
Suasana di perkemahan tentara sekarang ini cukup tegang. Para tentara bersiap dengan senjata masing-masing. Semua senjata itu mengarah ke tempat yang sama, mulut gua. Jika ada pergerakan kecil dari dalam sana, para tentara ini sudah siap menembakkan senjata mereka.
Beberapa tentara terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Tetapi mereka tetap mengikuti perintah. Tentara ini adalah mereka yang baru saja datang ke perkemahan ini untuk memberikan bantuan. Mereka tidak paham apa yang sekarang sedang mereka hadapi.
Di salah satu menara pengawas, beberapa orang Jendral terlihat hadir. Mereka semua memasang wajah yang cukup tegang sekarang. Semua orang memperkirakan bahwa ini adalah pertarungan besar milik mereka.
“Bagaimana apakah sudah ada perkembangan penyelidikan mengenai sosok hitam tersebut?” Tanya Roy.
“Lapor Jendral, kami belum menemukan asal usul mereka. Sosok berjubah hitam itu tidak meninggalkan jejak sama sekali. Beberapa anak buahku juga sudah aku suruh untuk mencoba mencari jejak mereka. Namun aku tidak menemukannya.” Lapor Aprilio.
Sejak kemunculan tiga sosok berjubah hitam, Aprilio memang sudah menyuruh beberapa orang yang pandai dalam melacak untuk mencaris jejak mereka. Aprilio ingin mencari dari mana datangnya mereka. Tetapi, anak buahnya tidak menemukan keberadaan jejak itu.
Padahal ini berlum terlalu lama sejak munculnya sosok berjubah hitam tersebut. Lalu, tidak ada hujan atau apa pun yang bisa menghapus jejak mereka. Jadi sangat mustahil untuk jejak ketiga sosok berjubah hitam itu tidak meninggalkan jejak sama sekali.
Apakah mereka bertiga terbang dan tiba-tiba muncul di dekat perkemahan? Itu malah lebih mustahil lagi. Aprilio dibuat frustrasi hanya karena mencari jejak ini.
“Tidak satu pun jejak kalian temukan?” Tanya Roy dengan penuh penekanan.
“Maaf Jendral, kami gagal dalam melaksanakan tugas.”
Roy sebenarnya ingin marah kepada Aprilio karena tidak bisa melakukan tugas ini. Tetapi ia tidak jadi melakukannya. Mau bagaimana lagi, musuh yang mereka hadapi bukan sembarangan musuh. Asal usulnya tidak bisa dijelaskan secara nalar.
Ada kemungkinan ketiga sosok berjubah hitam itu sama seperti mahkluk dunia bawah. Asal usul mereka tidak terlalu jelas. Jadi cukup wajar untuk Aprilio gagal dalam menjalankan tugas ini.
__ADS_1
Ketika Roy dan Aprilio sedang mengobrol, tiba-tiba saja terjadi keributan di antara para tentara yang bersiaga di dekat portal. Keduanya mendengar seseorang sudah memberikan aba-aba untuk bersiap melakukan tembahkan.
“Sepertinya sudah ada pergerakan dari dunia bawah. Sekarang kita harus memfokuskan diri ke pertarungan ini. Beberapa pasukan bantuan sedang dalam perjalanan kemari. Jadi, minta semua tentara yang ada di sini menahan serangan selama mungkin. Mereka harus bisa bertahan sampai bantuan datang.” Perintah Roy.
“Siap laksakan, Jendral.”
….
Portal menuju ke dunia bawah saat ini diselimuti dengan cahaya berwarna putih. Itu mirip dengan tanda akan ada yang menyebrang portal tersebut. Tetapi, tidak ada pergerakan yang terjadi.
Biasanya, meskipun yang menyebrang cukup banyak, mereka akan bergantian menyebrang. Cahaya putih yang ada diportal memang akanettap ada, tetapi mahkluk dua bawah satu persatu akan muncul. Tetapi sekarang tidak ada yang seperti itu.
Ini malah membuat tentara yang sudah berpengalaman menjaga portal ini menjadi was-was. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Apakah jumlah mereka menyebrang akan banyak dalam satu waktu? Ataukah, sekarang ada makhluk yang lebih kuat yang menyebrang?
