
Drama kecil yang terjadi di sana tidak terlalu berpengaruh besar ke yang lainnya. Mereka tetap meneruskan belanja mereka seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.
Pada akhirnya Seno membeli lima buah Ipad Mini Gen 6 untuk kelima kelincinya, juga dua buah MacBook Pro untuk kedua adiknya. Seno yakin meski dirinya meminta Anita membelikan laptop untuk Renata, Anita belum melakukan hal itu sampai sekarang.
Jadi, ketika dirinya berada di sini, sekalian saja ia membelikan hal itu untuk kedua adiknya. Untuk dirinya sendiri, laptop miliknya masih berfungsi dengan baik, pun juga dengan ponselnya. Oleh karena itu Seno tidak membeli satu barang pun untuk dirinya sendiri.
Semua itu saja sudah membuat Seno menghabiskan lebih dari sembilan puluh enam juta rupiah. Itu adalah angka yang cukup besar. Meski tabungan Seno banyak, dirinya tidak bisa menghabiskan semuanya begitu saja.
Pendapatannya memang besar sekarang, pun juga dengan pengeluarannya. Saat ini saja Seno dalam rangka menabung untuk membangun gudang baru di lahan peninggalan orang tuanya. Jadi, ia perlu memperhitungkan semua pengeluaran yang ia lakukan.
….
Ketika Seno sampai di rumah, para pekerja yang sebelumnya mengemasis sayuran di rumahnya, terlihat sudah selesai melakukan pekerjaan mereka. Seno juga melihat keberadaan kedua adiknya di antara para buruh tani itu.
Sebelum kedua adiknya mengetahui apa yang sedang Seno bawa, ia buru pergi ke kamarnya dan menaruh lima Ipad di sana. Jika sampai kedua adiknya mengetahui hal itu, maka mereka akan bertanya kepada Seno siapa yang akan menggunakan kelima Ipad tersebut.
Seno kemudian menunggu kedua adiknya di ruang makan keluarga mereka. Tidak lama kemudian, dua adik Seno itu datang.
“Mas Seno sudah pulang rupanya.” Sapa Renata.
“Duduklah. Ada yang ingin aku diskusikan dengan kalian.” Ucap Seno.
“Ini apa Mas?” Tanya Renata melihat dua buah kardus yang ada di depan Seno.
Dari kardusnya saja Renata bisa menebak apa isinya. Tetapi, ia ingin menerima jawaban pasti dari mulut Seno.
“Laptop untuk kalian berdua.” Jawab Seno.
“Loh kok Mas Seno beliin laptop duluan sih? Padahal aku mau beliin Rena laptop dengan uang pemberian Mas Seno kemarin.” Ucap Anita.
“Memangnya udah Kamu beliin?” Anita menggelengkan kepalanya. “Ya udah terima aja ini. Uang itu kamu pake aja untuk yang lainnya.”
“Justru aku yang seharusnya bilang begitu Mas. Seharusnya uang itu Mas Seno pake buat keperluan lainnya. Jangan semua kasih ke kita kayak gini.”
Seno mengibaskan sebelah tangannya setelah mendengar ucapan Anita. “Jangan bilang begitu. Aku satu-satunya laki-laki di keluarga ini. Sudah sepantasnya aku menafkahi kalian seperti ini. Lagi pula, aku masih memiliki uang cukup untuk yang lainnya.”
“Kalian tadi sudah melihat sendiri bukan, kalau aku sekarang memiliki pesanan sayur yang cukup banyak. Sayuran sebanyak itu adalah pesanan rutin yang akan aku kirim setiap empat hingga lima hari sekali.”
“Pendapatanku setiap harinya akan bertambah banyak. Jadi, kalian tidak perlu khawatir mengenai jumlah uang yang aku miliki. Uang yang aku berikan kepada kalian sudah menjadi hak kalian sepenuhnya.”
Sebelum ini Anita bisa melihat sendiri betapa mudahnya kakaknya itu mendapatkan uang. Ia hanya menjual beberapa ratus wortel dan kentang, hasilnya ia mendapatkan uang puluhan juta. Jika Seno melakukan hal yang sama lagi pun, ia bisa mendapatkan uang dengan cepat.
Seno lalu meminta ijin kepada kedua adiknya untuk menggunakan kebun orang tuanya sebagai gudang. Keduanya dengan mudah menyetujui permintaan Seno itu. Daripada dibiarkan menganggur dan ditumbuhi hama, lebih baik Seno memanfaatkannya dengan membangun gudang di sana.
*****
Senin pagi Seno mengawasi beberapa orang mengmindahkan syuran ke dalam sebuah truk kontainer yang parkir di depan rumah Seno. Itu adalah truk kontainer yang dikirim Danial untuk mengambil semua sayuran milik Seno.
“Semuanya sudah lengkap. Seperti perjanjian yang sudah Pak Seno buat dengan Bos kami, pembayaran akan dilakukan paling lambat besok sore.” Ucap seorang laki-laki yang memakai kemeja biru serta celana berwarna hitam
__ADS_1
Pada dada bgian kanan kemeja laki-laki itu terdapat sebuah logo Wira Supermarket, dan di dada sebelah kirinya, terdapat kata Keenan berwarna emas yang tertulis diatas sebuah papan akrilik berwarna hitam.
