Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 232 Preman China


__ADS_3

Setelah memastikan bahwa kedua istrinya sudah pergi, Seno lalu mengajak Tiarsus dan Azkareia untuk mendekat ke arah dua anak kecil yang sedang berjualan sate. Seno lalu teringat sesuatu, dirinya tidak paham bahasa China. Selama ini ia hanya berkomunikasi dengan bahasa Inggris.


Seno bisa menebak bahwa dua anak kecil ini pasti tidak mengerti bahasa Inggris. Jika begini, maka Seno tidak akan bisa berkomunikasi dengan mereka. Oleh karena itu Seno menghentikan langkahnya. Ia ingat bahwa ia memaksa para hewan untuk mempelajari bahasa asing. Pasti ada satu atau dua di antara mereka yang bisa memahami bahasa China.


Jika Seno harus kembali ke hotel untuk memakai portal yang ia tinggalkan di dekat sana, maka Seno akan membutuhkan waktu yang lama. Seno lalu melihat ke arah sekitarnya. Ada kamar mandi umum tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hal itu memberikan Seno sebuah ide baru.


“Azka, aku sudah memasang sebuah portal di kamar mandi umum itu. Sekarang, kembalilah dan bawakan aku para hewan yang bisa berbahasa China. Dua orang sudah cukup,” pinta Seno.


“Baik, Bos.”


Sembari menunggu Azkareia kembali, Seno memandangi kucing yang ia duga sebagai inti dimensi. Kucing itu terlihat gelisah selama Seno memandanginya. Namun, anak perempuan yang menggendongnya, berusaha menenangkan kelinci tersebut.


Seno menebak inti dimensi yang berbentuk kucing itu mengetahui siapa dirinya. Ada kemungkinan inti dimensi itu ketakutan dengan munculnya Seno di sini. Inti dimensi itu pasti takut Seno akan mengambil alih dirinya, dan menggabungkannya dengan inti dimensi lain yang ia miliki.


Tidak lama kemudian, Azkareia kembali ke tempat Seno. Di belakang Azkareia ada lebih dari dua orang yang mengikutinya. Padahal, sebelum ini Seno hanya meminta Azkareia untuk membawa satu atau dua orang yang bisa berbahasa China, bukan rombongan sebanyak ini.


“Kenapa kalian semua ikut?” tanya Seno melihat satu persatu orang yang ada di belakang Azkareia.


Di sana ada Momoy, Jasmine, dan bahkan Rarae, pemimpin para Muradae ikut ke sini. Seno tidak menyangka tiga orang ini justru ikut ke sini.


“Tentu saja bersenang-senang, Bos. Aku ingin ikut dan melihat pakaian yang dijual di sini. Jika ada pakaian bagus, maka aku akan meniru pakaian tersebut,” jawab Momoy enteng.


“Kalau aku, sama seperti Momoy, aku ingin membeli baju. Lalu bukankah Kamu meminta seseorang yang bisa berbahasa China, Bos? Aku bisa membantumu,” jawab Jasmine.


“Bukannya Kamu bisa membuka internet dan melihat inspirasi model baju di sana? Lalu, kenapa pula Kamu mengajak dia?” ucap Seno sembari menunjuk ke arah Rarae.


Saat ini mata Rarae tidak bisa fokus dengan Seno. Ia sekarang mengedarkan matanya melihat kerlap kerlip lampu jalanan. Seno yakin bisa melihat tatapan mendamba di mata Rarae ketika melihat lampu-lampu jalanan.


“Bos,” ucap Momoy sembari menaruh dua tangannya di pinggang. Apa yang Momoy lakukan itu seolah mengambil pose tengah menggurui Seno.


“Bos sama sekali tidak memahami fashion. Jika aku hanya melihat gambar di internet, maka aku bisa saja menirunya. Tetapi, aku tidak akan pernah bisa memahami jiwa yang dicurahkan oleh pembuatnya ke dalam pakaian itu,” jelas Momoy seperti orang bijak.

__ADS_1


Pantas saja selama ini Momoy masih sering pergi berbelanja di pusat perbelanjaan meski dia bisa melakukan semua itu secara online. Mmoy ingin melihat secara langsung pakaian yang dijual. Atau itu hanya alasan bagi Momoy agar dia bisa keluar rumah?


“Lalu dia?” tanya Seno sekali lagi sembari menunjuk ke arah Rarae.


“Dia ingin melihat benda berkilau, jadi aku mengajaknya.”


Belakangan Seno baru mengetahui bahwa Rarae tergila-gila dengan benda berkilau. Berlian, emas, lampu, semua yang ia anggap berkilau pasti Rarae sangat menginginkannya. Benda-benda itu tidak digunakan untuk apa pun. Ia hanya menumpuknya untuk menjadi koleksi.


Hal ini mengingatkan Seno pada legenda naga dari barat. Seekor naga senang sekali benda berkilau. Mereka mengumpulkan benda berkilau untuk menjadi koleksi tanpa menggunakan satu pun benda tersebut. Persis seperti Rarae.


“Bos, bisakah Kau mengambilkan benda-benda berkilau itu untukku?” tanya Rarae tiba-tiba. Ia masih tetap memandang lampu jalanan.


“Tidak bisa. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil semua lampu-lampu itu. Bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan memberikan cukup banyak lampu di tempat tinggalmu? Jadi bersabarlah.”


“Sekarang, ada yang lebih penting. Aku harus menyelesaikan sesuatu. Kalian jangan membuat keributan. Jika kalian sampai membuat keributan, maka aku akan menghukum kalian.”


Kedatangan Momoy dan yang lainnya membuat Seno melupakan tujuan awalnya mengundang para hewan ini untuk datang. Seno bernapas lega dua anak kecil tadi masih di tempat mereka. Inti dimensi berbentuk kucing itu pun masih berada di sana.


