
“Aku tahu apa yang Om khawatirkan. Om pasti takut bahwa Dina tidak akan bahagia di pernikahan yang seperti ini bukan? Tetapi aku bisa menjamin kepada Om bahwa aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bersikap adil dan membahagiaakan Dina.”
“Maka dari itu Om, Tante, berikan aku kesempatan itu. Beri kami restu kalian.”
“Tidak. Kami tetap tidak akan merestui hubungan kalian. Lebih baik Dina menikah dengan orang yang menjadikan dia ratu dalam rumah tangganya.” Jawab Firda.
Irfan yang mendengar semua itu tersenyum lebar. Ini berarti dirinya memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan Dina. Orang tua Dina sudah tidak menyetujui hubungan antara Dina dan Seno.
Setelah ini, Irfan perlu memikirkan cara agar orang tua Dina menyukainnya. Bisa jadi, dirinya yang nantinya akan mereka pilih untuk menajadi suami putri mereka. Tetapi untuk sekarang, Irfan hanya diam mendengarkan. Belum saatnya ia berbicara.
“Tetapi aku yakin dengan menikahi Seno, aku bisa mendapatkan kebahagiaan berumah tangga Ayah, Ibu. Jadi restui hubungan Kami ini.” Pinta Dina.
“Tidak akan. Kami tahu apa yang terbaik untukmu Dina, dan menikah hanya untuk dimadu bukanlah pilihan yang baik. Jika Kamu masih memaksa, maka kami akan menjodohkanmu dengan laki-laki pilihan kami.” Ucap Ibra memberikan ultimatum kepada Dina.
Mendengar hal itu, Dina memandang tajam ke arah orang tuanya. Ia tidak menyukai ucapan dari orang tuanya barusan. Sangat tidak suka.
“Jika Ayah berkata seperti itu baiklah. Hanya saja aku sangat kecewa dengan keputusan kalian ini. Ayah dan Ibu sudah janji tidak akan menjodoh-jodohkanku seperti itu. Tetapi nyatanya kalian masih melakukannya. Jadi jangan salahkan aku jika menikahi Seno tanpa restu dari kalian.”
“Jika Kamu melakukannya, maka Kamu tidak bisa lagi menikmati semua fasilitas yang aku berikan. Tidak hanya itu, Kamu juga tidak akan ada di daftar ahli waris keluargaku.” Ancam Ibra.
“Tidak masalah untukku. Aku masih bisa menghidupi diriku sendiri. Jika aku tidak mampu, masih ada Seno. Aku yakin dia tidak akan mmeperlakukanku dengan buruk ketika kita menikah nanti.” Jawab Dina.
Setelah Dina berucap demikian, ia bangkit dari tempat duduknya. Perempuan itu lalu menarik tangan Seno dan mengajak laki-laki itu meninggalkan rumahnya ini.
“Ayo Sen kita pergi. Tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi.”
“Tunggu dulu Din, nggak seharusnya Kamu kayak gini. Semua ini masih bisa dibicarakan dengan baik. Bagaimanapun mereka adalah orang tuamu. Jadi kita memerlukan restu mereka jika ingin menikah.” Jawab Seno.
Tujuannya adalah mendapat restu. Bukan menikahi anak orang tanpa adanya restu. Ia tidak menyangka Dina akan bersikap seperti ini. Seno tidak mau hanya karena masalah ini, hubungan antara Dina dan orang tuanya merenggang.
__ADS_1
“Ya sudah Kamu bicara dulu saja dengan mereka. Aku akan menunggumus di mobil.” Jawab Dina yang kemudian pergi meninggalkan ruang tamu rumah yang sudah ia tinggali sejak lahir itu.
“Om, Tante, maaf aku nggak bermaksud untuk bikin semuanya tambah runyam seperti ini. Aku benar-benar menginginkan restu dari kalian untuk menikahi Dina. Aku akan mencoba membujuknya setelah ini. Aku permisi dulu Om, Tante.” Ucap Seno yang kemudian pergi meninggalkan ruang tamu tersebut.
….
Di depan Seno melihat Dina yang sekarang bersandar di pintu mobilnya. Perempuan itu terlihat memasang wajah masam sekarang. Ketika Seno akan berbicara, Dina buru-buru mengangkat sebelah tangannya, meminta Seno menghentikan apa yang akan dilakukannya.
“Kita bicara di tempat lain saja. Jangan di sini.” Pinta Dina.
“Baiklah jika itu maumu.”
Pada akhirnya Seno mengendarai mobilnya menuju ke sebuah kafe yang dipilih oleh Dina. Kafe ini memiliki ruang privat di dalamnya. Seno cukup kaget ketika mengetahui keberadaan Miranda di ruangan yang sudah Dina pesan.
