
“Maaf Jendral, Kami belum mendapatkan respon apa pun dari mereka. Kami sudah berkali-kali mencoba menghubungi namun hasilnya sama.” jawab salah satu operator komunikasi yang ada di sana.
“Lalu bagaimana dengan yang lain? Tim Beta, Delta, dan Ghama? Apakah mereka sudah memberikan respon?” tanya Roy.
Dalam misi kali ini, Tim Garuda yang berangotakan tiga puluh lima orang itu dibagi menjadi lima tim. Tim Alpha, Beta, Delta, dan Ghama masing-masing beranggotakan lima orang. Sedangkan sisanya menjadi tim cadangan dalam misi kali ini.
Tim Alpha bertugas sebagai pengeksekusi, mereka nantinya yang akan menyandra kedua istri Seno dan menahan Seno agar tidak bisa melawan. Lalu, tiga tim yang lain bertugas menyisir area sekitar rumah Seno dengan radius lima ratus meter, dengan rumah Seno sebagai pusatnya.
Mereka bertugas menjaga kalau-kalau ada warga yang terbangun di karena keributan yang akan mereka buat. Sebisa mungkin Roy mau misi kali ini tidak tercium oleh publik.
“Maaf Jendral, Kami juga tidak bisa menghubungi mereka. Satu persatu sinyal milik tiga tim yang lain menghilang begitu saja.”
“Sial. Bagaimana kinerja kalian? Misi sepeleh melawan seorang petani saja harus ada masalah seperti ini.” ucap Roy yang sudah mulai kesal.
“Maafkan kami Jendral.”
“Sudahlah kerja kalian sangat tidak becus. Kalian akan mendapatkaa hukuman kalian setelah misi ini selesai. Sekarang, panggil tim cadangan, suruh mereka bersiap untuk pergi melihat keadaan yang ada di lapangan.”
“Semoga saja tim yang lain tidak sedang berleha-leha dan mematikan alat komunikasi mereka. Jika mereka sampai ketahuan melakukan hal itu, maka hukuman berat akan menanti mereka.”
“Siap Jendral. Aku akan memanggil mereka.” Jawab salah satu tentara yang berada di truk yang dijadikan pusat komunikasi itu.
Tentara tersebut kemudian keluar dari dalam truk. Ia berniat menuju ke truk lain yang berisikan tim cadangan. Setidaknya ia bisa bernafas dengan lebih ringan sekarang. Berada di dalam ruangan yang sama dengan Roy yang tengah kesal, ternyata memberikan tekanan yang cukup besar.
Ia tidak menyangka misi yang ia anggap biasa ini malah menjadi misi yang cukup berat. Yang menjadi berat adalah Roy yang ikut terlibat langsung dalam misi ini. Apalagi ada masalah komunikasi sekarang.
Tentara itu kemudian buru-buru pergi ke truk yang lain. Alangkah kagetnya dia melihat truk tersebut kosong. Padahal, ia sempat mendengar beberapa tentara yang ada di tim cadangan bercanda bersama yang lain. Sekarang mereka benar-benar menghilang tanpa jejak.
“Kemana perginya mereka?” ucap tentara tersebut.
Tidak lama kemudian, ia mendengar suara dari semak-semak yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tentara tersebut mengira rekannya yang lain sedang mengerjainya dan bersembunyi di semak-semak.
Oleh karena itu, tanpa pikir panjang dia langsung menuju ke semak-semak yang menjadi sumber suara tadi. Ketika menyibak semak-semak tersebut, bukan rekannya yang ia lihat, tetapi seekor kelinci yang berbulu serba putih.
__ADS_1
“Imutnya.” ucap tentara tersebut.
“Aku tidak menyangka bisa menemukan kelinci seimut ini.” imbuh tentara tersebut tanpa menaruh kecurigaan apa pun.
Tentara tersebut, yang diam-diam menyukai sesuatu yang imut itu, berniat mengelus kelinci di depannya. Asupan benda imut selama berada di kesatuan membuat tentara tersebut gemas dan ingin melampiaskan semuanya kepada kelinci di depannya.
Sayangnya, apa yang ia lakukan itu salah. Dalam sekejap, sebuah bayangan hitam mengarah ke tubuhnya. Dalam waktu singkat, tentara tersebut sudah tidak bisa lagi bergerak, bahkan bersuara.
Di tempat kelinci tadi berada, sekarang sudah ada Jasmine yang berkacak pinggang. Ia memandang ke arah tentara tadi dengan tatapan sebal.
“Cih, berharap bisa mengelus diriku. Jangan mimpi. Aku ini kelinci agung, Bos dari para kelinci. Berani sekali Kamu memiliki niatan mengelusku. Bos Seno saja tidak pernah mengelus diriku. Kamu orang rendahan mau mendahuluinya tidak sudi aku.” ucap Jasmine kesal.
“Sudahlah Jasmine. Aku sudah membereskan orang ini. Sekarang tinggal mereka yang ada di mobil itu. Kenapa Kamu melarangku untuk menyerang mereka sekarang?” tanya Azkareia heran.
Semua tentara yang ada sudah ia bereskan. Hanya tinggal beberapa orang saja berada di dalam mobil besar itu, tetapi Jasmine justru melarangnya membereskan mereka sekaligus.
“Ish Kamu ini tahu apa Azkareia. Kekuatanmu boleh tinggi tetapi otakmu tidak bisa mengimbanginya. Di dalam sana, ada alat komunikasi milik manusia. Lebih canggih daripada ponsel atau Ipad yang Bos Seno berikan kepada kita.”
“Jika kita menyerang mereka sekarang, maka mereka nantinya akan melaporkan kejadian yang ada di sini kepada yang lain. Apa Kamu lupa Bos Seno meminta kita membereskan semuanya tanpa meninggalkan jejak.”
