Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 240 Kemarahan Dua Istri Seno


__ADS_3

Dengan telaten, Dina menyeka tubuh Seno dengan air hangat. Ini ia lakukan bergantian dengan Miranda setiap harinya, membersihkan tubuh Seno. Semenjak Seno tertidur, keduanya tidak pernah sekali pun absen dalam membersihkan tubuh suami mereka.


“Ini sudah hampir dua minggu, Mbak Dina. Kenapa Ayah nggak juga bangun?” tanya Miranda yang saat ini membasuh kaki Seno.


“Aku juga tidak tahu, Mira. Ayah bilang ini tidak akan lama, hanya beberapa hari saja. Namun, sekarang sudah mau dua minggu. Entah kenapa ini membuatku khawatir.”


Sudah hampir dua minggu Seno tertidur, lebih tepatnya dua belas hari. Namun, Dina dan Miranda sama sekali tidak melihat tanda-tanda bahwa Seno akan terbangun dalam waktu dekat. Meski Seno sudah mengatakan kepada mereka bahwa ini tidak berbahaya, tetap saja Dina dan Miranda mengkhawatirkan keadaan Seno sekarang.


“Apakah kita akan tetap menunggu Ayah bangun atau kita pergi ke rumah sakit sendiri?” tanya Miranda.


Besok, rencananya mereka akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Mereka sudah bisa mengetahui jenis kelamin anak mereka sekarang. Menurut Dina dan Miranda, Seno berhak ikut dan mengetahui secara langsung jenis kelamin anak mereka.


“Kita lihat besok saja, Mira. Jika besok Ayah tidak juga bangun, maka kita akan pergi ke rumah sakit sendirian. Tidak masalah jika Ayah tidak ikut. Kita nanti bisa membuat acara untuk mengumumkan jenis kelamin anak-anak kita di pesta itu. Sekalian saja syukuran empat bulanan kehamilan kita.”


“Sudah saatnya kita memeriksakan diri. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan anak-anak kita jika kita telat memeriksakan kandungan kita,” jawab Dina.


“Baiklah. Aku akan mengikuti saranmu, Mbak Dina. Jika besok Ayah tidak juga bangun kita berangkat sendiri.”


Namun, sampai jam dua belas siang keesokan harinya, Seno tidak juga bangun. Hal ini membuat Dina dan Miranda terpaksa pergi ke dokter kandungan tanpa ditemani Seno seperti biasanya.


Dengan disupiri Azkareia dan ditemani oleh Ruisyo, mereka berdua berangkat ke rumah sakit. Sampai di ruang tunggu, sudah banyak ibu-ibu berbadan dua menunggu nama mereka di panggil. Di samping ibu-ibu itu, terlihat suami mereka siaga menemani.


Dina dan Miranda lalu mengambil tempat duduk kosong yang ada di sana. Beberapa orang memandang sekilas ke arah Dina dan Miranda. Para suami juga memandang keduanya lebih lama dari yang semestinya.


Mungkin karena keduanya yang hampir setiap hari mengkonsumsi buncis membuat kulit mereka lebih berseri. Mereka yang sebelumnya sudah cantik, kini terlihat lebih cantik. Atau mungkin aura ibu hamil dalam diri Dina dan Miranda yang membuat mereka lebih bercahaya.


Beberapa ibu-ibu yang menyadari perilaku suami mereka, langsung saja mencubit perut suami mereka. Ibu-ibu itu kesal karena suami mereka justru memandang perempuan lain ketika masih bersama dengan istrinya. Apalagi sekarang istrinya sedang hamil.


“Siapa yang hamil, Mbak?” tanya seorang ibu-ibu yang suaminya tadi ikut memandang Dina dan Miranda lebih lama dari yang seharusnya.

__ADS_1


“Kami berdua yang hamil, Bu,” jawab Dina sopan.


“Oh, terus mana suaminya, Mbak? Kok nggak diajak waktu periksa ke dokter kandungan?”


“Suami kami masih kerja, Bu.”


“Heh.” Ibu-ibu yang lain langsung mendengus mendengar jawaban Dina. Dia seolah tidak suka dengan jawaban Dina barusan. Apalagi Dina selalu menampakkan senyumnya seolah tidak bersalah sedikit pun.


“Halah, kalian pasti pelakor bukan? Anak yang kalian kandung itu pasti anak haram, anak di luar nikah. Ke dokter kandungan kok nggak ditemani suami. Sudah keliatan bahwa kalian ini nggak punya suami. Anak yang kalian kandung itu bukan anak dari perkawinan resmi.”


Mendengar pernyataan ibu-ibu itu, Dina dan Miranda secara bersamaan memandangnya dengan tatapan dingin. Keduanya sangat tidak menyukai pernyataan ibu-ibu ini yang mengatakan bahwa anak yang mereka kandung adalah anak haram.


Mereka memiliki suami, dan anak yang mereka kandung adalah buah cinta antara keduanya dan Seno. Tidak sepatutnya ibu-ibu ini berkata demikian.


Lalu, tidak ada kewajiban bagi seorang suami untuk selalu menemani istri mereka dalam pemeriksaan ke dokter kandungan. Selama ini Seno sudah menemani mereka dalam pemeriksaan. Jika saja Seno tidak dalam kondisi tidak sadar, maka saat ini Seno sudah pasti ada di sini menemani mereka.


