
Meski mereka tidak saling berhadapan, namun Mansyur dan Eko saling menatap ke arah kamera seolah saat ini mereka berada di tempat yang sama. Pemikiran mereka sama, mereka menduga bahwa ini ada hubungannya dengan Seno.
Eko dan Mansyur melihat sendiri bagaimana monster di dimensi milik Seno berubah menjadi manusia. Kedua jenderal ini tahu bagaimana kuatnya montser dunia bawah. Beberapa memang memiliki tubuh yang kebal akan peluru, hampir sama seperti deskripsi yang diberikan oleh pihak kepolisian.
Tetapi, mereka tidak tahu bahwa Seno saat ini berhubungan dengan pihak asing, apalagi penjahat yang sudah menjadi buron internasional. Apakah Seno akan berkhianat pada negeri ini?
“Lalu, ke mana orang itu pergi sekarang? Jelas kalian sudah mengetahui kira-kira tujuan mereka bukan?” tanya Mansyur.
“Mereka menuju ke Kota H. Ketika kita melakukan rapat ini, aku sudah meminta sebuah tim untuk memantau lokasi mereka melalui CCTV. Aku takut orang-orang ini melakukan sesuatu ketika berada di tengah kota nanti. Jadi, aku berencana mencegat mereka sebelum mereka sampai di Kota H.”
“Masih ada sekitar tiga puluh menitan sebelum mereka sampai di pintu keluar tol. Aku sudah mengirim dua kompi tim detasemen khusus, sekarang, aku berharap pihak militer akan mengirimkan beberapa tentara dari markas komando terdekat,” pinta Agam.
“Baiklah kami akan mengirimkannya ke lokasi tersebut. Aku akan mengirim pasukan khusus yang biasa menangani makhluk dunia bawah untuk datang ke sana. Kemungkinan besar kami akan sedikit terlambat jadi bersabarlah,” ucap Eko.
Rapat tersebut masih berlangsung, namun Eko dan Mansyur meminta undur diri dengan alasan mengecek keadaan lapangan. Namun, keduanya justru melakukan panggilan video mereka sendiri.
“Apa Kamu memiliki pemikiran yang sama denganku?” tanya Eko setelah panggilan mereka tersambung.
“Bahwa Seno adalah dalang dibalik semua ini? Ya, aku memiliki pemikiran seperti itu. Namun, kita perlu mengecek semuanya kepada Seno. Meski kita mencurigai dia, bukankah lebih baik kita tanya langsung. Ada kemungkinan Seno akan menjawab pertanyaan kita bukan?”
“Kelihatannya memang ini ada hubungannya dengan Seno tetapi aku masih ragu bahwa dia adalah dalangnya. Kamu ingat sendiri bukan perkataan Seno bahwa dia hanya ingin menjual barangnya dengan tenang.”
“Ah Kamu benar Mansyur. Kalau begitu, aku akan langsung mendatangi rumah Seno sekarang. Lokasiku lebih dekat dengan dia. Selain itu, aku akan mengirim satu kompi pasukan khusus ke tempat itu. Aku sendiri masih ragu pihak kita bisa mengalahkan musuh.”
“Sekarang ini aku seperti mengirim mereka kepada kematian. Namun, jika aku tidak melakukan apa pun, maka pihak kepolisian akan marah pada kita. Di saat seperti ini kita tidak membutuhkan konflik internal dari pihak keamanan negeri ini,” jelas Eko.
__ADS_1
Mendengar deskripsi dari Agam, Eko sudah bisa menebak semua itu. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan orang itu. Meski pasukan khusus telah diperkuat berkali-kali, tidak akan ada bedanya. Perbedaan mereka terlalu jauh. Eko tidak mau menjadi jenderal yang mengirim pasukannya menuju ke kematian.
Eko hanya berharap Seno bukanlah dalang dari semua ini. Dengan begitu, ia bisa meminta bantuan laki-laki itu untuk mengirim anak buahnya, untuk mengatasi musuh mereka ini.
…
Dengan iringan mobil pengawal yang membantu membuka jalan, Eko bergegas menuju ke rumah Seno. Jika dalam waktu normal ia mmebutuhkan waktu dua puluh hingga setengah jam untuk sampai di rumah Seno, sekarang ia menggunakan waktu sepuluh menit saja.
Ketika sampai di rumah Seno, Eko melihat keadaan rumah itu sepi. Lampu di rumahnya tidak ada yang menyala. Hanya ada satu lampu di teras saja yang menyala. Eko hendak mengetuk rumah Seno, tetapi ia mengurungkannya. Ini karena Eko melihat keberadaan beberapa hewan-hewan yang terlihat tidak berbahaya menatap ke arahnya.
