
“Mbak Dina, aku nggak akan ngebiarin ibu-ibu tadi begitu aja. Aku akan membalaskan kekesalanku padanya,” ucap Miranda setelah lorong rumah sakit itu cukup sepi. Di sana hanya ada beberapa ibu-ibu yang menunggu giliran mereka, termasuk Dina dan Miranda.
“Memangnya apa yang akan kita lakukan? Kita tidak melakukan tindakan kriminal bukan?”
“Aku tahu. Apa yang ibu-ibu tadi lakukan sangat menyakitkan. Namun, tidak sampai membuat kita harus melakukan sebuah kejahatan. Meski begitu, kita nggak bisa ngebiarin dia begitu saja bukan?”
“Aku berencana memasukkan nama ibu-ibu tadi beserta semua keluarganya ke dalam daftar hitam. Dengan begitu, dia dan keluarganya selamanya tidak akan pernah bisa membeli sayuran milik kita. Aku akan meminta tim peretas kita untuk menyelidiki siapa mereka,” jelas Miranda.
“Itu ide yang cukup bagus. Tetapi, menurutku itu masih kurang. Bagaimana jika kita menyelidiki rahasia keluarga mereka juga. Mungkin jika mereka memiliki jejak kotor yang mereka sembunyikan, kita bisa mengungkapkan hal itu kepada pihak berwajib,” imbuh Dina.
Kilatan amarah muncul sekilas di mata Dina ketika mengatakan hal ini. Seperti yang Miranda katakan, mereka tidak bisa membiarkan ibu-ibu tadi lolos begitu saja. Meski mereka tadi berhasil membuat ibu-ibu itu malu, tetapi itu masih sangat kurang.
Yang dihina ibu-ibu tadi bukanlah Dina atau pun Miranda, tetapi anak mereka yang sama sekali tidak bersalah. Insting seorang ibu membuat mereka membuat mereka memikirkan cara untuk melindungi anak-anak mereka. Meski pun mereka belum lahir sekali pun.
“Ah … itu adalah ide yang cukup bagus, Mbak Dina. Dengan begini, kita bisa memberi pelajaran cukup menyakitkan bagi ibu-ibu tadi. Dari cara bicaranya yang seperti itu, aku bisa menebak kalo dia bukanlah orang baik. Sudah pasti ada keburukan lain yang dilakukan oleh ibu-ibu itu.”
“Ibu Dina Rosabela,” panggil salah seorang perawat.
“Namaku sudah dipanggil. Kita akan membahas ini nanti,” ucap Dina.
Dina dan Miranda lalu berdiri dan memasuki ruang pemeriksaan. Di dalam sana sudah ada seorang dokter perempuan yang menjadi dokter kandungan Dina dan Miranda.
“Langsung tiduran di ranjang ya, Bu Dina. Hari ini Ibu mau USG untuk mengetahui jenis kelamin anaknya bukan?” tanya Dokter Fitri.
“Ya, Dok.”
Dina langsung tiduran di ranjang pemeriksaan. Seorang perawat membantunya untuk naik. Setelah itu, perawat tersebut menyibak baju Dina sehingga memperlihatkan perutnya yang mulai membesar. Perawat tersebut kemudian memberikan gel ke perut Dina.
“Semua sudah siap, Dok,” ucap perawat tersebut.
“Terima kasih, Sus.”
Dokter Fitri lalu memulai pemeriksaannya. Ia menempelkan alat USG ke perut Dina. Ketika alat itu menempel di perut Dina, terdengar suara degup jantung yang tidak terlalu keras.
“Kedua anak Ibu Dina sehat. Jantungnya juga terdengar sehat. Dari sini saya lihat tidak ada kekurangan apa pun pada organ tubuh anak ibu. Untuk jenis kelaminnya, sebentar. Yang satu ini perempuan. Lalu yang satunya … perempuan juga.”
“Selamat, Ibu Dina. Beberapa bulan lagi ibu akan memiliki dua gadis cantik,” ucap Dokter Fitri.
Mata Dina berkaca-kaca mendengar perkataan Dokter Fitri. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi seorang ibu dari dua anak. Di samping ranjang Dina, Miranda juga ikut berkaca-kaca. Keduanya melihat bagaimana pergerakan dua bayi milik Dina.
“Mir, keduanya perempuan, Mir.”
__ADS_1
“Iya, Mbak.”
“Semoga aja bayi yang Kamu kandung itu laki-laki ya. Dengan gitu adas cowok di keluarga kita.”
“Aku mah sedikasihnya, Mbak. Entah cewek, entah cowo sama aja buatku. Nggak ada bedanya.”
Setelah Dokter Fitri membersihkan sisa gel yang ada di perut Dina dan mecetak hasil foto USG, kini giliran Miranda yang diperiksa. Miranda melewati pemeriksaan yang sama seperti yang dijalani Dina. Tidak lama kemudian, Dokter Fitri mengumumkan jenis kelamin anak dari Miranda.
“Selamat ya, Bu Mira. Anaknya laki-laki.”
“Wah kalo gini si kembar akan ada yang jagain nantinya. Masih ada cowok di keluarga kita.”
