Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 201


__ADS_3

“Aku sudah tahu bahwa atasanmu bernama Profesor Giorgio,” ucap Seno setelah mereka saling pandang cukup lama.


Seno melihat sedikit perubahan pada wajah datar Roman. Mata laki-laki itu sedikit melebar setelah mendengar Seno mengucapkan nama Profesor Giorgio. Meski Roman berusaha menormalkan kembali ekspresinya, tetapi Seno sudah terlanjur melihat semua itu.


“Aku rasa Kau tidak bisa lagi menutupi identitas atasanmu itu. Aku sudah mengetahuinya. Jadi, katakan semua yang Kau ketahui mengenai Profesor Giorgio. Jika Kau berkata jujur, maka Kau akan aku biarkan hidup, meski aku tetap akan mengurungmu di sini.”


Roman sedikit merasa lega ketika mendengar ucapan Seno tersebut. Ini berarti, Seno belum mengetahui apa pun mengenai Profesor Giorgio. Seno hanya ingin menggertaknya dan membuat ia mengungkapkan semua mengenai Profesor Giorgio.


Roman tentunya tidak akan semudah itu jatuh dalam jebakan Seno. Ia akan tetap tutup mulut seperti sebelum-sebelumnya. Roman masih menaruh harapan untuk bisa keluar dari tahanan Seno.


Tentu saja Roman memiliki pemikiran seperti ini karena dia belum melihat adanya Gylinox di sini. Seandainya yang mengurusi Roman dan anak buahnya adalah para Gylinox, maka Roman akan sangat putus asa akan nasib yang menimpanya.


“Tetapi, jika Kau tidak menurut ….”


Seno sengaja memberi jeda pada ucapannya. Ia lalu memetikkan jemarinya. Dari ujung jari Seno, terdapat sebuah api kecil yang terlihat meliuk-liuk seakan tengah menari. Api kecil itu bahkan melompat dari ujung jari satu ke ujung jari lainnya.


Seno lalu meniupkan api itu ke salah satu dari empat belas orang yang tersia. Melihat api itu, keempat belas orang anak buah Roman, memasang wajah ketakutan. Mereka tahu apa yang terjadi jika api itu mengenai tubuh mereka, tidak akan ada yang tersisa.


Pada akhirnya, api itu menargetkan salah satu anak buah Roman yang terlihat sudah sekarat. Seperti yang dialami oleh korban sebelumnya, api itu langsung menyelimuti tubuh orang itu. Perlahan api itu membesar dan dalam sekejab, api itu menghilang bersamaan dengan menghilangnya orang yang tadi dilahapnya.


“Kau akan memiliki nasib sama seperti anak buahmu yang itu. Tetapi, terlalu ringan jika Kau hanya mati dengan dibakar habis. Aku akan membakar beberapa bagian tubuhmu secara perlahan. Siksaan yang Kau terima ini, pastinya tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan yang akan menantimu.”


“Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Kau bisa mengeluarkan api seperti itu? Ini mustahil. Sebenarnya apa Kau ini?”


Roman tidak mempercayai apa yang ia lihat. Meski ia tahu bahwa ada gadis berpakaian merah yang bisa memakan api, Roman masih memiliki pemikiran skeptis mengenai hal itu. Tetapi sekarang, setalah melihat langsung bagaiama Seno membakar habis salah satu anak buahnya, ia tidak bisa berpikir jernih.


“Aku hanya manusia. Ya bisa dibilang manusia yang memiliki kemampuan lebih. Jadi, apa jawabanmu? Apakah Kau akan memberitahuku mengenai Profesor Girogio? Atau Kau mau aku siksa pelan-pelan hingga Kau sangat mengharapkan kematian?”


Sekali lagi, Seno memetikkan jarinya. Kali ini, api yang ada di ujung jarinya lebih besar daripada sebelumnya. Api itu kemudian melayang dari jari Seno menuju ke arah Roman. Melihat hal itu, Roman langsung merasa ketakutan.

__ADS_1


“Aku akan mengatakan semuanya. Aku akan mengatakan semuanya yang aku tahu. Jadi, hentikan bola api itu. Aku masih ingin hidup,” teriak Roman dengan keras.


Seno lalu menarik api miliknya. Tetapi sebelum itu, ia akan memberikan hadiah kepada Roman karena sudah membangkang. Seno membuat api miliknya melayang di atas kepala Roman dan membakar semua rambut miliknya. Setelah melihat rambut Roman sudah habis, barulah Seno menarik apinya itu.


“Sekarang katakan semua padaku. Jangan sampai aku berubah pikiran. Jika Kau membuatku marah, maka bukan rambutmu saja yang terbakar habis, tetapi bagian tubuhmu yang lain yang akan terbakar habis,” ucap Seno dengan nada datar.


“Profesor Giorgio memiliki sebuah laboratorium rahasia yang berada di pulau tidak berpenghuni. Sekilas, pulau itu hanyalah pulau yang terbengkalai. Namun, laboratorium milik Profesor Giorgio berada di bawah tanah.”


“Profesor Giorgio selalu berada di laboratorium miliknya. Tetapi, Kau tidak akan pernah bisa menembus pertahanan yang ada di sana. Pulau itu memiliki cukup banyak robot yang bisa mendeteksi seseorang di setiap titik.”


