Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem
PH 179


__ADS_3

"Itu lucu sekali Jenderal. Aku sama sekali tidak memiliki niatan seperti itu. Jika aku benar-benar memiliki niatan untuk menguasai dunia, aku tidak akan menunggu hingga menaklukkan semua dimensi yang ada. Dengan kekuatanku yang sekarang, aku yakin bisa melakukannya,” jelas Seno.


"Aku tinggal membawa anak buahku, ke negara yang ingin aku takhlukkan, melibas habis tempat-tempat penting. Dalam prosesnya pun, aku bisa menemukan portal-portal lain. Jadi, tidak ada bedanya bagiku untuk menaklukkan dunia ini sekarang atau nanti.”


“Bukankah lebih menguntungkan bagiku untuk tidak meminta lokasi portal-portal itu kepada pihak militer? Dengan begitu, aku tidak perlu berhutang budi pada kalian.”


Sekali lagi, Eko dan Mansyur tidak bisa menanggapi perkataan Seno ini. Apa yang ia ucapkan ada benarnya. Seno bisa kapan saja menjadi penguasa dunia jika dia menghendakinya. Akan lebih menguntungkan memulai semuanya sejak sekarang.


“Apa Kamu tidak takut kami akan membocorkan rahasiamu ini? Maksudku, Kami sekarang cukup banyak menegtahui rahasiamu. Apa Kamu tidak takut rahasiamu bocor ke publik?” tanya Eko.


Seno hanya menyeringai. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Eko. Seno justru bertanya balik kepada jederal itu.


“Aku yakin kalian sudah bertemu dengan beberapa tentara yang menghilang itu bukan? Bagaimana tanggapan mereka menenai pengalaman beberapa hari terakhir ini? Aku rasa cukup bagus bukan.”


“Aku yakin kalian tidak mendapatkan informasi apa pun dari mereka bukan? Itu karena aku sudah memberi sesuatu kepada mereka sehingga mereka tidak bisa mengungkapkan rahasiaku. Sama seperti mereka, Jenderal juga sudah mengkonsumsi ramuan yang sama.”


“Setelah ini, Anda sekalian tidak akan bisa mengungkapkan rahasiaku, sama seperti mereka. Jika tanpa hal seperti itu, maka aku tidak akan seberani itu mengungkap rahasia ini kepada Anda sekalian.”


Sekarang semua terjawab sudah. Tentara yang membicarakan mengenai pengalaman memancing mereka, bukan karena ingin mempermainkan Eko dan Mansyur. Tetapi, itu semua terjadi karena Seno sudah melakukan sesuatu, agar mereka tidak bisa lagi membongkar rahasia milik Seno.


“Ini adalah tur pertamaku untuk kalian. Aku masih memiliki tur di dimensi satunya kepada Anda berdua,” jelas Seno.


Azkareia kembali membawa dua jenderal yang kini masih tersungkur itu, mengikuti Seno menuju ke dimensi di mana para Gylinox tinggal. Kali ini Seno tidak memperlihatkan kebun miliknya yang ada di dimensi ini. Seno langsung membawa Eko dan Mansyur ke tambang miliknya.


Di sana, mereka melihat beberapa Gylinox tengah menambang berliat. Mereka bersikap hati-hati dalam menambang. Berlian yang sudah mereka tambang, dipisahkan berdasarkan ukuran, kejernihan dan warna dari berlian tersebut.

__ADS_1


“Ini adalah tambang berlian milikku. Tanpa menguasai dunia pun, aku bisa menjadi orang terkaya di dunia. Keuntunan berjualan berlian pun jauh lebih tinggi,” jelas Seno.


Mereka tidak berhenti untuk melihat aktivitas penambangan berlian. Seno memiliki tujuan lain ketika mengajak para jenderal itu ke mari.


Rasa takut mulai muncul di dalam diri Eko dan Mansyur. Saat ini mereka berada di ruang sempit yang tidak memungkinkan untuk mereka kabur. Tidak seperti sebelumnya, yang berada di tanah lapang.


Semakin lama mereka berjalan di dalam gua, rasa takut itu semakin besar. Namun, baik Eko maupun Mansyur tidak mau menunjukkan hal itu. Mereka bersikap biasa saja. Tetapi, ketika mereka mendengar suara teriakan kesakitan yang cukup keras, keringat dingin langsung mengalir di dahi mereka.


“Arrghh, hentikan aku mohon,” teriak suara itu.