“Eh, kenapa suhunya kok tambah dingin ya? Apakah pendingin di lorong ini rusak? Kenapa tiba-tiba jadi makin dingin gini?” tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sana.


Jika ibu-ibu ini lebih jeli, mereka akan sadar bahwa kursi yang diduduki oleh Dina dan Miranda, sekarang memiliki kristal es di kaki-kakinya. Kristal itu mulai merambat di lantai lorong rumah sakit.


“Nyonya Bos.”


Ruisyo menepuk pundak Dina dan Miranda. Ia sadar bahwa amarah dari kedua istri bosnya ini sedang memuncak. Mereka tidak akan bisa mengontrol kekuatan yang mereka miliki dalam keadaan emosi.


Rupanya tepukan dari Ruisyo berhasil menyadarkan Dina dan Miranda. Mereka berdua langsung menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Meski begitu, pandangan mereka masihlah dingin ketika menatap ibu-ibu yang tadi menghina anak yang mereka kandung.


“Anda sebagai seorang perempuan, apalagi perempuan hamil, pasti sudah tahu bahwa sebuah kata-kata bisa menghancurkan perasaan seseorang. Apalagi kalimat yang Anda katakan tadi. Jika ada yang mengatakan bahwa anak yang Anda kandung adalah anak haram apakah Anda mau menerimanya?” tanya Dina dengan suara datarnya.


“Bagaimana mungkin anak yang aku kandung ini anak haram? Aku memiliki suami, anak ini bukan anak di luar perkawinan. Jadi, mana mungkin anak ini anak haram.”

__ADS_1


“Begitu pula dengan anak kami. Anak kami ini adalah anak yang ada dalam perkawinan. Kami memiliki suami, dan kami bukan seorang pelakor. Jadi tidak sepatutnya Anda menghina seseorang seperti itu,” jelas Dina.


“Bu, jangan Kamu pikir karena wajah kami cantik, kami hamil, dan datang ke dokter kandungan tanpa adanya suami membuat kami ini seorang pelakor. Kalo ibu memang iri dan tidak bisa memiliki wajah cantik, jangan salahkan orang lain yang memiliki wajah cantik,” imbuh Miranda.


“Sudah seharusnya Ibu menjaga mata suami Ibu, bukan malah menyalahkan kami yang tidak tahu apa-apa ini.”


Miranda bisa menebak kenapa ibu-ibu itu bersikap demikian. Kemungkinan besar karena wajah Dina dan Miranda yang terlalu cantik. Padahal, mereka berdua tidak memakai lipstik penambah karisma sekarang. Namun, tetap saja mereka menarik perhatian orang lain.


Mendengar ucapan Miranda yang sudah mengungkap alasan dirinya menuduh Dina dan Miranda yang macam-macam, ibu itu merasa malu. Ia tidak menyangka dua perempuan muda ini justru menyerang balik dirinya dengan mengatakan ia kurang cantik.


Barus saja ibu-ibu itu ingin membalas perkataan Miranda, seseorang ibu-ibu yang hamil tua, mendatangi lorong ruang tunggu poli kandungan. Orang-orang yang berada di sana cukup mengenal perempuan ini. Dia adalah Saras, salah satu menantu dari pengusaha kaya di kota mereka. Perempuan ini sering terlihat di beberapa acara televisi nasional membahas mengenai bisnis untuk ibu-ibu muda.


Ada cukup banyak kursi kosong yang ada di sana. Namun, Saras lebih memilih kursi kosong yang ada di samping Dina. Ia langsung menepuk pundak Dina pelan dan menyapanya.


“Hai, Dina, Mira. Tumben cuma kalian berdua aja. Suami kalian mana? Kenapa nggak datang?” tanya Saras.


“Dia sedang sibuk dan ada pekerjaan. Jadi, hanya kami berdua yang datang,” jawab Dina dengan senyum tulusnya.


Mereka berkenalan dengan Saras ketika melihatnya mengantri di dokter kandungan yang sama. Apalagi Saras dan keluarganya menjadi salah satu pelanggan produk milik Seno. Jelas hubungan mereka terjalin cukup baik.


Percakapan singkat yang terjalin antara Dina dan Saras ini, sudah menepis tuduhan yang diucapkan ibu-ibu tadi. Dina dan Miranda memiliki suami, dan suami mereka sedang sibuk dengan pekerjaannya ini berarti anak yang dikandung Dina dan Miranda bukanlah anak haram. Mereka pun bukanlah seorang pelakor.


“Apakah kalian memiliki stok daun kelor yang cukup banyak? Dua minggu lagi hari perkiraan aku melahirkan. Aku ingin mempersiapkan daun kelor yang cukup banyak untuk persiapan nanti.”


“Kamu tenang aja, Mbak Saras. Aku akan mengirimkan beberapa ke rumah, Mbak Saras. Ini gratis dari kami, anggap aja hadiah lahirnya si kecil,” ucap Miranda.


“Ish … hadiah gratisan itu jangan daun kelor. Kalian seharusnya mengirimkan kacang mete dan juga buncis yang susah dibeli itu. Sebagai perempuan yang baru melahirkan, aku harus menjaga bentuk tubuhku agar kembali ke bentuk semua nanti.”


“Jika memang Mbak Saras lebih memilih kacang mete dan bucis, tidak masalah. Kami akan memberikan buncis itu untuk Mbak Saras setelah Mbak melahirkan.”

__ADS_1


“Bagus, aku tunggu kirimannya.”


__ADS_2