Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 212


__ADS_3

Angin dingin langsung menyambut kedatangan Seno setelah ia keluar dari portal. Meski begitu, angin dingin yang ia rasakan ini tidak terlalu dingin jika dibandingkan dengan dimensi para serigala yang ia pakai untuk berteleportasi.


Seno juga melihat sebuah helikopter berada ditengah pulau. Beberapa orang telihat berada di sekitar helikopter sembari memejamkan mata mereka. Mungkin cahaya putih tadi menyilaukan bagi mereka.


“Ringkus mereka semua!” perintah Seno kepada anak buahnya.


“Baiklah Bos,” jawab yang lainnya secara bersamaan.


Dengan sigap anak buah Seno bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari satu menit, semua orang yang ada di sana sudah berhasil dilumpuhkan. Mereka diikat dengan cukup kuat oleh Thorbiorn.


“Pasti Profesor Giorgio ada di laboratorium miliknya. Sekarang, kalian berpencarlah dan cari di mana pintu masuk laboratorium itu. Ada kemungkina itu berada di dimensi lain. Jadi, periksa semua tempat dengan teliti.”


“Baik, Bos.”


“Baiya, Baiyo, kalian akan tetap tinggal untuk menjaga orang-orang ini. Jika ada yang datang, maka kalian ringkus juga mereka.”


“Tentu, Bos Seno.”


Seno pun ikut dengan yang lain mencari keberadaan Profesor Giorgio. Pulau ini tidak terlalu luas, Seno yakin hanya butuh beberapa saat saja untuk bisa menemukan keberadaan laboratorium Prodesor Giorgio.


“Bos sepertinya aku menemukan sebuah gua di sini.”


Suara teriakan Azkareia terdengar. Hal ini membuat Seno mengarah ke arah Azkareia untuk melihat gua tersebut. Mulut gua itu tidak bergitu besa, hanya sekitar dua meter saja. Namun, gua tersebut memanjang ke dalam.


Tidak ada pencahayaan di gua ini. Berbekal cahaya lampu ponselnya, Seno menyusuri gua tersebut. Ia lalu berjalan cepat menyusuri gua itu dengan ditemani Azkareia. Setelah satu menit berlari, Seno menemukan pintu yang cukup aneh menurutnya. Pintu itu terbuat dari besi, yang menempel di dinding gua.


“Azka, buka pintu itu!” perintah Seno.

__ADS_1


Ketika Azkareia membukanya, Seno melihat kebaradaan portal di sana. Rupanya pintu besi ini dipakai untuk mengelabuhi orang lain. Dengan adanya pintu besi tadi, orang tidak akan pernah curiga dengan adanya tempat lain di balik pintu.


Seno langsung memasuki tempat itu. Ia langsung melihat banyaknya ruangan yang disekat dengan pelat besi. Seno bisa melihat api sudah memenuhi dimensi itu. Ini karena barang-barang yang ada di sana sudah banyak yang terbakar.


Saat itu juga Seno tahu bahwa saat ini ia terlambat datang. Entah siapa yang memberitahunya, tetapi Seno yakin Profesor Giorgio tidak ada di sini. Ada kemungkinan ia kabur lebih dulu. Pantas saja orang-orang yang tadi ia ringkus terlihat terburu-buru pergi dari sini.


“Sial, aku terlambat,” umpat Seno keras.


Seno lalu berlari keluar dari gua. Ia perlu mengejar Profesor Giorgio. Seno yakin mereka belum terlalu jauh. Jika ia pergi ke arah yang tepat, maka ia bisa menghabisi mereka.


“Momoy, Laluna, Lalana, kemarilah,” Teriak Seno setelah dirinya keluar dari gua. Mereka yang terpanggil, buru-buru berlari menghampiri Seno.


“Ada apa, Bos? Apakah Bos memiliki tugas lain untuk kami?” tanya Laluna.


“Ya, sekarang kalian terbanglah ke arat timur laut. Profesor Girogio sudah kabur. Kita perlu mengejarnya dan menghabisi dia sebelum dia sampai di daratan,” jelas Seno.


Ia masih dari koordinat pulau ini kalau daratan lain terdekat dari sini berada di arah timur laut. Kemungkinan besar Profesor Giorgio kabur ke arah sana. Jika Profesor Giorgio sudah sampai di daratan, maka akan sulit bagi Seno menemukan dia.


“Baiklah, Bos.”


Momoy, Laluna, dan Lalana pun berubah ke wujud asli mereka. Tiga burung besar yang tiba-tiba muncul membuat orang-orang yang Seno ringkus merasa ketakutan. Mereka tidak menyangka bisa melihat kejadian yang seperti ini.