Rupanya Dina sudah terlebih dahulu menghubungi Miranda dan meminta perempuan itu datang kemari. Jika begini Seno tidak perlu menghubungi Miranda untuk mengajaknya mendiskusikan hal ini bersama.
Melihat dari ekspresi Dina, Miranda bisa menebak bahwa hasilnya cukup buruk. Tetapi ia masih ingin mendengar langsung dari Dina mengenai hal itu.
“Mereka tidak merestui. Orang tuaku malah bilang akan menjodohkanku dengan laki-laki pilihan mereka.” Jawab Dina.
“Lalu sekarang bagaimana? Apa Mbak Dina akan mundur atau tetap lanjut?”
“Tentu saja lanjut. Dengan atau tanpa restu mereka, aku tetap akan menikah dengan Seno.”
“Tetapi Din, restu mereka itu penting. Aku tidak mau kita menikah tanpa restu mereka.”
“Jika aku harus menunggu restu dari mereka, sudah pasti mereka mereka akan melakukan sesuatu agar aku tidak menikah denganmu. Apa Kamu mau jika pada akhirnya aku harus menikah dengan laki-laki lain? Tidak bukan?”
Mendengar ucapan Dina, Seno kembali terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang satu ini. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, Seno tidak mau melepaskan Dina untuk menikah dengan orang lain.
__ADS_1
“Jadi Mbak Dina akan menikah tanpa restu?”
“Ya.”
“Lalu sekarang, apa yang kalian mau?” Tanya Seno.
“Tiga minggu lagi kita akan menikah seperti yang sudah kita sepakati. Lalu, karena keluarga Mbak Dina belum merestui pernikahan kita ini, lebih baik kita undur saja resepsinya. Aku yakin nantinya orang tua Mbak Dina akan luluh pada akhirnya.”
“Jika mereka sudah memberi restu, barulah kita akan melangsungkan resepsi.” Jawab Miranda.
“Baiklah, kita akan mengikuti perkataanmu itu. Tetapi sebelum itu, kita akan perlu memikirkan di mana Dina tinggal setelah ini. Orang tuanya sudah melarangnya menggunakan fasilitas yang mereka berikan. Itu termasuk juga apartemen yang Dina tinggali saat ini.”
“Dina masih perlu menyelesaikan kuliahnya. Jadi dia tidak bisa tinggal denganku untuk sekarang.” Jelas Seno.
“Itu tidak menjadi masalah Sen jika aku tinggal dengamu sekali pun. Aku hanya tinggal menyelesaikan sripsi dan beberapa kelas lainnya. Minggu depan aku sudah sidang skripsi. Jadi aku tidak akan lama berada di Kota H.”
“Kota H dan Kota S letaknya tidak terlalu jauh. Jadi, semisal aku masih perlu ke kampus sekali pun, aku bisa berangkat dari Kota S. Kita tidak perlu lagi mencari tempat tinggal untukku di kota H.” Jelas Dina.
Seno mengangguk penuh pengertian. Itu berarti dirinya tinggal membelikan mobil untuk mobilisasi Dina. Jika perlu, ia juga akan mencarikan sopir pribadi untuk perempuan itu.
“Kalau begitu, aku akan membeli sebuah rumah di pusat kota. Dengan begitu Miranda lebih dekat dengan kampusnya dan Dina bisa lebih dekat pula jika ingin ke Kota H. Bagaimana dengan itu?”
“Apa itu tidak masalah dengan Mas Seno? Kalau begitu Mas Seno nantinya akan jauh dari kebun bukan?”
“Itu tidak masalah untukku. Sekarang kalian bantu aku memilih rumah untuk kita tinggali setelah kita menikah nanti. Aku memiliki dana lima milyar lebih di rekeningku untuk membeli rumah. Kalian bisa menentukan sendiri rumah seperti apa yang kalian inginkan.”
“Aku menyerahkan semua keputusannya kepada kalian. Jika ada rumah yang kalian inginkan tetapi uangnya kurang, kalian tinggal bilang padaku. Aku akan menambahkannya.” Jelas Seno.
Itu adalah seluruh uang yang Seno miliki di rekeningnya. Setiap harinya uang yang masuk ke rekeningnya berjumlah lebih dari tiga ratus juta rupiah. Jadi tidak masalah jika semua uang itu dihabiskan hanya untuk membeli rumah. Untuk mobil dan kebutuhan lain, Seno bisa memikirkan hal itu belakangan.
__ADS_1