Tidak lama kemudian, para tentara itu mendengar suara gemuruh yang cukup keras. Itu seperti banyaknya batu yang berjatuhan. Beberapa orang saling pandang dan melihat ke sekitar mereka.
Tempat mereka berada saat ini adalah daerah pegunungan. Jadi, ada kemungkinan terjadinya longsor. Apalagi portal ke dunia lain itu berada di dalam gua yang teletak di dekat tebing. Jika terjadi sesuatu dan tebing itu longsor, maka mereka yang sekarang berjaga di sini akan tertimpa longsor.
Tidak lama setelah suara gemuruh itu muncul, gempa yang cukup besar terjadi. Mereka yang berdiri tidak bisa lagi mempertahankan posisi mereka. Satu persatu para tentara berjatuhan. Beberapa orang dengan tanggap mengamankan senjata mereka.
Mereka tidak mau ketika terjatuh, tidak sengaja menekan pelatuk dan pada akhirnya malah menembaki rekan mereka. Guncangan yang cukup kuat itu menghancurkan beberapa tenda semi permanen yang ada di sana.
Menara pengawas yang terbuat dari kayu yang saat ini ditempati oleh Roy, Aprilio, dan beberapa pemimpin tetinggi tentara, juga mengalami kerusakan. Akibatnya mereka terjatuh dan terluka. Beberapa mengalami patah tulang, beberapa dahinya juga berdarah.
__ADS_1
Kepanikan terjadi di mana-mana. Apalagi masih ada kehawatiran mahkluk dunia bawah menyerang. Mereka tidak bisa merasa tenang.
Gempa itu terjadi selama tiga menit. Setelah gempa itu selesai, beberapa menolong rekan mereka, beberapa juga bersiaga mengarahkan pandangan mereka menuju ke arah portal. Mereka masih ingat apa yang membuat mereka ada di sini.
“Hilang. Portalnya hilang.” Seorang tentara berteriak dengan keras.
Teriakan tersebut membuat mereka yang ada di sana mengarahkan pandangan mereka ke arah lokasi di mana portal sebelumnya berada. Mereka tidak peduli jika tubuh mereka terluka. Asalkan mereka bisa bergerak semua melihat ke arah yang sama.
Meski portal tersebut menghilang, tidak semua orang berteriak kesenangan. Yang ada mereka malah semakin terlihat serius lagi.
“Ini, apakah portal itu akan menghilang selamanya? Ataukah setelah ini akan ada portal yang lebih besar lagi dan membawa musuh yang lebih banyak?” Ucap tentara yang lain menyuarakan kekhawatiran yang lainnya.
Inilah yang mereka takutkan. Ada musuh yang lebih besar lagi setelah ini. Tidak mungkin mereka bisa senang hanya karena portal yang mereka jaga menghilang. Itu belum menjamin bahwa ini adalah akhirnya segalanya. Bisa saja itu malah awal dari sesuatu yang lebih buruk lagi.
Roy yang tengah mengalami patah tulang kaki juga melihat semua itu. Ia memiliki pemikiran yang sama dengan tentara lainnya. Wajahnya cukup serius sekarang. Ia tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya karena patah tulang.
Roy lalu mengedarkan pandangannya kepada beberapa tentara yang tidak mengalami luka. “Segera panggil minta tim medis datang kemari. Kumpulkan mereka yang terluka di area terbuka dan hitung jumlah korban yang ada.” Perintah Roy.
“Siap laksanakan, Jendral.” Jawab tentara tersebut yang langsung pergi melaksakan tugas setelah ia memberihormat kepada Roy.
“Untuk mereka yang masih sehat dan masih bisa mengangkat senjata mereka, minta mereka tetap bersiaga akan serangan yang bisa datang kapan saja. Lalu hubungi juga bantuan yang sedang dalam perjalanan kemari. Minta mereka segera bergegas kemari.”
“Siap laksanakan, Jendral.” Jawab tentara yang lain.
__ADS_1
“Aku harap ini semua adalah akhir dari portal ini dan bukan merupakan awal dari kejadian buruk.” Gumam Roy dalam hati.