Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 141 Menaklukkan Momoy


__ADS_3

Pemer kekuatan yang dilakukan ketiganya membuat Momoy, pemimpin kawanan burung itu merasa tertekan. Dirinya baru menjadi pemimpin kawanan selama sepuluh tahun. Belum banyak pengalaman yang dimilikinya untuk mengatasi masalah yang seperti ini.


Awalnya Momoy cukup senang, wilayah miliknya memecah dari dunia aslinya dan membentuk dimensi baru. Dengan begitu, dirinya tidak akan memiliki musuh. Ia bisa mengembangkan kawanannya dan tidak perlu khawatir akan adanya ancaman.


Lalu, meski ada portal ke dunia lain pun, Momoy tidak menyuruh rakyatnya untuk menyebrang dan menyerang mereka. Makanan mereka yang kebanyakan adalah serangga cukup melimpah di dimensi ini.


Apalagi mereka memiliki pengetahuan untuk membudidayakan serangga-serangga itu. Sudah pasti mereka tidak butuh menyerang dunia lain hanya untuk memperoleh makanan.


Jika bisa hidup tenang dan damai, kenapa juga mereka harus bersusah payah dalam perang. Toh menjalakan hidup seperti ini tidak terlalu buruk.


“Jadi bagaimana? Apakah Kamu mau menyerahkan wilayahmu dan tunduk pada Bos Kami?”


Suara Thorbiorn menyadarkan Momoy dari lamunannya. Ia lalu memandang ke arah Thorbiorn dan kedua rekannya dengan pandangan yang cukup serius.


“Memangnya keuntungan apa yang bisa aku dapatkan jika aku menyerahkan wilayahku ini? Tidak mungkin bukan aku tidak mendapatkan apa-apa dari transaksi ini?” tanya Momoy dengan cukup serius.


“Makanan enak mungkin? Bosku memiliki banyak makanan enak yang bisa membantumu meningkatkan kekuatanmu. Bukankah aku sudah bilang dengan menjadi anak buah Bosku, Kau akan mendapatkan keuntungan banyak, tidak aka nada rugi.”


“Tetapi jika Kamu menolaknya, maka Kamu dan seluruh rakyatmu akan kami musnahkan. Yang Bosku butuhkan adalah wilayah milik kalian, bukan anak buah. Jadi bijaklah dalam menentukan pilihan.” Ucap Thorbiorn mengakhiri penjelasannya.


Ucapan Thorbiorn tersebut membuat Momoy terdiam. Ia terlihat mempertimbangkan ucapan Thorbiorn barusan. Tetapi,, tidak ada lagi yang bisa Momoy pertimbangkan. Jika dirinya menolak, maka ketiga orang ini akan melawannya.


Meski ia dan semua rakyatnya ungul dalam jumlah, tetapi kualitas bertarung mereka sangat jauh dari ketiga orang ini. Jika mereka bertarung yang ada adalah pembantaian sepihak. Sebelumnya saja seratus rakyatnya mati dalam waktu singkat. Momoy tidak mau itu kembali terjadi.


“Baiklah aku akan menyerahkan diriku, rakyatku, dan wilayah kekuasaanku menjadi bawahan dari Bosmu itu.” jawab Momoy.


“Apa Kamu yakin dengan pilihanmu?”


“Apa aku punya pilihan lain?” Momoy menjawab pertanyaan Thorbiorn dengan memberikan pertanyaan.

__ADS_1


“Tidak. Pilihanmu itu sudah tepat.” Sahut Azkareia.


Setelah mendengar jawaban pasti dari Momoy, Thorbiorn mengangguk pelan.


“Apakah Kamu bisa keluar dari dimensi ini?” tanya Thorbiorn.


Momoy menggeleng pelan.


“Aku tidak bisa meninggalkan wilayahku. Selama aku masih memiliki inti dari dimensi ini, aku tidak bisa pergi kemana pun.”


“Kalau begitu, Tiarsus jemput Bos dan bawa dia kemari. Kita perlu segera menyelesaikan hal ini dan jangan sampai membuat Bos menunggu terlalu lama.” Pinta Thorbiorn.


“Baiklah aku akan segera pergi.”



Ketika Tiarsus keluar dari portal, ada ratusan senjata yang sudah mengarah padanya. Kali ini portal ke dimensi lain tidak berada di dalam gua, melainkan di dekat pepohonan yang ada di dalam hutan.


Sebelum menyebrang, Tiarsus sudah lebih dahulu memasang barier miliknya. Ini karena Thobiorn sudah memperingatkannya bahwa dirinya akan mendapatkan brondongan tembakan dari pihak tentara setelah keluar dari portal.


Benar saja, setelah cahaya putih yang menyelimuti tubuhnya hilang, Tiarsus diberondong dengan tembakan yang cukup banyak. Ia tidak memiliki waktu untuk meladeni para tentara. Pasti Bosnya sudah menunggu kabar darinya sekarang.


