
Miranda memegangi wajah Seno, mencoba mencari tahu lebam atau luka lainnya pada wajah laki-laki itu. Tadi dirinya terlambat untuk mencegah Kakaknya membawa Seno. Ia takut Ferdi melakukan sesuatu kepada Seno.
“Sudah bilang aku nggak apa-apa Mir. Ferdi nggak ngelakuin apa pun padaku.” Jelas Seno untuk yang kesekian kalinya sejak dirinya memasuki kamar hotel mereka.
“Ya tapi kan aku ingin memastikan lagi bahwa Mas Seno memang baik-baik saja dan nggak dicelakain sama Mas Ferdi.” Jawab Miranda.
Seno lalu menarik nafas panjang. Ia lalu memandang kedua istrinya bergantian, setelah Miranda melepaskan tangannya, dari wajahnya. Ia bingung sekarang akan tidur dengan siapa dirinya malam ini.
Seolah tahu arti pandangan Seno, wajah Dina dan Miranda langsung memerah karena malu dipandang seperti itu oleh Seno. Tetapi pada akhirnya, Dina membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
“Malam ini Kamu sama aku Sen. Besok barulah Kamu dengan Miranda.” Jawab Dina.
Seno terdiam sejenak. Ia lalu melihat kea rah jam yang ada di nakas. Sekarang baru jam setengah sembilan malam. Resepsi pernikahannya diadakan sore hari. Jadi sekarang belumlah terlalu malam. Hal itu membuat Seno memiliki pemikiran lain untuk kedua istrinya itu.
“Sepertinya itu tidak perlu.”
“Maksud Mas Seno apa? Kita lakuin barenga gitu?” Tanya Miranda kaget.
Melakukannya berdua saja dengan Seno masih membuat mereka malu, apalagi harus ada orang ketiga di antara mereka. Jelas baik Dina maupun Miranda tidak mau melakukan hal itu.
“Tentu saja tidak. Saat pertama aku ingin melakukannya secara spesial. Kita tidak akan melakukannya bersama-sama. Mungkin jika suatu hari nanti kalian menginginkanya bersama, aku tidak masalah. Tetapi sekarang tidak.”
“Jad….” Ucap Dina menunggu Seno melanjutkan ucapannya.
“Jadi dari sekarang hingga jam satu nanti aku akan menghabiskan waktu bersama dengan Dina. Lalu setelahnya, aku akan pergi ke kamar Miranda.” Jelas Seno.
Meskipun keduanya menjadi istrinya, tetapi mereka memiliki kamar sendiri-sendiri. Bahkan di hotel ini pun begitu. Seno memesan president suite yang memiliki dua kamar di dalamnya. Dengan begitu mereka masih tinggal bersama dan memiliki kamar yang berbeda.
__ADS_1
“Memangnya Kamu kuat Sen?” Tanya Dina ingin memastikan.
Bukannya Dina meremehkan suaminya. Hanya saja, laki-laki yang bisa bertahan semalaman terus menerus tanpa berhenti melakukan aktifitas ranjang, sangat tidak mungkin terjadi. Mereka pasti membutuhkan istirahat.
“Tentu saja kuat. Jika kalian tidak percaya, kita akan buktikan semuanya setelah ini.” Jawab Seno.
Untuk memuaskan keduanya, Seno sudah melakukan banyak persiapan. Sebelum ini dia sudah memakan cukup banyak nanas hasil kebunnya. Ia yakin saat ini kecebong yang ia miliki cukup banyak. Sekarang saja Seno merasa kantungnya sudah penuh.
Selain nanas, Seno juga sudah menyiapkan cokelat dan anggur yang akan membantu meningkatkan tenaganya. Jadi Seno rasa, dirinya sanggup memuaskan keduanya di malam pertama pernikahan mereka.
“Mas Seno percaya diri sekali. Kalau Mas Seno nggak mampu melakukannya, apa yang akan Mas lakukan?” Tanya Miranda menantang Seno.
Miranda masih sama seperti Dina, tidak terlalu percaya bahwa Seno mampu melakukan hal itu. Masih ada keraguan di hati mereka.
“Jika aku tidak bisa melakukannya, maka selama satu minggu penuh aku akan menuruti semua yang kalian inginkan tanpa terkecuali.” Jawab Seno.
Seno kemudian mengajak Dina masuk ke kamar yang ada di sebelah kanan, sementara Miranda memilih masuk ke kamar yang sebelah kiri. Sebelumnya Dina bisa bersikap biasa saja, tetapi sekarang ketika sudah sekamar saja dengan Seno, rasa gugup langsung menyerangnya.
Melihat hal itu Seno mencoba menenangkan Dina dan merayunya. Awalnya hanya memeluk dan menciumi wajah Dina. Tetapi pada akhirnya rayuan Seno itu berlanjut ke tahap yang lebih serius.