“Jadi, jika Kau datang ke sana, Profesor Giorgio akan langsung tahu bahwa ada yang menyusup. Laboratorium milik Profesor Girogio juga tidak akan bisa mudah dihancurkan. Meski Kau memiliki kekuatan seperti itu, percuma saja.”


“Sebuah percobaan peledakan nuklir pernah dilakukan di dalam laboratorium milik Profesor Giorgio. Tetapi, laboratorium itu baik-baik saja. Bahkan, tidak ada radiasi nuklir di sana. Jadi, urungkan saja niatmu untuk mencari Profesor Giorgio.”


Apa yang Roman katakan ini adalah kenyataan. Ia sudah adalah salah satu orang yang menemani Profesor Giorgio dalam melakukan peledakan nuklir tersebut. Roman sendiri merasa heran dan aneh melihat laboratorium milik Profesor Giorgio baik-baik saja setelah dilakukan peledakan nuklir.


“Itu bukan urusanmu. Apakah aku bisa menembus semua pertahanan itu, bukanlah urusanmu. Aku memiliki caraku sendiri untuk memasuki laboratorium Profesor Giorgio itu. Sekarang, tunjukkan saja di mana koordinat dari pulau itu,” pinta Seno.


Seno memiliki cukup banyak pasukan. Lalu, beberapa buruh taninya Seno yakini memiliki kekuatan melebihi ledakan bom nuklir. Asalakan dia mengerahkan seluruh anak buahnya, apa pun bisa Seno lakukan.


Jika ternyata Roman berbohong kepadanya, maka hukuman berat sudah menanti Roman. Ia akan memberikan siksaan yang tidak akan Roman lupakan begitu saja.


“Ingat, jika nanti aku mengecek pulau yang letaknya sesuai koordinat ini, tetapi di sana tidak ada apa pun, maka siksaan berat akan menantimu. Aku tidak akan bercanda dengan ucapanku ini.”


Setelah mendapatkan koordinat yang ia inginkan, Seno bergegas kembali ke keluarganya. Ia tidak akan terburu-buru untuk mendatangi pulau di mana Profesor Giorgio berada.


Seno ingat bahwa dirinya sekarang sedang dalam masa berlibur dengan keluarganya. Ia tidak mau meninggalkan mereka untuk menemui profesor itu. Seno sudah tahu di mana Profesor Girogio berada. Sekarang, Seno tinggal melakukan perencanaan matang. Meski ia yakin dengan kekuatan yang ia miliki, Seno boleh bukan lebih berhati-hati lagi?


“Mas Seno, sini Mas.”

__ADS_1


Teriakan Renata yang meminta Seno mendekat menyabut kedatangan Seno. Dari ATV yang ia kendarai, Seno bisa melihat bahwa saat ini, keluarga kecilnya tengah menikmati memasak ikan bakar di dekat danau.


“Kalian membakar ikan? Apakah itu sudah matang? Kelihatannya enak sekali.”


“Tentu saja,” jawab Renata dengan penuh percaya diri. “Ini adalah ikan yang aku tangkap sendiri di sungai. Lalu, aku juga memasaknya dengan penuh cinta. Tentu saja ikan ini akan terasa enak.”


“Baiklah, berikan aku jatah ikanku. Aku juga ingin mencicipi ikan lezat ini.”


Ikan yang Seno makan ini adalah ikan gurame. Tetapi, ukuran dari gurame ini lebih besar daripada ukuran gurame yang beredar di pasaran. Seno yakin, memakan setengah dari ikan gurame ini bisa membuat perutnya kenyang.


“Jadi, kalian sudah menentukan akan liburan ke mana? Kota mana yang ada di Amerika yang ingin kalian kujungi? Atau, adakah negara lain yang ingin kalian kunjungi?” tanya Seno setelah menghabiskan seper empat gurame bakar miliknya.


“Di sini saja sudah cukup menyenangkan Mas. Pemandangannya indah, dan aku bisa menikmati keindahan alam,” jawab Anita.


“Iya, Mas Seno. Liburan di sini juga nggak masalah. Udaranya lebih segar. Aku bisa mancing ikan kapan aja. Lalu, aku bisa menyusuri hutan menggunakan ATV. Ini lebih menyenangkan daripada menjelajah kota,” imbuh Renata.


Mungkin karena mereka merupakan anak petani yang memiliki lahan di daerah pegunungan membuat Seno dan adik-adiknya lebih menyukai berada di alam terbuka daripada berada di tempat yang penuh dengan orang.


“Bagaimana dengan kalian?” tanya Seno kepada Dina dan Miranda.


“Aku tidak masalah. Asalkan kita ngejalanin liburan sama-sama, di mana pun itu nggak masalah,” jawab Dina.


“Iya, Ayah. Yang terpenting itu bukan tempatnya. Tetapi, dengan siapa kita ada di sana. Meski di tempat biasa sekali pun, asalkan bersama dengan orang yang kita sayangi, maka tempat itu akan terasa spesial,” imbuh Miranda.


“Baguslah jika kalian tidak keberatan. Kita akan camping di sini sampai kalian merasa puas.”


...


rekomendasi cerita, "Wanita Tangguh" by Euro

__ADS_1



__ADS_2