Dengan lihai Tiarsus menggunakan kepala dan pundak para tentara untuk dijadikan pijakan. Ia begitu cepat melewati mereka. Dalam waktu satu menit, Tiarsus sudah menghindari kepungan tentara dan pergi menuju ke arah portal dimensi di mana Bosnya berada.


Tiarsus begerak dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan memakai sihir miliknya untuk mempercepat langkah kakinya. Jarak enam kilometer bisa Tiarsus tempuh dalam waktu kurang dari lima menit.


Tiarsus cukup hafal titik terakhir di mana portal itu berada, jadi ia tidak akan tersesat. Apalagi tanah tempat portal itu berada menghitam, sebagai tanda letak portal. Semua mempermudah Tiarsus.


Tiarsus cukup kaget ketika melihat adanya tentara yang berjaga di sekitar portal menuju dimensi tempat tinggal Gylinox. Meski jumlah mereka tidak banyak, tetap saja itu adalah tentara yang bersenjatakan lengkap.

__ADS_1


Tiarsus melihat para tentara itu tengah berjongkok di sekitar tanah yang menghitam. Mereka terlihat ingin memastikan sesuatu. Tetapi mereka tidak akan bisa menemukan apa pun.


Portal milik Seno hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu. Tidak hanya itu yang bisa melewatinya pun orang-orang yang sudah mendapatkan ijin Seno.


Jadi sekeras apa pun mencari, para tentara ini tidak akan menemukan jawaban atas kejadian kilatan cahaya yang sebelumnya terjadi.


Cukup lama Tiarsus mengamati tentara tersebut. Setelah dirasa cukup, Tiarsus kembali bergerak menujuke portal dimensi milik Seno. Ia tidak mempedulikan para tentara yang ada di sana.


Kehadiran Tiarsus ini cukup mengejutkan tentara yang ada. Beberapa tentara yang sigap, langsung memberondong Tiarsus dengan tembakan. Namun semua peluru mereka tertahan oleh barier miliknya.


Beberapa orang tentara membelalakkan mata mereka kaget ketika melihat tubuh Tiarsus yang diselimuti cahaya, sebelum kemudian menghilang tidak berbekas.


“I-ni tidak mungkin bukan?” ucap seorang Kapten tim patroli yang datang untuk mengecek keadaan tempat muculnya kilatan cahaya.


“Ini seperti yang mereka takutkan. Kilatan cahaya tadi adalah pertanda munculnya portal. Lalu portal ini adalah portal menuju ke dimesni di mana para makhluk berjubah hitam itu berasal.” Imbuh sang Kapten.


“Tetapi Kapten, kenapa kita tidak menemukan apa pun di sini? Bukankah kita sudah cukup lama berada di sini? Kenapa kita tidak melihat keberadan portal itu? Lalu, para makhluk berjubah hitam itu kenapa tidak ada yang menyerang kita?” tanya salah satu anggota patroli.


“Tidak semua makhluk dunia bawah akan langsung menyerang kita. Buktinya mahkluk dari dunia bawah yang selama ini kita jaga, tidak pernah menyerang kita bukan?” sahut tentara lainnya.


“Tetapi portal mereka masih terlihat bukan? Tidak seperti portal yang di sini. Kita tidak bisa merasakan keberadaan portal tersebut. Jika tidak ada makhluk berjubah hitam yang menyebrang, maka kita tidak akan pernah tahu keberadaan portal ini.”


“Sudahlah jangan lagi berdebat. Memperdebatkan hal yang seperti ini bukanlah tugas kita. Lebih baik kita melaporkan segala temuan kita kepada markas. Biarkan mereka yang mengambil keputusan mengenai apa yang harus kita lakukan sekarang ini.”


Ucapan Kapten tersebut memutus perdebatan di antara anak buahnya. Ucapan Kapten mereka ada benarnya, ada orang yang lebih ahli untuk memperdebatkan hal ini. Tentara dengan pangkat rendah seperti mereka hanya memiliki kewajiban menjalankan tugas dengan baik.


“Sekarang, kalian berpencar. Pilih jarak aman antara portal ini dan tempat kalian berada. Arahkan senjata kalian ke arah portal itu. Kita akan berjaga di sini sampai markas memberikan tugas lain kepada kita.”


“Siap laksanakan, Kapten.” Ucap bawahan dari Kapten tersebut dengan serentak.

__ADS_1


Mereka langsung melakukan apa yang ditugaskan oleh Kapten mereka. Membuat jarak aman antara diri mereka dan portal, lalu mengarahkan senjata mereka ke sana.


Meski timah panas yang mereka tembakkan tidak memiliki pengaruh besar untuk mahkluk berjubah hitam, tetapi ini memberikan rasa aman bagi mereka untuk berjaga di sini.


__ADS_2