Belum juga Seno sampai di dekat mereka, tetapi tiga orang lak-laki mendekati kedua anak itu. Meski Seno tidak memahami apa yang mereka ucapkan, tetapi dari gelagatnya, Seno bisa menebak bahwa mereka adalah preman.


Mereka terlihat merebut uang milik dua anak tadi. Melihat hal ini, mau tidak mau Seno harus bertindak. Ia tidak bisa membiarkan hal seperti ini terjadi.


“Hey, hentikan,” teriak Seno.


Kedatangan Seno menghentikan apa yang tiga laki-laki itu lakukan. Mereka lalu menatap ke arah Seno dengan tatapan tajam. Salah seorang dari ketiga laki-laki tersebut lalu mengatakan sesuatu. Karena Seno tidak terlalu memahami apa yang laki-laki itu ucapkan, Jasmine yang ada di sana mengartikan ucapannya sehingga Seno bisa mengerti.


“Bos, dia meminta kita untuk tidak ikut campur. Ini adalah wilayah kekuasaan Bos Sheng katanya. Jadi, jika kita masih ingin tetap hidup, kita tidak boleh mencampuri urusan mereka,” jelas Jasmine.


“Aku tidak mau. Aku tidak akan membiarkan kalian menindas kedua anak kecil ini. Jika kalian memang memiliki kemampuan, coba lawan aku,” tantang Seno.


Ucapan Seno tersebut langsung disampaikan oleh Jasmine. Ruapanya, apa yang Seno ucapkan berhasil menyulut kemarahan tiga orang laki-laki itu. Mereka langsung menuju ke arah Seno untuk menghajarnya.

__ADS_1


Namun, dengan mudahnya Seno mengatasi mereka. Ia hanya perlu menghindari serangan para preman lokal itu. Matanya bisa menangkap pergerakan mereka, badannya pun sudah bisa merespon dengan baik.


Apa yang Seno lalukan ini, menyulut kemarahan ketika preman tersebut. Lalu, salah satu di antara mereka berinisiatif menyandera salah satu anak kecil yang ada di sana. Jika ia menyandera salah satu anak itu, maka Seno tidak akan lagi bisa berkutik. Mungkin mereka bisa memeras seno setelah ini.


Dari sekian anak yang bersama dengan Seno, preman tersebut memilih Momoy, yang sedari tadi hanya melihat saja. Momoy tidak memiliki niatan bergabung karena dia tahu, orang-orang yang Seno hadapi sangat lemah. Sekali serangan saja, nyawa mereka akan melayang. Namun, berbeda cerita dengan mereka yang mengganggunya terlebih dahulu.


Ketika laki-laki itu mendekapnya, Momoy langsung menaikkan suhu badannya. Beberapa salju yang ada di bawah kakinya pun meleleh karena hal itu. Lengan jaket milik preman itu pun mulai berasap. Hal ini membuat preman tersebut merasakan panas di lengannya.


Sekarang, mau tidak mau preman tersebut langsung melepaskan Momoy. Ia juga langsung melepaskan jaket yang ia kenakan. Meskipun jaket yang ia kenakan tidak sampai terbakar sepenuhnya, tetapi tangannya sudah memerah karena hal ini.


“Sial, kenapa tanganku bisa menjadi seperti ini?”


Jasmine yang masih menonton pertarungan itu tidak lupa untuk mengartikan ucapan para preman. Ia bahkan menggunakan intonasi semirip mungkin dengan intonasi yang dipakai oleh preman yang berbicara. Ditangannya sekarang bahkan sudah ada kacang tanah yang entah ia dapatkan darimana.


“Lihat saja Kau, akan aku laporkan hal ini kepada Bos Sheng. Aku yakin kalian tidak akan bisa melakukan apa pun setelah ini. Bos Sheng akan membuat hidupmu sengsara,” lanjut Jasmine.


Setelah berucap demikian, Jasmine kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Seno. “Bos biarkan aku saja yang mengatasi mereka. Orang-orang ini hanyalah sampah. Sangat tidak pantas jika Kamu menghadapi mereka sendiri Bos.”


“Tidak perlu, aku bisa mengatasinya.”


Dengan satu gerakan, Seno memukul laki-laki yang dihadapinya. Tentu saja Seno mengontrol kekuatannya, sehingga tenaga yang keluar sangatlah kecil. Seno tidak mau pukulannya ini membunuh mereka.


Dua orang yang ia hadapi, langsung tumbang begitu saja setelah ia pukul. Mereka sekarang dengan bersusah payah bangun dari posisi mereka. Lalu, preman-preman itu saling menopang satu sama lainnya. Mereka lalu mengatakan sesuatu sembari menunjuk ke arah Seno dan yang lainnya.


“Awas kalian. Aku sudah mengingat wajah kalian. Setelah ini, Bos Sheng dan yang lain akan datang untuk menghajar kalian. Bos, itu yang mereka katakan.”


“Kalau begitu, katakan pada mereka, aku sama sekali tidak takut dengan mereka. Sebanyak apa pun orang yang mereka bawa, mereka tidak akan bisa menghadapiku,” jelas Seno.


“Mereka bilang, kita harus menunggu di sini, Bos. Orang-orang itu akan memanggil teman-teman mereka dan menghajar kita.”


Setelah Jasmine mengartikan ucapan mereka, ketiga preman itu langsung pergi dari sana. Seno sendiri tidak merasa terancam sedikit pun dengan orang-orang itu. Ia yang biasanya menghadapi makhluk dimensi lain, yang memiliki kekuatan berkali-kali lipat dari manusia tentu saja tidak takut dengan para preman itu.

__ADS_1


__ADS_2