
Roman masih tertidur nyenyak setelah semalam melakukan rapat dengan anak buahnya. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Roman yang sudah terlatih untuk terbangun karena suara yang kecil sekali pun, langsung membuka matanya.
Ia lalu melihat ke arah ponselnya. Itu adalah telepon dari Marc. Meski ia baru tidur beberapa jam, mau tidak mau Roman membuka matanya lebar-lebar untuk menjawab telepon itu. Ada kemungkinan Marc akan memberinya informasi yang penting mengenai target mereka.
“Hallo, ada apa Marc?”
“Mr. Black, aku ingin melaporkan sesuatu padamu. Target kita sudah berpindah tempat. Lalu, tempatnya berpindah pun cukup jauh. Sangat tidak mungkin hal itu terjadi.”
“Apa maksdumu Marc? Katakan semuanya dengan jelas.”
“Bukankah Kau memintaku mengawasi gerak gerik target kita? Aku sudah melakukannya. Tetapi, aku tidak melakukannya secara langsung. Aku hanya memantau keberadaan mereka dari jarak jauh, melalui lokasi sinyal ponsel mereka.”
“Terakhir kali aku cek, semua target berada di rumah target utama. Itu adalah lokasi terakhir mereka setengah jam lalu. Lalu barusan aku kembali mengecek keberadaan mereka. Apa Kau tahu, mereka sudah berada di New York sekarang.”
Roman memang memintanya mengawasi pergerakan target mereka. Tetapi, Marc tidak mau terjun langsung ke lapangan. Tadi pagi ia sudah mengirim salah seorang anak buahnya untuk mengintai dua target terlemah. Tetapi orang-orang yang ia kirim belum juga kembali.
Maka dari itu, Marc memilih mengintai mereka melalui sinyal ponsel. Ini adalah cara teraman yang bisa Marc temukan. Apalagi, target belum tentu tahu bahwa mereka tengah diintai. Semua aman terkendali, sampai Marc menemukan kejanggalan posisi sinyal ponsel target mereka.
“Apa?” tanya Roman tidak percaya.
“Mereka sudah ada di New York dalam waktu setengah jam? Jangan konyol. Hal seperti ini tidak untuk dijadikan bahan candaan Marc. Bicaralah yang lebih serius.”
Menurut Roman, sangat tidak masuk akal jika Seno dan yang lain sudah berada di New York. Apalagi setelah setengah jam yang lalu Marc mengatakan bahwa mereka masih berada di rumah Seno.
Memangnya manusia bisa berpindah tempat secepat itu? Itu sangat tidak mungkin. Bahkan, pesawat tercepat sekali pun tidak akan bisa menghabiskan waktu secepat itu ketika mengudara dari Asia Tenggara menuju ke Amerika.
__ADS_1
“Aku serius, Mr. Black. Aku sama sekali tidak bercanda. Sekarang ini mereka sudah berada di Amerika. Kau bisa mengecek sendiri mereka. Aku akan mengirimkan lokasi mereka kepadamu.”
“Marc, bicaralah yang lebih serius lagi. Jangan buat aku marah karena omong kosongmu itu. Berpindah tempat dalam setengah jam? Jangan konyol,” ucap Roman lagi. Ia masih tidak mempercayai ucapan Marc tersebut.
“Ini memang sungguhan, Mr. Black.”
Marc sendiri merasa aneh dengan temuannya ini. Tetapi, ia melihat sendiri dengan matanya bahwa sinyal ponsel Seno dan keluarganya, berpindah cukup cepat. Marc sedikit paham kenapa sekarang Roman marah padanya. Semua ini memang sangat tidak masuk akal. Jika Marc berada di posisi Roman, ia juga akan marah karena merasa dipermainkan.
“Sudahlah jangan mengatakan hal itu lagi padaku. Sekarang bagaimana dengan tugas lain yang aku berikan padamu. Apakah Kau sudah menemukan penerbangan mana yang akan diambil oleh Seno dan keluarganya? Aku ingin bersiap sebelum dia sampai di sini.”
Roman mendengar Marc mengela napas panjang.
“Mr. Black, hingga sekarang aku dan timku tidak menemukan nama target kita di penerbangan mana pun. Bahakan, aku sampai meretas data penumpang yang akan terbang ke Amerika. Aku tidak menemukan nama target kita.”
“Apa Kau yakin sudah mengercek semuanya?”
