
Lasmi yang baru saja pulang dari rumah Seno, langsung pergi ke dapur rumahnya. Ia ingin membuatkan sesuatu untuk menantunya yang baru saja melahirkan. Ia juga ingin memakan selada miliknya.
Semalam Lasmi sudah berkenalan dengan beberapa pemuda. Mereka belum ada yang tahu umur sebenarnya dari Lasmi. Tetapi cukup banyak yang tertarik dengannya. Lasmi tiba-tiba saja memiliki pemikiran untuk memulai keluarga baru lagi. Apalagi salah satu temannya mengkomporinya agar mereka mencoba memiliki anak lagi.
Di umur yang sekarang, anak-anak mereka sudah besar. Beberapa cucu mereka juga sudah besar. Mereka tidak memiliki kegiatan lain. Jadi, dari pada hanya lotang latung tidak jelas, lebih baik mereka memiliki anak lagi.
“Nyonya Besar mau masak apa? Biar aku membantumu,” ucap Leti, asisten rumah tangga Lasmi ketika melihat Lasmi yang berniat memasak.
“Oh ini, buatkan rebusan daun kelor untuk Ida. Untuk yang lain biar aku aja yang urus. Nanti, setelah Kamu selesai membuatkan rebusan itu, langsung kasih ke Ida,” ucap Lasmi memberi arahan.
“Oh gitu. Baiklah, Nyonya Besar. Aku akan membantumu merebus daun kelor itu.”
Sementara Leti sibuk menyiapkan rebusan daun kelor, Lasmi sendiri mengolah selada miliknya. Tentu saja ia memasaknya menjadi salad. Ini adalah cara cepat untuk mengkonsumsi selada. Dalam waktu dua puluh menit, Lasmi sudah menyelesaikan selada miliknya.
Tanpa menunggu lama, Lasmi langsung mengkonsumsi selada miliknya. Lasmi merasakan bagian perut bagian bawahnya menghangat tidak lama setelah ia mengkonsumsi selada miliknya. Jika tidak salah, itu merupakan bagian di mana rahimnya berada.
“Sepertinya selada ini memang memberikan efek bagiku. Aku hanya perlu mengkonsumsi lebih banyak selada dan melihat sendiri hasilnya nanti. Tentusaja aku bisa melihatnya dengan praktek langsung dengan membuat bayi,” gumam Lasmi.
Sementara itu, Leti yang selesai merebus daun kelor segera menyaringnya dan hendak membawanya ke kamar Ida, menantu dari Lasmi. Dalam perjalanan, Leti berpapasan dengan Catur yang sepertinya baru selesai bermain basket. Ini terlihat dari badan Catur yang bermandikan keringat.
“Wah Mbak Leti tau aja kalo aku haus. Udah dibawain minuman pula,” ucap Catur.
“Eh ini punya Nyonya Ida, Mas Catur. Nyonya Besar yang suruh aku ngasih ini ke Nyonya Ida.”
“Buat Tante Ida? Sini buat aku aja Mbak. Nanti Mbak buatin lagi aja buat Tante Ida.”
“Eh jangan Mas. Ini tuh buat Nyonya Ida. Nanti aku dimarahin sama Nyonya Besar. Abis ini aku buatin jus aja ya, Mas Catu,” bujuk Leti.
“Udah, biar aku nanti yang bilang sama Nenek biar nggak marahin Mbak Leti. Nanti Mbak Leti buatin lagi minuman buat Tante Ida. Sekalian buatin aku jus juga.”
Catur tidak memedulikan larangan dari Leti. Ia tetap menyambar minuman itu meski pun sudah tahu bahwa itu bukan untuknya. Tidak hanya itu, Catur juga tidak memedulikan minuman itu yang masih hangat. Asalkan dahaganya menghilang, Catur akan meminum minuman apa pun sekarang.
“Ah segarnya. Jangan lupa buatin jus buat aku ya, Mbak Leti. Bawa langsung ke kamar. Aku mau mandi dulu.”
Setelah berucap demikian, Catur pergi meninggalkan Leti. Jika begini, mau tidak mau Leti harus kembali membuat seduhan daun kelor untuk Ida. Untung saja tidak semua daun kelor ia seduh tadi. Jadi, ia masih bisa membuat seduhan baru.
