
Ketika melewati portal. Seno disambut dengan area persawahan penduduk. Di antara semua dimensi yang akan ia kunjungi, sepertinya dimensi inilah yang letaknya paling dekat dengan rumah penduduk. Dari peta, koordinat yang ia pilih untuk berteleportasi jaraknya hanya dua kilometer dari portal dimensi.
Untung saja tidak ada satu pun orang yang melihat kedatangan Seno dan yang lainnya. Seno baru ingat bahwa dari catatan pihak militer, penduduk di daerah sekitar sini sudah diungsikan. Jadi, dalam radius sepuluh kilometer, tidak ada aktivitas penduduk.
“Sekarang ayo kita bergerak menuju dimensi target kita,” ucap Seno kepada yang lain.
“Baiklah, Bos,” jawab ana buah Seno secara bersamaan.
Mereka lalu bergerak menuju ke portal dimensi yang menjadi target mereka. Kali ini, Seno bergerak sendiri dan tidak digendong oleh Tiarsus seperti biasanya. Meski kecepatan berlari Seno belum benar-benar bisa mengimbangi kecepatan berlari anak buahnya, tetapi kecepatan Seno berada di atas rata-rata manusia.
Kemungkinan besar, ini karena Seno sudah terbiasa dengan perbedaan gravitasi ketika melakukan misi. Jadi gravitasi Planet Bumi sudah tidak terlalu membebaninya. Tidak hanya itu, belakangan Seno sering menghabiskan waktunya dengan melatih fisiknya menggunakan satu setengah gravitasi Planet Bumi pada dimensi miliknya.
Jadi, tidak heran jika pergerakan Seno semakin leluasa sekarang. Jika manusia normal memiliki kecepatan berlari enam belas hingga dua puluh empat kilometer per jam, maka Seno bisa berlari dengan kecepatan rata-rata tiga puluh delapan kilometer per jam. Kemajuan yang cukup pesat jika dibandingkan dengan dirinya beberapa bulan lalu yang tidak bisa melakukan apa-apa.
“Bos, di depan ada perkemahan para tentara,” lapor Azkareia yang berperan sebagai pembuka pengintai dalam misi kali ini. Azkareia akan berlari lebih dahulu dan akan kembali ke rombongan untuk melihat apa yang dilihatnya di depan.
“Oh begitu, semuanya bersiap. Semuanya bersiap. Kita akan melewati portal setelah ini,” ucap Seno.
Seno lalu bergerak ke punggung Tiarsus untuk digendong. Tubuh Seno belum sepenuhnya bisa mengatasi perbedaan gravitasi yang ada di dalam dimensi. Jadi, sampai nanti dirinya lebih kuat, Seno masih tetap mengandalkan Tiarsus agar bisa bergerak dengan bebas di dalam dimensi.
Ketika beradas di perkemahan tentara, Seno hanya melihat beberapa tentara saja yang berjaga. Seno sudah tahu bahwa tentara yang lain sekarang ini sudah ditarik mundur dari perkemahan tentara.
Tanpa basa basi lagi, Seno mengajak anak buahnya memasuki portal yang ada di sana. Setelah masuk, pemandangan batu-batu dengan ukuran besar menyambut Seno. Di sini terlihat sangat berbeda dari dimensi lain yang Seno miliki. Tidak nampak lahan yang cocok untuk ditumbuhi tanaman.
Selain beberapa batu-batu dengan ukuran besar, dimensi ini diisi dengan tebing yang sepertinya terbuat dari batu karang. Seno bisa melihat di beberapa bagian tebing, terlihat banyak lubang yang cukup besar. Rata-rata diameternya adalah seratus sentimeter. Lalu, lubang terbesar memiliki ukuran seratus lima puluh sentimeter.
Selain semak belukar, Seno tidak menemukan tanaman lain di dimensi ini. Jika seperti ini, di mana ia bisa menemukan kacang tanah yang menjadi tujuan misinya? Semak belukar yang ada pun bukan merupakan tumbuhan kacang tanah yang sedang ia cari.
“Apa kalian masih ingat bentuk tanaman kacang tanah yang tadi sudah aku tunjukkan pada kalian?” tanya Seno.
“Tentu, Bos. Aku masih mengingat bentuk tumbuhan itu,” jawab Thorbiorn yang disetujui oleh yang lain.
__ADS_1
“Kalau begitu, kalian bentuk tim dua orang dan menyebar. Bantu aku menemukan kacang itu. Lalu, jika kalian menemukan pemilik dimensi ini, segera habisi dia!” perintah Seno.
“Tentu, Bos.”
Dalam misi kalo ini, Seno hanya mengajak enam dari sembilan anak buahnya. Tiga anak buahnya yang lain sengaja ia tinggalkan untuk menjaga kedua keluarganya.
Dengan digendong Tiarsus dan ditemani oleh Azkareia, Seno pun menjelajahi dimensi itu. Sudah setengah jam Seno mengelilingi dimensi ini. Namun, ia tidak menemukan satu pun tumbuhan yang mirip dengan tumbuhan kacang.
Tidak hanya itu saja, Seno sama sekali tidak melihat keberadaan makhluk lain di sini. Seolah di dimensi ini hanya ada Seno dan anak buahnya saja. Namun itu sangat tidak mungkin. Ini karena pihak militer yang menjaga dimensi ini, beberapa kali mendapatkan serangan. Meski mereka tidak bisa melihat dengan jelas bentuk monsternya karena mereka selalu menyerang di malam hari.
Jadi, kemana perginya monster-monster itu? Kenapa tidak ada satu pun yang menyerang mereka? Kenapa monster dimensi ini, sangat berbeda dengan monster dari dimensi lainnya?
