pada tubuhnya. Tidak ada bulu panjang yang tubuh di kulitnya seperti yang Seno takutkan.


Hal itu membuat Seno bernafas lega. Ternyata dirinya tidak akan berubah menjadi monyet jika ingin memiliki kemampuan seperti monyet. Tetapi, Seno penasaran kemampuan seperti monyet apa yang ia miliki. Ia lalu mencoba mencari tahu apa yang bisa monyet lakukan.


Lalu ia ingat, seekor monyet bisa bergerak dengan lincah dengan keempat kaki mereka. Tidak hanya itu, monyet bisa bergerak dengan leluasa dari satu pohon ke pohon lainnya. Mereka juga sangat pandai dalam memanjat.


Hal ini membuat Seno ingin mencoba hipotesisnya ini. Ia meminta Thorbiorn melanjutkan memanen buah-buahan itu. Sementara itu, Seno memilih pergi meninggalkan kebun miliknya.


Dengan mengendarai motor miliknya, Seno lalu pergi ke hutan yang tidak jauh dari kampungnya. Di sana Seno bisa menemukan banyak pohon rindang dan tinggi. Ia bisa mencoba membuktikan hipotesisnya di hutan tersebut.


Ketika sampai di pinggir hutan, Seno tidak menemukan keberadaan siapa pun. Penduduk desa sekitar sini biasanya masih berada di ladang mereka untuk mengurusi sayuran yang mereka tanam. Jadi tidak akan ada yang melihat keberadaan Seno di sini.


Setelah melepas sepatunya, Seno langsung memanjat salah satu pohon jati yang ada di sana. Pada bagian bawah pohon jati ini, tidak ada cabang yang memudahkan Seno untuk memanjat. Mungkin seorang yang terbiasa memanjat pohon kelapa, tidak akan kesulitan untuk memanjatnya.


Namun, bagi Seno yang biasanya hanya memanjat asal, dan bukan seorang profesional, akan sangat sulit memanjat pohon yang seperti ini. Tetapi pada kenyataannya, ia bisa memanjat pohon jati yang tidak banyak memiliki cabang ini dengan mudah.


Tidak hanya itu, Seno bahkan begitu cepatnya sampai di bagian puncak pohon. Seolah-olah saat ini Seno tidak sedang memanjat pohon, tetapi sedang berlari di bidang datar. Ia hanya membutuhkan dua puluh detik saja untuk bisa sampai di ketinggian delapan meter.


Mengetahui hipotesisnya cukup akurat, Seno kembali turun. Ia ingin masuk lebih dalam ke hutan ini. Di sana ada beberapa pohon yang cukup rapat letaknya. Hal itu bisa Seno jadikan tempat untuk mencoba melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.


Benar saja, Seno cukup mudah melakukan semua itu. Ia bergerak lincah dari satu pohon ke pohon lain layaknya seekor monyet. Hal yang ia lakukan ini cukup menyenangkan di mata Seno.


Laki-laki itu tiba-tiba membayangkan bahwa dirinya bisa memberikan penampilan akrobat seperti halnya di sirkus. Dengan memakan pisang ini dan juga keju super lumer, Seno yang tidak memiliki pengelaman melakukan gerakan akrobat pasti bisa melakukannya.

__ADS_1


“Sepertinya pisang ini bisa menjadi komoditas baru yang memiliki harga jual yang cukup tinggi. Tetapi, aku harus memikirkan cara pemasaran yang cocok untuk menaikkan harganya. Meski pelangganku di laman lelang sudah cukup percaya dengan produk milikku, tetapi dengan video promosi, harganya akan berkali-kali lipat lebih mahal lagi.” Gumam Seno.


Tetapi semua itu akan Seno pikirkan di lain waktu. Sekarang dirinya perlu kembali pulang dan mengelola cokelat yang sudah ia panen. Ia ingin tahu kasiat dari cokelat yang ia olah nantinya. Karena pada deskripsi, cokelat yang ia panen tidak akan menunjukkan kasiatnya jika tidak diolah.


__ADS_2