“Loh kok udah balik, Let?” tanya Lasmi yang melihat Leti datang dengan membawa gelas kosong. “Si Ida sudah meminum habis semuanya?”
“Ehm … it-itu anu Nyonya Besar …,” ucap Leti terbata-bata. Ia tidak bisa menjawab dengan lancar pertanyaan Lasmi. Bagaimanapun juga, ia sudah gagal membawa minuman itu ke Ida. Jadi, ia takut Lasmi akan memarahinya.
“Memangnya ada apa? Kenapa Kamu bicara terbata-bata kayak gitu? Ngomong yang jelas dong.”
“Minumannya bukan Nyonya Ida yang ngabisin, Nyonya Besar,” aku Leti pada akhirnya.
__ADS_1
“Apa? Bukan Ida yang meminumnya? Lalu siapa?”
Lasmi sengaja meminta daun kelor itu kepada Seno karena ia ingin menantunya itu tidak lagi merasa tertekan karena tidak bisa memberikan asi untuk anaknya. Sekarang, Leti mengatakan bahwa ada orang lain yang meminumnya? Jika begini, bisa jadi yang memproduksi asi bukannya Ida, tetapi siapa pun itu yang meminumnya.
“Itu yang minum Mas Catur, Nyonya Besars. Dia tadi abis pulang main basket dan langsung minum minuman yang aku bawa,” jawab Leti.
“Apa?” teriak Lasmi cukup keras. Tidak hanya itu, karena terkejut mendengar bahwa Catur-lah yang meminum rebusan daun kelor itu, Lasmi langsung berdiri sehingga kursi yang ia duduki terjatuh.
“Kamu bilang Catur yang minum air rebusan daun kelor tadi?” tanya Lasmi memastikan.
“I-iya, Nyonya Besar. Mas Catur yang meminumnya,” jawab Leti sembari mengangguk pelan.
Langsung saja Lasmi merasa bingung dengan hal ini. Ia tidak menyangka cucu laki-lakinya yang meminum air rebusan itu. Lasmi berharap cucunya itu baik-baik saja. Tidak ada perubahan yang terjadi padanya.
“Sekarang, Kamu buat lagi air rebusan daun kelor itu. Kamu harus pastiin kali ini Ida yang meminumnya, bukan orang lain. Apa Kamu mengerti?”
“Ba-baik, Nyonya Besar. Aku akan melakukan itu. Akan aku pastikan bahwa Nyonya Ida yang meminumnya,” janji Leti.
“Sekarang, di mana Catur sekarang? Aku perlu berbicara dengannya.”
Lasmi harus memastikan bahwa cucu laki-lakinya baik-baik saja. Jika terjadi perubahan pun, Lasmi ingin berada di dekat Catur dan menenangkan dia. Pasti Catur akan sangat terpukul jika tahu tubuhnya mengalami perubahan.
“Katanya tadi Mas Catur mau mandi, Nyonya Besar. Pasti dia sudah ada di kamarnya sekarang.”
…
Catur bersenandung pelan di bawah guyuran air. Mandi setelah beraktifitas di luar ruangan memang yang paling menyegarkan. Catur menggosok seluruh tubuhnya hingga bersih. Ketika mandi, Catur merasa bagian dadanya menghangat.
Catur sendiri tidak mempedulikannya. Dalam benak Catur, ia merasa seperti ini karena tadi sudah meminum minuman hangat. Bukankah setelah meminum minuman hangat biasanya seseorang akan merasakan tubuhnya menghangat juga?
Setelah membasuh tubuhnya dengan air bersih, Catur mendengar pintu kamar mandinya di ketuk. Suara neneknya terdengar dari balik pintu.
“Catur, Kamu masih mandi?” tanya Lasmi.
“Iya, Nek. Memangnya ada apa? Kalo Nenek ada perlu denganku, tunggu di luar. Sebentar lagi aku akan selesai mandi,” ucap Catur sembari mengeringkan badannya.
“Cepat keluar setelah ini. Nenek mau bicara penting denganmu.”
“Iya, Nek. Bentar lagi selesai kok.”
Catur langsung mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ia melakukan hal itu sembari melihat ke arah cermin yang ada di kamar mandi.