“Kalau begitu, tetap awasi mereka dan jangan memberi laporan konyol kepadaku. Aku tidak butuh laporan seperti itu,” ucap Roman sebelum memutus sambungan telepon mereka.
Roman lalu mengacak-acak rambutnya yang berantakan. Ia lalu memandang ke arah jam yang ada di meja kecil di samping tempat tidur.
“Rupanya masih sangat pagi. Mungkin aku bisa pergi ke tempat gym yang ada di hotel sebelum memulai aktivitasku,” gumam Roman.
Tetapi, selama melakukan olahraga di tempat gym yang sepi, Roman tidak bisa berkonsentrasi. Ia masih teringat akan laporan Marc kepadanya. Setelah Roman pikirkan lebih dalam, apa yang Marc katakan tidak sepenuhnya omong kosong. Yang mereka bicarakan ini seorang petani yang digadang-gadang memiliki tanaman ajaib.
Apalagi anak buah petani itu, si gadis berbaju merah. Dia bisa memakan api dan tidak terbakar dengan mudah. Itu saja hal yang sangat mustahil. Jadi, jika tiba-tiba saja si petani itu berpindah tempat dalam waktu cepat, itu mungkin saja terjadi.
__ADS_1
“Apa mungkin aku cek saja? Itu tidak ada ruginya untukku untuk mengecek di mana mereka berada sesuai dengan koordinat yang sudah Marc kirim,” gumam Roman.
Roman lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Ia lalu mengecek koordinat yang dikirim Marc melalui peta digital miliknya. Dari sana Roman tahu bahwa lokasi yang dikirimkan oleh Marc merupakan restoran cepat saji yang buka selama dua puluh empat jam.
Tanpa membuang waktu, Roman kembali ke kamarnya dan mempersiapkan diri. Ia berharap ketika sampai di sana nanti, Roman masih sempat melihat keberadaan target mereka. Jika mereka memang benar-benar berada di sana.
Dua puluh menit kemudian, Roman sampai di restoran cepat saji, sesuai dengan koordinat yang diberikan oleh Marc. Ketika masuk ke sana, di dalam restoran sudah ada beberapa orang yang duduk sembari menikmati makanan mereka.
Roman lalu mengedarkan pandangnnya ke arah penunjung restoran. Benar saja, ia melihat keberadaan targetnya di salah satu kursi yang ada di sana. Ini berarti, Marc memang bicara jujur. Targetnya sudah berada di Amerika sekarang.
Roman sendiri tidak tahu bagaimana mereka melakukannya. Yang jelas, saat ini dirinya harus berusaha bersikap senormal mungkin agar tidak dicurigai.
“Berikan aku kopi panas dan makanan terenak yang kalian punya untuk sarapanku,” pinta Roman.
Setelah mendapat pesanannya, Roman memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat dengan targetnya. Dari tempat duduknya, Roman bisa melihat dengan jelas apa yang Seno lakukan. Roman juga bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Sayangnya, Roman tidak paham bahasa mereka.
Kamuflase yang Roman lakukan adalah dengan membaca koran yang ada di restoran, sembari sesekali mencuri lihat ke arah targetnya. Roman berusaha melakukan itu senatural mungkin. Tetapi, yang tidak Roman sadari, dua orang laki-laki di depannya sudah melihat gerak gerik mencurigakan yang Roman buat. Meski mereka sudah tahu itu, mereka hanya diam dan mengawasi saja.
Ketika rombongan Seno, istri dan adiknya pergi, Roman juga ikut membuntuti mereka. Jarak antar Roman dan mereka sekitar lima meter. Ia terus mengikuti kemana mereka pergi. Tempat pertama yang rombongan di depannya tuju adalah sebuah toko pakaian yang kebetulan sudah buka.
Toko itu menjual berbagai pakaian musim dingin yang saat ini sedang tren di masyarakat. Saat ini Roman baru sadar bahwa rombongan Seno hanya memakai baju tipis yang tidak cocok dipakai di musim dingin seperti sekarang.
“Hem …, cukup mencurigakan. Jika hanya ada satu dua orang yang tidak merasa kedinginan, itu cukup wajar. Tetapi rombongan Seno ini tidak ada yang merasa kedinginan. Bahkan tadi aku sama sekali tidak melihat mereka tidak nyaman dengan rasa dingin ini. Padahal ini cukup dingin untuk orang yang terbiasa hidup di negara bermusim dingin sekali pun, akan merasa udara sekarang ini sangat dingin.”
....
__ADS_1
rekomendasi cerita untuk kalian