
Wajah Seno berubah serius ketika membaca surat di tangannya. Tidak banyak yang tertulis di sana. Tetapi, isi surat tersebut cukup untuk membuat Seno memperlakukannya dengan sangat serius.
“Apa surat dari Pakde Johan itu Ayah? Surat itu ia selipkan di antara tumpukan baju yang ia belikan untukku. Pasti itu surat yang cukup penting.”
Pertanyaan Miranda itu membuat Seno mendongakkan kepalanya dan memandang ke arah kedua istrinya yang tengah menunggu jawaban darinya. Seno langsung memberikan surat yang ia terima dari Johan itu kepada mereka.
Sebelumnya Johan datang ke rumah mereka untuk membeli beberapa sayuran. Lalu, dia menitipkan sebuah bingkisan pakaian untuk Miranda. Seno tidak menyangka bahwa Johan akan menyelipkan sebuah surat untuk mereka.
“Pakde Johan meminta kita bersiap untuk kemungkinan terburuk. Kemungkinan besar pihak militer akan menyerang kita setelah ini.” ucap Seno menyampaikan kembali isi dari surat pemberian Johan.
Terdengar helaan nafas panjang dari Dina. “Aku nggak menyangka mereka akan melakukan hal ini. Untung saja Kamu sudah mengirim Lana dan Luna untuk menjaga Nita dan Rena. Setidaknya mereka akan aman sekarang.”
Lalana dan Laluna adalah buruh tani yang Seno dapatkan kemarin. Ia sudah mengirim mereka untuk menjaga kedua adiknya.
Kedua orang itu merupakan siluman, sama seperti Azkareia. Jika Azkareia adalah siluman rubah, maka mereka berdua adalah siluman burung yang mirip burung Beo. Itu sangat Seno syukuri.
Dengan bentuk mereka itu, mereka akan lebih mudah mengikuti kedua adiknya kemana pun mereka pergi. Apalagi Seno tidak perlu repot menjelaskan asal usul dua orang wanita cantik yang tiba-tiba saja ia minta menjadi pengawal kedua adiknya.
“Tetap saja masih ada yang aku khawatirkan Bunda. Bagaimana dengan keluarga kalian? Sudah pasti pihak militer akan mengalihkan target mereka ke keluarga kalian jika nanti mereka tidak berhasil melakukan apa pun kepada keluargaku. Aku tidak mau hal seperti itu sampai terjadi.” Ucap Seno.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Dina yang mulai khawatir.
Keluarga Miranda masih memiliki Johan yang tergabung dalam militer. Setidaknya pihak militer tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan kepada keluarga anggota mereka sendiri bukan?
Tetapi bagaimana dengan keluarga Dina yang bukan berasal dari keluarga militer? Apakah mereka akan menjadi target mereka setelah ini?
“Salah satu cara yang dapat aku pikirkan adalah memperkuat mereka sekarang. Kita bisa memberikan mereka brokoli sebanyak yang bisa mereka konsumsi dalam waktu dekat.”
__ADS_1
“Dengan begitu, jika samapai mereka menjadi target pihak militer dan bantuan kita belum juga sampai, maka nyawa mereka tidak akan terancam. Aku belum menemukan solusi lain selain ini.” Jawab Seno.
“Eh Bos, kenapa Kamu tidak mengirim kami saja?”
Jasmine yang sedari tadi mencuri dengar pembicaraan Seno dan kedua istrinya, tiba-tiba saja ikut bergabung dalam obrolan mereka. Jasmine pun menghapiri ketiganya yang sekarang ini tengah duduk di bawah gazebo yang dibangun oleh Tiarsus di dalam kebun mereka yang ada di dimensi lain.
“Apa maksudmu Jasmine? Apakah Kamu bisa melindungi mereka?” Tanya Seno heran.
Jasmine adalah kelinci biasa. Dia kelinci asli Bumi dan bukan berasal dari dimensi lain. Jelas Jasmine tidak memiliki kemampuan untuk melindungi keluarga kedua istrinya.
“Tentu saja bisa. Baru-baru ini aku memiliki sebuah kemampuan baru. Dengan kemampuanku ini, aku yakin aku dan teman-temanku bisa melindungi keluarga Nyonya Bos.” Jawab Jasmine sembari membusungkan dadanya, bangga dengan pencapaian yang ia miliki.
“Kemampuan baru? Kenapa aku tidak pernah mendengar bahwa Kamu memiliki kemampuan baru?”