Tidak lama kemudian, satu persatu baju yang keduanya pakai berserakan di lantai. Keduanya pun bergulat di atas ranjang. Erangan dan geraman terdengar bersahut sahutan di ruangan tersebut. Pergulatan keduanya insane manusia itu berlangsung beberapa ronde.
Dina pada akhirnya bisa tertidur dengan senyum puas. Ternyata melakukan pergulatan ranjang sangat menyenangkan. Ada rasa syukur dalam diri Dina sekarang ini. Dia merasa beruntung bahwa Seno masih memiliki istri yang lain.
Jika saja dirinya hanya istri Seno satu-satunya, maka dirinya tidak akan bisa mengimbangi gairah Seno yang cukup besar. Dengan begini, ia bisa membagi beban bersama dengan Miranda. Ia bisa melanjutkan tidur tenang tanpa diganggu Seno.
…
__ADS_1
Setelah puas dengan Dina, Seno langsung pergi ke kamar Miranda. Kombinasi nanas, cokelat dan anggur yang ia konsumsi ternyata memberikan efek yang cukup kuat bagi Seno. Ia tidak merasakan lelah sama sekali. Seno bahkan masih bisa melakukan beberapa ronde lagi hingga besok pagi.
Kombinasi produknya ini pasti akan sangat disukai para suami. Sebenarnya tidak juga para suami, istri pun juga akan menyukai hal ini. Seno harus memikirkan promosi apa yang harus ia lakukan untuk mengenalkan kombinasi ini pada para pelanggannya.
Pelanggannya sudah mengenal cokelat yang sebelumnya Seno pasarkan tetapi tidak dengan nanas dan anggurnya. Seno mengalihkan pemikirannya dari hal itu. Untuk saat ini ada hal yang lebih penting yang perlu Seno lakukan. Memuaskan Miranda.
Ketika Seno masuk ke kamar yang ditempati Miranda, istrinya itu sudah terlap. Meski begitu Seno tidak membiarkannya beristirahat begitu saja. Sebelum ini mereka sudah membuat sebuah taruhan. Seno tidak mau dirinya kalah dalam taruhan ini.
Ia membangunkan Miranda dengan caranya sendiri. Tidak dengan menggoyang-goyangkannya, tidak juga dengan memanggil namanya. Tetapi Seno menciumi seluruh wajah Miranda hingga istrinya tersebut bangun.
Langsung saja Seno memulai pergulatannya yang kedua. Setelah melakukan pergulatan dengan Dina, Seno sekarang lebih berpengalaman lagi. Dengan mudahnya Seno membuat Miranda mendesah senang.
Sama seperti yang Seno lakukan sdengan Dina, pergulatan Seno dengan Miranda ini tidak selesai hanya dengan satu ronde. Ia melakukannya beberapa kali. Seno baru berhenti ketika Miranda sudah merasa tidak kuat lagi.
Setelah itu, Seno menggendong Miranda dan membawanya menuju ke kamar Dina. Di sana Seno melihat Dina yang tertidur pulas. Kedatangan Seno dan Miranda nampakknya sama sekali tidak mengganggunya.
….
Seno terbangun oleh suara alarm yang sudah menunjukkan pukul enam pagi. Awalnya Seno merasa cukup kaget karena terbangun di tempat yang asing. Namun setelah menerjabkan matanya beberapa kali, Seno baru ingat dimana ia berada sekarang.
Di sampingnya, Dina dan Miranda masih tertidur pulas. Dengan gerakan sepelan mungkin, Seno bangkit dari ranjang. Ia masih ingin membiarkan kedua istrinya istirahat.
Seno langsung menuju ke dapur yang ada di kamar hotel mereka. Ia berencana membuatkan sarapan untuk kedua istrinya. Ini adalah hadiah kecil yang Seno berikan untuk kedua istrinya yang semalam sudah memberinya kesempatan merasakan kebahagiaan dunia.
Makanan yang Seno masak hanya berupa sup ayam dengan campuran beberapa sayuran. Seno menambahkan wortel, buncis, dan brokoli dalam masakannya. Karena mereka sudah resmi menjadi istrinya, Seno akan membagi brokoli ini untuk keduanya.
Melihat brokoli ini, Seno jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana jika seorang perempuan yang belum menikah mengkonsumsi ini. Apakah segel mereka mudah dirobek? Kemarin saja Seno sedikit kesusahan karena rapatnya milik kedua istrinya.
__ADS_1
Hal itu tiba-tiba membuat Seno merasa kasihan kepada suami kedua adiknya nanti. Pasti malam pertama mereka akan sangat menyulitkan. Siapa pun yang akan menjadi adik iparnya, pasti akan mengalami sebuah penderitaan.