
“Wow. Aku tidak menyangka pemilik akun Petani Hebat adalah Kamu Seno.” Ucap Heru setelah kepergian Kevin dan Raisa.
Ketika laki-laki itu tidak peduli dengan pasangan kekasih itu. Mereka bersikap seolah Kevin dan Raisa tidak pernah datang dan berbicara dengan mereka.
“Pada lelang terakhirmu kamu mendapatkan lebih dari sertus juta. Itu adalah angka yang cukup tinggi. Pantas saja kamu mengambil cuti kuliah dan memilih bertani. Pendapatan yang kamu dapatkan sangat tinggi.” Sahut Rudi.
“Jika Kamu melanjutkan kuliah pun, pekerjaanmu pasti hanya seputar mendesain. Kamu akan bekerja dengan orang lain. Sebulannya, jika pesanan banyak paling besar gaji yang kamu terima sekitar dua puluh hingga tiga puluh juta. Jelas menjadi petani seperti yang kamu lakukan sekarang lebih menguntungkan.” Imbuh Rudi.
Seno yang dipuji seperti itu oleh Rudi, merasa canggung. Ia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya dirinya tidak akan bisa memiliki pendapatan sebanyak itu jika tidak ada sistem. Jadi, Seno merasa tidak pantas mendapatkan pujian seperti itu.
“Wah kalau begini kapan-kapan Kamu harus mentraktir kami. Kita rayakan keberhasilanmu itu yang sekarang sudah menjadi petani sukses. Dengan begini, meski tahun depan Kamu nggak lanjut kuliah pun tidak terlalu masalah. Karena Kamu yang sekarang, sudah memiliki penghasilan sebanyak itu.”
“Tidak aku tetap akan melanjutkan kuliahku tahun depan.” Jawab Seno.
Bagaimanapun juga, itu adalah impian mendiang orang tuanya untuk melihat anak-anaknya menjadi seorang sarjana. Jadi selagi dirinya mampu, Seno akan mewujudkan impian mereka.
“Untuk masalah makan-makan, aku tidak masalah dengan hal itu. Bagaimana dengan hari Minggu besok? Sekalian saja ajak yang lainnya.”
Sabtu ini Seno masih perlu mengurusi pengiriman sayur ke Wira Supermarket. Jadi dia bisa melakukanya pada hari Minggu.
“Baiklah aku akan mengabari yang lainnya.” Jawab Rudi.
Tidak lama kemudian, pesta dari Paul itu pun dimulai. Seno lalu mengobrol sebentar dan memberi selamat kepada pemilik acara. Setelahnya, Seno mengobrol dengan temannya yang lainnya.
Ketika pesta itu berakhir, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih tidak terlalu larut bagi Seno untuk pulang. Perjalan dari Kota Y ke rumahnya kurang lebih satu jam setengah. Jadi nantinya Seno akan sampai di rumah tengah malam.
Maka dari itu, ia menolaj tawaran temannya untuk menginap di kosan mereka. Seno rasa tidak masalah baginya pulang sekarang.
__ADS_1
Lagipula, besok pagi ia masih perlu memerah susu sapinya. Jadi ia tidak bisa kembali meninggalkan sapi-sapinya. Itu karena sore ini ia tidak memerah mereka demi menghadiri pesta ulang tahun Paul ini.
Setelah setengah perjalanan, Seno tiba di jalan di mana tidak ada penerangan sama sekali. Hanya penerangan dari lampu motornya saja yang menyorot jalanan di depannya. Maka dari itu Seno melajukan motornya dengan pelan.
Tidak lama kemudian, Seno melihat pancaran cahaya motor dari arah belakangnya. Dari kaca spion, Seno tahu bahwa ada dua buah motor yang sekarang melaju ke arahnya.
Melihat hal itu, Seno cukup lega. Dengan begini, akan ada seseorang yang menemaninya melewati jalanan gelap ini. Seno memang tidak merasa takut bertemu makhluk halus.
Ada yang lebih menakutkan daripada makhluk halus, yaitu manusia. Mereka lebih berbahaya dan bisa mengancam nyawa.
Di jalanan yang sepi seperti ini biasanya menjadi tempat yang bagus untuk seseorang melakukan kejahatan. Paling sering adalah pembegalan. Jadi, ketika Seno mengetahui ada yang menemaninya melewati jalanan sepi ini ia senang.
Namun, ekspetasi seringnya tidak sesuai dengan realita. Pada kenyataannya, orang yang datang ke arah Seno itu bukanlah pengguna jalan yang memang megambil jalan ini untuk pulang. Tetapi, mereka adalah pelaku kejahatan yang Seno takuti.