“Hem … tampan juga aku ini. Jika aku memakai lipstik punya nenek, maka akan lebih banyak perempuan yang tertarik padaku. Tetapi, akan sangat mencolok jika aku memakai lipstik. Semoga saja Nenek bisa petani itu bisa memberikan lipbalm untuk para laki-laki. Dengan begitu, karismaku akan bertambah tetapi tidak terlalu terlihat aneh,” gumam Catur yang masih mengeringkan badannya.
__ADS_1
Lalu, padangan Catur terarah pada bagian dadanya. Bagian tubuhnya yang satu itu, sekarang ini masih terlihat basah.
“Aneh sekali. Bukankah aku sudah mengeringkan badanku? Kenapa ini masih juga basah?”
Catur kembali mengusap bagian depan tubuhnya. Namun, tetap saja ada air yang mengalir di sana. Catur lalu memperhatikan lebih seksama mengenai hal itu. Barulah sekarang Catur sadar bahwa air yang mengalir bukanlah dari rambutnya yang tadi basah. Tetapi, itu berasal dari benda gelap menonjol yang ada di bagian depan tubuhnya.
“I-ini …. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi. Nenek …,” teriak Catur yang buru-buru menutupi tubuh bagian bawahnya dengan handuk. Ia langsung keluar dari kamar mandi.
Di kamar Catur, sudah ada Lasmi yang berjalan mondar-mandir. Ia terlihat khawatir sekarang. Ketika mendengar teriakan Catur, Lasmi langsung bergegas mendekat ke arah pintu kamar mandi.
“Catur, Kamu kenapa? Semuanya baik-baik saja, kan?” tanya Lasmi memastikan.
“Nenek, apa yang terjadi padaku? Lihat ini, ada air yang mengalir dari sini,” ucap Catur sembari menunjuk ke arah tonjolan gelap yang ada di bagian depan tubuhnya. Dari sana sekarang mengalir air yang berwarna putih pucat. Meski tidak deras, tetapi terlihat rembesan air.
“Astaga!” seru Lasmi.
“Aku tidak menyangka Kamu benar-benar akan mengalami hal ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Apa yang Lasmi takutkan, ternyata benar-benar terjadi. Sekarang ini, Catur sudah memproduksi air dari dadanya.
“Maksud Nenek apa?”
“Leti tadi bilang Kamu minum minuman yang ia bawa untuk Ida bukan?” tanya Lasmi.
“Iya. Aku meminumnya. Aku sangat haus tadi jadi aku meminumnya. Tetapi, apa hubungannya dengan semua ini Nek? Aku nggak ngerti.”
Catur merasa, ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan minuman yang tadi ia minum. Tidak mungkin ada minuman yang bisa membuat seseorang menghasilkan air dari dadanya. Apalagi Catur adalah laki-laki.
Meski Catur pernah mendengar bahwa sebagian kecil laki-laki bisa menghasilkan air dari dadanya, tetapi itu tidak sebanyak dirinya. Apa yang keluar dari diri Catur cukuplah banyak. Tidak mungkin ini keanehan hormon.
“Tentu saja ada. Minuman itu adalah rebusan daun kelor. Nenek memintanya dari Seno, si Petani Hebat itu. Katanya ini bisa membantu para ibu untuk menghasilkan asi. Jadi, apa yang Kamu alami ini jelas ada hubungannya dengan minuman itu,” jelas Lasmi.
“Apa?”
Catur tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia tidak menyangka minuman itulah yang membuatnya jadi seperti ini. Andaikan saja tadi dirinya berjalan lebih jauh ke dapur dan mengambil minuman di sana, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.
Tetapi, tidak ada gunanya Catur menyesali hal ini. Semua sudah terjadi. Penyesalan tidak akan mengubah apa pun. Seharusnya Catur sekarang mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
“Lalu, aku harus bagaimana Nenek? Tidak mungkin bukan aku membiarkan ini memproduksi air seperti ini? Aku laki-laki, Nek. Masak aku menghasilkan air kayak ibu-ibu.”
“Kamu tenang dulu. Setelah ini Kamu pakai pakaianmu. Kita akan datangi si Seno. Mungkin dia memiliki cara untuk mengatasi hal ini. Jika dia tidak bisa melakukannya, kita akan pergi ke dokter nantinyas,” ucap Lasmi yang mencoba menenangkan Catur.
“Baiklah, Nek.”
__ADS_1