Seno lalu naik di atas punggung Laluna. Ia masih ingin ikut dalam pengejaran ini. Seno tidak mau nantinya mereka salah sasaran. Target mereka adalah Profesor Giorgio. Jika Seno membiarkan anak buahnya pergi sendiri dan hanya meminta mereka menghancurkan semua helikopter yang mereka lihat, maka mereka bisa menyerang orang yang tidak bersalah.


Ketiga burung itu terbang dengan kecepatan tinggi. Untuk melindungi Seno dari terpaan angin serta agar membuat Seno lebih nyaman, Laluna memasang semacam barier di depan Seno. Barier ini berbeda dari barier milik Tiarsus. Barier ini hanya melindungi Seno dari angin berlebihan saja.


Setelah mereka menempuh jarak tiga puluh lima kilometer dari pulau, Seno melihat keberadaan helikopter di depan mereka. Ia lalu memberi instruksi kepada Momoy dan Lalana untuk kembali ke wujud manusia mereka.

__ADS_1


Dengan begini, mereka tidak akan terlalu menarik perhatian orang lain. Apalagi Momoy yang seperti mercusuar terbang. Jika nanti helikopter ini bukanlah helikopter milik Profesor Giorgio, maka mereka bisa pergi dengan tenang.


Seno meminta Laluna untuk terbang sekilas di samping helikopter. Ia ingin melihat siapa saja penumpang yang ada di sana. Meski keadaan cukup gelap, sorot lampu temaram yang berada di dalam helikopter bisa membantu Seno melihat jelas siapa yang ada di dalam sana.


“Ternyata ini benar helikopter milik Profesor Giorgio. Lalana, apakah Kamu bisa mengancurkan baling-baling helikopter ini?” tanya Seno.


Seno masih ingat janjinya kepada Anthony. Ia akan membunuh Profesor Giorgio di hadapannya. Jika Seno menghancurkan helikopter ini sekarang dan membuat semua orang yang ada di dalam mati, maka ia tidak akan bisa menyiksa Profesor Girogio.


“Tentu bisa, Bos. Itu adalah hal yang mudah untukku,” jawab Lalana.


Lalana langsung mengibaskan sebelah tangannya, yang langsung membuat baling-baling dan ekor helikopter terputus begitu saja. Akibatnya, helikopter itu langsung menukik ke bawah, seolah akan terjatuh ke laut. Teriakan keras juga terdengar dari dalam helikopter tersebut.


Namun, sebelum helikopter itu benar-benar terjatuh ke laut, Laluna sudah lebih dahulu menangkapnya. Kedua kaki Laluna mencengkeram badan helikopter itu.


“Bagus, sekarang kita kembali ke pulau,” ucap Seno cukup puas dengan kinerja anak buahnya.


Sepertinya Seno juga perlu melatih anak buahnya yang memilki kemampuan terbang, terutama pasukan hewan miliknya. Ada kemungkinan mereka akan sangat dibutuhkan dalam pertarungan udara di masa mendatang.


Laluna menjatuhkan helikopter yang terlihat tidak berbentuk itu di tengah pulau. Meski jarak ia menjatuhkan tidaklah terlalu tinggi, tetapi yang dilakukan Laluna ini berhasil membuat mereka yang ada di dalam sana mengalami guncangan keras.


“Keluarkan semua orang yang ada di dalam sana,” perintah Seno yang baru saja turun dari punggung Laluna.


Lalana dan Momoy pun dengan cekatan mengeluarkan satu persatu penumpang yang ada di dalam sana. Setelah semuanya sudah di luar, pandangan Seno tertuju pada sosok laki-laki yang memakai jas warna putih. Ia bisa menebak bahwa orang ini adalah Profesor Giorgio.


“Kau pasti Profesor Giorgio bukan?” tanya Seno.


“S-siapa kalian. Kenapa kalian menyerangku?” tanya Lucas dengan sedikit ketakutan.

__ADS_1


Apa yang ia alami barusan sangat di luar nalar. Helikopter yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba mengalami kerusakan separah itu. Baling-baling patah, ekor helikopter patah. Semua itu terasa cukup aneh.


Apalagi, ketika helikopter mereka yang hendak jatuh ke laut, tiba-tiba kembali melayang di duara dan terbang menuju pulau yang sebelumnya mereka tinggalkan. Barulah ketika mereka sampai di pulau, semua yang adas di helikopter tahu apa yang membuat mereka bisa begini.


__ADS_2