Tentu saja Eko tidak percaya bahwa hewan-hewan itu bukan sangat jinak. Makhluk apa pun itu, jika berada di rumah Seno, Eko yakini sebagai makhluk yang berbahaya. Maka dari itu, Eko memandang ke arah hewan-hewan tersebut.
“Di mana Seno? Di mana bos kalian?” tanya Eko dengan menatap ke arah hewan-hewan tersebut.
Ketika tidak melihat respon dari hewan-hewan itu, Eko memilih berjalan menuju ke kebun milik Seno. Tentunya ia meminta anak buahnya untuk tetap menunggu. Beberapa ajudannya menolak. Ini karena mereka berada di tempat asing di malam hari. Mereka tidak bisa membiarkan Eko pergi sendirian. Namun, setelah Eko beberapa kali membujuk, akhirnya mereka mau menunggu.
“Aku tahu kalian bisa berbicara dan berubah menjadi manusia. Jadi, katakan di mana Seno? Aku memiliki urusan dengannya? Apakah dia di rumah sekarang?” tanya Eko ketika sudah berada di dalam kebun milik Seno.
Tidak lama kemudian, seekor kelinci yang ada di sana berubah bentuk menjadi seorang anak laki-laki. Ia memandang ke arah Eko dengan pandangan menelisik.
“Ada apa mencari Bos Seno? Apa urusanmu?” tanya manusia kelinci itu.
“Ada urusan yang sangat penting, aku berharap bisa bertemu dengan dia. Ini adalah hal yang menyangkut kepentingan orang banyak.”
“Bos belum pulang. Jadi, percuma saja Kamu kemari.”
__ADS_1
“Belum pulang? Memangnya ke mana dia?”
“Tentu saja dia pergi berlibur dengan keluarganya. Jadi, lebih baik Kamu pergi dari sini. Aku tahu Kamu pernah menjadi tamu Bos Seno. Aku tidak akan mengusirmu dengan cara kasar. Tetapi, jika Kamu tidak juga pergi, maka aku dan teman-temanku akan meringkus dirimu.”
Eko merasa tengah disiram air es sekarang. Ini bukan tentang manusia kelinci ini yang mengusirnya. Tetapi mengenai Seno yang tidak ada di rumah. Berarti, niatannya untuk membicarakan masalah orang-orang asing itu dengan Seno, harus di urungkan.
“Tidak bisakah kalian menghubungi dia? Ini adalah hal yang sangat penting,” mohon Eko.
“Tidak bisa. Bos pergi dengan dimensi miliknya. Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Percuma saja Kamu berada di sini. Pulanglah selagi aku masih bersikap sopan padamu.”
Pantas saja Eko tidak bisa menghubungi Seno. Ini karena Seno tengah pergi dan menggunakan dimensi miliknya untuk berpindah tempat. Kemungkinan, Seno saat ini sedang berada di dimensinya sehingga ia tidak bisa menghubungi laki-laki itu.
Rasa putus aja langsung saja menerjang Eko. Jika seperti ini, bagaimana nasib pasukannya yang sudah dikirim untuk menghadang musuh? Dua kompi pasukan dari kepolisian dan dua kompi dari militer, itu berarti seribu orang. Apakah Eko akan membiarkan mereka mati begitu saja?
“Aku mohon, aku sangat membutuhkan bantuan Seno. Tolong hubungi dia. Jika memang Seno tidak ada, pasti ada anak buahnya yang lain bukan? Bisakah Kamu memanggilkan dia? Siapa pun itu yang memiliki kekuatan besar? Aku mohon,” ucap Eko memelas sembari berlutut di depan manusia kelinci itu.
Bagi Eko tidak masalah jika ia harus berlutut seperti ini. Bahkan jika dirinya diminta bersujud pun Eko akan melakukan hal itu. Ia akan melakukan segala hal agar mendapatkan bantuan. Nasib seribu orang sedang dipertaruhkan sekarang.
Tidak hanya seribu orang itu, tetapi nasib keluarga mereka juga. Di antara seribu orang itu, jelas ada seorang ayah, seorang suami, seorang anak, yang menjadi tulang punggung keluarga. Jika mereka tiada, bagaimana dengan keluarga mereka?
...
rekomendasi "My Ketos VS Sahabat Masa Kecilku" by Haryani
__ADS_1