“Abis ini kita belanja ya, Mbak. Beli beberapa baju bayi. Sekarang kan kita udah tahu jenis kelamin mereka.”
“Tentu. Sekalian aja kita beli ranjang bayi dan beberapa kebutuhan bayi lainnya.”
…
Sepulang dari rumah sakit, keduanya langsung menuju ke pusat perbelanjaan. Mengetahui jenis kelamin anak-anak mereka membuat Dina dan Miranda sedikit melupakan kekesalan mereka mengenai ibu-ibu yang sudah menghina anak mereka.
Keduanya berbelanja cukup banyak. Mulai dari ranjang bayi, pakaian bayi yang didominasi warna merah muda dan biru muda, hingga kereta dorong bayi. Mereka berencana menghias kamar anak yang ada di rumah baru.
…
Sejauh mata memandang,s yang Seno lihat hanyalah kegelapan. Ia tidak bisa tahu di mana ia berada saat ini. Yang jelas, ini cukup berbeda dari tempat yang selama ini ia kunjungi selama Sistem memberikannya informasi.
“Sistem, di mana ini?” tanya Seno.
[Host saat ini sedang berada di lorong waktu untuk kembali menuju ke tubuh Host]
“Lorong waktu? Apakah ini karena aku kembali ke masa lalu, dan sekarang kembali ke masaku berada?”
[Ya, Host]
[Sekarang Host tengah kembali ke masa di mana Host berada]
“Lalu, berapa lama berlalu sejak pertemuan yang dilakukan oleh Ratu Leleisa dengan waktu di mana aku hidup?” tanya Seno penasaran.
[Lebih dari lima ribu tahun Host]
“Apa lebih dari lima ribu tahun? Itu adalah jangka waktu yang sangat lama.”
__ADS_1
Seno tidak menyangka perbedaan waktu antara pertemuan yang ia lihat dengan masa sekarang adalah lima ribu tahun lebih. Bagi Seno yang seorang manusia dengan umur hidup rata-rata enam puluh hingga tujuh puluh tahun, lima ribu tahun adalah waktu yang sangat lama. Sampai sekarang saja, penanggalan masehi masih berada di dua ribu sekian.
[Ini karena jarak Galaksi Bimasakti di mana Host tinggal dengan galaksi di mana Ras Hujole tinggal sangatlah jauh]
[Meski menggunakan pesawat ruang angkasa tercepat sekali pun, masih membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk mencapai Galaksi Bimasakti]
[Jadi cukup wajar jika waktu yang terlewat cukuplah lama]
[Apalagi, Planet Bumi yang Host tinggali, peradabannya mulai matang sekitar beberapa ribu tahun belakangan]
[Jadi sistem baru masuk ke Planet Bumi baru beberapa ratus tahun yang lalu]
“Lalu, bagaimana dengan keadaan yang sekarang? Apakah Ras Hujole bisa memenangkan peperangan ini? Atau justru Ras Mogoley?” tanya Seno penasaran.
Dalam waktu lima ribu tahun lebih, jelas ada perubahan. Planet Bumi saja berubah dari yang dulunya tidak ada peradaban, sekarang menjadi memiliki peradaban baru. Lalu belum lagi umur dari kedua ras. Seno sendiri belum tahu berapa usia yang bisa dicapai oleh Ras Hujole atau pun Mogoley. Yang jelas, petinggi kedua ras jelas sudah ada yang meninggal dan berganti dengan orang baru.
Namun, pemikiran Seno itu terbantahkan dengan pendapat dari Sistem. Apa yang Sistem katakan merupakan sesuatu yang cukup mengejudkan bagi Seno.
[Peperangan ini masih terus berlangsung Host]
[Galaksi demi galaksi sekarang berubah menjadi medan pertempuran]
[Baik Ras Hujole mau pun Ras Mogoley tidak ada yang mau mundur dari peperangan ini]
[Lalu mengenai pemikiran Host tentang umur dari Ras Hujole dan Ras Mogoley, mereka memiliki kehidupan abadi Host]
[Kedua ras itu hidup sejak alam semesta ada]
[Mereka adalah bagian dari alam semesta]
[Ras Hujole merepresentasikan kehidupan, sedangkan Ras Mogoley mereperesentasikan kematian]
[Jika mereka tidak mati dalam perang, maka kedua ras itu memiliki umur yang panjang]
“Jadi, Ratu Leleisa, Jenderal Jujuio, dan yang lainnya masih hidup sekarang?”
[Ya mereka masih hidup dan membuat berbagai rencana demi menjaga keseimbangan alam semesta]
Seno tidak menyangka bahwa kedua ras itu memiliki keabadian. Mereka akan hidup selamanya asalkan tidak mati dalam pertempuran. Hal ini mengingatkan Seno akan hasil penelitian Dina. Dalam penelitian itu, seseorang yang terus menerus mengkonsumsi hasil pertanian miliknya, mereka memiliki kesempatan hidup abadi.
Apakah manusia Bumi nantinya bisa mencapai tahap ini? Menjadi makhluk abadi seperti halnya Ras Hujole dan Ras Mogoley?
__ADS_1