Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 150 Rp 100.000,-


__ADS_3

Suasana di ruangan tersebut terasa begitu tegang. Ini karena mereka yang ada di sana menampakkan wajah serius mereka sekarang. Tidak ada yang tersenyum atau sekedar bercanda. Apa yang mereka bicarakan saat ini cukup serius sehingga mereka tidak berbicara dengan santai.


Saat ini di depan mereka tengah diputar sebuah rekaman. Dalam rekaman itu, seseorang laki-laki mencoba melukai ujung jarinya dengan silet. Darah mengalir dari ujung jari laki-laki tersebut.


Lalu, pakaian yang dipakai oleh laki-laki rekaman tersebut kembali berubah. Itu menandakan bahwa beberapa saat telah berlalu. Laki-laki tersebut melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, melukai ujung jarinya dengan silet.


Tetapi, kali ini darah tidak lagi mengalir dari ujung jari laki-laki tersebut. Hanya ada garis kemerahan yang tersisa, sebagai bukti bahwa ujung jari tersebut sebelumnya telah disayat.


Beberapa kali laki-laki dalam rekaman mencoba melukai diri, tetapi hasilnya sama. Hanya ada garis kemerahan. Bahkan ketika laki-laki itu mencoba menyayat kakinya dengan pisau, yang amat tajam, yang ada di sana, tidak terjadi apa pun.


Tidak ada darah yang mengucur atau luka menganga yang biasanya terjadi. Sekali lagi yang ada hanya garis merah tempat sayatan tadi berada.


Semakin lama mereka yang melihat pemutaran rekaman tersebut semakin terlihat serius. Tetapi tidak ada satu pun yang berbicara sebelum rekaman tersebut selesai diputar.


Bahkan ketika lampu dinyalakan kembali setelah rekaman tersebut selesai diputar, belum ada satu pun di antara mereka yang ada di sana, membuka suara.


“Jendral sudah melihat sendiri bukan, bahwa efek dari brokoli itu sungguh menakjubkan? Percoban yang aku lakukan pada diriku sendiri sudah membuktikan hal itu.” ucap Johan memecah keheningan yang ada di ruangan itu.


Ternyata laki-laki yang ada dalam rekaman, yang sedari tadi mereka saksikan adalah Johan sendiri. Setelah mendapatkan brokoli dari Seno, Johan langsung mengkonsumsinya setiap hari. Hampir seminggu penuh ia menghabiskan seratus buah brokoli yang ia terima dari Seno.


Jika bukan karena mafaat dari brokoli tersebut, sudah pasti Johan akan muak memakan brokoli setiap hari untuk bisa segera menghabiskan keseratus brokoli tersebut. Tetapi untung saja hasilnya cukup memuaskan.


Ia sekarang cukup kebal akan senjata tajam. Meski kebal, Johan masih merasakan perih pada bekas kemerahan yang menjadi tanda pertemuan antara kulitnya dengan benda tajam. Tetapi apa yang ia rasakan ini tidak terlalu Johan pusingkan. Yang terpenting dia sudah kebal sekarang.


“Apakah Kamu sudah mencoba percobaan senjata api sekarang?” Tanya Roy setelah mendengar ucapan Johan.


Johan menggeleng pelan. “Belum. Aku masih takut melakukan tes dengan senjata api. Kata Seno, seseorang mulai mendapatkan tubuh kebal senjata api jika sudah mengkonsumsi seribu brokoli. Aku baru mengkonsumsi seratus buah.”


“Jadi apa yang aku konsumsi ini masih jauh dari kata cukup. Aku akan mencoba membeli lagi dan mengkonsumsi brokoli sejumlah anjuran Seno untuk mendapatkan tubuh kebal dari senjata api.” Jelas Johan.


Terkena tembakan peluru sangatlah menyakitkan. Tentu Johan tidak mau melakukan percobaan membahayakan seperti itu jika dirinya belum terlalu yakin dengan percobaan yang ada.

__ADS_1


“Lalu, berapa harga dari satu buah brokolis itu? Berapa yang mereka minta?” tanya Eko.


“Empat ratus lima puluh ribu rupiah untuk satu buah brokoli Jendral.” Lapor Johan.


“Empat ratus lima puluh ribu?” tanya Gio dengan suara yang cukup tinggi.


“Apa tidak salah jika dia meminta sebanyak itu? Empat ratus lima puluh ribu untuksatu buah brokoli, lalu untuk mendapatkan tubuh kebal senjata api, seseorang perlu mengkonsumsi seribuan brokoli. Itu empat ratus lima puluh juta, bukan angka yang kecil.” imbuh Gio.


Yang lainnya menganggukkan kepala mereka pelan, setuju dengan ucapan Gio.


“Apakah Kamu tidak meminta mereka menurunkan harganya? Kita tidak akan sanggup membeli brokoli dalam jumlah banyak jika mereka menjualnya dengan harga segitu.” Ucap Ardi.


Johan memberikan para Jendral di depannya sebuah senyum masam. Ia juga menggelengkan kepalanya pelan.