Jasmine tersenyum lebar hingga terlihat barisans giginya, ia juga terlihat menggaruk belakang kepalanya setelah mendengar ucapan Seno barusan.
“Hehehe. Aku lupa mengatakan hal itu Bos.” Jawab Jasmine.
“Eh kita tidak bisa melakukannya di sini Bos. Aku tidak mau merusak sayuran milikmu. Bagaimana jika kita pergi ke tempat Momoy saja? Di sana lahan kosongnya cukup luas. Aku bisa dengan bebas menunjukkan kemampuan baruku ini.”
Tanpa basa basi lagi, mereka menuju ke dimensi di mana para Molyap tinggal. Di sana Seno menyaksikan bagaimana Thorbiorn, Azkareia, dan beberapa Gylinox terlihat membuat pagar untuk peternakannya.
Pagar-pagar itu terbuat dari kayu pohon yang sebelumnya melimpah setelah Seno membuka lahan pertanian. Beberapa memang sudah dipakai untuk membangun hunian, tetapi itu masih menyisahkan cukup banyak kayu.
“Bos aku akan melakukannya di sini. Tolong mundurlah beberapa meter agar kalian tidak terluka.” Pinta Jasmine.
Mendengar hal itu, Seno membawa kedua istrinya menjauh dari Jasmine. Jarak antara mereka saat ini adalah tiga puluh meter.
__ADS_1
Dari ucapan Jasmine barusan, Seno bisa menebak bahwa apa yang akan Jasmine lakukan cukup berbahaya. Maka dari itu Seno membawa istrinya ke tempat paling aman, sejauh mungkin dari Jasmine.
Lagi pula, jarak sejauh ini tidak ada bedanya bagi mereka. Apa yang Jasmine lakukan masih dapat mereka lihat dengan jelas.
Seno dan kedua istrinya sekarang melihat bagaimana Jasmine merubah bentuknya kembali menjadi kelinci. Tidak lama kemudian, tubuh kelinci Jasmine semakin lama semakin membesar. Sekarang Jasmine memiliki tinggi satu setengah meter, dengan panjang dua setengah meter.
Perubahan yang Jasmine alami itu membuat Seno dan kedua istrinya melebarkan mata mereka. Ketiga orang itu tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Tetapi, kejutan yang diberikan oleh Jasmine tidak berhenti di situ. Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Dari dalam Jasmine, sekarang ini keluar bola api berwarna merah. Tidak terlalu besar, hanya sebesar bola tenis.
Meski kecil, Seno bisa melihat bagimana kekuatan yang tersimpan dalam bola api itu. Ketika bola api itu menyentuh tanah, terjadi ledakan kecil di sana.
Jika saja bola api tadi di arahkan kepada manusia, yang tidak memiliki kemampuan melindungi diri dari serangan seperti itu, Seno yakin siapa pun itu orangnya, dia akan mati dan ada kemungkinan tubuhnya hancur. Serangan itu seperti serangan bom.
“Wow. Apa itu tadi? Apa yang membuatmu bisa melakukan ini?” Tanya Seno kepada Jasmine yang kini berlari mendekat ke arahnya.
“Aku memakan cabe yang ada di kaki gunung yang ada di dekat sarang Momoy. Dia memberikanku cukup banyak cabe. Katanya itu bisa memperkuat diriku Bos.”
“Tetapi berhati-hatilah Bos ketika memakannya. Cabe itu terasa seperti membakar tenggorokan. Aku sarankan Bos segera meminum susu setelah mengkonsumsi cabe tersebut.” Jelas Jasmine.
“Cabe?”
“Iya cabe.”
Seno baru ingat bahwa ia belum memanen cabai rawit super pedas yang benihnya ia dapatkan dari dimensi yang Momoy tinggali. Sibuk mempersiapkan semua hal yang mungkin terjadi akibat masalah yang Momoy perbuat.
Apalagi dengan adanya pihak militer yang juga menjadi masalah yang perlu Seno pikirkan. Semua itu menyita perhatian Seno dari kebun miliknya. Ia sampai lupa untuk memanennya.
__ADS_1
“Karena aku tidak bisa memakan cabe yang ada di kebun milik Bos, Momoy menyuruhku memakan yang ada di tempatnya.”
Seno baru ingat bahwa di dimensi yang ditinggali oleh Molyap masih banyak cabai rawit super pedas yang tumbuh bebas layaknya semak-semak. Itu memang bukan masuk dalam wilayah pengolahan Seno jadi, seseorang bisa memanennya sesuka mereka.