
Amrul memandang Kakaknya yang kini terbaring lemah di rumah sakit. Jarum infus terlihat terpasang di tangan kirinya. Dokter mengatakan Lani telalu banyak kehilangan cairan. Jadi mereka memberi infus kepada perempuan itu terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan lain.
Ada rasa menyesal dalam diri Amrul ketika melihat Kakaknya seperti ini. Petani Hebat sudah memberikan peringatan keras mengenai penggunaan pepeaya itu. Tetapi dirinya tidak mengindahkan peringatan itu.
Demi kekesalan yang selama ini ia pendam, Amrul jadi melakukan sesuatu yang membahayakan Kakaknya seperti ini. Andaikan dirinya bisa memutar waktu, maka Amrul tidak akan memberikan pepaya itu kepada Kakaknya.
Tidak lama kemudian pintu ruang rawat Lani terbuka. Seorang laki-laki berjas rapi terlihat terburu-buru memasuki ruangan tersebut. Tidak hanya itu, kecemasan terpampang jelas di wajah laki-laki itu sekarang.
Laki-laki itu langsung mendatangi ranjang Lani. Melihat perempuan itu tertidur dengan wajah pucat, ia hanya memandanginya. Ia tidak banyak membuat suara.
Setelah cukup puas melihat Lani, laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah Amrul yang kini hanya menunjukkan kepalanya. Ia tidak berani memandang ke arah laki-laki yang baru saja masuk itu.
Melihat Amrul yang seperti itu, laki-laki itu mengerutkan keningnya dalam. Dari apa yang dilakukan oleh pemuda itu, dia terlihat merasa bersalah. Tetapi karena apa? Lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke Lani yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
Apakah ini ada hubungannya dengan sakitnya Lani? Jika tidak kenapa dia bersikap seperti ini sejak kedatangannya.
“Amrul, ikut aku kita perlu bicara.” Ucap laki-laki itu dingin. Meski begitu sebisa mungkin ia mengatakan hal itu dengan cukup lirih. Ia tidak mau membangunkan Lani yang tengah beristirahat.
“Baiklah Papa.” Ucap Amrul lirih.
….
“Jadi kenapa Kakakmu bisa seperti itu?” Tanya Rendi.
Saat ini mereka berada di lorong di depan ruang rawat Lani. Rendi menatap ke dalam ruang rawat putrinya melalui kaca yang ada di pintu. Jika nanti Lani bangun, maka Rendi akan mengetahuinya dengan mudah.
__ADS_1
“Maafkan aku Papa. Seharusnya aku tidak memberikan pepaya itu kepada Kak Lani. Ini semua salahku sehingga Kak Lani harus masuk rumah sakit seperti ini.” Jawab Amrul lirih.
“Apa maksudmu itu?”
“Jadi aku mengikuti sebuah lelang hasil kebun di The Auction. Lalu aku membeli sebuah pepaya dari sana. Katanya pepaya itu bisa membuat orang sembelit sembuh. Jadi aku mebelinya untuk aku berikan kepada Kak Lani.”
“Aku tidak menyangka efek dari pepaya itu semengerikan itu. Aku sama sekali tidak memiliki niatan membuat Kak Lani masuk rumah sakit. Aku hanya berniat sedikit mengerjainya karena dia sering mengerjaiku dan membuatku kesal.” Jelas Amrul lirih.
Lorong itu hening sebentar. Tidak lama kemudian, Rendi membalikkan badannya dan menatap tajam ke arah putranya. Lalu suara tamparan keras terdengar di lorong tersebut.
Tamparan yang Rendi layangkan kepada Amrul cukup keras. Hal itu membuat pemuda itu tersungkur. Tidak hanya itu, sudut bibirnya mengeluarkan darah sekarang.
“Bodoh.” Ucap Rendi dengan penuh penekanan.
“Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk mencelakai saudaramu seperti ini. Bisa-bisanya Kamu melakukan hal itu kepada saudaramu sendiri. Apa yang dilakukan oleh Lani kepadamu hanya candaan. Apa Kamu tidak bisa menerima hal itu? Kamu malah membalasnya seperti ini.”
“Hahaha.” Amrul tertawa keras. Ia tidak mempeduilikan rasa sakit di pipinya yang ia rasakan sekarang. Ia memandang kecewa ke arah Rendi.