Para pembegal yang sudah menunggu seseorang melewati jalan yang gelap ini. Mereka sengaja merusak lampu disepanjang jalan ini agar aksi mereka berjalan dengan mudah.
Setelah cukup dekat, parang tersebut ia sabetkan ke lengan kanan Seno. Dengan begini, Seno nantinya akan terkapar dan mereka bisa mengambil motor milik Seno.
Namun, apa yang mereka harapkan tidak juga terjadi. Seno baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun luka pada tubuhnya meski jaket dan kemeja yang ia pakai sudah robek karena terkena sabetan parang.
Ketika menerima sabeten itu, yang Seno rasakan adalah seseorang memukul lengannya dengan sebuah benda tumpul. Namun anehnya ia tidak merasakan sakit apa pun. Bahkan, tangan Seno yang memegang setir motornya, sama sekali tidak.
Meski ia tidak mengalami luka, namun kejadian ini mengejutkannya. Seno lalu melirik ke arah kanannya, ia mengecek keadaan lengannya.
Seno cukup kaget melihat apa yang tengah terjadi. Cahaya dari lampu sorot para pembegal itu membantu Seno melihat dengan jelas keadaan lengannya. Baju dan jaket yang ia pakai sudah robek, tidak hanya itu, ada sebuah garis merah di lengannya.
Seno lalu melihat ke arah sesuatu yang sedang dipegang oleh penumpang motor di sampingnya. Sebuah parang.
__ADS_1
“Sial. Aku menjadi korban begal rupanya.” Umpat Seno dalam hati.
Seno merasa bersyukur bahwa dirinya tidak pernah absen memakan brokoli setelah ia bisa menanamnya. Dengan begitu, kekebalan tubuhnya semakin hari semakin bertambah.
Jika dirinya tidak memakan brokoli itu, maka saat ini lengannya pasti sudah berlumuran darah. Ada juga kemungkinan lengannya itu putus.
Melihat keadaannya yang sekarang kurang baik, Seno langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau lagi menerima serangan dari para pembegal itu.
Meski itu tidak menyakitkan di tubuhnya, tetap saja berada di dekat mereka cukup membahyakan. Mungkin saja mereka nantinya akan menendang motor Seno. Dengan begitu, motor yang Seno kendarai akan oleng. Lalu, mereka bisa dengan mudah merebutnya.
Seno ingat satu kilometer dari tempatnya sekarang, ada sebuah kantor polisi. Jadi, Seno hanya peru bertahan hingga tiba di sana. Setelahnya dirinya akan aman.
Melihat Seno yang kini melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, para pembegal itu pun tidak tinggal diam. Mereka langsung mengejar motor Seno. Cukup jarang bagi mereka menemukan mangsa di sini. Jadi, mereka tidak mau melewatkan Seno.
Saling kejar mengejar di antara mereka pun dimulai. Seno tidak hanya perlu menghindari serangan dari para pembegal yang masih tidak mau berhenti menyabetkan parang kepadanya. Tetapi, Seno juga perlu berhati-hati dengan jalan di depannya.
Jalan yang ia lewati sekarang bukanlah jalan raya. Jadi jalanan ini tidak terlalu lebar. Tidak hanya itu, jalanan ini mengalami kerusakan sedang dengan banyak lubang di sana sini. Jadi Seno juga perlu menghindari lubang itu.
Jika sampai dirinya mengenai lubang itu ketika melaju dengan kecepatan tinggi, maka ia bisa saja terjatuh. Untungnya pengelihatannya cukup tajam sekarang. Dengan tambahan cahaya dari lampu sorot motor milik para pembegal, Seno bisa melewati lubang-lubang itu dengan baik.
Tetapi ini tidak berlaku bagi para pembegal itu. Salah satu motor mereka melanju di lubang yang cukup dalam. Hal itu membuat motor mereka oleng dan mereka menabrak sebuah pohon dipinggir jalan.
Seno tidak mempedulikan hal itu. Entah pembegal itu baik-baik saja atau dalam keadaan bahaya. Ia tidak peduli. Yang terpenting dirinya bisa selamat dari tempat ini.
Tidak lama kemudian, Seno menyadari bahwa tidak ada yang mengejarnya sekarang. Mungkin karena pembegal yang lain ingin mengecek keadaan temannya, jadi mereka melepaskan Seno.
Seno sedikit lega melihat hal itu. Meski begitu, ia tetap akan mampir ke kantor polisi dan melaporkan hal ini. Mungkin saja polisi bisa melacak keberadaan para pembegal itu dan kemudian menangkap mereka.
__ADS_1