“Mereka tidak mau melakukannya. Mereka mengatakan mereka adalah satu-satunya petani yang bisa memasok kita dengan tanaman ajaib. Jika kita tidak setuju dengan harga itu, mereka meminta kita mencari pemasok yang lain.”


Brak. Roy menggebrak meja ruang rapat tersebut dengan sangat keras.


“Harga sayuran yang lain saja juga mereka naikkan. Mereka bahkan tidak mau memberikan sedikit pun potongan harga untuk pihak militer. Ini memang sudah keterlaluan. Mereka sama sekali tidak menghargai pihak militer.” Imbuh Ardi yang juga menaikkan intonasi bicaranya.


Suasana bertambah tegang sekarang. Emosi mulai menyelimuti beberapa Jendral yang mengikuti rapat tersebut.


“Johan, bukankah salah satu istri petani itu adalah keponakanmu. Tidak bisakah Kamu merayunya agar mau menurunkan harga yang mereka berikan?” Tanya Gio.


Semua mata yang ada di sana langsung memandang Johan dengan tatapan tajam. Mereka hampir melupakan hal ini. Keponakan Johan sudah menjadi keluarga dari petani pemasok sayuran ajaib. Sekarang, mereka menunggu jawaban Johan mengenai hal ini.


“Justru keponakankulah yang mengurusi penjualan sekarang. Aku tidak bisa merayunya untuk menurunkan harga dari sayuran itu. Dia cukup keras kepala. Jika aku terus memaksanya, maka dia akan menaikkan harganya, atau bahkan tidak lagi menjualnya kepada kita.” Jelas Johan.


“Bujuk dia. Bujuk dia sampai dia mau menurunkan harganya. Katakan padanya kita hanya akan membeli brokoli itu di harga seratus ribu rupiah.” Ucap Roy.


Di dalam hati, Johan mengumpat dengan keras. Dengan mudahnya Roy meminta harga brokoli diturunkan dari empat ratus lima puluh ribu menjadi seratus ribu. Itu terlalu banyak menurut Johan.

__ADS_1


“Jika Kamu tidak bisa membujuknya, maka rencana kenaikan pangkatmu akan kami tunda hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.” Imbuh Ardi.


Johan kembali mengumpat dalam hati. Sekarang para petinggi militer ini malah mengancamnya dengan menggunakan kenaikan pangkatnya. Memang atas kontribusinya mengenalkan sayuran-saturan ajaib itu, Johan mendapat kesempatan kenaikan pangkat.


Rencananya bulan depan dirinya akan naik pangkat menjadi Brigadir Jendral. Sayangnya dirinya harus merelakan kenaikan pangkat itu. Johan tahu bahwa dirinya tidak akan bisa meminta Miranda menurunkan harga dari brokoli ini.


Apalagi jika dirinya meminta Miranda menjualnya dengan harga seratus ribu per brokoli. Itu tidak akan pernah tercapai.


“Siap Jendral. Aku akan mengusahakan hal itu.”


Meski kecil kemungkinan ia bisa melakukannya, tetapi Johan masih harus mengiyakan ucapan para Jendral ini. Bagaimana pun juga, mereka masihlah atasannya.


“Bagus. Kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di sini. Sekarang Kamu boleh pergi.” Ucap Roy yang mengusir Johan dengan halus.


“Siap laksanakan Jendral.” Mau tidak mau Johan harus pergi dari sini.


Johan tahu bahwa para Jendral masih akan melakukan pembicaraan lain. Dari gelagat mereka, apa yang mereka bicarakan ini cukup rahasia, dan ada kemungkinan ini menyangkut keluarga keponakannya.


Apa pun itu yang mereka rencanakan, itu bukanlah kabar yang menyenangkan bagi keluarga keponakannya.


‘Sepertinya aku perlu megingatkan Miranda agar lebih waspada lagi mengenai apa yang akan pihak militer lakukan.’ Gumam Johan dalam hati.


Ketika dirinya sudah cukup jauh dari ruang rapat, Johan baru teringat akan sesuatu. Ia lupa menyampaikan “ancaman” Seno kepada pihak militer. Bahwa Seno masih memiliki banyak kartu As yang bisa melindungi dirinya dan keluarganya dari apa pun yang akan pihak militer lakukan.


Tetapi, tidak mungkin Johan kembali ke ruang rapat sekarang. Dirinya sudah “diusir” oleh para Jendral itu. Satu-satunya yang bisa Johan lakukan adalah mengirimkan pesan “ancaman” dari Seno itu ekpada Eko.


Sedari tadi Johan pantau hanya Eko yang terlihat cukup tenang selama rapat dan tidak terlihat terbakar emosi. Dengan ini Johan berharap pihak militer membuat pilihan sebijak mungkin dalam mengatasi permasalahan harga ini.


Johan tidak mau melihat keluarga keponakannya sampai harus “bertarung” dengan pihak militer nnatinya. Johan juga tidak mau harus memilih dalam permasalahan ini. Baik Miranda maupun militer, sama-sama memiliki nilai


berharga bagi Johan.

__ADS_1


__ADS_2