“Hanya candaan Papa bilang? Apa yang Kak Lani lakukan bukanlah sebuah candaan Papa. Itu akan menjadi candaan jika semua orang tertawa dan menikmatinya bersama. Tetapi ini, aku sama sekali tidak menikmatinya. Jadi itu tidak bisa disebut sebagai sebuah candaan Papa.”
Hati Amrul hancur ketika mengetahui pemikiran ayahnya mengenai apa yang Lani lakukan kepadanya. Apa yang Lani lakukan bukanlah candaan tetapi sebuah perundungan.
“Apa Papa tahu, aku juga pernah merasakan hal yang seperti ini juga. Memang aku tidak mengalami hal yang separah Kak Lani. Tetapi, aku juga pernah diberi makanan yang membuat aku diare berhari-hari. Apa Papa saat itu memarahi Kak Lani?”
Amrul ingat itu terjadi dua mingu lalu. Ia harus merasakan rasa sakit di perutnya. Amrul juga beberapa kali harus pergi ke kamar mandi. Saat itu Rendi dirinya sakit. Tetapi, ia sama sekali tidak memiliki niatan melihat keadaan Amrul. Menyarankan meminum pergi ke dokter dan minum obat pun tidak.
__ADS_1
“Tidak, Papa sama sekali tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh Kak Lani. Bagi Papa Kak Lani adalah anak emas yang memiliki begitu banyak prestasi yang bisa Papa sombongkan kepada teman-teman Papa yang lain.”
“Sedang aku, si pecundang? Aku tidak pernah terlihat di mata Papa. Papa tidak pedui dengan apa yang terjadi kepadaku. Semua itu hanya karena aku tidak bisa memiliki prestasi secermelang Kak Lani.” Jelas Amrul dengan mata berkaca-kaca.
Setelah berucap banyak, Amrul langsung bangkit dan meninggalkan lorong itu. Ia tidak mempedulikan Rendi yang sekarang termenung setelah mendengar semua penuturannya. Sudah ada Rendi yang mengurusi Lani, jadi Amrul sudah tidak lagi dibutuhkan di sini.
Amrul memilih berhenti di taman rumah sakit. Ia tidak tahu harus kemana sekarang. Pemuda itu enggan pulang ke rumah. Bangunan itu sudah tidak pantas Amrul sebut sebagai rumah. Di sana ia sama sekali tidak merasakan kenyamanan yang biasa diberikan oleh sebuah rumah.
Sudah sepuluh menit Amrul duduk di sini. Ketika dirinya bangki dari bangku tempatnya duduk dan pergi dari sini, seseorang laki-laki paruh baya mendatanginya. Laki-laki itu terlihat lega melihat keberadaan Amrul.
Amrul sedikit mengerutkan keningnya melihat hal itu. Ia sama sekali tidak mengenali laki-laki paruh baya ini. Hal itu membuat Amrul mengurungkan niatnya untuk segera pergi. Ia ingin tahu apa keinginan dari laki-laki ini.
“Akhirnya aku menemukanmu setelah berputar-putar mencarimu.” Ucap laki-laki itu ketika berdiri di depan Amrul.
“Ehm, apakah kita saling mengenal sebelumnya?”
Laki-laki itu menggeleng pelan. “Tidak. Kita tidak saling mengenal. Hanya saja, aku tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan yang Kamu lakukan dengan Ayahmu. Maafkan aku sudah lancang.” Ucap Laki-laki itu.
Tentu Amrul tidak bisa marah, apalagi laki-laki meminta maaf padanya. Pembicaraan antara dirinya dan Rendi dilakukan di tempat umum. Jelas akan ada yang mengetahuinya.
“Tidak apa-apa. Lalu ada perlu apa Anda kemari?” Tanya Amrul ingin memastikan tujuan laki-laki ini mencarinya.
“Ah begini. Aku tadi mendengar bahwa Kamu membeli sesuatu yang bisa membuat seseorang sembelit apakah itu benar?” Tanya Laki-laki itu dengan penuh antisipasi.
“Ya. Aku memberlinya dari sebuah lelang di The Auction. Jika Anda memang menginginkannya, Anda bisa mengecek pemilik akun Petani Hebat di sana.” Jelas Amrul.
__ADS_1
“Baguslah. Terima kasih anak muda. Aku akan mencoba membelinya. Jika itu seefektif itu, maka ayahku tidak akan perlu menjalani operasi karena sembelit yang dialaminya.”