Dia adalah salah satu pekerja Wira Supermarket yang bertanggung jawab atas penerimaan sayuran dari kebun Seno. Selain itu, mulai sekarang Keenan akan menjadi penghubung antara dirinya dengan Wira Supermarket.
“Baiklah terima kasih Pak Keenan.” Jawab Seno.
Setelah memastikan orang-orang dari Wira supermarket pergi, Seno lalu pergi menuju ke kamarnya. Di sana ia mengambil lima buah Ipad yang sudah ia isi dengan berbagai video pembelajaran yang dikhususkan bagi mereka yang masih belajar baca, tulis, dan hitung.
Seno langsung menuju ke kebun miliknya. Ketika berada masuk ke kebunnya, Seno disambut oleh kelinci-kelincinya.
“Selamat datang Bos.” Sapa kelinci nomor Tiga cukup lancar yang diikuti oleh kelinci nomor satu dan empat yang masih terbata-bata mengatakannya.
“Eh, sudah ada dua kelinci lain yang bisa bicara. Hahaha.” Seno tertawa senang.
“Kerja bagus semua. Kerja bagus. Aku akan memberikan kalian hadiah setelah ini. Tetapi sebelum itu, aku perlu memanen sayuran-sayuran ini.” Ucap Seno.
Seno lalu menaruh kelima Ipad itu di salah satu tempat aman. Sistem mengatakan ia perlu memanen sendiri sayuran yang ada jika ingin mendapatkan poin tanam. Untuk menanamnya, sistem mengatakan Seno boleh memerintahkan yang lainnya, tetapi panen, tetap Seno yang melakukannya.
Sayangnya kelinci-kelinci ini belum mendapatkan tubuh manusia mereka. Jadi, mereka belum bisa membantu Seno menanam sayuran. Yang mereka lakukan hanyalah menggali lubang untuk Seno menanam sayurannya.
Ke depannya jika mereka sudah memiliki tubuh manusia, maka Seno hanya tinggal datang untuk memanen dan membiarkan yang lainnya diurusi oleh “siluman” peliharaannya. Sepertinya kehidupan bertani seperti itu tidak buruk juga.
….
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Stamina : 5 +4 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800 m2 (+700 m2)]
[Level kebun : 2 (1000/1000)]
[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 5.000.000]
[Poin tanam : Rp 6.406.600]
[Penyimpanan Sistem : 15 slot (11/15)]
[Misi : - ]
[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam
- Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam
- Kentang mengenyangkan : 100 poin tanam]
“Akhirnya point tanamku sudah cukup untuk menaikkan level. Sistem, naikkan level kebunku sekarang.” Pinta Seno.
__ADS_1
[Tentu Host]
[Ding]
[5.000.000 poin tanam telah diambil]
[Ding]
[Selamat Host level kebunmu naik menjadi level 3]
[Selamat Host mendapatkan satu kotak petani pemula]
[Selamat Host telah membuka sektor peternakan]
[Selamat Host mendapatkan satu kotak peternak pemula]
[Bekerja keraslah untuk menjadi petani terhebat]
“Eh sektor peternakan? Jadi di sini ada yang seperti itu? Aku kira ini hanya mengenai bercocok tanam. Tetapi aku juga diharuskan beternak?” Gumam Seno setelah mendengar pemberitahuan dari sistem.
Belum juga Seno mendapatkan jawaban atas kebingungannya itu, sebuah pemberitahuan baru terdengar di telinganya. Dari pengalaman sebelum-sebelumnya, Seno sudah tahu bahwa pemberitahuan yang ia terima setelah kenaikan level adalah pemberitahuan mengenai misi.
[Host Sistem telah mendeteksi bahwa Host sudah memiliki sektor perternakan sekarang]
[Host sebagai petani yang memiliki semangat belajar tinggi]
[Selain itu, Sistem juga tahu bahwa Host memiliki rasa cinta yang cukup tinggi dengan sayuran brokoli]
[Host pertahankan rasa sukamu itu dan cintailah semua sayuran di kebunmu]
[Ding]
[Misi telah dibuat]
[Host belajarlah bagaimana menjadi seorang pemerah susu yang baik. Perah 10 liter susu grade C dalam 10 hari]
[Host Panen 500 brokoli dalam waktu 5 hari]
[Hadiah : +2 Sapi Super Besar
+1.000 brokoli]
[Hukuman : - 1.000.000 poin tanam]
[Host lakukan semua misi dengan sungguh-sungguh agar bisa segera menjadi petani terhebat di dunia ini]
“Dua misi sekaligus rupanya. Tidak menjadi masalah untukku. Aku yakin aku bisa menyelesaikan misi-misi ini.” Ucap Seno dengan penuh percaya diri.
Sepuluh liter dalam sepuluh hari adalah hal yang mudah menurut Seno. Ia pernah membaca bahwa seekor sapi perah lokal dalam sehari bisa menghasilkan tiga belas hingga lima belas liter tiap harinya.
__ADS_1
Lalu, ada juga sapi luar negeri yang seharinya bisa menghasilkan dua puluh liter seharinya. Jadi Seno yakin bisa melakukan hal itu dalam waktu satu hari saja.
Untuk brokolinya, itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Seno jelas bisa menyelesaikan misi itu meski itu hanya lima hari saja. Seno yakin poin tanam miliknya cukup untuk membeli lima ratus benih brokoli.