“Jika saja Kamu bukan anak buah kesayangan Nyonya Bos, maka aku akan menghabisimu Jasmine. Beraninya kelinci rendahan sepertimu mengatur-atur rubah yang agung sepertiku.” Ucap Azkareia kesal.
Sekesal apa pun Azkareia saat ini, ia mencoba menahan diri. Azkareia tidak mau menambah masalah lagi. Jadi, mau tidak mau dia menuruti semua ucapan dari Jasmine.
…
Tidak hanya Azkareia yang kesal, di dalam truk, Roy juga kembali kesal. Pasalnya tentara yang ia perintahkan untuk memanggil tim cadangan tidak juga kembali. Padahal jarak antara truk ini dan truk lainnya tidak terlalu jauh.
“Sial. Kemana lagi orang itu. Aku memintanya pergi untuk memanggil yang lain kenapa dia tidak juga kembali? Apakah dia juga berleha-leha sekarang?” Ucap Roy kesal.
Roy lalu menunjuk salah satu tentara yang masih ada di dalam truk bersamanya untuk mengecek keadaan di luar. Lagi-lagi hal yang sama terjadi. Tentara itu tidak kembali setelah lebih dari lima menit keluar dari dalam truk.
Mau tidak mau Roy menyuruh tentara yang lain untuk mengecek. Hingga pada akhirnya, yang tersisa hanyalah Roy dan salah satu tentara yang ada di sana.
__ADS_1
“Sial. Sepertinya mereka mengerjaiku. Dalam misi penting seperti ini bisa-bisanya mereka bermain-main seperti ini. Kamu, ikut aku mencari mereka. Aku tidak akan membiarkan mereka terus-terusan seperti ini.”
Kedua orang yang masih tersisa itu kemudian keluar dari dalam truk. Udara dingin langsung menerpa keduanya ketika keluar dari dalam truk. Mereka tidak mendengar suara apa pun.
Roy langsung mengarahkan senter, yang cukup terang, yang ia bawa, untuk melihat keadaan sekitar. Yang ingin Roy lihat adalah jejak kaki para tentara itu. Jelas mereka akan meninggalkan jejak kaki.
Roy ingin mengikuti jejak kaki mereka untuk mengetahui keberadaan para tentara yang menghilang itu. Pada akhirnya Roy menemukan beberapa jejak kaki di sana. Tanpa basa basi, Roy mengikuti salah satu jejak kaki yang ada.
Tetapi Roy merasa aneh. Semua jejak kaki itu menghilang di dekat semak-semak. Ia tidak melihat mereka berlari ke arah hutan atau menuju ke arah lain. Ini cukup aneh menurut Roy.
Apalagi, banyak jejak kaki binatang di sekitar semak-semak. Tetapi, Roy mengesampingkan kemungkinan anggotanya diserang oleh binatang. Dari jejak kaki yang mereka tinggalkan, Roy bisa menebak bahwa hewan yang berkeliharan di sekitar sini adalah hewan berukuran kecil.
Dengan ukuran seperti itu, jelas hewan-hewan itu tidak akan membahayakan anggotanya. Lalu, apa yang membuat jejak kaki anggotanya itu menghilang di sini?
“Hey, apa yang Kamu temukan?” tanya Roy kepada satu-satunya tentara yang tersisa.
Namun, ketika membalikkan tubuhnya, Roy tidak menemukan keberadaan tentara tersebut. Sangat aneh menurut Roy. Tidak mungkin orang itu menghilang begitu saja.
Secepat apa pun orang itu berlari, Roy akan bisa menemukannya. Apalagi dia akan menimbulkan kegaduhan ketika melakukan itu.
Tetapi Roy tidak mendengar apa pun. Suasana di sekitar sini tetap sunyi dan tidak terdengar keributan apa pun.
Lalu tiba-tiba saja Roy ingat akan perkataan Eko ketika rapat beberapa hari yang lalu. Eko mengingatkan bahwa yang mereka hadapi ini bukanlah petani biasa. Yang mereka hadapi adalah petani yang selama ini menjual sayuran ajaib.
Entah dia menanam sendiri atau mendapatkannya dari orang lain, mereka tetap tidak bisa menyepelehkannya. Satu Tim Garuda tidak akan cukup melawannya, mereka membutuhkan satu kompi tentara yang bersenjatakan lengkap untuk bisa menjalankan misi dengan baik.
Sekarang, Roy sudah merasakan sendiri kebenaran dari ucapan Eko. Sekarang ia bisa menebak bahwa Tim Garuda, tim yang ia yakini bisa menjalankan misi ini dengan baik, sudah jatuh di tangan lawan.
Entah mereka masih hidup atau tidak, Roy tidak tahu. Yang jelas dirinya sudah dikalahkan oleh seorang petani.
Yang ada di pikiran Roy saat ini adalah berlari kembali ke truk komunikasi. Ia perlu mengabarkan semua ini kepada rekan-rekannya.
Sayangnya, ketika Roy baru berlari beberapa langkah, bayangan hitam menerjangnya. Roy tidak bisa lagi bergerak dan bersuara. Ia sudah ditahan sekarang.
__ADS_1
Roy sekarang benar-benar menyesal sudah bersikap sombong dan tidak mendengarkan saran dari Eko. Keserakahannya akan jabatan membuat Roy harus menerima semua ini.
Roy tidak yakin apakah setelah ini dirinya akan mati atau hanya ditahan saja. Yang jelas Roy berharap rekan-rekannya di militer melakukan sesuatu. Apa pun itu, Roy beraharap mereka mengambil keputusan yang tepat, bukan seperti dirinya yang salah dalam mengambil keputusan.