Eko dan Mansyur langsung saling pandang. Mereka mengenal dengan baik suara ini.


“Roy.” Secara bersamaan mereka melafalkan nama Roy tanpa mengeluarkan suara.


Tidak lama kemudian, rombongan mereka sampai di sumber suara. Di sana Eko dan Mansyur melihat bagaimana Roy yang telihat lebih kurus, tengah terlentang di tanah. Ia terlihat tengah menahan sakit sekarang.


Anak-anak itu baru menghentikan kegiatan mereka setelah mengetahui bahwa Seno datang. Mereka langsung berlari ke arah Seno dan kemudian berbaris rapi layaknya prajurit. Anak-anak itu bahkan memberikan penghormatan ala militer kepada Seno.


“Lapor Bos, target masih hidup dan penyiksaan berjalan dengan baik.” Seorang anak perempuan yang terlihat menjadi pemimpin dari anak-anak ini, memberikan laporan kepada Seno.


“Jasmine, apa lagi yang Kamu lakukan? Kenapa lagi kalian berpakaian seperti ini?” tanya Seno heran melihat cara berpakaian serta gaya berperilaku yang Jasmine dan kelinci lainnya lakukan.


“Oh kami sekarang berperan menjadi seorang tentara yang menyiksa musuh, untuk mendapatkan rahasia mereka. Melakukan sesuati seperti memperagakan sebuah peran ternyata cukup menyenangkan Bos.”


“Dengan peran ini aku mendapatkan cukup banyak rahasia milik musuh. Aku mendapatkan beberapa informasi mengenai keberadaan portal dimensi lainnya.”

__ADS_1


Setelah Jasmine berucap demikian, salah satu kelinci mendatangi Seno dan menyerahkan selembar kertas padanya. Kertas itu berisikan alamat dari portal yang ada. Tetapi, di sana Seno tidak menemukan koordinat pasti mengenai keberadaan portal-portal yang ada.


Seno sama sekali tidak menyangka bahwa Jasmine akan memikirkan hal ini untuknya. Ia tidak berpikir untuk memanfaatkan Roy untuk mendapatkan informasi darinya. Ternyata Jasmine satu langkah lebih awal darinya.


“Eko, Mansyur, selamatkan aku,” teriak Roy dengan suara seraknya.


Kedatangan Eko dan Mansyur memberikan harapan bagi Roy untuk terbebas dari siksaan ini. Ia sudah tidak kuat jika harus menerima siksaan berat terus menerus.


“Ah aku sampai lupa bahwa kita memiliki tamu sekarang. Jenderal Eko, Jenderal Mansyur, kalian melihat sendiri bukan apa yang sudah terjadi kepada Jenderal Roy. Itu adalah hukuman kepada siapa pun yang memiliki niat buruk padaku.”


“Memang kalian tidak akan aku atur, kalian tidak akan menjadi bonekaku, kalian masih bisa melakukan apa yang kalian inginkan. Tetapi, jika kalian memiliki niatan mencelakai keluargaku, Jenderal Eko dan Jenderal Masnyur akan merasakan siksaan yang lebih buruk dari apa yang Jenderla Roy alami.”


“Jenderal Roy sudah merasakan tulangnya dipatahkan ….” Seno terdiam sesaat. Ia terlihat memikirkan sesuatu.


“Tulangnya dipatahkan lebih dari seratus kali Bos,” sahut Jasmine. “Aku menghitung setiap tulang tangan, dan kaki dari manusia itu sudah dipatahkan lebih dari seratus kali selama beberapa hari terakhir.”


Saat itu juga bulu kuduk Eko dan Mansyur berdiri. Mereka merinding membayangkan penderitan yang harus Roy alami. Pantas saja badan Roy terlihat lemas tidak bertenaga, dia sudah mengalami siksaan separah itu.


“Ah ya, mungkin kalian akan mendapatkan hukuman dipatahkan tulangnya lebih dari lima ratus kali jika kalian berpikir yang macam-macam dan mengganggu keluargaku. Jika kalian menghiraukan ucapanku ini tidak masalah. Balasannya mungkin tidak hanya pada kalian, tetapi pada keluarga kalian.”


“Aku harap, Jenderal sekalian bisa bersikap lebih bijak lagi ke depannya. Kita masih perlu melakukan kerja sama bukan?” tanya Seno sembari menyeringai kepada Eko dan Mansyur.


*****


rekomendasi cerita untuk kalian, Budak Ku Mr. Mafia, punya kisss

__ADS_1



__ADS_2