“Apa kalian berhasil menemukannya?” tanya Seno ketika berkumpul kembali dengan anak buahnya.
“Maaf, Bos. Aku tidak menemukan tanaman yang Bos inginkan,” lapor Thorbiorn.
“Aku juga tidak menemukannya Bos,” imbuh Baiya.
“Lalu, bagaimana dengan makhluk dimensi ini? Apakah kalian menemukan mereka?”
“Bos, kami sudah mengecek seluruh tebing yang ada, tetapi kami tidak menemukan apa pun,” jawab Baiya.
“Aku juga tidak sama, Bos.Satu-satunya tempat yang belum aku periksa hanyalah lubang-lubang yang terlihat seperti gua si seluruh dinding tebing. Namun, tempat itu terlalu sempit Bos. Jika musuh benar-benar ada di sana, pergerakan kami akan terbatas. Aku tidak akan bisa menunjukkan kekuatan penuhku nanti,” jelas Thorbiorn.
Seno lalu memandangi lubang-lubang yang ada di dinding tebing. Seperti kata Thorbiorn, lubang itu cukup sempit untuk mereka. Jika mereka memasuki lubang itu, maka mereka perlu berjongkok atau pun merayap untuk bisa bergerak.
Hal itu jelas akan merugikan mereka. Seperti kata Thorbiorn, pergerakan mereka di dalam sana akan sangat terbatas. Jika musuh tiba-tiba datang dan menyergap, tidak banyak yang bisa mereka lakukan.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Seno kepada yang lain.
“Bagaimana jika aku dan Baiyo saja masuk ke dalam? Tubuh kami tidak terlalu besar. Jadi, kami masih bisa bergerak di dalam sana. Lalu, kami bisa menggunakan tubuh asli kami untuk menghadapi musuh.”
__ADS_1
Seno menggelengkan kepalanya, menolak usulan Baiya. Meski Baiya dan Baiyo memiliki tubuh dengan ukuran terkecil di antara mereka, tetapi keduanya masih harus menunduk ketika melewati lubang itu. Tinggi Baiya dan Baiyo adalah seratus empat puluh lima sentimeter, jadi mereka hanya bisa memasuki lubang terbesar yang ada di sana.
“Itu juga terlalu beresiko. Kita tidak berapa jumlah mereka. Lalu, makhluk penghuni dimensi ini bisa sewaktu-waktu menutup pintu masuk lubang-lubang itu. Aku menduga, mereka adalah hewan pengerat. Mereka pintar dalam membuat lubang. Jadi, masuk ke sana adalah bukan pilihan yang tepat,” jelas Seno.
“Jika begini, kita bisa memancing mereka, Bos. Jika kita bisa membuat keluar, maka akan mudah bagi kita mengatasi makhluk apa pun itu,” saran Tiarsus.
“Itu juga yang akan aku lakukan. Thor, Yaya, Yoyo, dan Dodo, kalian berempat bantu aku menyebarkan sayuran dan buah-buahan ini di lubang yang ada di sekitar kita.”
Seno lalu mengeluarkan cukup banyak sayur dan buah-buahan khusus yang ia miliki. Jika makhluk penghuni dimensi ini adalah herbivora, maka sayur dan buah ini bisa memancing mereka.
“Baik, Bos.”
“Tiar, Azka, sekarang kalian berdua bantu aku membuat perapian. Kita akan memasak daging.”
“Tentu, Bos.”
Seno tidak tahu apa makanan utama makhluk penghuni dimensi ini. Maka dari itu, ia menyiapkan dua hal untuk memancing mereka keluar.
Tidak lama kemudian, di depan Seno sudah ada kambing utuh yang diputar di atas bara api. Ia membuat kambing guling untuk menarik makhluk penghuni dimensi ini. Tidak butuh waktu lama, aroma harum tercium dari kambing guling yang ada di sana.
Sembari meminta Tiarsus terus memutar kambingnya, Seno mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia ingin mencari pergerakan dari makhluk penghuni dimensi ini. Tetapi, ia tidak menemukan satu pun pergerakan.
Bahkan, sampai kambingnya matang tiga jam kemudian, Seno tetap tidak mendapatkan apa pun. Bisa dibilang, ini adalah misi pencarian benih terlama yang ia alami. Jika di dimensi lain, Seno menghabiskan waktu lama karena melakukan pertarungan. Sementara di sini, waktunya ia habiskan hanya untuk menunggu.
“Sial,” umpat Seno pada akhirnya. “Berapa lama lagi kita harus menunggu? Hampir empat jam kita di sini, tetapi tidak ada satu pun pergerakan yang terlihat.”
“Maafkan kami, Bos. Kami bukanlah anak buah yang baik. Kami tidak banyak membantu dalam misi ini,” ucap Tiarsus sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar hal itu, Seno mengibaskan sebelah tangannya.
“Kalian tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kalian sudah banyak membantu dengan tetap berpatroli di seluruh dimensi ini. Namun, kita memang sedang sial sehingga tidak mendapatkan apa pun,” jelas Seno.
__ADS_1
Memang selama menunggu di sini, anak buahnya tidak berhenti melakukan patroli di dimensi ini. Mereka mengecek beberapa kali setiap sudut dimensi. Mereka bahkan beberapa kali menghitung ulang jumlah buah dan sayur, untuk mengecek apakah ada sayuran yang hilang.
“Kita akan tunggu sebentar lagi. Jika tetap tidak ada perubahan, maka aku akan memikirkan solusi lain untuk mengatasi hal ini.